NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi / Iblis
Popularitas:786
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19.

Cup

Kedua bola mata Vince maupun Daniel terlihat membulat sempurna, kala ke duanya yang tertidur dengan sangat pulas harus di kagetkan dengan suara teriakan dan juga isak tangis yang baru saja keluar dari mulut Cherly.

Baik Daniel maupun Vince, membulatkan matanya masing masing. Bahkan teriakan juga keluar dari mulut ke duanya.

Setelah ke duanya menjauhkan bibir mereka masing masing yang sebelumnya saling menempel.

Aron sendiri hanya bisa memijat pelipisnya. Kala melihat anak angkatnya yang tertidur pulas seperti kerbau, padahal di ruang inapnya sendiri banyak sekali suara ribut, di tambah lagi dengan istrinya yang over saat menangis dan pandangan nya juga tak luput melihat ke arah Daniel dan Vince yang sedang berciuman mesra.

"Astaga, apakah hari ini nyata?" gumam Aron dalam hatinya sembari mengedipkan ke dua kelopak matanya, ia masih berusaha dengan sangat keras untuk meredam tangisan istrinya yang semakin lama terdengar semakin keras.

Bahkan Aron memilih untuk menutup ke dua telinganya, kala teriakan Daniel dan juga Vince ikut menggema bersamaan menyusul dengan suara teriakan istrinya.

Setelah 15 menit berlalu, akhirnya kesabaran Aron benar benar berubah setipis tisu.

"DIAM!!" Teriak Aron sehingga membuat semua orang yang mengeluarkan suara di dalam ruangan itu menjadi diam.

Bahkan Cherly yang tadi menangis lebay sekarang juga diam, melihat teriakan dan juga wajah merah padam yang di tunjukkan oleh suaminya.

Maura masih tertidur lelap, walaupun sesekali mengigau. Ia sama sekali tidak terganggu dengan suara ribut yang ada di dalam ruang inapnya.

Maura terlihat cantik seperti seorang peri kecil, apalagi di tambah dengan pantulan cahaya dari jendela yang mengenai tubuhnya.

Ceklek!

Pintu pun di buka, menampilkan Lian yang datang dengan sebuah tas kecil yang usang.

Lian yang melihat betapa ramainya orang yang memenuhi ruang inap anaknya pun terlihat malu, ia terlihat menyembunyikan tas usang di belakang tubuhnya, tas usang itu berisi baju dan perlengkapan anaknya yang sudah di isi dengan barang oleh Stela.

Stela hari ini ada rapat dengan para pemegang saham, jadi dia tidak ikut ke rumah sakit.

Cherly menatap tajam ke arah Lian dengan tatapan penuh amarah. Lalu ia terlihat menghapus air matanya, dan berjalan ke arah Lian dengan kaki yang di hentak hentakkan.

"Kenapa kau itu tinggalkan anak mu bersama dua orang me sum ini?" tanya Cherly dengan tatapan intimidasi.

Aron sendiri memilih diam, ia lebih memilih memikirkan cara untuk mengambil hak asuh Maura ke tangannya. Ia tidak bisa membiarkan Maura hidup dengan penuh penderitaan seperti ini.

"Maafkan aku Cherly, tapi aku benar benar tidak bisa menolak kuasa Stela." Lian dengan wajah malu dan terlihat bersalah bersalah terlihat menunduk.

"Astaga, jadi kamu membiarkan anak mu yang masih berumur 15 tahun di temani oleh ke dua orang jomblo ngenes ini semalaman. Astaga Lian, kalau kamu itu memang tidak sanggup merawat Maura, berikanlah hak asuh Maura kepada ku, seperti apa yang di minta mendiang Naura sebelum dia meninggal," jelas Cherly dengan nada sedih, kala dirinya menyebut nama Naura.

"Maafkan aku!" Lian yang bingung harus menjawab ucapan Cherly memilih tidak memperpanjang masalah, dengan mengucapkan kata maaf.

Vince dan Daniel yang sedari tadi berdebat dan akan adu jotos menghentikan aksinya, keduanya nampak tertegun mendengar pembicaraan yang di lakukan oleh Lian dan juga Cherly. Ke duanya saling pandang dan saling memandang dengan penuh tanda tanya.

"Terus? Kamu ternyata membohongi ku dan juga Aron. Katanya Maura sakit karena demam dan juga kecapean. Ternyata dia di rawat di sini karena luka cambuk yang ada punggungnya kan?" tanya Cherly dengan tatapan penuh intimidasi, bahkan kedua bola matanya terlihat berapi api kala menatap ke arah Lian.

"Bukankah kamu berjanji pada kamu berdua, jika cambukan yang Stela berikan setahun lalu itu adalah yang terakhir. Kenapa kamu mengingkari janjimu?" imbuh Stela dengan raut wajah kesal.

Glek

Lian hanya bisa menelan ludahnya yang kelu, bahkan ia terlihat menatap ke arah orang orang yang ada di ruangan inap putrinya dengan tatapan malu, ia merasa seperti seorang pecundang.

"Cambuk? Maura di cambuk?" tanya Daniel suara yang sangat lirih sembari menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.

Vince hanya menjawab ucapan sahabatnya itu dengan menganggukkan kepala sembari menghembuskan nafas dengan kasar.

Baik Vince maupun Daniel sekarang ini fokus dan juga tenggelam dalam pikirannya masing masing.

Tenggorokannya terasa tercekat, Lian merasa kesulitan hanya untuk mengucapkan sepatah kata.

"Apa kamu itu tidak kasihan dengan mendiang Naura? Bukankah dia sangat sedih di alam lain, saat melihat hidup anaknya yang harusnya bahagia punya dua ayah, dua ibu dan harta yang menggunung tapi malah hidup dalam penderitaan sejak kecil. Coba lihat tas usang di tangan mu yang di berikan Stela untuk di berikan pada anak kandung mu itu, bahkan tas itu lebih buruk dari pada tas pembantu di rumah ku --" Cherly menjeda ucapannya sejenak, dadanya terasa sesak jika membicarakan hidup putri angkatnya.

"Lian ... Lian ... sampai kapan kamu itu menyiksa ank kandung mu sendiri?" imbuh Cherly dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di jelaskan.

Aron terlihat menepuk bahu istrinya, lalu meremas bahu istrinya itu dengan sangat lembut seraya berkata, "aku sudah menghubungi seorang pengacara, aku akan membawa kasus Maura ini ke ranah hukum. Aku tidak bisa membiarkan putri kita terus di perlakukan seperti ini, kalau begini terus, bisa bisa Naura akan mengajak anaknya untuk ikut dengannya."

Perkataan yang baru saja keluar dari bibir Aron sukses membuat Lian sedih, bahkan Lian merasa ada sesuatu yang menghantam ke jantungnya.

Ingatan Lian sontak memutar saat Naura memohon padanya untuk menjaga anaknya dengan baik, lalu kenangan kenangan saat anaknya itu di siksa Stela saat masih kecil sampai dewasa seakan akan berputar putar terus di otaknya.

Air mata seketika luruh dan mengalir deras dari ke dua pelupuk mata Lian.

"Tapi .. Kalau Stela sampai mengatakan yang sebenarnya pada Maura gimana?" tanya Cherly dengan nada khawatir pada suaminya.

Saat Aron ingin menjawab, ia akhirnya memilih untuk mengurungkan niatnya. Karena ucapannya itu di sanggah oleh Lian.

"Jika Stela mengancam lagi, dia yang akan menjadi urusan ku! Kalau begitu aku meminta kalian untuk menjaga Maura terlebih dulu! Karena sekarang aku akan menemui pengacara ku dan membuat perhutangan dengan Stela," ujar Lian dengan suara dingin, bahkan tanpa menunggu jawaban yang lain, ia terlihat membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ruangan inap anaknya begitu saja.

Aron dan Cherly hanya bisa melongo, sembari menatap punggung Lian yang menghilang dari pintu.

"Kenapa Lian itu tidak melakukannya sejak dulu ya, Pih? Kenapa harus menunggu ancaman kita terlebih dulu!" cibir Cherly lalu berjalan ke arah anak angkatnya.

Aron memilih diam tidak menaggapi ucapan istrinya.

Daniel sendiri sudah lebih segar, karena habis keluar dari dalam kamar mandi. Bagaimana pun di dalam hatinya masih ada Cherly, ia tidak mau jika wanita yang masih ada di dalam hatinya itu melihat wajahnya yang kusut dan di penuhi oleh jigong Vince.

Sementara Vince masih duduk di sofa, sembari menatap ke arah tubuh Maura dengan tatapan iba. Bahkan rasa simpati, kasihan dan juga peduli semuanya ia rasakan kala menatap ke arah tubuh Maura yang tertutup selimut itu.

"Kenapa lo itu ikutan duduk?" tanya Vince heran.

"Ya gue ikutan lo lah! Elonya duduk, ya gue ikutan duduk!"

"Astaga, lo itu harusnya pergi ke sekolah!

"Terus kalau gue ke sekolah, elo di sini jagain Maura seharian! Enak saja, gue juga mau di sini, walaupun udah gak bisa memiliki, tapi memandang Cherly dari jauh adalah sebuah obat rindu."

bugh

Vince memukul kepala Daniel dengan keras.

"Eh, ngapain malah mukul gue?" tanya Daniel tidak terima.

Saat Vince akan menjawab, tiba tiba Cherly berteriak dengan sangat keras.

"Kalian berdua itu benar benar mengganggu! Sekarang lebih baik kalian berdua itu segera pergi dari sini!" titah Cherly dengan wajah merah padam.

Daniel dan Vince lagi lagi malah bertengkar. Aron yang ingin mengusir keduanya tiba tiba menghentikan aksinya, kala mendengar teriakan yang keluar dari bibir istrinya.

"Aduh ..... Pih ... Perutku sakit!" teriak Cherly dengan darah yang mengalir di kedua pahanya.

Sontak semua orang yang ada di dalam ruangan itu menjadi panik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!