Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: PULAU TAK BERPETA
Gemuruh mesin helikopter medis perlahan berubah menjadi dengung rendah yang monoton, membelah keheningan malam di atas Samudra Hindia. Di bawah mereka, hamparan air yang hitam pekat tampak seperti tinta raksasa yang menelan cahaya bulan, hingga akhirnya sebuah titik cahaya muncul di kejauhan.
Itu bukan sekadar daratan; itu adalah The Sanctuary, sebuah pulau karang yang tidak pernah tercantum dalam peta navigasi komersial maupun militer mana pun di dunia. Pulau ini adalah rahasia terbesar Arlan Syailendra—sebuah benteng pertahanan terakhir yang dibangun dengan teknologi pertahanan tingkat tinggi.
Alana menatap keluar jendela kecil helikopter. Refleksi wajahnya di kaca tampak pucat, dengan noda jelaga di pipi dan sorot mata yang masih memancarkan sisa-sisa amarah dari pengepungan di mansion tadi.
Di sampingnya, Arlan bersandar pada dinding kabin. Kemejanya yang robek menyingkap balutan perban darurat di bahu kirinya yang mulai merembeskan darah segar. Napas Arlan terdengar berat, namun matanya tetap tertuju pada Alana dan kedua anak mereka.
"Pendaratan dalam dua menit. Siapkan protokol karantina," suara pilot bergema melalui sistem interkom.
Begitu helikopter mendarat di atas landasan beton yang tersembunyi di dalam kawah buatan pulau tersebut, pintu geser terbuka lebar. Udara laut yang lembap, hangat, dan beraroma garam segera menyerbu masuk, memberikan kontras tajam dengan udara pendingin helikopter yang kering.
Sepasukan tim medis dan keamanan berseragam abu-abu gelap—unit elit pribadi Arlan yang bahkan lebih rahasia dari Black Hawk—segera mendekat dengan tandu otomatis dan peralatan pemindai.
"Prioritaskan anak-anak dan Tuan Arlan!" perintah Alana tegas. Ia melompat turun dari helikopter sebelum tangga bantuan sempat dipasang sepenuhnya. Gaun taktisnya yang sobek di bagian paha tidak menghalanginya untuk bergerak dengan ketangkasan seorang prajurit.
Lukas dan Luna dibawa menuju area karantina medis untuk pemeriksaan trauma fisik dan psikologis. Lukas tetap memegang laptopnya dengan erat, sementara Luna memeluk bonekanya, meskipun matanya yang cerdas terus memindai fasilitas baru itu dengan rasa ingin tahu yang besar.
Setelah memastikan anak-anak berada di bawah pengawasan Leo, Alana tidak membuang waktu untuk beristirahat. Ia langsung menuju Laboratorium Pusat di Level B-4—jantung dari fasilitas bawah tanah pulau tersebut.
Pintu laboratorium terbuka dengan suara desis hidrolik yang halus. Ruangan itu adalah keajaiban teknologi: dindingnya terbuat dari paduan titanium-keramik antipeluru, dengan sirkulasi udara yang disaring melalui filter HEPA tingkat lanjut untuk memastikan sterilitas mutlak. Alana meletakkan botol perak berisi Formula Teratai di atas meja pemindai molekuler yang dilengkapi dengan laser spektroskopi.
Ia melepas sarung tangannya yang berlumuran darah, mencuci tangannya di wastafel otomatis, dan mulai mengenakan jas laboratorium putih yang bersih. Matanya terpaku pada monitor raksasa yang mulai memecah kode kimia dari cairan perak tersebut.
"Mari kita lihat apa yang kau sembunyikan, Kakek," gumam Alana.
Saat tangannya bergerak mendekati botol itu untuk mengambil sampel, sebuah fenomena aneh terjadi. Cairan di dalam botol yang tadinya diam tiba-tiba berpendar lebih terang.
Cahaya peraknya berdenyut, seolah-olah memiliki detak jantung sendiri. Alana merasakan sensasi hangat yang tidak biasa menjalar dari ujung jarinya, naik ke lengan, hingga meresap ke seluruh pembuluh darahnya.
Jantungnya berdegup kencang, frekuensinya seolah menyamakan diri dengan denyutan cairan di dalam botol tersebut.
"Resonansi biometrik..." bisik Alana, terperangah.
Dengan rasa ingin tahu yang ilmiah sekaligus nekat, Alana mengambil sampel kecil darahnya sendiri menggunakan alat suntik otomatis dan meneteskannya ke dalam cawan petri yang berisi satu tetes mikroskopis Formula Teratai. Ia menempatkan cawan itu di bawah mikroskop elektron dengan perbesaran satu juta kali.
Apa yang terpampang di layar monitor membuatnya hampir berhenti bernapas. Sel-sel darahnya tidak hanya menyerap formula itu; mereka seolah "mengenali" satu sama lain. Sel darah putihnya mulai beregenerasi dengan kecepatan yang tidak masuk akal secara biologis.
Struktur DNA-nya yang terpampang di layar tampak bergetar, mengalami perbaikan instan pada setiap bagian yang rusak atau mengalami penuaan.
Tiba-tiba, Alana merasakan sengatan panas yang luar biasa di tangan kanannya. Luka gores yang ia dapatkan dari serpihan kaca di mansion tadi—luka yang seharusnya membutuhkan waktu seminggu untuk sembuh—menutup di depan matanya sendiri dalam hitungan detik.
Kulitnya menyatu kembali, meninggalkan permukaan yang halus tanpa bekas luka sedikit pun.
Namun, kepuasan itu hanya bertahan sesaat.
"Ugh!" Alana mengerang, ia mencengkeram pinggiran meja laboratorium.
Rasa panas yang tadinya hangat kini berubah menjadi api yang membakar dari dalam. Suhu tubuhnya melonjak drastis hingga mencapai 40 derajat Celcius dalam sekejap.
Pandangannya mengabur, dipenuhi oleh bintik-bintik cahaya perak. Ia merasa seolah-olah seluruh energinya sedang diisap habis oleh proses regenerasi tersebut. Napasnya tersengal-sengal, dan ia jatuh terduduk di kursi, keringat dingin membanjiri tubuhnya.
"Terlalu... terlalu cepat... metabolisme tubuhku tidak bisa menanggung beban energinya," Alana berbisik pada dirinya sendiri, mencoba meraih tabung oksigen di dekatnya.
Pintu laboratorium terbuka lagi. Arlan masuk dengan langkah yang masih sedikit goyah. Lengan kirinya kini sudah berada di dalam arm sling medis, wajahnya masih pucat pasi akibat kehilangan darah, namun tatapannya langsung menajam saat melihat kondisi Alana yang kritis.
"Alana! Apa yang kau lakukan?!" Arlan menerjang maju, mengabaikan rasa sakit di bahunya sendiri. Ia menangkap bahu Alana tepat sebelum wanita itu merosot ke lantai.
"Jangan... jangan sentuh aku, Arlan. Suhu tubuhku... ini berbahaya," Alana mencoba mendorongnya lemah.
Arlan tidak peduli. Ia justru memeluknya lebih erat, merasakan panas yang memancar dari kulit Alana. "Lukas! Panggil tim medis cadangan ke Lab B-4 sekarang!" teriak Arlan ke arah interkom dinding.
"Tidak perlu," Alana mengatur napasnya, mencoba menenangkan detak jantungnya. "Ini... ini adalah efek sampingnya. Formula ini menuntut kompensasi energi yang sangat besar dari tubuh inangnya. Kakek menciptakan sesuatu yang bisa membuat manusia menjadi 'abadi', tapi dia juga menciptakan penjara energi. Jika kau menggunakan ini tanpa persiapan nutrisi dan kestabilan genetik, kau akan mati terbakar dari dalam."
Arlan membantu Alana bersandar di kursi, matanya menatap botol perak itu dengan kebencian. "Jadi ini yang diinginkan Ouroboros? Mereka ingin menjadi dewa dengan mempertaruhkan nyawa orang lain?"
Alana mengangguk lemah, kepalanya bersandar di dada Arlan. Kehangatan tubuh Arlan entah bagaimana membantunya menstabilkan denyut nadinya. "Mereka menginginkan ini untuk menciptakan tentara yang tidak bisa mati. Tapi mereka butuh aku, Arlan. Tanpa DNA-ku sebagai stabilisator, formula ini hanyalah racun murni. Aku adalah kunci dan sekaligus satu-satunya penghalang bagi mereka."
Arlan mencium kening Alana yang berkeringat, sebuah tindakan penuh kasih yang jarang ia tunjukkan secara terbuka. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu, Alana. Bahkan jika seluruh dunia harus hancur, kau dan anak-anak akan tetap aman di sini."
Alana mendongak, menatap Arlan dengan mata yang masih sedikit berkabut. "Pulau ini... apakah benar-benar aman?"
Arlan menunjuk ke arah barisan monitor keamanan di dinding yang menampilkan perimeter laut. "Fasilitas ini dilindungi oleh sistem sonar aktif dan jaring elektromagnetik bawah laut. Tidak ada kapal atau kapal selam yang bisa mendekat tanpa izin. Namun, kita tidak bisa selamanya bertahan. Ouroboros memiliki sumber daya yang tak terbatas. Kita harus memecahkan rahasia penuh proyek ini sebelum mereka menemukan celah di pulau ini."
Di sudut layar monitor utama, superkomputer berhasil memecahkan satu baris kode tersembunyi lagi dari file kakek Mahendra. Sebuah pesan teks muncul dengan font retro yang berkedip:
"Aura, jika kau membaca ini, artinya dunia sudah tidak lagi aman. Ingatlah, Teratai hanya akan mekar sempurna di tangan mereka yang siap mengorbankan kemanusiaannya demi sebuah tujuan yang lebih besar. Jangan biarkan 'Anak-anak Ouroboros' menyentuh formula ini."
Alana menatap pesan itu dengan ngeri. "Anak-anak Ouroboros? Kakek sudah tahu tentang mereka sejak dulu?"
"Sepertinya kakekmu adalah bagian dari mereka, atau setidaknya dia bekerja untuk mereka sebelum dia memutuskan untuk berkhianat dan menyembunyikan penemuannya darimu," Arlan menyimpulkan dengan nada dingin. "Ini adalah konspirasi yang sudah berjalan selama puluhan tahun, Alana. Dan kau hanyalah bagian terakhir dari teka-teki mereka."
Alana bangkit berdiri, meskipun kakinya masih terasa lemas. Ia menatap botol perak itu dengan tekad yang baru. Balas dendamnya pada Adrian kini terasa seperti masalah kecil dibandingkan dengan apa yang ada di depannya.
Ia harus menjadi lebih kuat, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk melindungi Lukas, Luna, dan masa depan yang dibawa oleh Formula Teratai.
"Kita akan menyerang balik, Arlan," kata Alana, suaranya kembali stabil dan penuh otoritas.
"Tapi pertama-tama, aku harus memastikan tubuhku bisa menerima formula ini sepenuhnya tanpa terbunuh. Aku akan melakukan eksperimen pada diriku sendiri."
Arlan menatapnya dengan pandangan tidak setuju, namun ia tahu ia tidak bisa menghentikan wanita sekeras Alana.
"Aku akan berada di sampingmu setiap detiknya. Jika terjadi sesuatu, aku yang akan menarikmu keluar dari kegilaan ini."
Malam terus berjalan di The Sanctuary. Di bawah tanah yang dalam, sebuah aliansi yang lebih kuat dari sekadar cinta dan dendam sedang ditempa. Mereka bukan lagi buronan; mereka adalah pemberontak yang sedang bersiap untuk mengguncang tatanan dunia yang gelap.