Di tengah kota mewah Seoul berdiri sebuah komplek elite bernama Royal Family Residence tempat tinggal empat keluarga sultan paling berpengaruh di Asia. Rumah mereka berdampingan, bisnis mereka mendunia, dan anak-anak mereka terkenal di sekolah elit Aexdrem High School serta Universitas Aexdrem.
Walaupun terlihat sempurna dari luar, isi rumah mereka justru penuh keributan, lawakan receh, drama keluarga, dan perang mulut tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Nana menunjuk dadanya sendiri pelan, lalu melanjutkan dengan nada lembut namun menyentuh hati.
"Bang Mark... cinta itu nggak soal siapa yang lebih dewasa, siapa yang lebih kaya, atau siapa yang lebih ganteng. Cinta itu soal siapa yang bikin kita nyaman, siapa yang bikin kita bahagia, dan siapa yang kita percayain seumur hidup. Dan buat aku... itu orangnya Jeno. Cuma Jeno. Tolong ya Bang, jangan pernah lagi coba pisahin aku sama dia. Karena sekeras apa pun Kakak coba, seberapa pintar pun Abang nyari celah... Kakak nggak bakal pernah bisa pisahin kita. Karena ikatan kita udah terlalu kuat, dan rasa sayang kita udah terlalu dalem."
Kalimat itu menohok dada Mark begitu keras. Kata-kata Nana itu terngiang jelas di telinganya, memecahkan semua harapan, semua rencana, dan semua ambisi yang dia bangun selama ini. Mark terdiam mematung. Dia menatap Nana yang kembali tersenyum bahagia saat Jeno sampai di samping mereka, dengan santai merangkul bahu kekasihnya itu dan menyodorkan minuman sambil bercanda riang.
"ngobrolin apaan sih berdua-berdua mukanya serius banget?" canda Jeno santai, sama sekali tidak curiga sedikit pun, sama sekali tidak menyadari betapa besar rasa iri dan rasa ingin memiliki yang dulu ada di hati abangnya sendiri.
Mark hanya bisa diam, menatap pemandangan di depannya itu. Dia melihat gimana Jeno menatap Nana dengan mata yang berbinar penuh cinta, dia melihat gimana Nana membalas tatapan itu dengan penuh kasih sayang dan keyakinan. Dia melihat kedekatan mereka, keakraban mereka, dan rasa percaya yang begitu besar di antara keduanya.
Perlahan tapi pasti, kesadaran itu mulai merayap masuk ke dalam hati dan pikiran Mark.
"Dia bener... Nana bener. Aku nyadar sekarang. Sekeras apa pun aku usaha, seberapa licik pun aku cara aku... aku nggak bakal pernah bisa dapetin Nana. Bukan cuma karena dia udah jadi pacar adikku, tapi karena hati Nana sendiri udah tertutup rapat buat orang lain selain Jeno. Dia bukan cewek murahan yang gampang berubah hati. Dia cewek setia, cewek yang kalau udah sayang, sayang banget. Dan sayangnya... rasa sayang itu bukan buat aku."
Rasa iri yang selama ini membakar hatinya perlahan berubah menjadi rasa pasrah, rasa sedih, dan akhirnya... rasa lega. Dia sadar, dia berjuang untuk sesuatu yang mustahil, dia mengejar sesuatu yang tidak akan pernah menjadi miliknya. Dia sadar, selama ini dia buta. Dia terlalu sibuk menatap ke depan mengejar sesuatu yang jauh dan tidak terjangkau, sampai-sampai dia lupa menoleh ke belakang... di mana ada seseorang yang selalu ada, selalu menunggu, selalu berjuang mati-matian demi dia, meski selalu dicuekin dan disakiti.
Perlahan, Mark memutar badannya pelan-pelan. Dia mencari sosok itu di antara kerumunan orang di atas kapal pesiar yang indah itu. Dan di sudut dek yang agak sepi, di dekat pagar pembatas, dia melihatnya.
Ada Haechan.
Cewek itu berdiri sendirian, memeluk tubuhnya sendiri karena angin laut yang makin kencang, menatap ke arahnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Di mata indah Haechan, Mark melihat segalanya. Dia melihat rasa lelah, rasa sakit, rasa kecewa... tapi di balik itu semua, dia melihat satu hal yang paling besar: Rasa Cinta yang Tulus dan Tak Bertepi.
Haechan tersenyum tipis saat mata mereka bertemu. Senyum yang menyembunyikan ribuan rasa sakit. Senyum yang seolah berkata: "Nggak apa-apa Kak... aku tetep ada di sini. Aku tetep nungguin kamu, walaupun kamu nggak pernah liat aku."
Hati Mark tersentuh begitu dalam. Untuk pertama kalinya, dia melihat Haechan bukan sebagai cewek yang mengganggu, bukan sebagai cewek yang nempel terus, bukan sebagai cewek yang dia benci... tapi sebagai sosok yang paling tulus, paling sabar, dan paling berharga yang ada di dekatnya. Dia ingat semua perjuangan Haechan. Dia ingat gimana Haechan selalu ada pas dia sedih, pas dia marah, pas dia kesal. Dia ingat gimana Haechan selalu bawain dia makanan kesukaan, selalu ingat hal-hal kecil tentang dia, selalu sabar nerima ketusannya, selalu berusaha bikin dia senyum walaupun selalu gagal.
"Gila... aku gila banget ya selama ini," batin Mark menyesal. "Aku nyia-nyiain malaikat yang ada di samping aku cuma demi ngejar sesuatu yang nggak mungkin. Nana bener... dia udah jatuh hati sama Jeno, dan dia bakal setia. Tapi Haechan... Haechan udah jatuh hati sama aku, dan dia tetep bertahan walaupun aku jahat banget sama dia. Kenapa baru sekarang aku nyadar? Kenapa baru sekarang aku ngerti siapa yang sebenernya berharga buat aku?"
Tanpa sadar, kaki Mark melangkah. Dia melangkah menjauh dari Nana dan Jeno, menjauh dari rasa iri dan kecewa itu, dan berjalan perlahan namun pasti menuju ke arah Haechan.
Haechan sedikit terkejut melihat Mark berjalan ke arahnya. Dia bahkan sampai mundur selangkah karena kaget, mengira Mark bakal marah atau menyuruhnya pergi lagi seperti biasa. Dia sudah bersiap menahan rasa sakit lagi.
"Mark? Ada apa?" tanya Haechan pelan, suaranya sedikit bergetar. "Maaf ya kalau aku ngalangin jalan atau ganggu... aku mau pindah kok, mau ke tempat lain aja."
Namun, bukannya menjauh atau memaki, Mark justru berhenti tepat di depan Haechan. Dia menatap wajah cewek itu lekat-lekat, menatap mata indah yang selama ini selalu menatapnya penuh cinta itu. Dan untuk pertama kalinya, bibir Mark melengkungkan sebuah senyum. Bukan senyum sinis, bukan senyum kaku... tapi senyum yang tulus, lembut, dan penuh rasa penyesalan sekaligus rasa sayang yang baru tumbuh.
Mark menggeleng pelan, lalu perlahan tangannya terulur, menyentuh ujung rambut Haechan yang tertiup angin laut, merapikannya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati. Sentuhan itu begitu hangat, begitu berbeda dari biasanya, membuat seluruh tubuh Haechan menegang kaku dan jantungnya berdegup kencang tak karuan.
"Jangan pergi, Chan..." ucap Mark pelan, suaranya rendah namun terdengar begitu jelas di telinga Haechan. Suara yang tidak lagi ketus, tidak lagi dingin, tapi penuh kelembutan yang belum pernah Haechan dengar sebelumnya. "Maafin aku ya... maafin aku selama ini jahat banget sama kamu. Maafin aku selama ini buta, maafin aku selama ini nggak pernah ngertiin perjuangan kamu. Aku baru sadar sekarang... aku baru ngerti semuanya sekarang."
Mata Haechan membelalak tak percaya. Air mata yang selama ini ditahannya mulai menggenang, membuat pandangannya buram. "Ka... Kak Mark? Maksudnya apa? Kakak nggak marah? Kakak nggak benci aku lagi?"
Mark menggeleng lagi, lalu perlahan dia mengulurkan tangannya, menggenggam kedua tangan mungil Haechan yang dingin dan gemetar itu di dalam genggamannya yang hangat dan besar.
"Nggak Chan. Aku nggak benci kamu. Justru... aku yang harusnya malu sama kamu. Aku bodoh banget ya? Terlalu sibuk ngeliat ke depan, sampai nggak sadar kalau di belakang aku ada kamu yang selalu ada, selalu jagain aku, selalu sayang sama aku lebih dari siapa pun. Nana bener... dia udah milik Jeno, dan nggak bakal pernah jadi milik aku. Aku nyerah, Chan. Aku udah berhenti ngejar hal yang nggak mungkin itu."
Mark menatap mata Haechan dalam-dalam, matanya berbinar penuh perasaan baru yang mulai bersemi indah.
"Dan pas aku nyadar itu... pas aku nengok ke belakang... aku liat kamu. Aku liat betapa tulusnya kamu, betapa sabarnya kamu, betapa besarnya rasa sayang kamu ke aku walaupun aku nyakitin kamu terus. Dan di detik itu juga... hati aku yang keras dan dingin ini perlahan mulai terbuka, mulai berubah, dan mulai ngarah ke kamu. Kamu yang selalu berjuang buat aku, sekarang giliran aku ya, Chan? Sekarang giliran aku buat buktiin kalau aku pantes dapetin rasa sayang kamu."
Air mata bahagia akhirnya jatuh membasahi pipi Haechan. Dia menangis, tapi kali ini bukan air mata sedih atau sakit hati... melainkan air mata kebahagiaan yang meluap-luap. Dia tidak bermimpi. Ini nyata. Cowok yang dia puja, cowok yang dia perjuangkan mati-matian, akhirnya menoleh. Akhirnya membuka hati. Akhirnya melihat keberadaannya.
"Mark... beneran kan? nggak bercanda kan? beneran udah nerima aku sekarang?" tanya Haechan terisak bahagia, tangannya membalas genggaman Mark erat sekali, takut kalau-kalau semua ini hilang sekejap.
Mark tersenyum makin lebar, lalu perlahan dia menarik tubuh Haechan masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan nyaman, membiarkan angin laut menerpa mereka berdua, membiarkan pemandangan senja yang indah menjadi saksi perubahan besar ini.
"Beneran, Chan. Serius banget. Mulai hari ini, mulai detik ini... aku nggak bakal nyia-nyiain kamu lagi. Aku bakal jadi cowok yang baik buat kamu, aku bakal jagain kamu, aku bakal perhatian sama kamu, aku bakal bikin kamu bahagia kayak kamu bikin aku bahagia diam-diam selama ini. Maafin aku ya harus bikin kamu nunggu lama banget, harus bikin kamu sakit hati dulu baru aku sadar. Tapi percaya deh... sekarang hatiku udah milik kamu. Udah terbuka lebar khusus buat kamu seorang aja."
Di kejauhan, Jeno dan Nana melihat pemandangan itu. Jeno tersenyum lebar dan menepuk bahu kekasihnya dengan bangga.
"Nah kan? Aku bilang juga apa. Abangku sebenernya hatinya nggak jahat. Cuma butuh waktu aja buat sadar siapa yang sebenernya berharga. Lihat deh Nana... akhirnya dia dapet kebahagiaannya juga, sama orang yang paling tulus sayang sama dia."
Nana tersenyum bahagia, mengangguk lega. "Iya... akhirnya ya. Indah banget liatnya. Semuanya jatuh ke tempatnya masing-masing deh akhirnya."
Di atas kapal pesiar mewah itu, di bawah langit senja yang begitu indah dan berwarna-warni, dua pasang kekasih berdiri di ujung kapal. Ada Jeno dan Nana yang saling mencintai dengan penuh keceriaan, dan ada Mark dan Haechan yang akhirnya bersatu setelah perjuangan panjang dan penuh rintangan. Mark yang tadinya dingin, iri, dan penuh ambisi... kini berubah menjadi sosok yang hangat, tenang, dan penuh rasa syukur. Dia sadar sekarang, kebahagiaan sejati itu bukan soal mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi menyadari dan mencintai apa yang sudah ada di depan mata kita. Dan baginya sekarang, kebahagiaan terbesar itu bernama Haechan.
Matahari pun perlahan tenggelam sepenuhnya ke dalam samudra, menutup hari itu dengan keindahan yang sempurna, dan membuka lembaran baru kisah cinta mereka yang akan jauh lebih indah, jauh lebih bahagia, dan abadi selamanya.