NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa

Pukul 17.00 tepat. Bunyi bel digital di penjuru kantor terdengar seperti musik surgawi bagi para karyawan yang sudah jenuh menatap layar. Xarena tidak membuang waktu sedetik pun. Baginya, setiap menit yang terbuang di kantor ini adalah menit yang ia curi dari waktu bermainnya bersama Ciara.

​Ia merapikan tumpukan kertas, memasukkan pouch kosmetik dan botol minumnya ke dalam tas dengan gerakan cekatan.

​"Gercep amat, Ren? Takut ketinggalan kereta atau takut dikejar singa?" goda Kinan yang masih asyik mengunyah keripik kentang sambil menutup beberapa tab di komputernya.

​Xarena terkekeh sambil menyampirkan tasnya. "Dua-duanya, Nan. Singanya lagi lapar di lantai atas, mending gue kabur duluan sebelum dipanggil lagi buat revisi laporan yang sebenarnya udah sempurna."

​"Eh, serius deh, itu 'pacar' kecil kamu minta susu stroberi kan tadi? Jangan lupa mampir minimarket depan, mumpung belum terlalu antre," Kinan mengingatkan.

​"Siapp, komandan! Gue duluan ya, Nan. Jangan lembur mulu, nanti keriput lu nambah," sahut Xarena sambil melambaikan tangan, melangkah ringan menuju lift dengan langkah yang mantap.

​Di lantai paling atas, Alan tidak bisa diam. Ia berdiri di balik pintu kaca ruangannya, matanya terpaku pada monitor kecil yang menampilkan rekaman CCTV lobi kantor. Begitu ia melihat siluet Xarena keluar dari gedung, Alan menyambar kunci mobilnya. Masa bodoh dengan tumpukan berkas yang butuh tanda tangan. Rasa penasarannya sudah di ujung tanduk.

​"Siapa sebenarnya pria itu?" gumam Alan.

​Pikirannya kembali terlempar ke lima tahun lalu. Lima tahun adalah waktu yang sangat lama. Saat itu, ia pergi begitu saja, membiarkan egonya menang dan meninggalkan Xarena yang hancur. Ia teringat desas-desus yang sempat didengarnya sebelum ia berangkat ke luar negeri dulu—tentang Xarena yang terlihat dekat dengan seorang pria kaya yang usianya jauh di atas wanita itu.

​Apa benar dia menikahi pria tua itu demi pelarian? batin Alan. Apa 'sayang' yang tadi dia ucapkan adalah untuk laki-laki yang lebih cocok jadi ayahnya itu?

​Membayangkan Xarena berada di pelukan pria lain—apalagi pria tua yang hanya menang harta—membuat ulu hati Alan terasa seperti ditonjok. Sakit, sesak, dan menjijikkan.

​Alan membuntuti mobil taksi yang ditumpangi Xarena dengan jarak yang aman. Ia melihat taksi itu berhenti di sebuah minimarket. Xarena turun, masuk sebentar, dan keluar membawa satu plastik besar berisi kotak-kotak susu dan beberapa mainan kecil.

​"Dia belanja seolah-olah ada orang yang sangat menunggunya di rumah," Alan bicara sendiri, tangannya meremas kemudi. "Sial, kenapa jantungku berdegup sekencang ini?"

​Taksi itu kembali melaju, memasuki sebuah kawasan perumahan kelas menengah yang asri. Tidak terlalu mewah untuk ukuran istri seorang pengusaha, tapi sangat nyaman dan tertata. Taksi berhenti di depan sebuah rumah minimalis dengan pagar putih dan taman kecil yang penuh bunga matahari.

​Alan memarkirkan mobilnya agak jauh, sedikit tersembunyi di bawah bayangan pohon besar. Ia menurunkan kaca mobilnya sedikit, memperhatikan Xarena yang sedang membayar ongkos taksi dengan wajah berseri-seri.

​"Bunda datang!" teriak seorang anak kecil dari balik pagar sebelum Xarena sempat membuka kunci.

​Suara cempreng itu membuat Alan membeku. Bunda?

​Pintu pagar terbuka. Seorang wanita paruh baya—yang Alan kenali sebagai asisten atau mungkin kerabat Xarena—keluar menuntun seorang balita perempuan yang mengenakan bando telinga kelinci. Balita itu berlari kecil, kakinya yang mungil terbungkus sepatu bunyi yang berdecit setiap kali ia melangkah.

​Cit-cit-cit!

​"Ciara sayang! Kangen ya sama Bunda?" Xarena berlutut, merentangkan tangannya lebar-lebar. Balita itu menghambur ke pelukan Xarena, mencium pipi ibunya dengan brutal hingga Xarena tertawa geli.

​"Susu! Bunda... susu stroberi!" racau anak itu dengan bahasa yang belum terlalu lancar.

​"Iya, ini susunya. Tadi Ciara nakal nggak sama Nenek?" Xarena menggendong anak itu di pinggangnya, mencium keningnya dengan penuh takzim.

​Dari kejauhan, Alan merasa dunianya baru saja terbalik. Matanya tidak berkedip. Ia memperhatikan wajah anak kecil itu dari celah kaca mobilnya. Rambut yang sedikit ikal, hidung yang mungil, dan... mata itu. Mata yang bulat dengan binar yang sangat familiar.

​Anak? Dia punya anak?

​Pikiran Alan berkecamuk. Jika anak itu berusia sekitar empat tahun, berarti...

​"Nggak mungkin," Alan menggelengkan kepala, mencoba mengusir kalkulasi matematis yang mulai muncul di otaknya. "Lima tahun lalu... saat aku pergi..."

​Tiba-tiba, seorang pria keluar dari dalam rumah. Jantung Alan seolah berhenti berdetak. Ini dia. Pria yang ia takutkan. Namun, pria itu tidak tua. Pria itu tampak seumuran dengan Xarena, mengenakan kaos santai dan membawa sebuah bola plastik.

​"Eh, udah pulang, Ren? Sini Ciara sama Om dulu, Bundanya mau ganti baju," ujar pria itu sambil mengambil alih Ciara dari gendongan Xarena.

​Xarena tersenyum lebar. "Makasih ya, Satria. Untung ada kamu yang jagain tadi pas Ibu lagi masak."

​"Santai aja, kayak sama siapa aja. Tadi Ciara sempat nangis dikit sih, nanyain 'Ayah' mana. Aku bingung mau jawab apa," kata pria bernama Satria itu dengan nada santai.

​Xarena terdiam sesaat, gurat kesedihan melintas di wajahnya secepat kilat sebelum digantikan oleh senyum palsu. "Nanti juga dia lupa. Yuk, masuk. Ibu udah masak enak kan?"

​Mereka bertiga masuk ke dalam rumah, dan pintu pun tertutup rapat.

​Di dalam mobil, Alan menyandarkan punggungnya dengan lemas. Ia merasa seperti pecundang yang baru saja menonton cuplikan kebahagiaan yang seharusnya miliknya, namun ia buang ke tempat sampah.

​"Satria? Siapa dia? Suaminya? Atau..." Alan memukul kemudinya dengan keras. Brak!

​Rasa cemburu yang tadinya membakar, kini berubah menjadi rasa perih yang dingin. Selama lima tahun ini, ia mengira dirinya adalah pihak yang paling menderita karena harus berjuang membangun bisnis di negeri orang. Ia mengira Xarena mungkin sudah hidup enak dengan pria kaya.

​Tapi melihat pemandangan tadi—seorang ibu tunggal (atau mungkin bukan?) yang berjuang bekerja demi kotak susu stroberi, dan seorang anak yang menanyakan sosok 'Ayah'—membuat pertahanan Alan runtuh.

​"Lima tahun, Alan. Kamu menghilang lima tahun," bisiknya pada diri sendiri. "Kamu pikir dia akan menunggumu di pojok ruangan sambil menangis selamanya? Kamu pikir kamu sepenting itu?"

​Alan menatap rumah berpagar putih itu dengan pandangan kabur. Di dalam sana, Xarena mungkin sedang tertawa, menyuapi anaknya, atau mungkin bercanda dengan pria bernama Satria itu. Sementara di sini, di dalam mobil mewah yang harganya bisa membeli sepuluh rumah seperti itu, Alan merasa sangat miskin.

​Ia menyalakan mesin mobilnya. Tangannya gemetar saat memutar kemudi untuk berbalik arah. Ia ingin turun, ia ingin menggedor pintu itu, ia ingin menuntut jawaban. Tapi hak apa yang ia punya?

​Statusnya sekarang hanyalah "Pak CEO" yang menyebalkan di kantor. Tak lebih dari orang asing yang pernah memberikan luka paling dalam di hati wanita itu.

​"Xarena yang dulu memang sudah mati," gumam Alan saat mobilnya melaju meninggalkan kompleks perumahan itu. "Dan aku sendiri yang menggali kuburannya."

​Namun, jauh di lubuk hatinya, ada satu pertanyaan yang mulai tumbuh dan menuntut jawaban: Siapa ayah biologis dari anak bermata indah itu? Dan Alan bersumpah, ia tidak akan berhenti sampai ia menemukan kebenarannya, meskipun kebenaran itu mungkin akan menghancurkan sisa-sisa kewarasannya.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!