Setelah berhasil melarikan diri dari siksaan Om dan Tantenya, Bella Claudia remaja (13 tahun) tidak sengaja bertemu dengan sosok Andrew Permana (25 tahun) saat wanita itu ingin mengakhiri hidupnya di usia muda. namun Andrew menghalangi dan menolong Bella pada saat itu, pertemuan di antara mereka tersebut membuat Bella jatuh cinta kepada Andrew saat pandang pertama. hingga beranjak dewasa, tepatnya saat usia Bella menginjak 23 tahun. perasaan itu tumbuh semakin besar untuk pria yang selama 10 tahun dia panggil dengan sebutan paman Andrew tersebut, di saat wanita itu ingin melupakan perasaannya kepada Andrew tiba-tiba sebuah insiden panas di antara mereka terjadi dan membuat mereka terpaksa menikah. semenjak menikah sikap Andrew berubah dingin dan galak kepada Bella, namun wanita itu tidak menyerah dia akan membuat pria itu berbalik mengejarnya dan mencintainya pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indrie Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : kedai bakso
2 Minggu berlalu setelah di mana hari Bella pergi ke rumah sakit dan mengetahui jika ia tengah hamil muda. sejak saat itu ia belum memutuskan tindakan apa yang harus ia ambil kedepannya, saat ini ia hanya berusaha bersikap seperti biasa saja agar orang-orang di sekitarnya tidak curiga.
Selama 2 Minggu ini pekerjaan wanita itu tidak terlalu menumpuk di kantor, karena ia di bantu oleh Sisil yang di tugaskan untuk membantu dirinya.
Bella merasa sangat bersyukur karena selama 2 Minggu ini ia tidak terlalu lelah dan kecapean, namun tetap saja rasa mual dan muntah sering melanda dirinya namun sebisa mungkin ia segera mengatasinya sebelum orang lain tahu. contohnya dengan selalu menyediakan permen asam di atas meja kerjanya sebagai obat mujarab penghilang mual dan pencegahan muntah.
"Sil, tolong kerjain dokumen yang ini dulu." Perintah Bella.
"Baik."
Sisil segera mengambil Map yang di sodorkan oleh Bella, perlahan Sisil mulai membuka dan membaca secara seksama isi dokumen tersebut sebelum mengerjakannya. namun tatapan mata Sisil seketika menatap aneh ke arah Bella yang sedang membuka bungkus permen asam dan tanpa basi-basi sahabatnya itu langsung memasukan permen tersebut ke dalam mulutnya. Sisil bisa melihat jika Bella begitu menikmati permen asam yang sudah berada di dalam mulut wanita itu.
"Hampir 2 Minggu si Bella selalu konsumsi permen asam saat bekerja, memangnya dia gak takut asam lambungnya naik lagi apa?" Batin Sisil heran.
Sisil terus memperhatikan Bella yang sedang menikmati permen asam. merasa di perhatikan wanita itu langsung menoleh ke arah Sisil.
"Mau permen asam?" Ucap Bella menawarkan permen yang baru saja dia makan.
"Ehh....gak kok. aku gak suka permen asam." Tolak Sisil.
"Oh gitu, iya sudah segera kerjakan dokumen yang aku suruh. sebelum jam istirahat harus sudah selesai ya?" Pinta Bella.
"Ok siap."
Kini Sisil sudah duduk di meja kerjanya, kini ia menoleh sekilas ke arah Dian yang terlihat sedang membaca sebuah dokumen.
Sussstt....sussssttt....
Sisil terlihat mendesis pelan untuk memanggil Dian agar menoleh ke arah dirinya.
Dian terlihat tidak fokus dan merasa terganggu dengan suara desisan tersebut, dengan wajah agak kesal ia menoleh ke arah asal suara tersebut.
"Ada apa?" Bisik Dian menatap malas ke arah Sisil.
"Mau tanya,sejak kapan Bella suka makan permen asam.?" Tanya Sisil tiba-tiba.
Dian terlihat diam sebentar ia seperti sedang berpikir saat ini.
"Kayanya Bella gak pernah makan permen asam deh secara dia punya sakit lambung. memangnya kamu lihat Bella makan permen asam?"
"Iya, sudah hampir 2 Minggu ini. dasar cegil mau cari mati apa dia?!" Dumel Sisil agak kesal karena begitu mengkhawatirkan kesehatan sahabatnya itu.
"Hah sudah hampir 2 Minggu, kita harus tegur dia nanti biar berhenti makan permen asam lagi." Ucap Dian terkejut, karena ia pun sangat mengkhawatirkan kesehatan Bella.
"Ok nanti jam istirahat kita tegur dia bareng-bareng." Jawab Sisil.
******
Jam istirahat kantor
Dian dan Sisil terlihat melongo dan shock melihat cara makan Bella yang tidak seperti biasanya. saat ini mereka bertiga tengah makan di sebuah warung bakso pinggir jalan, karena tiba-tiba Bella mengajak mereka makan siang di luar.
Flash back saat masih di kantor
Jam istirahat kantor telat tiba, Bella segera membereskan dokumen penting yang ada di atas meja kerjanya. Siang ini ia akan mengajak Dian dan Sisil untuk makan di luar kantor, Entah kenapa ia tiba-tiba sangat ingin sekali makan bakso yang begitu pedas untuk makan siang hari ini.
"Guys siang ini kita makan di luar saja yuk?, bosen makan di kantin mulu butuh suasana baru. tenang nanti aku yang bayar." ajak Bella.
"Iya udah ayo." Setuju Dian dan Sisil terlihat bersemangat.
"Ok ayo let's go."
******
Dian dan sisil terlihat cemberut dan menghela nafas mereka pelan. ekspetasi mereka saat di kantor sudah begitu tinggi, mereka pikir sahabatnya itu akan mengajak mereka makan di restoran steak atau sushi.
Nyatanya saat ini mereka tengah terdampar di sebuah kedai bakso yang cukup ramai saat jam istirahat kantor seperti ini. kini di hadapan Dian dan Sisil sudah ada 2 mangkok bakso beserta es teh manis pesanan mereka.
Rasanya mereka sangat ingin sekali komplen, kenapa dari awal Bella tidak bilang jika mereka keluar untuk makan bakso. jika sudah tahu di awal kan mereka tidak akan sekecewa ini.
"Si Bella lagi makan atau kerasukan sih? Aneh banget, jadi merinding aku." Bisik Sisil kepada Dian.
"Ini sih bukan kerasukan tapi kelaparan cuy." Jawab Dian hanya bisa melongo melihat cara makan Bella yang begitu bar-bar.
Bella terlihat sangat menikmati bakso yang telah ia racik dengan begitu pas rasanya. sesekali ia menyeruput kuah bakso tersebut, seketika rasa segar dan pedas membuat rasa mual di dalam perutnya hilang. tanpa terasa ia telah menghabiskan satu mangkuk bakso, merasa masih lapar wanita itu berniat memesan satu mangkuk bakso lagi.
"Pak, mau bakso satu mangkuk lagi tapi bakso nya minta porsi double yah." Ucap Bella kepada pedagang bakso.
"Siap neng."
"Hah...nambah lagi?" kaget Dian dan sisil setelah Bella memesan kembali bakso, padahal mereka berdua saja belum menghabiskan bakso mereka sendiri.
Bella belum menyadari tatapan aneh dari kedua sahabatnya itu, sembari menunggu pesanan bakso keduanya datang. gadis itu terlihat menyeruput es teh manis yang ada di dalam gelas. namun kini tatapan matanya mengarah ke arah kedua sahabatnya yang saat ini terus menatap ke arahnya tanpa berkedip.
"Kok bakso nya belum di makan sih?, padahal enak banget loh." Tanya Bella dengan wajah polosnya.
"Kita sudah keburu kenyang duluan lihat cara mu makan barusan." jawab Dian dengan raut wajah aneh.
"Iya benar tuh kata si Dian, kamu aneh banget deh akhir-akhir ini kaya orang hamil saja." cerocos Sisil asal bicara.
DEG!
HUKH...HUKH...HUKH....
Bella yang sedang menyeruput es langsung tersedak setelah mendengar ucapan Sisil barusan. ia begitu kaget karena salah satu sahabatnya itu mengatakan jika ia seperti orang hamil.
"Astaga, apa rahasia ku akan ketahuan saat ini juga?. apakah tingkah laku ku begitu aneh sampai Sisil saja curiga." Batin Bella mulai cemas.
"Ihhhh.....amit-amit jabang bayi apaan sih si Sisil, kalo ngomong bikin orang spot jantung saja. lihat tuh si Bella sampai keselek gara-gara kamu ngomong sembarangan." Kesal Dian menatap sekilas ke arah Sisil.
"Hehehehe..... sorry deh kan cuma bercanda, lagi pula gak mungkin si Bella hamil. pacar saja gak punya masa iya tiba-tiba hamil hihihihi." Kekeh Sisil pelan mengganggap ucapannya itu hanya candaan saja.
"Parah nih si Sisil kalo becanda. Iya kan Bell?" ucap Dian sambil menatap Bella.
"Hehehe.... iya parah banget tuh si Sisil." Jawab Bella cepat, raut wajahnya terlihat agak lega karena rahasianya masih aman.
Untung saya Bella bisa langsung membaca situasi, sehingga ia tidak terlihat gugup atau pun gerogi di hadapan kedua sahabatnya itu. karena sampai saat ini ia belum siap untuk menceritakan masalahnya kepada kedua sahabatnya itu, selama 2 Minggu ini ia berusaha memendam dan menyembunyikannya seorang diri.
******