NovelToon NovelToon
The Affair Mr. K

The Affair Mr. K

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Action / Selingkuh
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi dunia luar, pernikahan Dr. Emmeline Valerio dan Edward Snowden adalah simbol kesempurnaan dinasti papan atas di Los Angeles.

Namun, di balik dinding mansion Snowden yang megah, pernikahan itu tidak lebih dari sebuah Janji memuakkan.

Puncaknya, harga diri Emmeline sebagai seorang wanita diinjak-injak ketika dia mendapati Edward membawa wanita selingkuhannya ke atas ranjang mereka.

Emmeline tidak menangis. Dia tidak mengemis. Sebaliknya, api dendam yang dingin menyala di dadanya. Dia memilih membalas dendam dengan menyerahkan tubuhnya pada masa lalunya: Kingdom Kyle Stone.

Kini, di antara ego suaminya dan gairah protektif sang mantan agen rahasia, Emmeline memilih untuk berdansa di dalam neraka yang dia ciptakan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2

"Sampaikan pesan pada jalangmu itu, Ed," kata Emmeline dengan senyuman miring yang penuh dengan penghinaan.

"Jika dia sangat menginginkan porselen mahal ini retak, maka katakan padanya... retakan ini akan memotong urat nadi kalian berdua hingga mati. Aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja. Nikmati sisa waktu kebebasanmu, karena mulai detik ini, hidupmu akan berubah menjadi neraka."

Emmeline sudah siap memutar tubuhnya, mencengkeram gagang koper dengan jemari yang mengeras bagai baja.

Namun, tepat sebelum tumit sepatunya melangkah melewati ambang pintu, sebuah suara tawa yang hambar dan dingin memotong keheningan kamar.

Edward tertawa. Bukan tawa panik seperti sebelumnya, melainkan tawa mengejek yang sarat akan racun.

"Neraka?" Edward melangkah maju, membiarkan handuknya yang setengah basah terseret di lantai.

Tatapan matanya yang tadi sempat menyiratkan rasa bersalah kini sepenuhnya menguap, digantikan oleh binar kelam yang penuh kepuasan sadis.

"Kau ingin membuat hidupku menjadi neraka, Emmeline? Kau pikir kau punya kartu as untuk menghancurkanku?"

Pria itu berhenti tepat dua langkah di belakang Emmeline. Aura mengancam mendadak menguar dari tubuh tinggi menjulang itu.

"Bagaimana mungkin aku bisa berhasrat padamu, Emme?" bisik Edward tepat di dekat telinga istrinya, suaranya pelan namun tajam bak sembilu.

"Kau sudah tidak suci. Pria mana yang akan menerimamu? Hah? Pria mana? Katakan padaku!"

Kata-kata itu menghantam punggung Emmeline seperti hantaman godam.

Tubuhnya mendadak kaku. Cengkeramannya pada gagang koper bergetar hebat, bukan lagi sekadar karena amarah, melainkan karena sebuah kotak pandora kelam masa lalunya baru saja disentak paksa oleh pria di belakangnya.

Edward berjalan memutari tubuh Emmeline, sengaja menghadang jalannya dan bersedekah dada dengan senyum kemenangan yang memuakkan.

"Kau mengatai kekasihku jalang, lalu sebutan apa untukmu yang mengaku bahwa kau tidak suci lagi di malam pertama? Kau mengutuk Niyna seolah-olah kau adalah malaikat tanpa cela, padahal tubuhmu sendiri sudah bekas pakai orang lain!"

Bekas pakai.

Dua kata itu berdengung mengerikan di kepala Emmeline, menyentuh titik paling rapuh yang selama ini dia kubur dalam-dalam di bawah lapisan kesombongan dan kemewahan namanya.

Itulah kebenarannya.

Sebuah fakta pahit yang melandasi kepasrahan Emmeline selama empat bulan ini.

Sebelum Edward membuat pengakuan palsu tentang penyakit psikologisnya di malam pertama mereka, Emmeline—dengan seluruh rasa bersalah yang menggerogoti dadanya—telah mengaku lebih dulu kepada Edward.

Dengan air mata penyesalan dan tubuh bergetar di atas ranjang pengantin, Emmeline menyerahkan rahasia terbesarnya: bahwa dia sudah tidak lagi perawan.

Edward mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi Emmeline malam itu.

Dan kini, pria itu menggunakan kejujuran Emmeline sebagai senjata pemusnah masal untuk mempertahankan egonya yang terluka.

"Kenapa diam, Emme? Ke mana perginya wanita angkuh yang barusan mengancam akan memotong urat nadiku?" Edward terkekeh, menikmati perubahan ekspresi di wajah istrinya yang mendadak pias.

"Kau merasa paling suci di mansion ini? Kita sama-sama kotor. Bedanya, aku melakukannya dengan wanita yang kucintai, sedangkan kau? Kau bahkan tidak tahu siapa bocah yang menidurimu!"

Pikiran Emmeline mendadak ditarik mundur secara paksa ke Enam tahun yang lalu.

Ke sebuah malam musim panas di Los Angeles yang mengubah seluruh garis takdir hidupnya. Saat itu usianya baru 20 tahun.

Emmeline Valerio di masa universitas adalah definisi dari kesempurnaan yang berjalan.

Dia adalah putri keluarga Valerio yang kaya raya, berwajah bak dewi Yunani, memiliki otak yang cerdas, dan dikelilingi oleh antek-antek yang selalu memujanya.

Namun di balik semua kesempurnaan itu, Emmeline adalah seorang perundung. Dia adalah Ratu Bully universitas yang angkuh, sombong, dan menganggap semua orang yang berada di bawah status sosialnya hanyalah sampah yang bisa diinjak.

Keangkuhan itulah yang akhirnya membawa Emmeline masuk ke dalam jebakan yang mematikan.

Seorang pembenci dari lingkaran pergaulannya yang menaruh dendam mendalam merencanakan sebuah balas dendam yang rapi di sebuah pesta malam eksklusif.

Minuman Emmeline dicampur dengan obat perangsang berdosis tinggi.

Ketika kesadarannya mulai menguap dan tubuhnya membara oleh gairah yang tidak alami, Emmeline diseret keluar dari area pesta, ditinggalkan di sebuah paviliun kosong yang gelap di sudut halaman mansion tempat pesta berlangsung.

Dalam kondisi setengah gila dan kehilangan akal sehat akibat pengaruh obat, pintu paviliun itu terbuka.

Seseorang masuk. Namun, ingatan Emmeline tentang detail malam itu sedikit buram. Dia hanya mengingat kilasan samar: seorang pemuda dengan seragam High School (SMA) yang tampaknya tersesat atau mencari sesuatu.

Gilanya, dalam pengaruh obat yang membakar seluruh sarafnya, Emmeline-lah yang menjadi monster malam itu.

Dia yang angkuh, dia yang tidak pernah tersentuh, justru kehilangan seluruh harga dirinya.

Dengan napas memburu dan air mata frustrasi, Emmeline menarik seragam pemuda itu, mengunci pintu, dan memaksa melakukan hal gila tersebut.

Pemuda SMA itu sempat menolak, terkejut dengan kegilaan wanita asing yang menyerangnya, namun kekuatan obat perangsang dan agresivitas Emmeline yang tak terkendali menyeret mereka berdua ke dalam pusaran dosa malam itu.

Ketika fajar menyingsing dan pengaruh obat mulai surut, Emmeline terbangun dengan tubuh sakit dan kesadaran yang mengerikan.

Di sampingnya, pemuda berseragam SMA itu duduk di tepi ranjang dengan Pandangan yang...tidak bisa Emmeline Jelaskan.

Emmeline yang gengsi dan angkuh menolak untuk terlihat lemah.

Dia bangkit, mengenakan pakaiannya yang berantakan, dan menatap pemuda itu dengan tatapan dingin yang dipaksakan, menyembunyikan badai ketakutan di dalam hatinya.

"Jangan pernah berpikir untuk melaporkan ini, atau mengemis uang dariku," desis Emmeline saat itu, suaranya bergetar namun tetap terkesan sombong.

Pemuda SMA itu menoleh. Wajahnya tampan, namun masih menyisakan gurat remaja yang kentara.

Dia menatap Emmeline dengan pandangan mata yang sulit diartikan—campuran antara rasa bersalah, amarah, dan sesuatu yang dingin.

"Aku tidak butuh uangmu," kata pemuda itu, suaranya serak khas remaja yang baru puber. "Dan aku belum bisa bertanggung jawab dikarenakan aku masih sekolah. Aku masih... SMA."

Emmeline tertawa meremehkan saat itu. Bertanggung jawab? Menikah dengan bocah SMA? Yang benar saja. Dia adalah Emmeline Valerio.

Pemuda itu kemudian bangkit, mengambil secarik kertas dari atas meja, menuliskan sebuah nama singkat dan nomor telepon yang tampaknya baru saja aktif.

"Aku hanya tahu namamu. Namaku... jika malam kita ini menghasilkan seorang Bayi, maka kau bisa menghubungiku. Aku akan mencari cara."

Emmeline mengambil kertas itu hanya Melihat sekilas dan merobeknya di depan wajah sang pemuda.

Predikat ratu universitas dan kesempurnaan yang dimilikinya membuatnya menolak untuk mengakui bahwa dia telah dinodai oleh seorang anak sekolah.

Setelah malam panas itu berlalu, Emmeline mengurung diri selama berminggu-minggu, memastikan dengan cemas apakah dirinya hamil atau tidak.

Ketika bulan berikutnya siklusnya datang dan terbukti tidak terjadi kehamilan apa pun, Emmeline bernapas lega. Dia menghapus memori itu, membuang jauh-jauh nama pemuda SMA tersebut hingga dia sendiri lupa siapa nama yang tertulis di kertas itu.

Dia mengira rahasia itu akan terkubur selamanya.

Sampai akhirnya dia bertemu Edward, jatuh cinta, dan terpaksa jujur di malam pertama mereka karena takut Edward akan menyadari kebohongannya.

Kembali pada kenyataan sekarang.

Suara gemuruh petir di luar kamar seolah menarik Emmeline kembali dari kilas balik yang menyakitkan.

Dia menatap Edward yang masih berdiri di depannya dengan senyum mengejek. Luka lama yang sengaja dikoyak oleh Edward membuat dada Emmeline berdenyut nyeri, namun alih-alih hancur, rasa sakit itu justru mengkristal menjadi kemarahan yang dingin dan murni.

Emmeline menarik napas dalam-dalam, menstabilkan suaranya yang sempat tercekat. Dia melangkah maju, mendekatkan wajahnya pada Edward hingga pria itu bisa melihat kilatan benci yang membara di manik mata istrinya.

"Kau benar-benar brengsek, Edward," ucap Emmeline, suaranya begitu rendah, dingin, dan penuh penekanan.

"Kau menggunakan kejujuranku, rahasia paling kelam dalam hidupku yang kupercayakan padamu sebagai suamiku, untuk membenarkan tindakan menjijikkanmu dengan jalang itu?"

Edward menaikkan sebelah alisnya, tidak terpengaruh. "Aku hanya berbicara fakta, Emme. Kau tidak punya hak untuk bersikap seolah-olah kau adalah korban yang paling tersakiti di sini. Pernikahan ini sejak awal adalah transaksi bisnis untuk keluarga ku. Kau butuh status pria terhormat untuk menutupi tubuhmu yang sudah cacat, dan aku butuh nama Valerio untuk mengamankan posisiku di Snowden Group."

Edward berjalan menuju meja kerjanya yang berada di sudut kamar, mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.

Dia mengembuskan asapnya ke udara, menatap Emmeline dari balik kepulan asap tipis.

"Enam bulan," kata Edward tiba-tiba, memecah keheningan. "Setelah enam bulan, mari kita bercerai."

Emmeline tertegun sejenak. "Enam bulan?"

"Ya. Enam bulan dari sekarang adalah peluncuran proyek mega-resort Snowden-Valerio di Las Vegas. Jika kita bercerai sekarang, kerja sama itu akan batal," jelas Edward dengan nada yang dingin.

"Kita jalani ini sebagai pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan ke depan. Di depan publik dan keluarga, kita adalah pasangan ideal. Di belakang mereka, kau bebas melakukan apa saja, dan aku bebas bersama Niyna. Setelah proyek itu selesai, kita ajukan perceraian dengan alasan ketidakcocokan. Bagaimana?"

Emmeline terdiam selama beberapa detik. Otaknya yang cerdas langsung berputar, menganalisis setiap keuntungan dan kerugian dari tawaran Edward.

Menganggukkan kepala berarti dia harus menahan muak melihat wajah pria ini selama setengah tahun lagi. Namun, menolak berarti dia akan menghancurkan bisnis ayahnya sendiri, sesuatu yang tidak akan pernah dia lakukan.

Perlahan, sudut bibir Emmeline terangkat. Senyuman yang tercipta kali ini bukan lagi senyuman pahit seorang wanita yang tertindas, melainkan senyuman penuh kelicikan yang dulu sering dia perlihatkan saat merundung musuh-musuhnya di universitas.

Ratu yang tertidur di dalam dirinya kini telah terbangun sepenuhnya.

"Baiklah," ucap Emmeline, suaranya terdengar sangat santai, bahkan terkesan ceria yang dibuat-buat. Dia melepaskan pegangannya dari koper, lalu berjalan menghampiri Edward dengan langkah anggun yang sensual.

Emmeline berhenti tepat di depan Edward, menatap asap rokok yang mengepul di antara mereka.

"Enam bulan. Aku menerima tawaranmu, Ed."

Edward sedikit terkejut dengan perubahan sikap Emmeline yang begitu cepat, namun dia menyembunyikannya dengan dengusan remeh. "Baguslah kalau otakmu masih berfungsi dengan benar."

"Selamat menikmati hari-hari mu dengan jalangmu, Ed," lanjut Emmeline, nadanya berbisik manis namun terdengar mengerikan.

Dia mengulurkan tangannya, merapikan kerah jubah mandi Edward dengan gerakan lambat yang penuh provokasi. "Tapi ingat satu hal... aturan ini berlaku untuk kedua belah pihak."

Edward mengernyitkan keningnya, merasa ada sesuatu yang salah dari tatapan mata Emmeline. "Apa maksudmu?"

Emmeline memundurkan langkahnya, menatap Edward dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang merendahkan.

Senyum miringnya semakin melebar, memancarkan aura pemberontakan yang belum pernah Edward lihat sebelumnya selama mereka menikah.

"Jika kau saja bisa berselingkuh, dan bahkan berniat menikahi jalangmu itu setelah kita bercerai..." Emmeline menggantung kalimatnya sengaja membuat atmosfer kamar semakin tegang. "...Maka tolong ajari aku selingkuh juga."

"Emmeline!" bentak Edward, wajahnya mendadak mengeras. Ego lelakinya kembali terusik mendengar ucapan istrinya. "Jaga bicaramu! Kau adalah seorang istri!"

"Istri? Istri di atas kertas yang bahkan tidak pernah kau sentuh karena kau terlalu sibuk mengemis gairah pada wanita lain?"

Emmeline tertawa renyah, suara tawanya terdengar merdu namun menusuk. "Jangan munafik, Edward Snowden. Kau yang membuka gerbang neraka ini, jadi jangan protes jika aku memutuskan untuk berdansa di dalamnya."

Emmeline kembali berjalan menuju kopernya. Dia tidak jadi membawa koper itu keluar dari mansion.

Dia hanya mengambil tas tangan dan kunci mobil sport-nya dari atas meja nakas.

Malam ini dia tetap akan pergi, bukan untuk melarikan diri seperti pecundang yang patah hati, melainkan untuk mencari hiburan yang bisa menghapus rasa muak di dadanya.

"Kau mau ke mana malam-malam begini?!" seru Edward saat melihat Emmeline berjalan menuju pintu dengan langkah mantap.

Emmeline menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, menoleh ke belakang dengan kedipan mata yang nakal namun dingin.

"Mencari mentor, Ed. Aku perlu belajar bagaimana cara menjadi peselingkuh yang hebat seperti suamiku. Jangan menungguku pulang."

Dengan kalimat penutup yang sarat akan tantangan itu, Emmeline melangkah keluar dari kamar.

Kali ini, tidak ada lagi air mata yang menetes. Setiap langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti genderang perang yang baru saja ditabuh.

Di dalam kamar, Edward hanya bisa berdiri terpaku, meremas rokok di tangannya hingga hancur dan menyisakan abu yang panas.

Ada rasa sesak yang tiba-tiba menjalar di dadanya—sebuah firasat buruk bahwa kesepakatan enam bulan yang baru saja dia buat, mungkin akan menjadi senjata makan tuan yang akan menghancurkan seluruh hidupnya tanpa sisa.

Sementara itu, di bawah guyuran hujan kota Los Angeles, mobil sport merah milik Emmeline melesat membelah jalanan malam yang sepi.

Lampu-lampu kota berkelebat di jendelanya, merefleksikan sepasang mata wanita yang kini dipenuhi oleh tekad bulat untuk membalas dendam.

Porselen mahal itu memang telah retak, namun serpihannya kini siap digunakan untuk melukai siapa saja yang berani bermain-main dengannya.

1
Zahra Alifia Hidayat
love my kaelix😍😍😍😍
Zahra Alifia Hidayat
pangeran bungsu kak😍😍😍😍😍
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
Sholikhah Sholikhah
penasaran dgn mantannya emmelin 🤔
Ros 🍂: mantan suaminya Sudah berakhir ya kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Bau2nya freya bkn gadis sembarangan,, mungkin ank konglo yg kabur / di culik pas kcl,, 🤭🤭 jodohnya ken kah,, jangan sampe ada cinta segi4,, 🤣🤣
Ros 🍂: Hihihi author mah ngikut alur Reader saja 🤭🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Tenang mom,, nanti jg di siapkan pawangnya masing2 untuk triple K sama othor,, 🤭🤭
Ros 🍂: haha mommy perlu dikasih tau kak🤭🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Cerita kaelix dulu kk,,! 😌
Ros 🍂: penasaran ya kak🤭
total 2 replies
Agus Tina
Lanjuut ... penasaran sama mantannya Mrs. Stone ...
Ros 🍂: Mantannya Siapa kak?
total 1 replies
Agus Tina
Bagus sekali ... alhirnya sang countess benar2 luluh
Ros 🍂: hehe iya kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Typo,, cucu audrey,, knp yara udah punya cucu,, 😌yara kan menantu audrey ipar emme,, 🤭
Ros 🍂: Author kacau kak🤣🤣 Lupaa 🤭🤭🙏🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Triplet ya thorrrr,, plisssss
Ros 🍂: sesuai request ya kak🫶🥰
total 1 replies
Dev..
istrinya Kensington kan Audrey thor🤔😅
Ros 🍂: asli Sampe lupa Kak 🤭🫶
total 3 replies
Dev..
Kensington kan thor..
Ros 🍂: ma'aciww ya kak komentarnya 🫶🥰
total 2 replies
Agus Hidayat
lanjut,kak kok Yara terus Audrey kak😍😍😍😍
Ros 🍂: kak, itu keliru sama ceritanya yang sebelah, hehe maaf Typo ya kak 🫶🙏🏻
total 1 replies
Agus Hidayat
kok Yara yg bener itu Audrey,Yara istrinya max menantunya ken🙏
Ros 🍂: maaf ya kak🤭 keliru 😭🤣🤣
total 1 replies
rachma yunita
lanjuuuuutt.. triple k
Ros 🍂: siap kak 🫶🙏🏻
total 1 replies
tri
lanjutin kak... saat anak2 mulai besar dan mengacau hahaha
Ros 🍂: Hahaha siap kak🫶🙏🏻
total 1 replies
Agus Tina
Bahagia sekali ... selamat mr and mrs. Stone
Ros 🍂: hheheh🥳🥳
total 1 replies
Mundri Astuti
pas dah sama kyle, satu militer tangguh, sebelahnya dokter bedah Badas euy
Ros 🍂: hehe sama-sama badas ya kak🤭
total 1 replies
durrotul aimmsh
i love your story kak...👍
Ros 🍂: ma'aciww kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Kenapa mereka berdua tiba2 jd manusia bodoh🤣🤣🤣
Ros 🍂: kwkwk🤭🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!