"Di tengah kesibukan kehidupan SMA di Jakarta, Yuki dan kelompok teman terbaiknya menjalani petualangan yang mengubah hidup mereka dari merawat kakaknya yang sakit, menemukan cinta pertama, hingga membentuk tim untuk lomba bahasa asing nasional.
Dengan persahabatan sebagai dasar kuatnya, mereka menghadapi segala rintangan: perbedaan cara pandang, tantangan kompetisi, dan bahkan menemukan makna baru dalam persahabatan antar budaya. Awalnya hanya sekelompok teman biasa, kini mereka membuktikan bahwa kerja sama dan cinta bisa membawa mereka meraih kemenangan yang tak terduga termasuk kesempatan untuk menjelajahi dunia luar!"
"Siapakah mereka? Dan apa yang akan terjadi saat mereka melangkah keluar dari zona nyaman Jakarta untuk menjelajahi dunia yang lebih luas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Kolim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 25 (S2)
Setelah beberapa minggu belajar dengan cara baru yang menyenangkan dan efektif, hari lomba bahasa asing nasional akhirnya tiba. Mereka berangkat ke lokasi lomba di Jakarta Pusat dengan hati yang penuh semangat dan sedikit gugup.
Pada pagi hari sebelum lomba dimulai, mereka berkumpul di aula persiapan untuk melakukan pemanasan terakhir. Mei mengingatkan mereka tentang aturan lomba dan bagian-bagian yang akan dihadapi tes tulis, pidato lisan, kompetisi cerita berbahasa asing, dan sesi wawancara dengan juri.
"Jangan khawatir terlalu banyak ya," ucap Mei dengan senyum menenangkan. "Kita sudah belajar dengan baik dan siap menghadapi semua bagian. Yang penting kita nikmati prosesnya dan menunjukkan yang terbaik dari kita."
Bagian pertama lomba adalah tes tulis yang terdiri dari kosakata, tata bahasa, dan pemahaman bacaan tentang budaya Jerman dan Jepang. Mereka duduk di ruangan yang berbeda sesuai dengan nomor peserta.
Yuki merasa sedikit gugup saat melihat lembar soal, tapi dia segera mengingat semua yang dia pelajari bersama teman-temannya. Dia mengerjakan soal dengan tenang, mengingat cara belajar yang dia lakukan bersama Mei dan Rio.
Hana yang biasanya sulit dengan tes tulis juga merasa lebih percaya diri karena dia telah belajar melalui cara yang menyenangkan. Dia bisa mengingat kosakata dengan mudah karena banyak yang dia pelajari saat memasak bersama teman-temannya.
Rio yang sudah membuat aplikasi pembelajaran merasa sangat siap. Dia mengerjakan soal dengan cepat dan teliti, memastikan setiap jawaban yang dia berikan benar.
Setelah waktu tes tulis selesai, mereka berkumpul lagi di luar ruangan. Semua orang merasa cukup puas dengan hasil kerja mereka. "Bagaimana kamu semua? Apakah soalnya sulit?" tanya Rina dengan sedikit cemas. Kinta tersenyum. "Tidak terlalu sulit, kita sudah banyak belajar tentang hal-hal yang keluar di soal."
Bagian kedua adalah pidato lisan dengan tema "Persahabatan Antar Budaya". Setiap anggota tim harus memberikan pidato selama 3 menit dalam bahasa Jerman.
Rio menjadi yang pertama tampil. Dia berdiri dengan percaya diri di atas panggung dan mulai berpidato tentang bagaimana persahabatan bisa menghubungkan orang dari berbagai latar belakang budaya. Suaranya jelas dan pelafalannya benar, membuat juri terkesan.
Selanjutnya adalah Mei. Dia berpidato tentang pengalamannya tinggal di Jepang dan bagaimana dia menemukan teman-teman baru yang berasal dari berbagai negara. Ceritanya menyentuh hati dan membuat beberapa juri merasakan getaran emosional.
Kemudian giliran Yuki. Dia berpidato tentang bagaimana kelompok teman nya tumbuh menjadi lebih besar dengan adanya teman baru dari berbagai daerah, dan bagaimana mereka belajar saling menghargai perbedaan. Suaranya lembut tapi penuh makna, membuat semua orang yang mendengarnya terpukau.
Setelah itu adalah Kinta, yang berpidato tentang pentingnya memahami budaya lain untuk menciptakan dunia yang lebih damai. Dia menggunakan contoh dari bagaimana mereka belajar bahasa Jerman dan budaya Jepang bersama-sama.
Hana tampil selanjutnya dengan tema tentang makanan sebagai jembatan persahabatan antar budaya. Dia bercerita tentang bagaimana mereka belajar kosakata melalui makanan dan bagaimana makanan bisa menyatukan orang-orang. Ceritanya lucu dan menghibur, membuat juri dan penonton tertawa.
Terakhir adalah Rina, yang berpidato tentang bagaimana seni bisa menjadi bahasa universal yang menghubungkan orang dari berbagai budaya. Dia bahkan menunjukkan beberapa lukisan yang dia buat tentang budaya Jepang dan Indonesia, membuat semua orang terkesan dengan keahliannya.
Setelah semua anggota tim tampil, mereka mendapatkan tepukan tangan yang meriah dari penonton dan juri. "Kalian semua tampil sangat baik!" ucap salah satu juri dengan senyum puas.
Bagian ketiga adalah kompetisi cerita berbahasa asing, di mana seluruh tim harus bekerja sama untuk menyampaikan sebuah cerita dalam bahasa Jerman dengan menggunakan gerakan dan ekspresi wajah.
Mereka memilih cerita tentang seorang anak yang menemukan teman baru dari negara lain dan belajar tentang budaya berbeda. Mereka bekerja sama dengan sangat baik setiap orang memiliki peran yang jelas dan mereka saling mendukung satu sama lain saat menyampaikan cerita.
Hana dengan senang hati memainkan peran karakter lucu dalam cerita, membuat semua orang tertawa. Rina menggunakan ekspresi wajah yang kaya untuk menyampaikan emosi karakter, sedangkan Rio dan Kinta menjaga alur cerita tetap lancar. Yuki dan Mei menjadi penghubung antara semua karakter, memastikan cerita berjalan dengan baik.
Saat mereka menyelesaikan cerita, seluruh ruangan bertepuk tangan dengan antusias. Bahkan beberapa peserta dari tim lain memberikan mereka pujian. "Kalian benar-benar hebat! Ceritanya sangat menarik dan menyenangkan!" ucap salah satu peserta dari tim lain.
Bagian terakhir adalah sesi wawancara dengan juri, di mana setiap anggota tim akan diwawancarai tentang pengalaman mereka belajar bahasa asing dan budaya lain.
Juri mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari mengapa mereka memilih bahasa Jerman, hingga bagaimana mereka menerapkan apa yang mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menjawab dengan jujur dan penuh semangat, menunjukkan betapa mereka menyukai apa yang mereka lakukan.
Saat sesi wawancara selesai, mereka semua merasa sangat lelah tapi puas. Mereka telah memberikan yang terbaik dari diri mereka dan merasa bahwa mereka sudah melakukan segalanya yang bisa mereka lakukan.
Setelah semua bagian lomba selesai, semua peserta berkumpul di aula utama untuk menunggu pengumuman pemenang. Suasana menjadi sangat tegang saat juri mulai membaca nama-nama pemenang.
"Untuk kategori tim terbaik, juara ketiga adalah Tim SMA Negeri 5!" ucap ketua juri, diikuti dengan sorakan senang dari tim tersebut.
"Juara kedua adalah Tim SMA Negeri 3!" sorakan semakin meriah saat nama tim tersebut disebutkan.
Kita semua merasa sedikit kecewa tapi tetap berharap. Hana menggenggam tangan Dina dengan erat, sedangkan Rio mengambil napas dalam-dalam.
"Dan juara pertama adalah... Tim Yuki — kelompok Yuki, Kinta, Hana, Rina, Mei, dan Rio!"
Suara sorakan dan tepukan tangan meriah memenuhi ruangan. Mereka semua tidak percaya dan saling memeluk dengan penuh kebahagiaan. Air mata bahagia mengalir di wajah mereka semua — semua usaha dan kerja keras mereka akhirnya membuahkan hasil.
Mereka naik ke atas panggung untuk menerima piala dan hadiah uang pembinaan serta kesempatan untuk mengikuti kunjungan budaya ke Jerman selama seminggu.
Ketua juri memberikan pujian kepada mereka. "Tim kalian menunjukkan kerja sama yang luar biasa dan pemahaman yang mendalam tentang bahasa dan budaya Jerman. Selain itu, kalian juga berhasil menunjukkan bagaimana persahabatan bisa menghubungkan orang dari berbagai latar belakang. Ini adalah nilai yang sangat berharga."
Setelah upacara penyerahan hadiah selesai, mereka dihampiri oleh teman-teman dari tim lain yang memberikan mereka pujian. Bahkan Bu Siti dan Ayase yang datang untuk menyaksikan lomba langsung datang memeluk mereka dengan bangga.
"Aku sangat bangga dengan kalian semua!" ucap Bu Siti dengan suara penuh emosi. "Kalian telah membuktikan bahwa kerja sama dan persahabatan bisa mengatasi segala rintangan."
Ayase juga menambahkan. "Aku selalu tahu bahwa kalian bisa melakukannya. Semua usaha dan waktu yang kalian habiskan untuk belajar tidak sia-sia."
Malam itu, mereka semua berkumpul di rumah Yuki untuk merayakan kemenangan mereka. Ayase memasak makanan kesukaan mereka semua, termasuk makanan Jepang yang mereka pelajari bersama.
Mereka makan bersama di taman belakang rumah Yuki, dengan dekorasi kecil yang mereka buat sendiri. Mereka berbagi cerita tentang pengalaman mereka selama lomba dan tertawa bersama saat mengingat momen-momen lucu yang terjadi selama persiapan lomba.
"Ingat saat kita belajar membuat sushi dan Hana salah membungkusnya jadi bentuk bola?" ucap Rina dengan tertawa. Hana juga tertawa. "Ya dong! Tapi akhirnya aku bisa membuatnya dengan benar kan!"
Rio mengambil gitar yang dia bawa dan memainkan lagu-lagu yang menyenangkan. Mereka menyanyi bersama sambil menikmati malam yang indah. Mei bahkan mengajarkan mereka tarian tradisional Jepang yang dia pelajari saat tinggal di sana.
Di tengah perayaan, Yuki berdiri dan mengambil gelas jusnya. "Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang. Tanpa kalian, kita tidak akan bisa mencapai ini. Kita bukan hanya sekadar tim kita adalah keluarga yang saling mencintai dan mendukung satu sama lain."
Semua orang mengangkat gelas mereka dan bersorak. "Selamat atas kemenangan kita! Semoga kita selalu bersama!" teriak mereka bersama-sama.
Setelah perayaan selesai, mereka semua duduk bersama-sama melihat bintang-bintang yang bersinar di langit. Mereka membicarakan rencana mereka untuk kunjungan budaya ke Jerman dan bagaimana mereka akan mempersiapkannya.
"Kita harus belajar lebih banyak tentang budaya Jerman sebelum pergi sana," ucap Mei dengan semangat. "Aku bisa mengajari kalian tentang adat istiadat dan bahasa sehari-hari yang digunakan di sana."
Rio juga menambahkan. "Aku akan membuat buku panduan digital untuk perjalanan kita agar kita bisa lebih siap."
Yuki melihat semua teman nya yang bahagia dan merasa sangat bersyukur. Dia tahu bahwa semester baru ini telah membawa banyak hal baru dalam hidupnya teman baru, pengalaman baru, dan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan nya.
Kinta mendekat dan menggenggam tangannya Yuki. "Kamu sangat luar biasa, Yuki. Aku sangat bangga bisa bersama kamu dalam perjalanan ini." Yuki tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Kinta. "Terima kasih, Kinta. Tanpamu dan teman-teman kita, semua ini tidak akan mungkin terjadi."
Mereka tahu bahwa masih ada banyak hal yang akan datang dalam hidup mereka, tantangan baru dan kesempatan baru yang akan menguji mereka. Tapi dengan persahabatan dan cinta yang mereka miliki, mereka yakin bisa mengatasi segala sesuatu dan mencapai impian mereka bersama-sama.