NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Menyerang Kompetensinya

Rasa kebas di pipinya memudar. Udara pagi merayap masuk melalui ventilasi paviliun, membawa aroma tanah basah dan samar-samar bau lilin malam dari pabrik batik di depan.

Sumarni menatap bayangannya di cermin retak.

Kain kebaya kutubaru yang melekat di tubuhnya sudah memudar. Noda sisa jamu semalam dia cuci seadanya, menyisakan jejak kecokelatan samar di bagian leher. Tumpukan pakaian di laci lemarinya berbau pesing, rusak digerogoti tikus.

Perempuan desa asli mungkin akan meratapi nasib. Sumarni justru menghela napas pendek.

Di kehidupan masa depannya, dia pernah menghadiri rapat pemegang saham krisis hanya dengan kemeja linen murah karena kopernya hilang di bandara. Keanggunan tidak ditentukan oleh kain sutra, melainkan oleh siapa yang memakainya.

Tangannya bergerak cepat. Dia menyisir rambut lebatnya ke belakang, menggulungnya menjadi sanggul rendah yang rapi, lalu menusukkan sebatang tusuk konde kayu pinus sederhana. Wajahnya bersih tanpa riasan, menonjolkan tulang pipinya yang tegas.

"Ibu..."

Suara parau menarik perhatian Sumarni. Dimas berdiri di ambang pintu kamar mandi, mengucek matanya. Kaus putihnya dekil, tapi wajah dan tangan bocah itu sudah bersih dari sisa makanan semalam.

Sumarni mendekat, merapikan kerah kaus Dimas yang longgar.

"Kita sarapan sekarang. Mas Harjono sudah janji," ucap Sumarni tenang. Ia menggenggam tangan mungil itu. "Tegakkan kepalamu. Kamu anak kandung pemilik rumah ini. Jangan pernah menunduk."

Dimas belum mengerti arti kalimat itu, tapi genggaman kuat Sumarni memberinya rasa aman. Ia menurut.

Mereka keluar dari paviliun belakang, menyusuri selasar menuju bangunan utama.

Ruang makan keluarga Tjokro sangat luas. Lantai terasonya mengilap. Lampu gantung kristal kekuningan memancarkan cahaya redup ke atas meja kayu jati panjang.

Harjono sudah duduk di kursi utama, menyesap kopi tubruk dari cangkir porselen, pandangannya tertuju pada koran. Di sebelah kanannya, Sulastri duduk bersedekap. Kebaya sutra hijau zamrud membalut tubuh istri pertama itu dengan sempurna. Bibirnya berhias gincu merah muda.

Langkah kaki Sumarni dan Dimas memecah kesunyian.

Harjono menurunkan korannya. Tatapannya langsung jatuh pada Dimas yang bersembunyi di balik kaki Sumarni.

Sulastri meletakkan cangkir tehnya pelan. Bunyi dentingan kecil mengiringi pandangannya yang menyapu penampilan Sumarni. Sebuah senyum tipis, ramah namun mengintimidasi, terukir di wajahnya.

"Ya ampun, Dik Marni," sapa Sulastri. Suaranya halus, mengalun sengaja agak keras agar pelayan di sudut ruangan mendengar. "Ini meja makan keluarga, bukan dapur kotor. Kenapa bajumu lusuh sekali? Lihat, ada nodanya pula."

Sulastri menoleh pada Harjono, sorot matanya berubah penuh simpati. "Mas, lihat istrimu. Kalau para mandor pabrik melihat, mereka bisa mengira kita menelantarkannya. Ini menyangkut nama baik keluarga."

Dada Harjono bergemuruh ringan. Laki-laki pragmatis itu sangat menjaga wibawa di depan bawahannya. Ia menatap tajam ke arah Sumarni.

"Marni. Kenapa tidak pakai baju yang pantas?" tegur Harjono dingin.

Dulu, Sumarni asli akan menunduk dalam-dalam. Memohon ampun dengan suara bergetar menahan malu.

Kini, Sumarni terus melangkah maju. Sepatu selop plastiknya tidak bersuara, tapi langkahnya tegap. Dia menarik kursi di sisi kiri meja, mengangkat Dimas, lalu duduk dengan punggung tegak lurus.

Baru setelah Dimas tenang di sebelahnya, ia menatap Sulastri. Matanya sedingin balok es.

"Aku sangat ingin memakai kebaya pemberian Mas Harjono bulan lalu, Mbakyu," jawab Sumarni perlahan. Suaranya tenang, menguasai ruang makan itu. "Tapi sayang, paviliun belakang ternyata jadi sarang tikus."

Alis Harjono bertaut tipis. "Tikus?"

Sumarni beralih menatap suaminya. "Iya, Mas. Seluruh pakaianku di laci habis digerogoti. Bau kotorannya menyengat. Aku tidak berani memakai pakaian seperti itu ke meja makan dan merusak seleramu."

Sulastri tidak kehilangan ketenangannya. Senyum simpatiknya justru melebar, meski matanya menajam sesaat.

"Ah, Dik Marni. Jangan mengada-ada untuk menutupi kecerobohanmu menyimpan baju. Rumah ini dibersihkan setiap hari," elak Sulastri lembut. Ia menatap Harjono sejenak, lalu kembali pada Sumarni. "Mungkin... kamu memang belum terbiasa merawat barang-barang bagus, Dik. Namanya juga orang dari desa."

Sumarni memiringkan kepalanya sedikit.

"Bukankah semua urusan rumah ini dipegang Mbakyu?" timpal Sumarni, suaranya naik setengah oktaf.

"Mbakyu yang mengatur jadwal kerja pelayan. Jika laci di paviliunku bisa sampai berbau pesing dan bajuku hancur dalam semalam, bukankah itu berarti pengawasan Mbakyu... longgar?"

Udara di atas meja makan memadat.

Serangan Sumarni mengenai sasarannya: kompetensi Sulastri sebagai nyonya rumah tangga.

Sulastri menatap lurus ke mata Sumarni. Gincu merah mudanya tetap tersenyum, tapi kali ini auranya berbahaya.

"Lancang kamu, Marni," ucap Sulastri pelan, tanpa nada marah. Ia berpaling pada suaminya. "Mas, aku rasa Dik Marni masih linglung karena sakit semalam. Bicaranya melantur. Nanti aku akan panggilkan Mbok Darmi untuk membersihkan lagi paviliunnya, agar dia merasa lebih nyaman."

Harjono menatap bergantian ke arah dua istrinya. Pragmatismenya bekerja. Ia tidak akan mempermalukan istri pertamanya di meja makan hanya karena keluhan istri kedua. Itu melanggar hierarki keluarga.

"Sudah." Harjono memotong tajam. Ia mengambil korannya kembali. "Sulastri, perintahkan pelayan periksa paviliun belakang nanti siang. Marni, jangan mencari-cari masalah pagi ini."

Harjono diam. Ia memilih posisi abu-abu. Menghukum tak satu pun, memenangkan tak satu pun.

Sulastri tersenyum puas. Tatapannya merendahkan Sumarni.

Sumarni mendecih pelan di dalam hati. Laki-laki ini... pion yang terlalu pasif. Ia tidak bisa mengandalkan Harjono untuk kemenangan instan.

Ia hanya mengangguk pelan, lalu meraih piring bersih. Ia menyendokkan nasi hangat, menuangkan sayur lodeh dan memotong sedikit empal daging untuk Dimas.

"Makan, Sayang," bisik Sumarni.

Dimas mengangguk. Bocah itu menyendok makanannya dengan lahap, bersiap menelan suapan pertama.

Namun, gerakan sendok Dimas tiba-tiba melambat, lalu terhenti.

Sumarni mengernyit. "Kenapa? Sayurnya kurang manis?"

Dimas menggeleng lemah. Sendoknya terlepas dan berdenting pelan di atas piring. Napas bocah itu mendadak tersengal berat. Matanya setengah terpejam. Tubuh mungilnya oleng, hampir jatuh dari kursi kayunya.

Sumarni sigap menangkap bahu anak itu. Tangannya tanpa sengaja menempel di tengkuk Dimas.

Jantung Sumarni berhenti berdetak.

Panasnya luar biasa. Kulit Dimas membakar telapak tangannya. Keringat dingin merembes dari dahi pucat itu, disusul rintihan menyayat hati. Suhu tubuhnya melonjak gila-gilaan hanya dalam hitungan menit.

Ini bukan efek lapar. Ini demam tinggi yang mematikan.

1
Wiecipa Wicipha
suka..../Rose//Heart/
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!