NovelToon NovelToon
Sang Antagonis Cantik

Sang Antagonis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Ketos
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sunflower_Rose

Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

Sore itu, koridor lantai dua SMA Global Bangsa terasa sempit dan penuh tekanan persis seperti panggung sandiwara yang hening menunggu adegan sedih dimulai. Udara di sana terasa menipis seolah seluruh oksigen tersedot habis oleh ketegangan yang menggantung kencang di setiap sudut dinding. Ratusan pasang mata menatap diam sambil membentuk lingkaran tertutup layaknya saksi bisu yang tak berani bersuara saat sang pemangsa mulai menggerakkan cakarnya dan siap mencabik mangsanya tanpa ampun.

"Masih mau sok suci, hah? Dasar sampah beasiswa!"

PLAK!

Suara tamparan itu meledak nyaring lalu bergema memantul di sepanjang lorong berlantai marmer, meninggalkan denging tajam yang menusuk telinga siapa pun yang mendengarnya. Rebecca menatap telapak tangannya yang kini memerah sementara sepasang matanya berkilat puas sama sekali tak berusaha menyembunyikan rasa menang yang meluap di dadanya.

Di hadapannya, Bianca terhuyung lalu jatuh tersungkur ke lantai yang keras. Rambut hitamnya yang lembut kini berantakan dan jatuh menutupi separuh wajah sementara pipi putihnya perlahan berubah merah menyala. Bekas tamparan itu tercetak jelas namun rasa sakit yang ada sengaja disembunyikan rapat-rapat.

Bianca tak bergerak melawan. Tubuhnya gemetar hebat dan isak tangis yang tertahan terdengar begitu pilu cukup untuk membuat siapa saja yang melihatnya merasa teriris hati. Namun di balik tirai rambut yang jatuh menutupi wajah itu, sepasang matanya sama sekali tidak basah oleh kesedihan. Mata itu tampak tajam, jernih, dan dingin tak tersentuh. Di sudut bibirnya yang tersembunyi terukir senyum miring tipis setipis silet namun cukup tajam untuk memotong segalanya.

'Ayo, Rebecca... hancurkan gue lebih parah lagi. Buat tangan lo sampai berdarah kalau perlu. Buat gue terlihat sebagai korban paling malang dan tak berdaya di dunia ini. Karena semakin dalam luka yang gue dapat, semakin cepat istana megah Anderson ini akan runtuh menjadi debu,' batin Bianca dalam ketenangan hati yang luar biasa seolah ia sedang menonton pertunjukan orang lain, bukan dirinya sendiri yang menjadi sasaran.

"Becca, stop! Lo keterlaluan!" teriak Sunny, suaranya pecah karena ketakutan lalu ia bergegas berlari mendekap bahu Bianca yang tampak begitu rapuh dan ringkih.

"Minggir lo, Sunny! Parasit kayak dia nggak pantas menghirup udara yang sama kayak kita! Cewek miskin ini cuma sampah yang ngotorin pemandangan!" seru Isabella, tawanya melengking penuh cemoohan yang menusuk langsung ke harga diri.

Tiba-tiba kerumunan itu terbelah secepat kilat persis seperti laut yang terpisah. Keheningan yang jauh lebih berat dan menekan jatuh seketika membuat napas siapa pun tertahan di tenggorokan. Dari ujung koridor yang panjang, seorang pria berjalan mendekat. Langkahnya tenang dan terukur sementara setiap hentakan sepatunya di lantai terdengar berat seperti detak jam yang berjalan menuju saat eksekusi.

Kiyo Anderson.

Sosok yang dikenal pendiam dan sulit didekati itu berdiri tegak di sana. Seragam OSIS-nya terpasang rapi tanpa satu pun kerutan sama persis dengan raut wajahnya yang datar, kosong, tanpa sedikit pun emosi yang terlihat. Matanya yang gelap memindai kekacauan di depannya dengan pandangan yang tenang lalu berhenti tepat pada sosok Bianca yang masih bersimpuh dengan jari-jemari yang meremas ujung seragam yang kini kotor dan berdebu.

"Kiyo... ini, si anak beasiswa ini yang mulai duluan. Dia nggak tahu diri," ucap Rebecca, nada suaranya berubah drastis dalam sekejap dari galak menjadi lembut, manja, dan penuh sandiwara sambil melangkah maju berusaha meraih lengan pria itu agar ia berpihak padanya.

Kiyo tak bergeming. Ia bahkan tak melirik Rebecca sedikit pun seolah gadis itu tak lebih dari udara kosong. Ia terus melangkah maju sementara bayangannya yang tinggi dan lebar perlahan menelan sosok mungil Bianca sepenuhnya. Tanpa diduga siapa pun, ia berlutut tepat di hadapan gadis itu dan menyamakan posisinya yang sedang jatuh.

Bianca perlahan mendongak. Matanya yang sengaja dibuat basah dan merah menatap lurus masuk jauh ke dalam manik mata Kiyo yang gelap gulita dan tak berdasar.

'Target terkunci. Mari kita lihat seberapa cepat tembok pertahanan lo itu runtuh, Kiyo Anderson,' bisik Bianca di dalam hatinya yang penuh rencana. Satu tetes air mata yang tampak begitu tulus jatuh meluncur turun melewati pipinya yang memar tepat saat tatapan mereka saling bertaut dan terkunci.

"Rebecca, Isabella... masuk kelas. Sekarang," perintah Kiyo. Suaranya rendah, berat, sedikit serak namun tersirat ancaman di balik setiap kata yang membuat nyali siapa pun yang mendengarnya langsung ciut.

"Tapi Kiyo-"

"Gue bilang sekarang!"

Bentakan itu menggelegar memecah keheningan. Rebecca tersentak kaget, wajahnya memucat seketika lalu buru-buru melangkah mundur dan pergi diikuti Isabella yang tampak gemetar ketakutan, padahal Bianca tahu betul itu semua hanyalah sandiwara murahan.

Kiyo kembali menatap Bianca lalu mengulurkan tangannya. "Bisa bangun?"

Bianca tampak ragu-ragu sementara matanya berkedip pelan seolah penuh ketakutan sebelum akhirnya ujung jarinya menyentuh telapak tangan itu. Saat kulit mereka bersentuhan, Kiyo merasakan sengatan aneh menjalar ke sekujur tubuhnya. Jemari gadis ini terasa dingin, kecil, dan halus sangat kontras dengan genggamannya yang kuat dan mantap.

Saat ia mencoba berdiri dengan bantuan tangan itu, Bianca sengaja membuat kakinya terlihat lemas tak berdaya. Tubuhnya melorot sedikit lalu jatuh persis ke dalam pelukan Kiyo. Secara refleks dan cepat, tangan pria itu melingkar erat di pinggang rampingnya menahannya agar tak jatuh kembali.

"Terima kasih... Kak Kiyo," bisik Bianca pelan, suaranya bergetar lemah. Hembusan napasnya yang hangat menyapu lembut kulit leher Kiyo dan mengirimkan sensasi aneh, asing, dan belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Jangan panggil Kak. Itu terdengar formal," gumam Kiyo, nadanya terdengar sedikit parau dan berubah pelan.

 ****

Di Mansion Keluarga Anderson

Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit tinggi membiaskan cahaya keemasan yang berkilauan ke seluruh ruang makan luas yang beraroma campuran kayu cendana tua dan wangi hidangan mewah yang tersaji di meja panjang. Maxwell Anderson duduk di ujung meja utama dengan punggung tegak dan tatapan tajam serta wibawa yang seolah mampu mencekik siapa saja yang berani melawannya. Di sisi lain, Eleanor menyesap tehnya perlahan dengan gerakan anggun dan halus namun di balik senyum tipisnya tersimpan ketajaman yang tak kalah mematikan.

Gwen, sang putra sulung, masuk dengan langkah santai dan malas. Keringat masih membasahi jersey basket yang ia kenakan dan menonjolkan bentuk otot-ototnya yang padat dan atletis. Ia melempar bola basketnya ke sudut ruangan secara sembarangan lalu duduk di kursi dengan sikap yang sama sekali tak memedulikan aturan sopan santun.

"Gwen, mandi dulu sebelum makan. Jaga sopan santunmu nak," tegur Eleanor, nada bicaranya tenang dan datar tanpa perlu menoleh sedikit pun ke arah putranya.

"Iya, Ma. nanti aja," sahut Gwen dengan nada acuh tak acuh. Matanya beralih menangkap sosok Kiyo yang duduk diam hanya menatap piring makan di depannya dengan pandangan kosong seolah jiwanya sedang melayang jauh ke tempat lain. "Lo kenapa Yo? Tumben kek gitu."

Kiyo mendengus tajam lalu melempar pandangan yang terasa menusuk. "Bukan urusan lo."

"Tadi ada kejadian seru di sekolah," timpal Vincent, sahabat dekat Kiyo yang kebetulan sedang bertamu dan ikut makan malam. "Kiyo jadi pahlawan kesiangan. Dia nyelamatin cewek namanya Bianca dari Rebecca. Bahkan dia ngebentak Becca cuma demi cewek itu."

Gwen mengangkat sebelah alisnya sementara senyum miring yang penuh tantangan dan nakal terukir jelas di wajah tampannya. "Bianca? Cewek kelas sebelas yang anak beasiswa itu? Wah, kalau Kiyo sampai turun tangan dan berani bikin keributan, berarti dia bukan cewek biasa dong."

Joy, si anak bungsu yang duduk di sisi lain meja, langsung membanting sendoknya ke piring hingga terdengar denting keras yang memecah obrolan. "Ngapain sih kalian bahas cewek beasiswa itu apa dia begitu istimewa sehingga menjadi pembahasan saat ini? Aku nggak suka kalau kalian deket-deket sama dia! Pasti dia cuma mau pansos sama keluarga kita!"

Maxwell berdehem keras sekali dengan suara berat yang cukup untuk langsung membungkam seluruh isi ruangan dalam sekejap. "Hentikan. Kiyo, pastikan sekolah tetap tertib dan teratur. Dan Gwen, jangan buat masalah yang tidak berguna dan merugikan nama baik keluarga."

"Tentu, Pa," jawab Kiyo singkat tanpa nada berlebih.

Namun di bawah meja yang tertutup taplak kain tebal, jari-jemari Gwen bergerak diam-diam menari di atas layar ponselnya. Ia mengetik pesan singkat memberi perintah pada orang kepercayaannya agar segera mencari dan mendapatkan nomor ponsel Bianca.

'Kalau Kiyo menginginkan gadis itu, berarti gue harus mendapatkan dia lebih dulu. Lihat saja siapa yang menang,' batin Gwen penuh semangat tantangan dan keinginan mengalahkan saudaranya sendiri.

 ****

Malam itu, di sebuah apartemen sempit dan sederhana yang terletak jauh dari gemerlap pusat kota, Bianca berdiri tegak di depan cermin besar yang sedikit kusam. Ia perlahan menghapus sisa riasan pucat dan bedak tebal yang menjadi topengnya seharian ini. Wajahnya yang tadi tampak begitu rapuh, lemah, dan penuh air mata kini berubah total menjadi sosok yang tegas, tajam, keras, dan penuh perhitungan yang matang.

Pintu kamar terbuka. Rebecca masuk lalu melempar tas sekolahnya sembarangan ke atas kasur tipis di sudut ruangan. "Gimana? Akting gue mantap kan? Pipi lo beneran merah parah tadi, Bi. Sampai gue sendiri kaget lihatnya."

Bianca menatap pantulan pipinya yang memar di cermin lalu tersenyum lebar, senyum yang puas dan penuh kemenangan. "Nggak masalah. Rasa sakit dan memar ini nggak ada apa-apanya dibanding kehancuran besar yang bakal mereka rasakan nanti. Setiap tetes air mata yang gue jatuhin, setiap luka yang gue terima, semuanya cuma jadi paku buat menutup peti mati keluarga Anderson ini."

Ia berjalan mendekat ke dinding kamar yang tertutup penuh foto-foto keluarga Anderson. Foto yang diambil secara diam-diam dan dari kejauhan disusun rapi seperti peta perang. Mengambil spidol merah tebal, ia menarik garis silang yang tajam dan jelas tepat di wajah Maxwell Anderson.

'Keluarga Harrington hancur, bangkrut, dan jatuh miskin karena keserakahan dan kejahatan pria ini. Sekarang, aku akan membalas semuanya. Aku akan menghancurkan mereka satu per satu melalui anak-anak kesayangannya. Kiyo, Gwen, mereka semua hanyalah bidak-bidak kecil di papan caturku,' batinnya dengan kebencian yang terpendam dalam-dalam.

"Terus Joy? Gimana rencana buat dia?" tanya Rebecca ikut menatap foto-foto itu dengan serius.

"Joy adalah cara paling gampang dan paling cepat buat hancurin Jonathan," suara Bianca berubah menjadi bisikan rendah yang penuh ancaman. "Dia nggak tahu sama sekali kalau cowok yang dia puja-puja, yang dia anggap sempurna itu, pernah bertekuk lutut dan minta-minta di bawah kaki gue. Jonathan itu rahasia terbesar gue, dan gue bakal pake dia buat hancurin Joy sampe nggak bersisa, sampe dia nggak punya apa-apa lagi."

Tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang ia simpan dengan nama Target 1.

Besok pagi gue bakal jemput lo. Dan jangan telat. - Kiyo

Bianca menatap layar ponsel itu lama sementara matanya berkilat penuh kemenangan lalu ia tertawa pelan, suara tawa yang terdengar meremehkan dan puas. "Lihat, Becca? Umpannya udah ditelan bulat-bulat. Ikan besarnya udah mulai menggigit kail dengan sukarela."

 ****

Keesokan Paginya...

Halaman depan sekolah menjadi riuh sementara suara bisik-bisik siswa terdengar di mana-mana. Sebuah mobil sport mewah berwarna hitam mengkilap melaju pelan lalu berhenti tepat di depan gerbang utama. Kiyo keluar dari pintu kemudi dengan tenang, berjalan memutar ke sisi penumpang, dan hal yang membuat ratusan siswa yang sedang berkumpul itu ternganga kaget: ia dengan santai dan sopan membukakan pintu penumpang untuk Bianca.

"Kak, ini... semua orang liatin kita. Aku takut," bisik Bianca berusaha tampak gugup dan malu sambil meremas tali tasnya erat-erat serta kepalanya sedikit menunduk.

"Biarin aja. Mulai sekarang, nggak ada yang boleh sentuh lo, ganggu lo, atau ngomong kasar ke lo tanpa izin dari gue," ucap Kiyo dengan nada yang penuh rasa memiliki dan tegas. Suaranya sengaja dikeraskan sedikit agar terdengar jelas oleh siapa saja yang memandang dan berbisik.

Tiba-tiba dari arah lapangan basket yang terhubung langsung ke halaman depan, Gwen muncul sambil memantulkan bola basket di tangan kanannya. Ia berjalan santai lalu berdiri tepat di depan mereka dan menghalangi jalan.

"Wih, pagi-pagi udah disuguhi pemandangan romantis banget nih," sindirnya dengan senyum miring yang penuh tantangan. "Tumben lo bawa penumpang, Dek? Biasanya lo anti banget ada orang asing numpang di mobil lo, bahkan temen deket aja nggak boleh."

"Bukan urusan lo, Gwen. Minggir," balas Kiyo nadanya langsung berubah rendah dan berbahaya.

Gwen sama sekali tak bergeming. Ia justru melangkah maju lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Bianca dan menatap gadis itu dari atas ke bawah dengan pandangan tajam persis seperti predator yang sedang mengincar mangsa baru. "Hai, Bianca kan? Gue Gwen, kakaknya Kiyo yang jauh lebih asyik dan santai. Kalau si kutub utara ini mulai ngebosenin atau terlalu kaku, hubungi gue aja ya. Gue siap kapan aja."

Bianca perlahan mendongak sementara matanya yang besar berkedip pelan beberapa kali serta menampilkan ekspresi bingung yang terlihat sangat manis, lugu, dan sama sekali tak berbahaya. "Eh... halo, Kak Gwen. Salam kenal."

'Dua harimau besar dalam satu kandang, sama-sama kuat, sama-sama sombong. Mari kita lihat siapa yang akan saling mengoyak duluan,' batin Bianca sambil menyembunyikan senyum kemenangan di balik wajah polosnya.

1
Tab Adrian
nexttt lahhh... aku kasian sma semuanyaaa
Tab Adrian
dag dig duggg antara apa nihhhh🔥🔥
Tab Adrian
biii.. bales dendam itu sakitt lohhh.. 🥺😐
Tab Adrian
kerasaa bgt centill nya si tuan putri Anderson ituu
Tab Adrian
nyesekk.. semuanya nyesekk.. jiejie ini kalok bikin cerita gk pernah gagal.. selalu bisa bikin pembacaannya masuk ke dalam ceritaaa😍😍😍
Tab Adrian
banyak bgt ya, peluang Bianca buat hancurin keluarga itu
Tab Adrian
jdi semuanya nyakittttt😭
Tab Adrian
😍sakit bgt jdi Bianca banyak beban yg dy tanggung.. pdhl dy cuma pengen bebas hidup kyk remaja biasa pada umumnya tanpa memikirkan dendam dendam dn dendam.. tp aku juga pendendam sihh😅
Tab Adrian
hati hati bi..
Tab Adrian
tuan muda Anderson yg malang ututuru~
Tab Adrian
klok kiyo tau kebenarannya akankah dy terus berjuang demi cintanya atau malah milih untuk berperang
paijo londo
kurang ajar si Jo itu membuat trauma dan dendam banget ayo bec ancurin si Jon tor itu
Reva Reva nia wirlyana putri
wihhh udh lanjut
Reva Reva nia wirlyana putri
bagus kaliii
Reva Reva nia wirlyana putri
kasian biancaaa
Reva Reva nia wirlyana putri
joy tukeran tempet tok atau enggak kan cjm yg jadi pemeran joy, joy nya jdi cwo aja biar pasangan nya sama aku🤭
Reva Reva nia wirlyana putri
agak kasihan sama joy
Kalief Handaru
baru kali ini baca mlnya antagonis khusus ngancurin musuh👍👍 damage banget jos jis
Kalief Handaru
mampir thor kyaknya seru nih
Awe Jaya
lanjut jie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!