NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Pengakuan yang mengguncang rumah

Pengakuan yang mengguncang rumah akan menjadi senjata terakhir yang ia gunakan sebelum ia menghilang di balik kegelapan malam yang sangat sunyi. Anindira berdiri di tengah ruang tamu dengan tubuh yang gemetar namun pandangan matanya lurus menatap sang ayah.

Lampu gantung kristal di langit-langit ruangan itu memantulkan cahaya yang sangat dingin pada wajahnya yang sudah tidak memiliki rona kehidupan.

Ratna dan Sarah duduk di sofa kulit dengan senyum yang sangat penuh kemenangan seolah sedang menunggu pertunjukan dimulai. Suasana di dalam rumah besar itu mendadak menjadi sangat beku saat Anindira mulai membuka mulutnya dengan suara yang sangat rendah namun jelas.

Ia tidak lagi ingin bersembunyi di bawah bayang-bayang ketakutan yang selama ini mencekik lehernya tanpa ampun.

"Aku tahu siapa yang berada di balik semua kejadian di kamar nomor 101 malam itu," ucap Anindira dengan nada yang sangat datar.

Ayahnya yang sejak tadi membelakangi Anindira segera memutar tubuhnya dengan gerakan yang sangat cepat dan penuh dengan ketegangan. Matanya yang merah karena amarah menatap tajam ke arah putri kandungnya yang kini nampak sangat berbeda dari biasanya.

Ratna yang mendengar ucapan itu seketika mengubah raut wajahnya menjadi sangat pucat dan gelisah.

"Apa maksudmu bicara seperti itu di saat posisimu sudah sangat memalukan seperti ini?" tanya ayahnya dengan suara yang menggelegar.

"Seseorang sengaja memberiku minuman yang sudah dicampur dengan obat tidur sebelum aku dibawa ke kamar itu," sambung Anindira sambil melirik ke arah Sarah.

Sarah tersentak hebat hingga ia hampir menjatuhkan gelas teh yang sedang dipegangnya dengan jemari yang tiba-tiba menjadi sangat kaku. Ia mencoba memberikan pembelaan diri namun lidahnya terasa sangat kelu saat melihat kilatan amarah di mata Anindira.

Ratna segera meremas tangan putrinya itu untuk memberikan isyarat agar tetap tenang dan tidak terpancing emosi.

"Jangan mencoba mengarang cerita fiksi hanya untuk menutupi aib yang sudah kamu perbuat sendiri!" bentak Ratna dengan suara yang melengking tinggi.

"Aku punya bukti bahwa seseorang dari rumah ini membayar pelayan hotel untuk membuka pintu kamar itu secara paksa," tegas Anindira tanpa rasa ragu sedikit pun.

Anindira mengeluarkan sebuah catatan kecil yang ia temukan di balik lemari rahasia tadi yang berisi rincian transaksi yang sangat mencurigakan. Kertas itu nampak sangat kusam namun tulisan tangan di dalamnya masih bisa terbaca dengan sangat jelas oleh siapa pun yang melihatnya.

Ayah Anindira merebut kertas itu dengan kasar dan membacanya dengan napas yang semakin memburu liar.

Hening yang sangat mencekam kembali menyelimuti ruangan besar itu selama beberapa saat yang terasa sangat lama dan menyiksa. Ayahnya menatap Ratna dengan tatapan mata yang seolah ingin menembus jantung wanita yang telah menemaninya selama sepuluh tahun terakhir.

Ratna mulai terisak secara dramatis untuk mendapatkan kembali simpati dari suaminya yang sedang dilanda keraguan yang sangat hebat.

"Mas, kamu tidak mungkin mempercayai tuduhan anak kecil yang sedang terpojok ini, bukan?" tanya Ratna sambil memegang lengan suaminya.

"Diam kamu! Biarkan aku membaca semua ini sampai tuntas tanpa gangguan dari siapa pun!" teriak ayahnya hingga Ratna terlempar mundur ke sofa.

Anindira merasa sedikit puas melihat keretakan mulai muncul di dalam persekutuan jahat yang selama ini menindas hidupnya dengan sangat keji. Namun ia tahu bahwa pengakuan ini tidak akan mengubah keputusan ayahnya untuk membuangnya dari silsilah keluarga besar mereka.

Ia hanya ingin memastikan bahwa kebenaran tetap terucap sebelum ia melangkah pergi dari rumah yang sudah seperti penjara ini.

"Siapa pria yang bersamamu di kamar itu jika kamu merasa dijebak oleh keluargamu sendiri?" tanya ayahnya dengan nada yang mulai melemah namun tetap tajam.

"Aku tidak tahu namanya, tapi dia meninggalkan benda ini di dalam kamar tersebut sebelum dia menghilang," jawab Anindira sambil menunjukkan cincin biru.

Ia sengaja tidak menunjukkan kancing perak karena ia tahu benda itu jauh lebih berbahaya jika diketahui oleh orang-orang di rumah ini. Cincin biru milik ibunya menjadi tameng sementara yang ia gunakan untuk mengalihkan perhatian ayahnya yang sangat haus akan informasi.

Ayahnya menatap cincin itu dengan kening yang berkerut dalam seolah sedang mencoba mengingat sesuatu dari masa lalunya yang terkubur.

Ratna yang melihat situasi mulai tidak menguntungkan segera berdiri dan mencoba merampas cincin itu dari tangan Anindira dengan sangat beringas. Terjadi aksi tarik menarik yang sangat sengit di tengah ruangan hingga vas bunga di samping mereka jatuh dan hancur berantakan.

Anindira berhasil mempertahankan cincin itu meskipun lengannya harus tergores oleh kuku-kuku tajam milik ibu tirinya yang sedang kalap.

"Berikan padaku! Itu pasti barang curian yang kamu ambil dari kotak perhiasanku!" teriak Ratna dengan wajah yang nampak sangat buruk karena amarah.

"Cukup! Hentikan semua kegilaan ini sekarang juga atau aku akan memanggil polisi ke rumah ini!" ancam ayahnya sambil memukul meja kayu dengan sangat kuat.

Anindira memundurkan langkahnya perlahan menuju arah tangga sementara ayahnya masih sibuk berdebat dengan Ratna yang terus meracau tidak jelas. Ia memanfaatkan kekacauan itu untuk segera kembali ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat sebelum ada yang sempat mengejarnya.

Dadanya terasa sangat sakit namun ada rasa lega yang mulai merayap masuk ke dalam sanubarinya yang paling dalam.

Ia tahu bahwa malam ini adalah malam terakhirnya tidur di bawah atap rumah mewah yang penuh dengan kepalsuan dan intrik busuk. Anindira mulai mengambil tas kecilnya dan bersiap untuk melangkah menuju lorong rahasia di balik lemari pakaian yang gelap.

Murka sang ayah yang baru saja ia saksikan hanyalah permulaan dari badai yang akan menghancurkan seluruh fondasi keluarga ini selamanya.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!