NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33 - Kemarahan Sang Gus

Hujan turun dengan sangat deras, menyapu atap-atap bangunan, memukul dedaunan pohon bungur, dan mengubur suara-suara yang biasanya menggema di koridor. Tapi tidak ada hujan yang bisa mencuci darah yang mendidih di dalam dada Gus Azzam.

Ia membawa Naura pulang dengan menggendongnya. Bukan karena Naura tidak bisa berjalan, meski lututnya memang nyaris lumpuh oleh rasa takut, tapi karena Azzam menolak membiarkan kakinya menyentuh tanah basah lagi malam ini. Ia mendekap istrinya erat-erat, berjalan menembus hujan dengan bahu yang tegang dan rahang yang mengeras

Saat pintu rumah terbuka, Ibu Jamilah melongo kaget melihat majikannya basah kuyup, membawa nyonya yang terlihat seperti baru selamat dari bencana. Umi Salma yang kebetulan sedang berada di rumah itu pun berlari mendekat, menutup mulutnya dengan tangan saat melihat wajah Naura yang pucat pasi dan pergelangan tangan yang memar.

"Ya Tuhan, Naura! Apa yang terjadi?!" jerit Umi Salma.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan sekarang, Mi," suara Azzam tajam, memotong kepanikan. Ia berjalan langsung menaiki tangga, membawa Naura ke kamar mandi. "Tolong siapkan baju hangat dan teh jahe. Sekarang."

Umi Salma dan Ibu Jamilah segera bergerak tanpa bertanya lagi. Mereka tahu dari nada suara Azzam bahwa ini bukan saatnya untuk bertanya.

Di kamar mandi, Azzam menurunkan Naura dengan sangat perlahan. Ia duduk di lantai keramik, memeluk lututnya, sementara Azzam membuka kerudungnya yang lembap dengan gerakan yang penuh kelembutan. Matanya terpaku pada leher Naura, tidak ada tanda cekikan, syukurlah, lalu turun ke pergelangan tangan gadis itu yang kini memar keunguan.

Melihat memar itu, tangan Azzam gemetar hebat. Ia mengepalkan tangannya di samping tubuhnya, menahan dorongan untuk kembali ke rumah kaca dan memukul Arkan sampai pingsan untuk kedua kalinya.

"Azzam..." suara Naura serak, menyentuh punggung tangan suaminya yang mengepal. "Jangan... jangan pergi lagi. Tetap di sini."

Azzam menarik napas panjang, melepaskan kepalannya, lalu mengusap pipi Naura yang basah oleh air dan air mata. "Saya tidak ke mana-mana. Saya di sini."

Ia membantu Naura membersihkan diri, membiarkan air hangat mengalir menenangkan otot-otot gadis itu yang menegang. Ia mengeringkan rambut Naura dengan handuk, memakaikannya piyama hangat, dan menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. Setiap gerakan dilakukan dengan perlahan, penuh perhatian, seolah Naura adalah benda paling rapuh di dunia.

Saat Naura akhirnya duduk di tempat tidur dengan cangkir teh jahe di tangan, Azzam duduk di sampingnya. Ia tidak berkata apa-apa selama beberapa menit, hanya menatap istrinya dengan mata yang masih menyimpan badai.

"Aku bodoh," bisik Naura tiba-tiba, suaranya bergetar. Ia menatap permukaan tehnya yang bergelombang. "Aku bodoh sudah percaya pada Zahra. Aku seharusnya tahu dia... aku seharusnya mendengarkanmu."

"Jangan," Azzam mengambil cangkir teh dari tangan Naura, meletakkannya di meja nakas, lalu memegang bahu istrinya. Matanya menatap tajam namun penuh kelembutan. "Jangan pernah menyesal karena memiliki hati yang baik, Naura. Kamu tidak bodoh. Mereka yang memanfaatkan kebaikanmulah yang bodoh. Mereka yang berdosa."

"Tapi hampir saja... mereka menghancurkan namamu," air mata Naura kembali jatuh. "Video itu... rekaman itu..."

"Tidak ada rekaman yang bisa menghancurkanku," Azzam menekankan setiap kata. "Dan tidak ada rekaman yang bisa membuatku menceraikanmu. Kamu dengar saya? Tidak ada."

Naura menatap Azzam, dan kepastian di mata pria itu sedikit demi sedikit memulihkan keretakan di hatinya.

"Tidurlah malam ini," ucap Azzam, menarik selimut menutupi tubuh Naura. "Besok pagi, saat kamu bangun dan semua ini sudah selesai. Saya yang janji."

Naura menggeleng, meraih tangan Azzam sebelum pria itu berdiri. "Kamu mau ke mana?"

Azzam menatap tangan Naura yang mencengkeramnya, lalu menatap mata istrinya. Ada kegelapan di matanya, kegelapan yang datang dari kemarahan yang belum diledakkan.

"Saya harus membereskan ini, Naura, memastikan mereka tidak pernah bisa menyentuhmu lagi."

"Jangan lakukan sesuatu yang membahayakan dirimu," Naura memohon.

"Tidak akan membahayakan diriku," Azzam mencium punggung tangan Naura. "Hanya akan melindungimu. Dengan cara yang seharusnya kulakukan sejak lama."

Ia berdiri, berjalan menuju lemari pakaian, dan mengambil jubah hitam formalnya—jubah yang biasa ia kenakan saat memimpin pengambilan keputusan besar di pesantren. Ia mengenakannya dengan gerakan yang tegas, membetulkan sorbannya di depan cermin, lalu menoleh sekali lagi pada Naura.

"Istirahatlah Habibti. Saya mencintaimu."

Lalu ia pergi, meninggalkan Naura yang menatap punggungnya dengan perasaan campur aduk antara takut, bangga, dan cinta yang semakin dalam.

.

.

.

Pukul sebelas malam, biasanya pesantren sudah terlelap dalam keheningan. Tapi malam ini berbeda.

Suara bedug yang dipukul dengan ritme darurat menggema di seluruh kompleks. Dug. Dug. Dug. Tiga kali berturut-turut, jeda, lalu tiga kali lagi. Itu adalah panggilan darurat, sinyal bahwa seluruh pengurus, ustaz, dan santri senior harus berkumpul di aula utama segera.

Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, aula itu dipenuhi oleh puluhan wajah yang mengantuk namun panik. Mereka duduk di lantai dengan pakaian tidur atau jubah seadanya, berbisik-bisik menanyakan apa yang terjadi.

Di depan aula, Kyai Hanan duduk di kursi utama dengan wajah yang sangat serius. Di sampingnya, Azzam berdiri tegak seperti patung granit. Jubah hitamnya sempurna, sorbannya rapi, tapi buku-buku jarinya yang memutih karena mengepal menunjukkan amarah yang tertahan.

Ustaz Makmur, yang menjadi penasihat senior, berjalan mendekat pada Kyai Hanan. "Kyai, apa yang terjadi? Kenapa kita dikumpulkan malam-malam begini?"

Kyai Hanan menatap putranya, lalu mengangguk pelan.

Azzam melangkah maju, berdiri di tengah aula, menatap seluruh penghuni ruangan dengan mata yang menyapu tajam. Saat ia berbicara, suaranya bukan bariton yang biasa ia gunakan untuk berceramah. Ini adalah suara seorang pemimpin yang sedang mengadili.

"Malam ini, saya memanggil kalian karena sebuah pengkhianatan yang terjadi di tengah-tengah kita."

Bisik-bisik langsung berhenti. Aula menjadi sangat senyap.

"Seorang ustaz yang kita percaya, yang kita beri tempat di pesantren ini, telah menggunakan kedudukannya untuk kepentingan pribadinya. Ia berkomplot dengan orang luar untuk memfitnah dan menyakiti istriku."

Azzam menoleh ke arah pintu belakang aula. "Bawa dia masuk."

Dua petugas keamanan pesantren berjalan masuk, menuntun sosok yang tak lain adalah Ustaz Farrel. Wajah Farrel pucat, rambutnya berantakan, dan matanya menyiratkan ketakutan. Ia mencoba melepaskan diri, tapi genggaman petugas terlalu kuat.

"Ini fitnah, Gus!" Farrel berteriak, suaranya pecah. "Aku tidak melakukan apa-apa! Kau tidak punya bukti!"

"Tidak punya bukti?" Azzam menyeringai tipis, senyum yang dingin dan mengerikan. Ia meraih sebuah tablet dari tangan petugas keamanan lainnya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua orang melihat layarnya.

"Aplikasi Find My Device di ponsel istriku melacak lokasinya ke rumah kaca malam ini. Dan di rumah kaca itu, kami menemukan ini."

Azzam menyalakan tablet itu, dan layarnya menampilkan rekaman CCTV keamanan pesantren yang diam-diam ia minta dari Pak Dodo, rekaman yang menunjukkan Farrel berjalan masuk ke rumah kaca bersama Arkan, lalu kemudian menutup pintu dari dalam. Rekaman itu tidak ada suaranya, tapi visualnya cukup jelas: Farrel mengunci pintu, sementara Arkan berjalan mendekati Naura.

"Ini bukti bahwa kau berada di sana, Ustaz Farrel," suara Azzam menggema. "Kau mengunci istriku di dalam rumah kaca bersama seorang pria asing, merekamnya dengan niat menyebarkan fitnah. Kau... mencoba menghancurkan kehormatan istriku."

Aula meledak dalam kegemparan. Para ustaz dan pengurus saling berbisik dengan wajah terkejut. Beberapa menatap Farrel dengan kecaman, beberapa lainnya tampak tidak percaya.

"Dan bukan hanya itu," Azzam melanjutkan, suaranya semakin keras. "Saya juga memiliki rekaman percakapan dari mikrofon tersembunyi yang dipasang petugas keamananku di rumah kaca sebelum saya masuk."

Ia menekan tombol, dan suara dari speaker kecil itu memenuhi aula. Suara Farrel yang berkata, 'Lo bisa teriak. Tapi siapa yang akan mendengarmu?' lalu suara Arkan yang berkata, 'Teriak aja, Naura. Teriak sepuasnya. Nggak ada pahlawan yang akan datang menyelamatin lo kali ini.'

Aula kembali senyap, kali ini dipenuhi oleh kengerian. Para ustaz dan santri senior menatap Farrel dengan mata yang melebar. Kata-kata itu bukan sekadar kesalahan, itu adalah rencana keji yang telah dirancang dengan matang.

"Ini... ini rekaman yang dimanipulasi!" Farrel berteriak panik, keringat mengalir deras di wajahnya. "Gus Azzam hanya ingin menutupi aib istrinya! Istrinyalah yang..."

"CUKUP!"

Suara itu bukan dari Azzam. Itu dari Kyai Hanan.

Pria tua itu berdiri dari kursinya, menatap Farrel dengan mata yang menyiratkan kekecewaan yang mendalam. "Selama puluhan tahun saya memimpin pesantren ini, tidak pernah seorang ustaz menggunakan kedudukannya untuk menyakiti seorang perempuan. Apalagi istri dari putraku. Farrel, kamu telah mencoreng nama pesantren ini dengan dosa yang tak terampuni."

"Kyai, dengarkan aku..."

"Diam!" Kyai Hanan mengangkat tangannya. "Saya cukup mendengar. Dan melihat."

Ia menoleh pada Azzam, lalu mengangguk. "Putuskan, Gus Azzam."

Azzam melangkah maju, berdiri tepat di depan Farrel. Jarak mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Azzam menatap Farrel dari ketinggiannya, dan untuk pertama kalinya, Farrel menyadari bahwa ia telah membangunkan monster yang seharusnya tidak pernah dibangunkan.

"Ustaz Farrel," suara Azzam rendah, berat, dan tanpa ampun. "Mulai malam ini, kau diberhentikan dari seluruh jabatanmu di Pesantren Al-Farizi, dilarang menginjakkan kaki di kompleks pesantren ini selamanya. Dan besok pagi, saya  akan menyerahkanmu beserta bukti-bukti ini ke pihak kepolisian atas tuduhan konspirasi pencemaran nama baik dan pemerasan."

Farrel tertegun. Kehidupannya yang telah ia bangun dengan susah payah, ambisinya yang telah ia pupuk selama berbulan-bulan, hancur dalam satu malam.

"Tentang pria yang bernama Arkan Pratama," lanjut Azzam, "ia telah dilaporkan ke polisi atas tuduhan penyerangan dan pelecehan. Ia akan menghadapi hukum negara. Dan kau, Farrel, akan menghadapinya bersamanya."

Ia menoleh pada petugas keamanan. "Bawa dia keluar. Jangan biarkan dia berbicara dengan siapa pun."

Farrel ditarik keluar aula, berteriak minta ampun, tapi tidak ada seorang pun yang merasa kasihan. Hanya ada kebencian dan kekecewaan yang mengikuti langkahnya.

Saat pintu aula tertutup, Azzam menoleh pada audiens yang masih terdiam.

"Untuk Zahra Humaira," ucap Azzam, suaranya kembali ke nada yang tenang namun tetap tajam, "ia juga terlibat dalam komplotan ini. Ia yang menipu istriku untuk datang ke rumah kaca. Saya serahkan nasibnya pada pengurus asrama putri. Tapi satu hal yang pasti: ia tidak lagi berhak menyandang gelar santriwati teladan di pesantren ini."

Beberapa santriwati yang hadir menunduk, ada yang menangis pelan, bukan karena kasihan pada Zahra, tapi karena menyadari bahwa selama ini mereka telah mengikuti orang yang salah.

"Satu hal lagi," Azzam mengambil alih mikrofon, menatap seluruh penghuni aula dengan tatapan yang menyiratkan peringatan terakhir. "Jika masih ada di antara kalian yang merasa berhak menghakimi istri saya, yang merasa bahwa ia tidak pantas berada di sini, yang merasa bahwa saya harus menceraikannya... kuingatkan satu hal."

Ia mengambil jeda, membiarkan keheningan meresap.

"Istriku adalah bagian dari keluarga ini. Ia adalah wanita yang lebih kuat dari kalian semua. Ia telah bertahan dari fitnah, dari penghinaan, dan dari kekejaman yang tidak seharusnya ia terima. Dan saya...  tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya lagi. Siapa pun yang mencoba, akan menghadapiku. Saya berjanji, saya tidak akan sebaik ini kedua kalinya."

Ia menyerahkan mikrofon pada Kyai Hanan, memberi hormat, lalu berjalan keluar aula dengan langkah yang mantap.

Di belakangnya, seluruh penghuni aula menatap punggungnya dengan rasa hormat yang baru, rasa hormat yang tidak hanya lahir dari keilmuannya, tapi dari kekuatannya melindungi keluarganya.

.

.

.

Saat Azzam membuka pintu kamar, ia menemukan Naura belum tidur. Gadis itu duduk di atas tempat tidur dengan bantal yang dipeluk erat, matanya memerah karena menunggu, wajahnya pucat karena cemas. Saat melihat Azzam masuk dalam jubah hitamnya, Naura segera bangkit.

"Azzam!" ia berlari mendekat, meraih tangan suaminya. "Kamu oke?! Apa yang kamu lakukan?! Aku dengar suara bedug dari..."

Azzam tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menarik Naura ke dalam pelukannya, mendekapnya erat, dan menghela napas yang tertahan selama berjam-jam.

"Selesai," bisik Azzam di rambut Naura. "Farrel dipecat dan akan dilaporkan ke polisi. Arkan juga. Zahra dicabut gelarnya. Semuanya selesai, Naura. Tidak ada yang bisa menyakitimu lagi."

Naura menatap Azzam, tak percaya. "Kamu...  melakukan semua itu malam ini?"

"Saya harus melakukannya," Azzam menatap mata istrinya, matanya lembut namun teguh. "Karena selama ini saya terlalu lunak. Bikir kesabaran bisa mengubah hati mereka. Tapi saya salah. Kesabaran tanpa kekuatan hanya mengundang penindasan. Dan saya tidak akan membiarkan kamu ditindas."

Naura menggeleng, meraih wajah Azzam dengan kedua tangan. "Kamu mengorbankan banyak hal demi aku. Waktumu, energimu, bahkan mungkin reputasimu. Kenapa? Kenapa kamu melakukan semua ini untukku?"

Azzam menatapnya, lalu tersenyum sangat lembut, sangat jujur, dan sangat memikat.

"Karena kamu istriku, Naura. Karena saya mencintaimu, sebelum kamu datang, hidupku adalah kesunyian yang teratur. Kamu datang dan mengacak-acak semuanya dengan bunga, kamera, dan keras kepala. Dan saya menyadari bahwa saya tidak ingin kembali ke kesunyian itu. Saya ingin kekacauanmu, warnamu. Saya mau bersama kamu, selamanya."

Air mata Naura jatuh lagi, tapi kali ini ia tertawa dan menangis bersamaan, merasa bodoh karena terlalu sering menangis belakangan ini, tapi juga merasa begitu bahagia.

"Aku mencintaimu juga, Gus Azzam," bisik Naura, berjinjit, lalu mencium pipi Azzam, sebuah ciuman yang singkat, murni, dan penuh rasa terima kasih.

Azzam tertegun sejenak, lalu memeluk Naura kembali, lebih erat, lebih dalam, berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengambil gadis ini darinya.

.

.

.

1
Nina Utami
ky lagi liat drama thliler seru 😍😍😍😍, semoga bisa post part lebih banyak
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!