Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Ponsel Kirana bergetar saat dia sedang menjemur cucian di halaman belakang. Awalnya dia mengira hanya pesan biasa, entah tetangga menanyakan menu, atau teman lama sekadar menyapa. Namun, begitu matanya membaca baris pertama pesan itu, tubuhnya mendadak kaku.
[Mbak Kirana, bisa tidak aku pesan paket rice bowl yang harga 15.000 sebanyak 100 porsi buat hari Jumat?]
Kirana membaca ulang pesan itu. Sekali atau dua kali, karena takut salah lihat.
“Se-ratus por-si?” gumam Kirana tergagap dengan suara pelan.
Jantung Kirana berdetak kencang, begitu kencang sampai terasa di telinga. Ada rasa takut yang menyusup dalam hatinya. Dia takut tidak sanggup, takut mengecewakan. Namun, rasa itu segera tertutup oleh perasaan lain yang jauh lebih besar, yaitu kesempatan dan bahagia.
Tangannya bergetar ketika membalas.
[Bisa, Bu Eka.]
Balasan itu terkirim, dan seketika Kirana menutup mulutnya dengan telapak tangan. Matanya berkaca-kaca.
Belum sempat ia menenangkan diri, pesan lain masuk.
[Aku transfer uangnya sekarang, ya. Tolong kirim nomor rekeningnya.]
Kirana duduk perlahan di kursi plastik dekat dapur. Napasnya tertahan beberapa detik sebelum akhirnya terlepas panjang.
“Ya Tuhan, ini beneran,” bisik Kirana lirih.
Dengan cepat Kirana mengirimkan nomor rekening. Beberapa menit kemudian, notifikasi masuk. Saldo bertambah. Jumlah yang selama ini hanya bisa ia lihat sebagai angka impian.
Belum selesai rasa syukurnya mengendap, ponsel kembali berbunyi.
[Mama Gita, bisa tidak pesan rice bowl untuk anak-anak? Serena bulan depan ulang tahun. Untuk paket nasinya aku ingin seperti yang dibawa Gita tadi ke sekolah.]
Kirana terdiam. Tadi pagi, ia memang membuatkan bekal spesial untuk Gita. Tidak mewah, hanya nasi putih hangat, nugget goreng, bola-bola mi, dan tumis buncis sederhana. Dia tidak menyangka bekal itu diperhatikan.
[Bisa, Mama Serena. Mau dibuatkan berapa porsi?]
Balasan datang cepat.
[Oh, syukurlah bisa. Aku pesan 50 porsi.]
Kirana menutup mata. Kali ini air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Lima puluh porsi. Seratus porsi. Dalam waktu kurang dari satu jam, pesanannya sudah ratusan.
Dia tidak menangis karena lelah. Tidak juga karena sedih. Tangis itu lahir dari perasaan yang sudah lama terkubur, yaitu perasaan dihargai.
Dengan langkah tergesa, Kirana menuju gudang kecil di samping dapur. Dia membuka lemari kayu tua yang selama ini jarang disentuh. Satu per satu peralatan masak berukuran besar ia keluarkan panci jumbo, wajan besar, baskom plastik lebar, pemanggang tua yang hanya dipakai saat ada acara kumpul keluarga besar, seperti lebaran.
Debu menempel di sana-sini. Kirana mencucinya satu per satu, tangannya bergerak cepat, seolah takut semangatnya keburu padam.
“Ternyata sekarang peralatan masak ini benar-benar berguna buat aku,” ucap Kirana lirih, lebih kepada diri sendiri.
Dulu, semua ini hanya simbol. Sekadar barang yang disimpan untuk acara besar keluarga. Kini, semuanya menjadi senjata bertahan hidup.
Hari-hari Kirana berubah menjadi rutinitas yang padat. Dia mulai memasak sejak pagi. Jam sembilan jualan dibuka. Pesanan datang silih berganti. Jam empat sore, semua selesai. Rumah sudah kembali rapi sebelum Rafka pulang.
Tak ada yang berubah dari luar. Namun di dalam, Kirana tahu, dia bukan perempuan yang sama.
Sore itu, Rafka pulang lebih cepat. Matahari bahkan belum sepenuhnya tenggelam ketika motor suaminya masuk ke halaman.
Kirana sedikit terkejut. Sudah lama Rafka tidak pulang secepat ini.
“Papa!” Gita langsung berlari menyambut ayahnya.
Rafka tersenyum, mengangkat tubuh kecil itu, memeluknya erat. Pemandangan itu seharusnya hangat. Namun, entah kenapa hati Kirana justru terasa nyeri.
Rafka masuk ke dalam rumah. Pandangannya menyapu ruang tamu, dapur, hingga halaman belakang. Semuanya bersih. Terlalu rapi.
“Sayang,” ucap Rafka sambil mendekat. “Kamu kenapa, sih, diam terus? Apa lagi capek? Atau sakit?”
Tangan Rafka mendarat di bahu Kirana, memijat perlahan. Sentuhan yang dulu selalu membuat Kirana merasa aman, kini terasa asing.
“Tidak, Mas,” jawab Kirana singkat tanpa menoleh.
Rafka mengerutkan dahi. Dia ingin berkata lebih, tapi urung.
“Papa, lihat!” seru Gita ceria.
Anak itu berlari membawa selembar kertas gambar. Rafka segera berjongkok, mengambilnya.
“Ini Papa, Mama, dan aku,” kata Gita bangga.
Di kertas itu, tergambar tiga sosok manusia sederhana. Papa, Mama, dan seorang anak kecil di tengah. Mereka saling bergandengan tangan. Berdiri berdekatan. Tidak ada jarak.
Kirana menatap gambar itu dari kejauhan.
Dadanya sesak. Gambar polos itu seperti tamparan. Mengingatkannya pada sesuatu yang mungkin tidak akan lama lagi ia miliki.
“Wah, Gita hebat sekali!” puji Rafka. “Ini ceritanya mau pergi ke mana naik mobil?”
“Kan, kita mau ke Timezone hari Minggu nanti,” jawab Gita tanpa ragu.
Rafka tersentak. Senyumnya membeku sepersekian detik. Janji itu dia hampir lupa. Kirana melihat semuanya. Ekspresi kecil itu tidak luput dari matanya. Ada rasa getir yang menjalar di lidahnya.
“Papa janji,” lanjut Gita polos. “Aku sudah cerita ke teman-teman.”
Rafka tertawa kecil, mencoba menutupi kegugupannya. “Iya ... iya. Papa ingat.”
Namun, Kirana tahu suaminya berbohong.
Malam itu, setelah Gita tidur, Kirana duduk sendiri di dapur. Dia menghitung uang, mencatat pesanan, menyusun rencana belanja bahan. Tangannya sibuk, pikirannya lebih sibuk lagi.
Rafka memperhatikannya dari pintu. “Sayang,” panggilnya pelan.
Kirana menoleh. “Ada apa, Mas?”
“Kamu sekarang sibuk sekali,” ucap Rafka. Entah pujian atau keluhan.
Kirana tersenyum tipis. “Ya, mau gimana lagi. Ini keharusan.”
Jawaban itu membuat Rafka terdiam. Dia tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Kirana.
Malam semakin larut. Di kamar, Rafka tidur lebih dulu. Kirana masih terjaga, matanya menatap langit-langit. Dia teringat gambar Gita. Teringat dengan janji Timezone antara suami dan anaknya.
Sekarang, hidup Kirana tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu orang. Dan itu membuat dia tak takut, sekaligus kuat.
Di luar sana, Rafka mungkin masih merasa rumahnya aman. Tidak tahu bahwa pelan-pelan, fondasi itu sedang bergeser.
Kirana sedang menyusun rencana untuk penyelesaian masalahnya, bukan dengan amarah atau bukan dengan teriakan. Dia juga seorang perempuan yang diam-diam belajar tidak lagi menggantungkan hidup pada cinta yang kini melukainya.
bab sebelumnya kirana mendapatkan struk belanja dr saku celana..
bab lanjutan dia melihat struk teselip di bawah meja rias..
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏