NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Tekanan Rumah

​Jika ada kompetisi "Rumah Paling Hening Se-Jakarta Selatan", rumah Julian Pradana pasti jadi juara bertahan lima tahun berturut-turut.

​Rumah itu besar, bergaya minimalis modern dengan dominasi warna putih dan abu-abu. Lantainya marmer, perabotannya mahal, dan kebersihannya setara dengan ruang operasi rumah sakit. Tidak ada debu. Tidak ada barang berserakan. Dan yang paling parah: tidak ada suara.

​Pukul tujuh malam. Waktu makan malam keluarga Pradana.

​Julian duduk di kursi biasanya, berhadapan langsung dengan ayahnya, Dokter Prasetyo. Di ujung meja, ada kursi kosong yang sudah dibiarkan kosong selama enam tahun terakhir—kursi almarhumah ibunya.

​Satu-satunya suara yang terdengar adalah denting sendok perak beradu dengan piring porselen. Ting. Ting. Suara itu terdengar sangat keras di telinga Julian, seolah setiap dentingnya menghitung mundur sisa kesabarannya.

​"Bagaimana sekolah?" tanya Dokter Prasetyo tanpa mengalihkan pandangan dari piring steak-nya. Suara baritonnya berat, tipe suara yang biasa memberi vonis kepada pasien.

​Julian meletakkan pisau dan garpunya sejenak, meneguk air putih untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

​"Lancar, Pa. Nilai ulangan Harian Biologi kemarin 98. Fisika masih stabil 100," jawab Julian, melaporkan fakta seperti mesin penjawab otomatis.

​"Dua poin hilang di Biologi. Kenapa?"

​Julian menahan napas. "Salah interpretasi di soal esai nomor lima tentang sistem saraf, Pa. Tapi sudah Julian diskusikan dengan guru untuk perbaikan."

​Dokter Prasetyo mengangguk pelan, tapi tidak tersenyum. "Jangan biasakan puas dengan 98, Julian. Di meja operasi, kesalahan 2% itu artinya kematian pasien. Kamu mengerti?"

​"Mengerti, Pa."

​Hening lagi. Julian kembali memotong dagingnya, meski nafsu makannya sudah hilang sejak pertanyaan pertama tadi.

​"Papa dengar dari rekan Papa yang anaknya sekolah di sana... ada keributan soal Pensi?" tanya Dokter Prasetyo tiba-tiba.

​Jantung Julian seakan berhenti berdetak sesaat. Radar ayahnya mengerikan.

​"Hanya masalah miskomunikasi anggaran, Pa. Sudah diselesaikan," jawab Julian hati-hati. Ia tidak berani menyebutkan soal kontrak pertaruhan nilai atau tugasnya menjadi tutor Alea. Jika ayahnya tahu ia membuang waktu mengajari "anak bodoh" demi sebuah acara musik, tamatlah riwayatnya.

​"Bagus. Papa tidak mau kamu terlibat terlalu dalam dengan kegiatan hura-hura seperti itu. Ingat, target kamu tahun depan adalah beasiswa Kedokteran di Universitas Indonesia atau Johns Hopkins. Fokus kamu harus di sana."

​"Iya, Pa."

​"Jangan seperti pamanmu. Hidup tidak jelas, main musik di kafe, masa depan suram. Musik itu hobi orang miskin, Julian. Tidak menghasilkan."

​Kata-kata itu menusuk dada Julian. Ia teringat Alea di ruang musik sore tadi. Lagu tentang lilin kecil itu. Apakah Alea juga "orang miskin" yang tidak punya masa depan di mata ayahnya?

​Julian ingin membantah. Ingin berteriak bahwa musik itu nyawa. Bahwa ibunya dulu suka bermain piano dan itu adalah kenangan terindah mereka. Tapi lidahnya kelu. Bertahun-tahun dididik dalam kedisiplinan militer membuatnya terprogram untuk patuh.

​"Selesai makan, langsung belajar. Papa lihat lampu kamarmu mati jam 11 malam kemarin. Jangan biasakan begadang untuk hal tidak berguna," perintah ayahnya, mengakhiri sesi makan malam dengan menyeka mulutnya menggunakan serbet kain.

​"Baik, Pa."

​Julian melihat punggung ayahnya yang tegap berjalan menjauh menuju ruang kerjanya. Rumah itu kembali hening. Dingin. Mencekik.

​Julian menatap pantulan wajahnya di sendok perak. Terdistorsi. Sama seperti hidupnya.

​Sementara itu, lima kilometer dari rumah Julian, suasana di rumah Alea adalah kebalikannya.

​Rumah Alea berada di komplek perumahan padat penduduk. Ukurannya sedang, cat pagarnya sedikit mengelupas, dan halamannya penuh dengan pot tanaman ibunya yang rimbun (dan kadang menghalangi jalan).

​Di dalam, suasananya seperti pasar kaget. TV di ruang tengah menyala dengan volume maksimal menayangkan sinetron azab. Di dapur, suara penggorengan mendesis keras.

​"ALEA! HANDUK KAMU JANGAN DITARUH DI KASUR!" teriakan Mama membahana dari lantai dua.

​Alea, yang sedang duduk bersila di karpet ruang tengah sambil menyetem senar gitarnya, hanya memutar bola mata.

​"Iya, Ma! Lupa!" sahut Alea tak kalah kencang.

​"Lupa terus! Pikiran kamu isinya apa sih? Gitar melulu!" Mama turun tangga sambil membawa keranjang cucian, wajahnya terlihat lelah tapi mulutnya tetap aktif mengomel.

​Alea mencoba mengabaikan omelan itu dengan memetik senar E rendah. Jreng.

​"Pa, kecilin dikit napa TV-nya? Alea lagi nyari nada nih," protes Alea pada Papanya yang sedang asyik menyeruput kopi sambil nonton berita.

​"Kamu yang berisik, Le. Papa lagi dengerin berita politik. Penting ini," jawab Papa santai, tak mau kalah.

​Alea mendengus. Ia baru saja mau masuk ke kamar untuk mencari ketenangan, ketika nada dering Skype berbunyi nyaring dari laptop yang terbuka di meja kopi.

​Wajah Mama langsung cerah seketika. Keranjang cucian diletakkan begitu saja.

​"Wah! Teteh nelpon!" seru Mama heboh. "Pa! Teteh nelpon! Sini, sini!"

​Di layar laptop, muncul wajah cantik seorang gadis muda dengan jas putih dokter yang tergantung di belakangnya. Tiara. Kakak perempuan Alea yang sedang co-as (dokter muda) di Surabaya.

​"Halo Ma, Pa! Apa kabar?" sapa Tiara dengan senyum manis yang sempurna. Giginya rata, matanya berbinar cerdas.

​"Baik, Teh! Aduh, Mama kangen banget. Teteh kurusan ya? Jangan telat makan atuh, pasien diurusin, diri sendiri juga harus diurusin," celoteh Mama dengan nada suara yang berubah 180 derajat menjadi sangat lembut dan penuh kasih sayang.

​Alea duduk diam di pojok karpet, memeluk gitarnya. Ia merasa mendadak menjadi transparan.

​"Iya Ma, aman kok. Oh iya, Teteh mau kasih kabar. Teteh baru aja lulus ujian stase Bedah dengan nilai A. Dosen penguji muji Teteh lho di depan anak-anak lain," cerita Tiara bangga.

​"Alhamdulillah!" Papa bertepuk tangan. "Hebat anak Papa! Tuh kan, bener kata Papa, kamu emang bakat jadi dokter bedah."

​"Keren banget Teteh!" timpal Mama, matanya berkaca-kaca bangga. Lalu, seperti biasa, radar perbandingan Mama mulai mencari korban. Ia menoleh ke arah Alea.

​"Tuh, Le. Dengerin Teteh kamu. Nilai A. Stase Bedah. Susah itu. Kamu kapan kasih kabar begini ke Mama? Jangan kabar dipanggil BK melulu yang dibawa pulang."

​Alea merasakan ulu hatinya nyeri. Mulai lagi.

​"Alea kan bukan dokter, Ma," gumam Alea pelan.

​"Ya makanya belajar! Teteh kamu dulu SMA juga capek, tapi dia nggak banyak main gitar genjrang-genjreng nggak jelas. Liat hasilnya sekarang, banggain orang tua," lanjut Mama.

​"Teteh denger Alea mau ada Pensi ya?" tanya Tiara dari layar, mencoba mencairkan suasana. "Semangat ya, Le. Band kamu tampil?"

​"Belum tentu, Teh. Masih ada syarat nilai," jawab Alea singkat.

​"Nah itu!" sambar Papa. "Syarat nilai itu maksudnya sekolah ngingetin kamu, Le. Akademik nomor satu. Hobi boleh, tapi jangan sampai ganggu masa depan. Papa nggak mau kamu nanti lulus SMA bingung mau jadi apa. Mau jadi pengamen? Nggak malu sama tetangga? Kakaknya dokter, adiknya..."

​Papa tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi Alea tahu lanjutannya. Adiknya produk gagal.

​Telinga Alea berdengung. Pujian untuk Tiara dan kritikan untuk dirinya seolah menjadi lagu latar yang diputar berulang-ulang di rumah ini. Ia sayang kakaknya, sungguh. Tiara baik padanya. Tapi bayang-bayang kesempurnaan Tiara terlalu besar, menutupi eksistensi Alea.

​"Alea ke kamar dulu. Mau belajar," kata Alea dingin. Ia berdiri, menyambar gitarnya.

​"Tumben belajar?" sindir Mama.

​"Biar nggak jadi pengamen," balas Alea ketus, lalu menaiki tangga setengah berlari.

​Ia membanting pintu kamarnya dan menguncinya.

​Di dalam kamar yang dindingnya ditempeli poster Paramore dan One OK Rock itu, Alea melempar gitarnya ke kasur. Ia duduk di lantai, bersandar pada pintu.

​Air matanya tidak keluar. Sudah habis jatahnya di ruang musik tadi sore. Sekarang yang tersisa hanya rasa sesak. Marah.

​Ia mengambil buku Matematika yang diberikan Julian. Buku itu masih baru, bersih.

​"Gue buktiin," desis Alea pada tembok kamarnya. "Gue bakal buktiin kalau gue bisa sukses dengan cara gue sendiri. Gue bakal bikin Pensi itu jadi panggung paling pecah, sampe Papa sama Mama nggak bisa ngomong apa-apa lagi."

​Alea membuka buku itu dengan kasar. Tekadnya membara, bukan karena cinta pada ilmu pengetahuan, tapi karena benci diremehkan.

​Pukul 23.30.

​Jakarta sudah mulai lelap, tapi di dua kamar yang berbeda, dua remaja masih terjaga.

​Julian duduk di meja belajarnya yang rapi, ditemani lampu belajar LED yang cahayanya fokus. Ia sedang mengerjakan soal latihan Olimpiade Fisika paket ke-50. Matanya lelah, tapi otaknya menolak berhenti. Jika ia berhenti, suara-suara tuntutan ayahnya akan terdengar lagi.

​Alea telungkup di kasurnya yang berantakan, dikelilingi kertas coretan rumus Trigonometri. Rambutnya diikat asal-asalan. Ia sedang berjuang memahami kenapa \sin^2 x + \cos^2 x \= 1.

​Ponsel Julian bergetar di atas meja.

​Ia meliriknya. Bukan pesan dari ayahnya (syukurlah), tapi notifikasi pengingat jadwal yang ia set sendiri.

​Iseng, atau mungkin karena merasa butuh interaksi manusia yang bukan tentang "kesempurnaan", Julian membuka aplikasi chat. Ia mencari kontak Alea yang ia namai "Siswa Bermasalah" di HP-nya.

​Julian: Besok Sabtu. Sesuai kesepakatan, kita mulai jam 1 siang. Di kafe 'Halaman Belakang'. Bawa buku paket Fisika. Jangan telat.

​Julian menekan send. Ia berpikir Alea pasti sudah tidur, atau mungkin sedang main game.

​Tapi dua detik kemudian, status Alea berubah menjadi Typing...

​Alea: Buset. Lo robot apa kelelawar? Belum tidur lo?

​Julian tersenyum tipis. Sangat tipis.

​Julian: Baru selesai belajar. Kamu?

​Alea: Lagi perang dunia ketiga sama Sinus Cosinus. Kepala gue mau meledak.

​Julian: Jangan meledak dulu. Pensi butuh kamu.

​Julian tertegun sejenak setelah mengetik itu. Apakah itu terlalu manis? Ah, biarlah.

​Di seberang sana, Alea menatap layar HP-nya dengan kening berkerut, tapi sudut bibirnya terangkat.

​Alea: Ciye, Pak Ketos perhatian. Tenang aja, gue ga bakal mati konyol gara-gara Matematika. Btw, thanks ya.

​Julian: Untuk?

​Alea: Tadi sore. Di ruang musik. Lupain aja gue nangis. Anggap aja kelilipan debu piano.

​Julian membaca pesan itu. Ingatannya kembali ke momen di ruang musik. Ke lagu tentang lilin kecil itu.

​Julian: Rahasia aman. Tidurlah. Otak butuh istirahat untuk memproses memori jangka panjang.

​Alea: Siap, Bos Robot. Night.

​Julian: Night.

​Julian meletakkan ponselnya. Ia mematikan lampu belajar. Kamarnya gelap gulita. Tapi malam ini, rasanya tidak sedingin biasanya. Di luar sana, ada orang lain yang juga sedang berjuang melawan ekspektasi dunia yang berat.

​Dan mengetahui bahwa ia tidak sendirian, membuat tidur Julian malam itu sedikit lebih nyenyak dari biasanya.

...****************...

BERSAMBUNG.....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!