Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 — Kota Para Pengamat dan Pesan Masa Lalu
Archive Zero
Bab 26 — Kota Para Pengamat dan Pesan Masa Lalu
Perjalanan menuju timur kali ini terasa sangat berbeda. Tidak ada rasa terburu-buru, tidak ada ketegangan menghadapi bahaya, dan tidak ada beban berat di pundak. Kereta mereka melaju santai di jalanan yang kini jauh lebih aman, lebih rapi, dan lebih indah dibandingkan lima tahun lalu. Di mana pun mereka lewati, penduduk desa menyambut mereka dengan senyum ramah dan penghormatan, berterima kasih atas kedamaian yang kini mereka nikmati setiap hari.
Tiga minggu berlalu dengan cepat, dan akhirnya siluet Kota Para Pengamat mulai terlihat di kejauhan. Kota yang dibangun di atas dataran tinggi yang dikelilingi awan ini masih sama agung dan tenangnya seperti dulu, dengan bangunan-bangunan batu putih yang menjulang tinggi, perpustakaan raksasa, dan menara-menara pengamatan yang ujungnya seolah menyentuh langit. Namun, ada perubahan hangat yang terasa: kota ini kini lebih terbuka, lebih hidup, dan tidak lagi terasa dingin serta tertutup seperti masa lalu.
Begitu kereta mereka berhenti di halaman utama, Elara sudah menunggu di sana bersama beberapa tetua Pengamat. Wanita yang bijaksana dan tenang itu kini tampak lebih ceria, senyumnya lebih lepas, dan sorot matanya penuh kebahagiaan saat melihat kedatangan sahabat-sahabat lamanya.
"Kalian akhirnya datang!" seru Elara gembira, menyambut mereka satu per satu dengan pelukan hangat. "Rasanya baru kemarin kita berdiri bersama di sini merencanakan perjalanan berbahaya ke Jantung Dunia. Dan sekarang, kita bertemu lagi demi pengetahuan yang jauh lebih besar."
Ren tersenyum menyambutnya, diikuti Anya dan Kai yang langsung sibuk bertanya tentang penemuan baru itu.
"Suratmu membuat kami tidak sabar, Elara," kata Kai bersemangat, tangannya sudah gemetar ingin segera melihat catatan kuno itu. "Jejak Pencipta... tempat di mana segalanya bermula. Apakah catatan itu benar-benar nyata? Apakah lokasinya diketahui?"
Elara mengangguk mantap, lalu memberi isyarat agar mereka mengikutinya masuk ke dalam gedung perpustakaan pusat yang paling dalam, ruangan yang biasanya tertutup dan hanya boleh dimasuki oleh sedikit orang terpilih.
"Benar-benar nyata, Kai," jawab Elara sambil berjalan menyusuri lorong-lorong rak buku yang tak berujung itu. "Selama ribuan tahun, kami para Pengamat hanya menjaga sebagian kecil pengetahuan. Sebagian besar sejarah paling awal disegel dan disembunyikan karena dianggap terlalu berat atau terlalu membingungkan bagi makhluk hidup untuk dipahami. Namun, setelah kekacauan di Jantung Dunia berakhir, segel-segel itu perlahan meleleh sendiri, seolah alam mengizinkan kita akhirnya mengetahui kebenaran penuh."
Mereka berhenti di depan sebuah meja batu besar di tengah ruangan, di atasnya terhampar sebuah gulungan kulit hewan yang sangat tua, warnanya sudah kecokelatan dan tulisannya hampir pudar, namun masih terbaca berkat sihir pelindung kuno.
"Ini dia," ucap Elara pelan, suaranya penuh rasa hormat. "Catatan yang ditulis langsung oleh tangan para Penjaga Asal, ribuan tahun yang lalu, bahkan sebelum peradaban manusia berkembang pesat. Di sini tertulis tentang asal-usul dunia, asal mula kekuatan elemen, dan tujuan diciptakannya keseimbangan itu sendiri."
Ren, Anya, dan Kai mendekat, menundukkan kepala membaca tulisan kuno itu dengan saksama. Tulisan itu menceritakan bahwa jauh sebelum bumi terbentuk, ada kekuatan agung yang disebut Sang Pencipta, makhluk yang wujudnya melampaui imajinasi, yang menciptakan alam semesta ini dengan satu tujuan utama: menjadi tempat berkembangnya kehidupan yang bebas, cerdas, dan bahagia.
Namun, agar kehidupan bisa tumbuh dan bertahan, harus ada aturan. Harus ada keseimbangan. Maka diciptakanlah elemen-elemen dasar, diciptakanlah Jantung Dunia sebagai pusat pengatur, dan diciptakanlah para Penjaga Asal sebagai pemelihara sistem itu.
Dan di bagian akhir tulisan itu, tertulis pesan yang membuat napas mereka bertiga tertahan:
"Ketika keseimbangan terancam dan dikembalikan, ketika kegelapan yang lahir dari ketidaktahuan dikalahkan oleh cahaya pemahaman... maka akan terbuka jalan menuju Jejak Pencipta. Tempat itu bukan sekadar lokasi. Di sana, Sang Pencipta meninggalkan warisan terakhir: jawaban atas pertanyaan terbesar, dan kuasa untuk menentukan nasib selanjutnya dari seluruh kehidupan di alam semesta ini. Hanya mereka yang telah membuktikan kesetiaan pada keseimbangan, dan yang memegang kekuatan murni tanpa niat buruk, yang berhak melangkah ke sana."
Kai mengangkat wajahnya, matanya berbinar-binar antara takjub dan kaget.
"Jadi... keberadaan kami, perjalanan kami, bahkan pertempuran melawan Morgrath... semuanya sudah direncanakan atau diperhitungkan sejak awal? Bahwa suatu hari nanti akan ada orang yang pantas pergi ke sana?"
Elara mengangguk pelan.
"Sepertinya begitu. Kalian bertiga bukan sekadar pahlawan yang kebetulan muncul. Kalian adalah bagian dari rencana besar yang sudah tertulis sejak dunia ini lahir. Dan lihatlah ini..."
Elara menunjuk ke bagian bawah gulungan itu, di mana tergambar sebuah peta kasar namun jelas, dan sebuah simbol lingkaran dengan tiga titik di tengahnya—simbol yang sama persis dengan tanda lahir atau tanda kekuatan yang ada pada diri Ren, Anya, dan Kai.
"Lokasi Jejak Pencipta ada di ujung paling utara benua, di atas samudra beku yang tak berujung," jelas Elara. "Tempat yang selama ini dianggap sebagai ujung dunia, wilayah yang sangat dingin, sunyi, dan hampir tak mungkin dilewati makhluk hidup biasa. Namun, dengan kekuatan dan pemahaman yang kalian miliki sekarang... aku yakin kalian bisa sampai ke sana."
Anya merasakan hawa dingin samar menyentuh kulitnya, hawa yang akrab namun jauh lebih hebat dibandingkan apa pun yang pernah ia rasakan.
"Samudra beku..." gumam Anya. "Wilayah di mana elemen es dan air menjadi penguasa mutlak. Tidak heran tempat itu tersembunyi begitu lama."
Ren menatap simbol di peta itu lekat-lekat, merasakan getaran halu di dalam hatinya, sebuah panggilan lembut yang sudah ada sejak lama, namun baru sekarang terdengar jelas.
"Jadi ini alasan kenapa kekuatan ini diberikan kepada kita," ucap Ren pelan namun yakin. "Bukan hanya untuk menjaga keseimbangan di sini, tapi untuk melangkah lebih jauh, sampai ke sumber segalanya."
Ia mengangkat kepalanya, menatap Elara.
"Elara, ikutlah bersama kami. Pengetahuan dan kebijaksanaanmu sangat kami butuhkan. Kau adalah penghubung kami dengan sejarah masa lalu."
Elara tersenyum haru, lalu mengangguk mantap.
"Aku sudah menyiapkan perlengkapanku sejak kemarin. Aku sudah tahu sejak pertama kali bertemu kalian, bahwa nasibku akan terikat dengan perjalanan besar ini. Aku ikut denganmu, kawan-kawan. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, seperti apa wujud warisan terbesar Sang Pencipta itu."
Sore itu, persiapan dilakukan dengan cepat namun lengkap. Kota Para Pengamat memberikan bekal terbaik, peta paling akurat, dan perlengkapan khusus tahan dingin yang dibuat dengan teknik sihir tertinggi. Warga kota dan para Pengamat lainnya berkumpul mengantar keberangkatan mereka, penuh rasa hormat dan harap-harap cemas.
Sebelum matahari terbenam sepenuhnya, kereta mereka kembali melaju, kali ini ditemani satu kereta kecil lain yang dikendarai Elara. Tujuan mereka kini berubah arah: bukan lagi ke timur, melainkan ke utara, menuju wilayah yang tertutup kabut abadi dan salju tebal, menuju ujung dunia yang penuh misteri.
Perjalanan ini bukan lagi sekadar menjaga apa yang ada, atau memperbaiki apa yang rusak. Ini adalah perjalanan untuk menemukan kebenaran tertinggi, untuk memahami makna sejati dari keberadaan dunia dan kekuatan yang mengalir di dalamnya.
Saat mereka meninggalkan dataran tinggi itu dan memasuki wilayah perbukitan utara, Kai berseru penuh semangat sambil menunjuk ke langit yang mulai berubah warna menjadi ungu kemerahan.
"Kalian sadar tidak? Dulu kita bertanya 'apa itu kekuatan?', lalu kita belajar 'bagaimana cara menggunakannya', dan sekarang kita akan tahu 'kenapa kekuatan itu ada'! Ini akan menjadi penemuan terbesar sepanjang sejarah!"
Ren tersenyum sambil memegang kendali, matanya menatap lurus ke depan dengan tekad yang semakin kuat. Di sebelahnya, Anya sudah mulai merasakan perubahan suhu udara, dan perlahan mengerahkan kekuatannya untuk menciptakan lapisan pelindung hangat di sekeliling kedua kereta itu.
"Siapkan dirimu, kawan-kawan," ucap Ren lantang, suaranya bergema gembira di antara angin utara yang mulai berhembus dingin. "Kita akan menembus samudra beku, menaklukkan ujung dunia, dan mengetuk pintu rumah Sang Pencipta sendiri!"
Di kejauhan, di balik kabut putih yang mulai tampak di cakrawala, samar-samar terlihat kilatan cahaya biru keemasan yang berdenyut pelan, seolah memberi isyarat selamat datang bagi para pengembara yang telah menempuh perjalanan panjang ini.
Jejak Pencipta semakin dekat, dan rahasia terbesar alam semesta perlahan mulai membuka tabirnya.
Bersambung...
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"