Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Clara adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.
Keseharian Clara dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Clara. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Clara di dalam keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesi Foto yang Tidak Biasa
Setelah prosesi penyerahan mahkota dan jabat tangan antarpria dominan selesai, suasana berubah menjadi lebih santai. Beberapa fotografer profesional yang disewa khusus oleh jaringan Hendra mulai mengarahkan kamera bersensor besar mereka ke tengah ruangan.
"Gus Zayyad dan Mbak Nara, silakan berdiri berdampingan di depan dekorasi minimalis. Agak merapat sedikit, Gus," instruksi sang fotografer sembari menyesuaikan lampu kilat studio.
Gus Zayyad melangkah kaku, menyandingi Nara yang tampak begitu anggun dalam balutan brokat putihnya. Aroma wangi melati yang pekat dari tubuh Nara menenangkan saraf taktis Zayyad yang tegang. Namun, dasar sang CEO kaku, posisinya berdiri tegak lurus bagai prajurit yang sedang apel siaga di markas komando, lengkap dengan rahang yang mengunci rapat.
"Gus, jangan terlalu tegang. Senyum tipis, Gus. Ini hari pernikahan, bukan sidang anggaran logistik hulu," goda Bapak Handoko dari sofa keluarga, memicu tawa kecil dari beberapa kiai sepuh Jombang yang masih berada di ruangan.
Sebelum Zayyad sempat menyesuaikan ekspresi wajah tampannya, sesosok bayangan mungil dengan *oversized hoodie* merah muda tiba-tiba menerobos masuk ke dalam bingkai kamera. Davika melompat kecil, menyelonong tepat di antara Zayyad dan Nara dengan sifat *random*-nya yang tidak kenal batas protokol takzim.
"Foto keluarga tanpa Davik si pembalap internasional itu ilegal!" seru Davika tanpa dosa. Tangan mungilnya yang super kecil langsung membentuk tanda peace tepat di depan dada bidang Gus Zayyad, sementara wajah dewasanya berpose imut dengan menjulurkan sedikit lidahnya.
Nara terbelalak. "Davika! Kamu ini merusak estetika foto estetis Mbak saja!"
"Biarin, biar seru! Ayo, Gus kaku, senyum! Satu... dua... tiga... say lip-tint " teriak Davika lantang.
*Cret!*
Lampu kilat studio menyala terang, mengabadikan sebuah momen yang luar biasa kontras: Nara yang tersenyum manis dengan keanggunan wanita shalihah, Davika yang berpose kedegilan tingkat dewa dengan mata *green-gray* langka yang berbinar jenaka, dan Gus Zayyad yang tertangkap kamera sedang melirik ke arah sikut mungil Davika dengan sudut bibir yang—untuk pertama kalinya dalam sejarah Al-Anwar.sedikit terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan.
...----------------...
Di sudut ruangan yang agak teduh, Kapten Sagara memperhatikan interaksi absurd adik bungsunya dari balik ponsel pintarnya. Ia melirik jam tangan penerbangannya yang telah berdentang pelan, menandakan waktu istirahat taktisnya di darat telah habis.
Sagara melangkah mendekati Abah Kiai dan Bapak Handoko untuk berpamitan. Pet kaptennya kembali terpasang rapi di atas tatanan rambutnya yang dingin dan intimidatif.
"Abah Kyai, Bapak... waktu transit saya sudah selesai. Malam ini saya harus memimpin penerbangan kargo logistik rute Jakarta menuju Beijing," ucap Sagara, suara baritonnya mengalun rendah namun sarat akan disiplin mutlak penguasa langit.
"Mas Gara mau terbang lagi? Yah... padahal Davik baru mau minta diajari cara bawa pesawat kargo buat balapan di awan," sahut Davika ceriwis, langsung berbalik meninggalkan spot fotonya.
Sagara mengusap puncak kepala Davika dengan tangan besarnya yang kokoh sebuah gestur perlindungan yang sangat hangat dari sang kakak tertua. "Belajar yang benar di kampus, Jerry. Jangan sampai nilaimu sekolah turun karena kebanyakan main motor balap."
Gara kemudian menatap lurus ke arah Gus Zayyad. "Gus, urusan tanah darat saya serahkan sepenuhnya kepada Anda dan Al-Anwar Logistik. Jika ada satu saja kerikil tajam yang berani mengganggu ketenangan adik-adik saya... Anda tahu di mana bisa menemukan armada saya."
Zayyad mengangguk takzim, memberikan penghormatan antarpria yang setara. "Laksanakan tugas Anda dengan aman di langit, Kapten. Di darat, muruah keluarga Mwohan adalah urusan nyawa saya."
Dengan satu anggukan tegas, Kapten Sagara berbalik. Jaket kulit hitamnya berkibar pelan seiring langkah kakinya yang lebar dan konstan meninggalkan kedemian Mwohan, bersiap kembali mengudara membelah awan malam benua Asia, meninggalkan bumi Jakarta yang kini telah kembali dalam dekapan kedamaian yang sempurna.
selalu bilangnya kitab😄😄😄