Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Diana dan Hafidz
Mobil brio berwarna merah berhenti di depan warung bu Ratih. Tampak seorang laki-laki muda berwajah mirip orang korea berjalan menuju warungnya itu. Tanganya menggosok perut seperti menandakan dia sedang lapar.
“Bu nasi putih satu porsi” ujar lelaki itu.
Bu Ratih yang saat itu sedang membersihkan meja makan dengan kain lap nya, memanggil Diana yang berada di bilik belakang warung.
"Diana, tolong bantu ibu ! ini ada pembeli" suara Bu Ratih memanggil Diana.
Diana membuka sekat tirai yang jadi penghubung antara warung dan bilik tersebut.
“Iya mau beli apa mas ?” tanya Diana dengan senyum ramah.
“Nasi putih satu porsi mba” kata lelaki itu, tatapannya mengarah ke wajah Diana yang terlihat begitu cantik.
Diana mengambil nasi ke dalam piring yang di pegang di tangan kirinya.
“Lawuknya apa mas ?” tanya Diana.
Lelaki itu terus menatap wajah Diana tanpa berkedip sementara bibirnya sedikit tersenyum.
“Hallo mas, lawuknya apa ini ?” tanya Diana sembari melambaikan tangannya persis di depan muka lelaki itu hingga dia terlihat begitu kaget.
“Eh iya mba” jawab lelaki itu.
Sambil lihat-lihat isi etalase, lelaki itu mengatakan,
“Anu mba, sayur sop, tempe oreg, ayam goreng sama di kasih sambal sedikit yah mba”
“Minum nya es teh manis”
Diana mengambilkan apa yang di pesan oleh lelaki tersebut.
“Ini mas, selamat makan !”
“Terimakasih mba”
Diana duduk di belakang etalase yang berisi makanan, menatap handphone nya lalu memutar lagu lewat YouTube.
Suap demi suap nasi masuk ke mulut lelaki itu, matanya terus curi-curi pandang ke arah Diana. Sesekali Diana melirik, dia memalingkan pandangan seolah-olah berlagak tak memandangnya.
Dari handphone Diana, terdengar lagu Raim Laode yang berjudul “Komang” seakan lirik lagu ini mewakili isi hati lelaki tersebut.
“Sebab kau terlau indah dari sekedar kata, dunia berhenti sejenak menikmati indahmu. Dan apabila tak bersamamu, kupastikan ku jalani dunia tak seindah kemarin. Sederhana, tertawamu sudah cukup lengkapi sempurnanya hidup bersamamu”.
Sendawa mengakhiri makan yang menandai perutnya sudah kenyang. Lelaki itu coba cari perhatian ke Diana.
“Kamu namanya Diana yah ?” kata lelaki itu.
“Loh .. kok tau sih ?”
“Ya tadi kan ibunya mba panggil nama Diana”, sahut lelaki itu lagi.
Diana merasa tidak nyaman dengan coleteh lelaki tersebut namun dirinya di tuntut ramah kepada pembeli karna biar bagaimana pun pembeli itu raja.
“Oh ya kenalin, saya hafidz” ujarnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Diana.
“Apaan sih, siapa juga yang mau kenalan, gak penting banget” gerutu Diana di dalam hati.
Dengan senyum yang di paksakan, tangannya menjabat tangan Hafidz,
“Oh ya salam kenal mas hafidz”
Hafidz diam sejenak, menghelai nafas lalu memberanikan diri bertanya tentang status Diana.
“Kamu masih single ?”
“Iya” ekspresi Diana mulai bete.
“Udah punya pacar atau belum ?” kembali pertanyaan Hafidz membuat Diana tercengang.
Diana menggelengkan kepala.
“Ni orang kenapa sih, ngeselin banget” gumamnya dalam hati.
“Kenapa tanya kaya gitu mas ?” tanya Diana.
“Oh gak papa cuma tanya aja” kilah Hafidz sedikit tersenyum malu.
Mengalihkan pembicaraan, Hafidz langsung berdiri, oh ya total semua berapa mba ?”
“Es teh 3 ribu, nasi campurnya 15 ribu, jadi totalnya 18 ribu mas” ujar Diana.
“Ini uangnya mba”
“Oh ya kalau rumah mba Diana dimana ?”
Diana makin tak nyaman dengan pertanyaan Hafidz. Dengan ekspresi datarnya, ia mengerutkan dahinya lalu memberikan kode tunjuk ke arah samping warung.
“Baik, makasih mba Diana, jangan bosan yah kalau nanti saya bakalan sering kesini, makanannya enak, harganya murah dan penjualnya cantik” ucap Hafidz sambil tersenyum manis lalu bergegas menuju mobil.
***
Matahari keluar dari peraduannya, di sebuah kelas jurusan TKJ (Tehnik Komputer Jaringan), Dimas sedang mengajar. Seperti biasanya gaya mengajar Dimas terlihat santai namun menyenangkan. Dia begitu pandai melakukan ice breaking sehingga para peserta didik yang semula merasa bosan belajar seketika menjadi semangat kembali.
“Ok class, kalian tau gak jenis olahraga yang tidak baik untuk kita ?” tanya Dimas mengarah ke seluruh peserta didiknya.
Beberapa siswa menjawab tinju, ada yang menjawab gulat dan juga ada yang menjawab terjun payung.
“Jawaban kalian salah semua” sahut Dimas dengan sedikit tertawa kecil.
“Lah terus yang benar apa pak ?” tanya salah satu muridnya.
“Jawabannya adalah badminton”, jawab Dimas.
Para siswa tercengang sekaligus merasa heran dengan jawaban gurunya tersebut.
Dimas pun menjelaskan dengan ekspresi wajah seolah serius.
“Kenapa badminton tidak baik ? karna bad, kalau baik namanya bukan badminton tapi goodminton” jawabnya, tertawa lebar.
Para siswa bersorak,
“Huuuhh .. kena deh..”
Dimas melanjutkan ice breakingnya.
“Kalian tau gak bedanya orang indonesia sama orang inggris ?” tanya Dimas kembali.
“Bedanya apa tuh pak ?” salah satu muridnya bertanya.
“Dengarkan yah ! bedanya kalau orang indonesia mandinya pakai air, nah kalau orang inggris mandinya pakai water”
Para siswa kembali bersorak sembari tepuk jidat dan tertawa lepas.
Menjadi guru bukanlah sekedar profesi, apalagi hanya masuk kelas lalu memberikan tugas namun lebih dari itu adalah mampu menciptakan seni mengajar dan mendidik dengan baik yang bisa mencairkan atmosfer yang membeku. Guru yang baik pasti di sayangi siswa-siswinya sebagaimana pak Dimas.
Tak terasa waktu tiga bulan mulai mengepakan sayapnya. Dimas dan pak Jamal barbincang di ruang kepala sekolah.
“Pak Dimas, hari ini terakhir pak Dimas mengajar disini, besok bu Rina sudah kembali mengajar” ujar pak Jamal.
“Saya selaku kepala sekolah mengucapkan terimakasih sekaligus minta maaf jika selama pak Dimas mengajar disini, ada kelakuan siswa kami yang tidak berkenan”
“Nggih pak, saya juga mengucapkan terimakasih selama ini sudah di beri kesempatan mengajar disini” Sahut Dimas.
“Kalau begitu saya permisi dulu pak “ ujar Dimas membungkuk lalu membalikan badan menuju pintu keluar.
Saat Dimas membuka pintu untuk keluar, tiba-tiba segerombolan siswa dan siswi berdiri tepat di depan ruang kepala sekolah. Diantara mereka ada yang membawa spanduk kecil bertuliskan,
“Please pak Dimas jangan tingkalkan kami !”
Ada juga yang mengangkat kertas lebar dengan kedua tangannya bertuliskan,
“Tetap mengajar disini ya pak !”
Dimas yang membaca tulisan tersebut merasa terharu namun apalah daya dia hanya guru honorer yang menggantikan guru PNS sekolah untuk sementara dan dia juga tersadar masa kerjanya telah habis.
Mereka serentak menyuarakan dengan lantang perihal Pak Dimas di depan ruang kepala sekolah.
“Pak kepala sekolah, tolong jangan berhentikan pak Dimas !” pinta peserta didik.
“Kami sudah nyaman di ajar pak Dimas”
Kegaduhan para peserta didik membuat kepala sekolah keluar dari ruangannya lalu menemui mereka.
“Tenang, anak-anaku ! , saya juga sama seperti kalian menginginkan pak Dimas tetap mengajar disini, tapi kalian juga harus ingat pak Dimas cuma sementara saja mengajar disini karna besok bu Rina sudah kembali mengajar” ujar kepala sekolah, pak Jamal.
Ujaran kepala sekolah tersebut mendapatkan sorakan dari peserta didik,
“huuuuuuuuu..."
“Apa gak bisa pak, pertahankan pak Dimas mengajar disini ?” tanya salah satu siswa kepada pak Jamal.
“bukan tidak bisa tapi kalian harus tau, pemerintah saat ini melarang sekolah negeri menerima guru honorer baru terkecuali cuma menggantikan sementara” jawab pak Jamal.
“Kalian tak perlu khawatir, jika memang berjodoh, pak Dimas pasti akan mengajar disini lagi sebagai guru PNS atau guru PPPK, bukankah begitu pak Dimas ?” lebih lanjut pak kepala sekolah mencoba menenangkan para siswa siswi di depan ruangannya.
Pak Dimas menganggukan kepalanya lalu berkata, “doakan pak Dimas yah ! semoga pak Dimas bisa mengajar di sini lagi sebagai guru PNS atau guru PPPK”
“Kami siap menunggu pak” kata salah satu siswi.
Para peserta didik sedikit lebih tenang kemudian membubarkan diri dan masuk ke kelasnya masing-masing.
Bel sekolah berbunyi, tiba waktunya pulang sekolah. Langkah kaki Dimas melambat menuju tempat parkiran motor. Wajahnya merunduk karna hatinya di selimuti rasa sedih harus berpisah dengan guru serta peserta didik SMKN 1 Nusantara.
Meskipun begitu, hatinya juga di penuhi rasa syukur bisa di beri kesempatan mengajar di salah satu sekolah favorit di kotanya. Baginya ini adalah pengalaman yang luar biasa sekaligus sebagai batu loncatan untuk karirnya ke depan.