NovelToon NovelToon
"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Yuliantina

Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.

Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.

pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.

tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.

tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....


karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 33 : BERKAS, IMAN, DAN JANJI

 

*Ep 33 : BERKAS, IMAN, DAN JANJI*

*Pagi. Rumah Berkat Karawaci. 08.00 WIB*

Jam 6 pagi Zaki udah nyetel alarm. Bukan buat kerja, tapi buat urus berkas nikah.

Indry bangun dengan mata masih setengah ngantuk, rambut acak-acakan, tapi senyumnya lebar. Udah bangun doa jam 3. Tapi tidur lagi karna masih lelah jiwa raga, spot banget mikirin masa depan.

“Siap perang berkas, calon suami?” tanya Indry sambil nyeduh kopi sachet.

Zaki ngangguk sambil nyatet di notes HP. “Siap, calon istri. Hari ini kita ketemu Pastor dulu, habis itu ke KUA. Biar dua-duanya clear.”

Indry diem sebentar. “Gugup nggak?”

Zaki tarik tangan Indry, kecup punggung tangannya. “Gugup. Tapi kalau sama kamu, semua jadi tenang.”

Mereka berangkat jam 8. Tujuan pertama: Gereja Paroki St. Helena Karawaci.

 

*Gereja Paroki St. Helena. 09.00 WIB*

Pastor udah nunggu di ruang tamu pastoran. Udah janjian cerita nya. Ruangan sederhana, ada salib kayu besar di dinding, bau lilin dan kopi tubruk.

“Selamat pagi, Zaki. Indry. Selamat atas pertunangannya,” sapa Pastor sambil nyalamin mereka berdua.

“Terima kasih, Romo,” jawab Zaki dan Indry kompak.

Mereka duduk. Indry nyiapin notes, Zaki nyalain voice note di HP. Izin dulu pastinya.

Pastor mulai. “Jadi, kalian mau nikah Katolik-Islam. Secara hukum Gereja Katolik, ini disebut _pernikahan campuran_. Ada dua jenis: _matrimonium mixtum_ kalau satu Katolik satu non-Katolik, dan _disparitas kultus_ kalau satu Katolik satu belum dibaptis. Kasus kalian masuk _matrimonium mixtum_ karena Indry Katolik, Zaki Muslim.”

Indry nulis cepat. “Jadi boleh, Romo?”

“Boleh, dengan dispensasi dari Uskup. Syaratnya ada beberapa. Pertama, pihak Katolik harus berjanji mempertahankan imannya dan mendidik anak secara Katolik. Kedua, pihak non-Katolik harus diberitahu dan nggak menghalangi. Ketiga, harus ada persetujuan kedua belah pihak. Keempat, harus ikut Kursus Perkawinan Katolik.”

Zaki manggut-manggut. “Kalau saya nggak pindah agama gimana, Romo?”

“Nggak masalah. Gereja menghormati kebebasan beragama. Kamu nggak dipaksa pindah. Yang penting, kamu izinkan Indry hidup sebagai Katolik dan anak-anak dibaptis Katolik. Nanti kita bikin surat pernyataan itu.”

Indry tanya lagi. “Kalau suatu ketika Zaki mau jadi Katolik, prosesnya gimana, Romo?”

Pastor senyum. “Itu namanya katekumenat. Belajar iman Katolik dulu minimal 6 bulan sampai 1 tahun. Nanti ada pembaptisan, penguatan, dan komuni pertama. Tapi itu pilihan pribadi Zaki. Jangan karena nikah.”

Obrolan panjang hampir 1,5 jam.

Mereka bahas Kursus Perkawinan tiap Sabtu 4 minggu, dispensasi ke Keuskupan Agung Jakarta, pemberkatan nikah dalam atau luar Misa, saksi, dan dokumen: baptis, krisma, surat pengantar paroki, KTP, KK.

Pas keluar, kepala Indry penuh. Tapi hatinya tenang.

“Romo baik banget. Jelas banget ngejelasinnya,” kata Indry sambil megang tangan Zaki.

Zaki ngangguk. “Sekarang tinggal bagian gue. KUA.”

 

*KUA Kecamatan Karawaci. 11.30 WIB*

Kantor KUA sepi, AC dingin. Pak KUA pakai peci duduk di meja.

“Assalamualaikum. Mau daftar nikah,” kata Zaki.

“Waalaikumsalam. Nikah biasa atau beda agama?”

Zaki tarik napas. “Beda agama, Pak. Saya Islam, calon istri Katolik.”

Pak KUA manggut. “Secara hukum negara, nikah beda agama nggak bisa dicatat di KUA. KUA cuma catat nikah yang sama agama. Kalau mau sah secara Islam, biasanya pihak non-Muslim masuk Islam dulu. Kalau nggak, jalurnya lewat gereja dulu, terus catat sipil di Dukcapil.”

Indry bingung. “Berarti kita nggak bisa nikah di sini, Pak?”

“Nggak bisa. Tapi kalian bisa nikah Katolik di gereja, terus bawa surat nikahnya ke Dukcapil buat dicatat sebagai perkawinan campuran. Itu yang paling banyak dilakukan.”

Obrolan lanjut hampir 1 jam. Pak KUA jelasin soal RT/RW, mahar, wali, saksi, ijab qabul. Juga fenomena nikah siri dulu baru nikah negara—tapi itu rawan.

Keluar dari KUA, otak Indry penuh.

“Ribet ya?” kata Zaki.

Indry senyum kecut. “Ribet, tapi worth it. Karena kita nggak mau nikah asal-asalan.”

Tapi di parkiran, Indry pecah.

“Atau kita gak usah nikah aja, Zak... temenan seumur hidup. Cari pasangan seagama aja.... gimana? Aman kek nya, Zak... ni urusannya ribet banget.... udah berasa 15 tahun hidup aku yang berat...”

Zaki diam. Sepanjang jalan pulang beneran nggak ngomong sepatah kata pun.

Indry juga diem. Overthinking. Ngelirik Zaki, mukanya gelap. Diem yang asing.

 

*Siang. Rumah Berkat. 13.30 WIB*

Mereka pulang bawa dua kantong plastik berisi print-out syarat nikah.

Ogah lagi beresin kamar. Liat mereka pulang langsung nyamperin.

Mauba udah balik ke Malang pagi tadi.

“Gimana, Kak? Lolos?” tanya Ogah.

Zaki duduk di ruang tamu, ngusap muka. “Bisa, dek. Tapi panjang banget urusannya.”

Indry duduk di lantai, gelar kertas. “Dari pihak gereja, Kakak harus minta surat baptis, krisma, surat pengantar paroki. Terus ajukan dispensasi ke Keuskupan. Terus ikut Kursus Perkawinan 4 minggu.”

“Dari pihak negara, kalau kita nggak mau pindah agama, nikahnya dicatat di Dukcapil setelah nikah gereja,” lanjut Zaki.

Ogah garuk kepala. “Ribet amat sih cinta.”

Indry cubit pelan. “Makanya jangan main-main kalau pacaran.”

Dia lanjut pelan, “Ini yang juga kakak pikirin dari dulu..... akan serumit itu. Hidup kita gak mudah ya, dek.. kakak rasanya gak punya energi lagi untuk yang berat-berat.”

Indry netesin air mata.

Ogah deketin, elus punggungnya. “Doa dulu gih, kak... biar tenang.”

Zaki masih diam. Blenk.

Indry masuk kamar. Hening. 15 menit. 30 menit. 1 jam. 1 jam 30 menit.

Zaki cuma duduk di luar, natap pintu yang tertutup. Ogah pura-pura game, tapi sering ngelirik.

Zaki akhirnya buka pintu pelan. Indry udah ketiduran, air masih ada di sudut mata.

Zaki duduk jongkok, pandangi dia.

“Maafin aku, Ndry... Aku buat kamu lelah lagi. Aku gak tau musti ngomong apa...”

Indry buka mata. Tangannya terulur usap rambut Zaki.

Mereka duduk berdua. Diam. Terus Zaki rangkul.

“Aku sakit denger kata-kata kamu di parkiran tadi, Ndry...”

“Yang mana...”

“Yang kamu bilang kita gak usah nikah.... kamu bilang cari pasangan yang seiman. Kamu gak mau aku lagi.......?”

Indry diam.

Zaki lanjut pelan. “Sayang.... jangan bilang gitu lagi ya..... aku udah kehilangan kamu lama banget.... aku takut sayang... Kita bisa pelan-pelan. Kamu nggak sendiri.”

“Maafin aku ya, tapi aku janji sayang, selama aku ada, aku bakal upaya ini semampunya aku buat masa depan kita. Kita beda kepercayaan, beda adat, beda didikan. Tapi kalau kita mau saling belajar, apa yang nggak mungkin, sayang?”

Indry narik diri dari pelukan.

“Sikap kamu kayak gini yang buat aku gak bisa buang kamu selama ini dari hati aku, Zaki... Maafin ya kata-kata aku tadi.”

Cup. Zaki cium kening Indry.

Mereka keluar kamar, cuci muka. Diskusi lanjut sampai sore.

Nentuin ambil Kursus Perkawinan bulan depan.

Nikah di gereja Karawaci tanggal 27 Desember, resepsi di Tegal tanggal 29 Desember.

Saksi: Paman Marsel dan istri buat pihak Katolik, Paman Marsono dan Pak Haji Ustman buat saksi sipil.

 

*Sore. 16.00 WIB*

Meta VC. “HALOOO! Gimana? Udah ketemu pastor? Udah ketemu KUA? Cerita dong!”

Zaki jelasin semua. Meta dengerin serius.

“Berarti kalian harus pilih: nikah Katolik + catat sipil, atau gue pindah agama?”

Zaki ngangguk. “Iya. Dan kita pilih yang pertama. Nggak ada paksaan.”

Meta diem sebentar. “Gue bangga sama kalian. Serius. Nggak banyak yang mau ribet gini demi bener.”

Habis VC, Indry gabung group WhatsApp “Keluarga Besar Bisomu”.

“Salve semua. Ini Indry. Mau kenalin calon suami saya, Zaki,” tulisnya.

Zaki balas: “Assalamualaikum. Saya Zaki. Mohon doanya ya Bapak Ibu semua.”

Komentar rame: “Alhamdulillah!” “Puji Tuhan” “Selamat Nak!”

Indry kirim foto mereka pegang cincin di sungai. Group heboh.

Indry nangis diem-diem.

“Gue nggak nyangka bakal diterima gini,” bisiknya ke Zaki.

Zaki peluk bahunya. “Karena kamu layak, Ndry.”

 

*Malam. 21.00 WIB*

Semua udah tidur. Zaki dan Indry duduk di meja ruang tamu. Lampu belajar nyala. Tumpukan kertas, bolpoin, sticky notes di depan mereka.

“Mulai nyatet ya,” kata Indry.

Zaki nyalain laptop. Bikin folder: “BERKAS NIKAH ZAKI-INDRY”.

Mereka bikin checklist gereja, Dukcapil, dokumen pribadi.

Sambil nyatet mereka ngobrol kecil. Takut salah isi formulir, takut ketinggalan dokumen.

Zaki tiba-tiba berhenti ngetik. “Kamu cape nggak?”

Indry geleng. “Nggak. Gue seneng. Karena ini nyata.”

Zaki peluk dari belakang.

“Ndry, makasih ya. Makasih udah mau jalan sejauh ini sama aku.”

Indry pegang tangannya. “Makasih juga, Zak. Makasih udah nggak nyerah.”

“Besok kita ke Dukcapil ya. Tanya soal pencatatan nikah campuran,” kata Zaki.

Indry angguk. “Oke. Tapi sekarang, bobok dulu.”

Mereka naik ke kasur. Nggak ciuman panjang, cuma pelukan.

“Zaki,” bisik Indry.

“Hmm?”

“Aku sayang kamu. Lebih dari berkas-berkas itu.”

Zaki ketawa pelan. “Aku juga. Berkas boleh ribet, tapi kamu nggak boleh ribet sama aku.”

Lampu dimatikan.

Di luar, Karawaci masih bising klakson motor.

Tapi di kamar itu, cuma ada suara napas dua orang yang lagi nyiapin masa depan.

Hari itu dipenuhi diskusi.

Drama diam yang cukup menguras energi.

Diskusi tentang hukum, iman, keluarga, dan cinta.

Dan di akhir hari, mereka sadar:

Nikah itu nggak cuma soal ijab kabul.

Bukan juga soal dana.

Tapi soal dua orang yang mau capek bareng, mikir bareng, dan bertahan bareng.

Dan ada keluarga yang dukung.

Besok masih ada Dukcapil.

Besok masih ada Keuskupan.

Besok masih ada Kursus Perkawinan.

Tapi malam ini, mereka cukup jadi calon suami istri yang saling pegang tangan.

Aku lelah. Tuhan Tau.

 

1
Aiko Yuki
air mataku ikut netes kak 😭
AnYu: terima kasih sudah membaca... ini karya pertama ku... masih tahap nulis blm d revisi mungkin masih banyak typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!