Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Lampu kristal yang menggantung di tengah ruang tamu mewah itu membiaskan cahaya keemasan yang cantik, namun bagi Siham, sinarnya terasa dingin dan menyakitkan mata. Ia berdiri mematung di depan meja jati yang mengkilap, menatap punggung tegap suaminya yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Rumah ini, sebuah bangunan minimalis modern yang sering dipuji kawan-kawan kantornya sebagai "rumah impian", bagi Siham tak lebih dari sebuah galeri seni yang hampa. Selama lima tahun pernikahan mereka, Siham masih sering merasa seperti tamu yang tak sengaja tersesat di dalamnya. Setiap sudut rumah ini dirancang oleh desainer interior ternama, tanpa ada satu pun sentuhan pribadi darinya sebagai seorang istri. Tidak ada bingkai foto pernikahan besar yang terpajang di ruang tengah, hanya ada lukisan abstrak yang harganya mungkin setara dengan gaji setahun karyawan biasa.
Di sofa kulit Italia yang tampak sangat kaku itu, Dewangga duduk dengan wibawa yang seolah-olah menyedot seluruh udara di ruangan. Jemarinya yang panjang dan bersih bergerak lincah di atas layar tablet benda yang selama ini lebih banyak mendapatkan perhatian Dewangga daripada wajah istrinya sendiri.
Dewangga adalah perwujudan dari kata sempurna dalam kamus korporat. Garis rahangnya tegas, rambutnya selalu tertata rapi bahkan di penghujung hari yang panjang, dan matanya selalu menatap tajam ke arah angka-angka laporan keuangan. Bagi Dewangga, hidup adalah tentang efisiensi, strategi ekspansi, dan menjaga martabat keluarga konglomeratnya. Baginya, emosi adalah variabel yang tidak perlu, sebuah gangguan dalam algoritma kesuksesannya.
"Mas, sudah mau istirahat? Aku sudah siapkan air hangat di kamar," suara Siham memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti mereka. Suaranya lembut, namun ada sedikit nada ragu di sana. Ia sudah melatih nada bicaranya selama bertahun-tahun agar tidak terdengar menuntut, hanya sekadar menawarkan pelayanan.
Dewangga tidak mendongak. Layar tabletnya memantulkan cahaya putih di kacamata baca yang ia kenakan. "Simpan saja di sana," jawabnya datar. Dingin. Pendek. Jawaban itu seperti sebuah tanda titik yang menutup percakapan sebelum sempat berkembang menjadi sebuah paragraf.
Siham menghela napas pelan, sangat pelan hingga ia yakin Dewangga tidak akan mendengarnya. Ia meletakkan gelas air hangat itu di atas nakas kecil di samping sofa. Ia berdiri di sana sejenak, menatap suaminya, berharap ada sedikit saja celah bagi Dewangga untuk sekadar bertanya, "Bagaimana kantormu hari ini?" Namun, penantian itu sia-sia. Dewangga tetaplah patung rupawan yang hanya bernapas untuk urusan bisnisnya. Pengabaian ini adalah bentuk luka yang paling sunyi. Tidak ada bentakan, tidak ada kekerasan fisik, namun setiap detik dalam kebisuan ini terasa seperti sayatan tipis yang perlahan-lahan menguliti jiwa Siham.
Siham mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Ada pesan yang sejak sore tadi mengganjal di dadanya, sebuah amanah dari seseorang yang paling ia sayangi di dunia ini. "Tadi Ayah menelepon, Mas. Beliau menanyakan kapan kita punya waktu untuk berkunjung ke rumah. Ayah bilang... dia rindu makan malam bersama menantu kebanggaannya."
Gerakan tangan Dewangga terhenti sesaat. Suasana di ruangan itu mendadak terasa lebih berat. Dewangga meletakkan tabletnya di atas meja dengan suara dentuman pelan, namun efeknya seperti ledakan kecil di hati Siham. Pria itu akhirnya mendongak, memberikan perhatiannya selama beberapa detik sebuah kemewahan yang jarang Siham dapatkan. Namun, tatapan itu kosong. Tidak ada kehangatan, hanya ada otoritas yang dingin.
"Kamu tahu jadwalku, Siham. Aku CEO, bukan pengangguran yang bisa setiap saat pergi hanya untuk makan malam keluarga," ucap Dewangga dengan nada yang sangat stabil. Kalimat itu bukan hanya sebuah penolakan, tapi sebuah pengingat akan perbedaan kasta di antara mereka yang masih saja dipelihara oleh Dewangga.
"Aku tahu, Mas. Makanya aku bertanya dulu," suara Siham mengecil. Ia menunduk, menatap ujung kakinya. Ia merasa kembali menjadi Siham kecil, anak asisten rumah tangga yang harus selalu menunduk saat berpapasan dengan tuan muda di koridor rumah besar ini.
"Bilang saja pada Ayahmu, aku sedang sibuk. Kamu kan sudah biasa mengatur alasan untuk keluargamu," Dewangga bangkit dari duduknya. Ia merapikan kemejanya yang tetap licin tanpa satu pun kerutan, lalu melangkah menuju kamar utama tanpa menunggu balasan dari istrinya. Ia melintas begitu saja di samping Siham, menyisakan aroma parfum mahal yang terasa menyesakkan paru-paru.
Siham terpaku. Kalimat itu terasa seperti tamparan yang sangat keras. Kamu sudah biasa mengatur alasan. Ya, Dewangga benar. Selama lima tahun ini, Siham telah menjadi "editor" terbaik untuk naskah hidupnya sendiri. Di depan Ayahnya, ia adalah wanita paling beruntung di dunia. Ia merangkai cerita-cerita fiksi tentang betapa Dewangga adalah suami yang perhatian, betapa mereka sering berdiskusi tentang masa depan, dan betapa bahagianya hidup di bawah atap mewah ini. Semua itu ia lakukan demi menjaga denyut jantung Ayahnya agar tetap tenang. Ayahnya, pria tua yang sudah renta itu, menghabiskan seluruh hidupnya mengabdi di keluarga Dewangga agar Siham bisa kuliah dan memiliki derajat yang lebih tinggi.
Keluarga Dewangga memang dermawan. Mereka membiayai seluruh sekolah Siham, memastikan ia mendapatkan pendidikan terbaik hingga ia bisa menjabat sebagai editor senior di sebuah penerbitan ternama. Namun, Siham sadar, kebaikan itu memiliki harga yang sangat mahal: kebebasan jiwanya. Pernikahan ini bukan tentang penyatuan dua hati, melainkan penyelesaian sebuah hutang budi yang tak kunjung lunas.
Siham berjalan perlahan menuju ruang kerjanya yang kecil di sudut rumah. Ruangan itu adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa benar-benar bernapas. Ia duduk di sana, meraih tablet miliknya. Bagi Dewangga, saat melihat Siham memegang tablet, ia hanya akan berpikir istrinya sedang bekerja lembur memeriksa naskah-naskah novel yang akan diterbitkan. Dewangga tidak pernah tahu bahwa di dalam benda itu, tersimpan identitas asli istrinya. Di sana, Siham bukan hanya sekadar asisten pribadi tak berbayar bagi Dewangga. Di sana, ia adalah Aksara Renjana.
Ia membuka aplikasi catatannya, jemarinya menari dengan penuh emosi.
"Pernikahan ini adalah sebuah buku yang sampulnya sangat mewah, dicetak dengan tinta emas di atas kertas yang harum. Namun, jika kau membukanya, kau hanya akan menemukan lembaran-lembaran kosong yang dipaksakan untuk ditulis setiap harinya."
Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam.
"Aku adalah seorang editor yang handal dalam merapikan alur cerita orang lain, menghapus lubang-lubang logika dalam naskah fiksi, namun aku gagal total saat harus merapikan bab-bab hancur dalam hatiku sendiri. Aku mencintainya sejak aku belum tahu apa itu cinta, sejak aku hanya berani menatap bayangannya dari balik pintu dapur. Namun cinta itu kini menjadi belenggu yang paling menyakitkan. Karena baginya, aku hanyalah kewajiban yang harus ditunaikan agar Ayahnya berhenti mengeluh."
Air mata Siham jatuh di atas layar tabletnya, menciptakan noda kecil yang segera ia hapus dengan kasar. Ia tidak boleh menangis. Ia harus tetap kuat agar naskah hidup yang ia tunjukkan pada dunianya tetap terlihat sempurna. Di kantor, ia adalah wanita yang disegani, yang suaranya didengar oleh para penulis besar. Namun di rumah ini, ia hanyalah figuran yang dialognya sering kali dipotong sebelum kata pertama selesai diucapkan.
Siham mematikan tabletnya saat mendengar suara gemericik air dari kamar mandi utama berhenti. Ia harus kembali ke kamarnya, kembali ke ranjang besar yang terasa seperti padang pasir yang luas dan dingin. Ia harus kembali memakai topeng istri sempurna untuk menyambut hari esok.
Malam itu, di bawah selimut sutra yang sama, Siham berbaring memunggungi suaminya. Ia mendengarkan napas teratur Dewangga yang sudah tertidur lelap tanpa rasa bersalah. Dewangga tidak pernah bertanya apakah ia lelah setelah bekerja seharian, tidak pernah menanyakan apakah kepalanya sakit, atau sekadar mengucapkan selamat tidur.
"Tidurlah, Mas," bisik Siham dalam hati, menatap kegelapan kamar mereka.
"Teruslah menjadi tokoh utama yang kaku dan hebat dalam naskah yang aku karang untuk Ayah. Karena bagiku, sajak luka ini baru saja membuka bab pertamanya."
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor