Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 08
“Keterlaluan bener si Dwira!” Seila berada di puncak emosi, tangannya terkepal kuat.
Sorak sorai terus menerus terdengar, membuat Ayunda merasa tersudut terlebih banyak pasang mata yang mengarah ke arahnya.
Tidak ada cara lain, Ayunda melingkari lengan Seila, sedikit menarik agar temannya sudi melangkah.
Tanpa orang sadari, dan memang sang artis pandai memainkan ekspresi – Syafira dan Vinira menyeringai culas.
Seperti orang tidak bersalah, Dwira menghampiri kedua sahabatnya, lalu menarik lengan mereka agar sesi foto lekas terlaksana.
Momen itu direkam, difoto ratusan kamera ponsel dan ada juga bidikan tangan wartawan tabloid.
Sebisa mungkin Ayunda menghindari tertangkap lensa kamera, posisinya sedikit tertutup badan Seila yang memiliki tinggi sama dengannya.
Ketika sudah sangat dekat dengan kedua artis, salah satu dari mereka menyeletuk yang langsung mengundang rasa penasaran penonton sebab suaranya tertangkap mikrofon.
“Maaf kalau salah menebak, tapi sepertinya memang benar … kamu Ayunda, kan? Dulu pernah sekolah di SMP Bekti?” Vinira sedikit menekuk lutut supaya seperti benar-benar terkejut ketika memperhatikan wajah tertunduk.
Ayunda menelan air ludah, dia sudah menduga kalau sesi foto ini tidak akan berakhir tanpa sandiwara di atas panggung.
“Eh beneran kamu Ayunda kan, yang dulu suka bantuin ibu kantin jualan saat jam istirahat?” Syafira ikutan bertanya dengan nada antusias.
“Gila gak tuh, artis sekelas Syafira dan Vinira masih mau menyapa teman sekolahnya yang sepertinya dari kalangan rakyat jelata. Secara SMP Bekti berskala internasional loh,” suara sumbang salah satu fans yang berdiri dekat panggung terdengar nyaring.
Ayunda mengangkat dagu, memaksakan tersenyum meskipun hatinya meradang dan dada terasa sesak. “Apa kabar nona Syafira, nona Vinira. Selamat ya, sekarang kalian sudah jadi artis top.”
“Kamu itu masih aja sama seperti dulu. Terlalu formal banget.” Syafira memeluk lengan Ayunda dan memutar badannya sehingga menghadap penonton. “Perkenalkan, dia salah satu teman baik kami semasa putih biru, sayangnya dulu gak sampai tamat, lantaran terkena kasus yang sebenarnya cuma kesalahpahaman semata.”
Di hadapan ratusan bahkan mungkin mencapai jumlah hampir seribu, Ayunda sebisa mungkin tidak menangis. Dia berdiri tegar, walaupun mulai difitnah oleh gosip murahan yang langsung mengarah ke praduga liar tak terkendali.
Sesaat suasana menjadi gaduh, dan pihak penyelenggara acara tidak langsung bertindak.
Beberapa menit kemudian, Vinira maju satu langkah berdiri tepat disamping adik teramat sangat dibencinya. “Tolong jangan berspekulasi aneh-aneh. Namanya juga dulu terlalu muda, pas pula memasuki masa pubertas, ada yang melaporkan kalau teman kami ini kepergok ciuman di belakang gedung kesenian.”
“Tapi beneran cuma salah lihat loh, untungnya aku dan Vinira sedari awal memang tidak percaya kalau teman kami berbuat asusila, langsung meminta pihak sekolah bertindak adil.” Syafira merangkul pundak Ayunda.
“Masa Ayunda seperti itu?” gumam Dwira, tatapannya seolah tidak percaya.
“Puas lu! Seneng nonton dia dipermalukan di hadapan publik?!”
Seila maju, tanpa permisi menarik siku Ayunda dari arah belakang, lalu sedikit menyeret sampai langkah si wanita terseok-seok menuruni tangga.
Pembelaan para artis itu tidak serta-merta membungkam mulut para penonton yang terlanjur bersorak.
Gosip panas layaknya bola api mulai berhembus kencang melalui ketika jemari, mengirim foto, video ke jagat maya.
“Minggir kalian!” Seila berteriak bak orang kesetanan, genggam tangannya dikencangkan.
Susah payah dia menyibak lautan manusia, kala berhasil langsung berlari menuju toilet wanita di lantai yang sama dengan atrium.
.
.
Di dalam bilik toilet, Ayunda duduk di atas kloset. Tidak ada air mata, cuma tatapan hampa. Bibirnya terkatup rapat, enggan menanggapi suara ribut pertengkaran antara Seila dan Dwira.
“Maaf, Sei. Gua beneran gak tahu kalau Yunda kenal sama Syafira, Vinira, bahkan pernah satu sekolah!” Dwira mencoba menjelaskan.
“Maaf lu gak guna! Coba lu periksa media sosial, cuplikan tadi langsung viral dengan hastag – teman artis pernah berbuat senonoh. Belum lagi penuh komentar cemooh, menyudutkan! Lu punya otak kan, digunain lah! Jangan kayak otak Udang!” Seila menyalakan keran air, membasuh wajahnya, mencoba mendinginkan kepala terasa panas.
“Lu nyadar gak sih, mulutmu jahat banget tau nggak? Tadi itu ketidaksengajaan. Lagian mereka langsung konfirmasi kalau cuma kesalahpahaman, dan nama Ayunda pun udah dibersihkan!” Dwira sakit hati oleh kalimat pedas Seila.
Seila mengeringkan tangan di High-Speed Hand Dryer, lalu dia membuang tisu yang tadi untuk mengelap wajah.
“Coba deh lu ambil gelas kaca, lalu banting, terus disatuin lagi. Kalau kelihatan berbahaya, yang lebih muda aja – selembar kertas diremas, lalu dikembalikan seperti awal. Hasilnya apa? Tetep masih ada bekasnya ‘kan?” tanyanya dengan nada rendah, tatapan tegas.
“Sama seperti gosip, tuduhan tak berdasar, fitnah terlanjur tersebar. Meskipun kebenaran pada akhirnya datang, tetap meninggalkan jejak. Terlebih bagi orang yang nggak ngotak, mereka gak akan peduli dampaknya, terpenting ikutan menghakimi, mencaci maki,” ujarnya seraya menghela napas.
Seila mendekati pintu toilet, menggedor-gedor sedikit keras. “Mau sampai kapan lu sembunyi? Percuma. Wajahmu udah terpampang di laman media sosial. Lebih baik kita pulang!”
“Kalian pulang duluan aja, aku masih mau disini.” Ayunda menyimpan ponselnya ke dalam tas kecil.
“Yun, Ayunda, aku minta _”
Seila mencegah Dwira, menyeret temannya keluar dari dalam kamar mandi.
Selepas kepergian kedua sahabat Ayunda, seorang security meletakkan dua buah papan kuning dengan tulisan tambahan – Toilet tidak dapat digunakan, sedang dalam perbaikan.
Ayunda masih berdiam diri di toilet, sampai sebuah pesan masuk pada ponselnya, baru ia beranjak keluar. Memilih pulang, tidak lagi berminat menghabiskan hari libur di luar apartemennya.
***
Keesokan harinya, tepat pukul delapan pagi, Ayunda sudah tiba di perusahaan Wangsa group.
Penampilannya terlihat segar, senyum hangat menghiasi bibir berlipstik warna lembut.
Ayunda melangkah penuh percaya diri, seolah kejadian memalukan di mal kemarin tidak pernah terjadi.
“Pagi, Ayunda,” Yusniar menyapa sang asisten, mereka sama-sama masuk ke dalam lift.
“Pagi juga, Mbak. Tadi diantar pak suami ya?”
“Iya dong, makanya gak nebeng kamu,” jawab Yusniar.
“Yaa … gak ada pemasukan tambahan aku, biasanya dapet transferan uang bensin dari mbak, Niar,” ia terkikik.
Begitu sampai di lantai 21, mereka bergegas meletakkan barang bawaan lalu melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan direktur.
“Tolong bookingkan tempat yang sesuai dengan standar tunangan saya.”
“Untuk acara lamaran atau hanya dinner romantis, Tuan?”
.
.
Bersambung.
kapan ya datangnya, apa stelah perjanjian Yunda berakhir