Dikhianati oleh sektenya sendiri dan dibuang dengan meridian yang hancur total, Ye Chen mengira takdirnya telah berakhir di dasar Lembah Kabut Beracun. Namun, di titik nadir kematiannya, sebuah pedang hitam misterius yang telah terkubur selama ribuan tahun bangkit dan memilihnya sebagai pewaris tunggal.Di dalam pedang hitam itu, bersemayam jiwa pendekar legendaris, Yue-Jian, yang siap membimbingnya. Berbekal kekuatan mengerikan Es Yin dan bilah pedang hitam yang mampu menebas takdir, Ye Chen bangkit dari kegelapan untuk menuntut balas. Dari seorang pemuda yang dianggap sampah, ia merangkak naik menembus batas kultivasi, menghancurkan setiap klan yang pernah menghinanya, dan merebut kembali kehormatannya."Saat pedang hitam ini terhunus, maka langit pun harus tunduk di bawah kakiku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sinar matahari pagi yang hangat dan keemasan menyelimuti seluruh tubuh Ye Chen saat ia melangkah keluar dari mulut gua tersembunyi itu. Setelah ribuan tahun terkurung di bawah tanah, terpisah dari cahaya matahari, menghirup udara segar dunia luar kini terasa seperti kenikmatan tertinggi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Udara di sini jauh lebih bersih, lebih sejuk, dan penuh dengan aroma kehidupan—berbeda jauh dengan udara lembap, dingin, dan berbau kematian yang mendominasi ruang-ruang kuno di bawah sana.
Ye Chen berdiri diam di atas tebing curam yang tertutup rumput hijau dan semak belukar. Di sekelilingnya, hutan lebat Hutan Pinus Merah membentang luas sejauh mata memandang, pohon-pohon raksasa menjulang tinggi seolah menopang langit, menciptakan suasana damai namun tetap menyimpan bahaya di balik kerimbunannya. Angin pagi berhembus lembut, menerbangkan ujung jubah hitamnya yang sudah agak lusuh dan berdebu bekas pertempuran panjang. Ia mengangkat wajahnya, memejamkan mata sejenak, membiarkan cahaya mentari menyentuh kulitnya, merasakan kehangatan yang menyeimbangkan hawa dingin yang terus-menerus memancar dari dalam tubuhnya.
"Akhirnya... kau benar-benar keluar," suara Yue-Jian terdengar lemah namun penuh kelegaan dan kebanggaan yang mendalam di dalam benak Ye Chen. Suara gurunya terdengar agak pelan, tanda bahwa roh yang tersimpan di dalam Pedang Hitam itu telah menguras banyak tenaga dan kekuatan rohnya selama membimbing, mengajari, dan bahkan membantu Ye Chen bertahan hidup selama di dalam reruntuhan. "Tempat itu telah menjadi rumahku dan penjaraku selama ribuan tahun. Meninggalkannya rasanya berat, tapi melihat kau keluar membawa warisan dan kekuatan ini... rasanya semua penantian panjang itu terbayar lunas."
Ye Chen membuka matanya kembali. Kilatan cahaya biru samar melintas sekilas di manik matanya yang jernih namun sedingin es. Ia menundukkan pandangan ke arah dadanya, di mana di balik pakaiannya, Liontin Giok Hitam itu masih berdenyut pelan, seolah enggan berpisah dengan tempat asalnya namun juga gembira bisa kembali ke dunia luar.
"Terima kasih, Guru," jawab Ye Chen pelan namun sungguh-sungguh. Suaranya rendah, berat, dan berisi rasa hormat yang tulus. "Tanpa Anda, aku mungkin sudah mati di lembah itu, atau menjadi bangkai tak berguna di salah satu lorong bawah tanah sana. Anda tidak hanya memberiku kekuatan, tapi juga memberiku alasan untuk hidup dan tujuan untuk berjuang."
"Sudah, jangan bicara soal utang budi di antara kita," potong Yue-Jian lembut, meski nadanya tetap tegas seperti biasa. "Kau adalah pewaris, aku adalah pembimbing. Itu sudah takdir yang tertulis sejak ribuan tahun lalu. Sekarang, fokuskan pikiranmu ke depan. Perjalananmu baru saja dimulai, Ye Chen. Apa yang kau dapatkan di dalam sana hanyalah dasar, pondasi awal dari sebuah bangunan raksasa yang akan kau dirikan nanti. Di luar sini, bahaya yang akan kau hadapi jauh lebih mengerikan, musuh yang akan kau lawan jauh lebih kuat dan jauh lebih licik dibandingkan patung batu atau serigala buas mana pun di dalam sana."
Ye Chen mengangguk mantap. Ia tahu betul kebenaran kata-kata itu. Di dalam reruntuhan, musuhnya jelas, kasat mata, dan bertindak berdasarkan insting atau aturan kaku. Namun di dunia persilatan luar sana, di Sekte Azure Cloud, di Kota Awan Melayang, musuhnya tersenyum manis di depan wajah namun menancapkan pisau di punggung saat kau lengah. Seperti Tetua Mo Feng. Seperti Bai Long.
"Apa langkah selanjutnya, Guru?" tanya Ye Chen sambil menatap ke arah kejauhan, di mana di balik hamparan pepohonan hijau itu, siluet bangunan megah dan puncak-puncak gunung terapung milik Sekte Azure Cloud mulai terlihat samar berkilauan di bawah sinar matahari. Jaraknya masih cukup jauh, namun bagi mata Ye Chen yang telah tajam berkat peningkatan kekuatan, ia bisa melihatnya dengan cukup jelas.
"Langkah selanjutnya adalah menstabilkan diri dan memacu kekuatanmu ke tingkat yang lebih tinggi," jawab Yue-Jian langsung ke pokok permasalahan. "Ingat posisimu saat ini, Ye Chen. Kau baru saja menyerap kekuatan Cairan Sumsum Yin seutuhnya, kau telah ditempa oleh energi murni ribuan tahun, kau telah memeras kemampuanmu sampai ke batas tertinggi saat bertarung melawan Serigala Kematian Berduri itu. Hasilnya? Kau sekarang berdiri kokoh di puncak ranah Qi Condensation Tingkat Kesembilan."
Yue-Jian menjeda sejenak, membiarkan informasi itu meresap, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin serius dan berat.
"Kau berada di ambang pintu besar. Di depanmu ada dinding tebal yang memisahkan antara manusia biasa dengan pendekar sejati: ranah Foundation Establishment. Di ranah Qi Condensation, kau hanya mengumpulkan energi, menyimpannya, dan menggunakannya. Itu hanyalah tahap persiapan. Tapi di ranah Foundation Establishment, kau akan mengubah struktur energi itu, memadatkannya, membentuknya menjadi Fondasi yang kokoh, kekal, dan abadi. Di ranah itu, umur panjangmu bertambah drastis, fisikmu berubah total, dan status sosialmu di dunia kultivasi naik berkali-kali lipat. Seorang yang baru saja mencapai Foundation Establishment, meski tingkat awal, sudah dianggap sebagai tetua atau tuan muda di sekte-sekte kecil, dan menjadi murid inti di sekte besar seperti Azure Cloud."
Mata Ye Chen menyipit tajam. Ia mengerti betul selisih besar antara dua ranah itu. Selama menjadi murid biasa di Sekte Azure Cloud dulu, ia sering mendengar penjelasan tentang tingkatan ini. Di Sekte itu, dari ribuan murid luar dan murid biasa, mungkin hanya ada kurang dari seratus orang yang berhasil menembus ke ranah itu. Dan mereka itulah kekuatan nyata sekte tersebut.
"Kalau begitu, aku harus segera menembus ranah itu," ucap Ye Chen tegas. Semangat juangnya kembali berkobar. Semakin kuat dirinya, semakin cepat ia bisa membalas dendam, semakin cepat ia bisa mengungkap kebenaran sejarah klannya, dan semakin aman ia dari ancaman musuh.
"Memang harus begitu," sahut Yue-Jian. "Masalahnya... menembus ranah Foundation Establishment tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada syarat mutlak yang harus dipenuhi. Pertama, kau harus memiliki energi yang cukup padat dan cukup banyak—syarat ini sudah kau penuhi bahkan berlebih berkat Cairan Sumsum Yin. Kedua, kau harus memiliki pemahaman yang cukup tentang aliran energi langit dan bumi, serta kau harus memadatkan energi itu di tempat yang memiliki konsentrasi energi tinggi. Kau tidak bisa menembus ranah itu sembarangan di tengah hutan belantara ini. Energi alam di sini terlalu tipis, terlalu kasar, dan tidak cukup murni."
Ye Chen mengerutkan keningnya samar. Ia mulai menangkap maksud gurunya.
"Jadi... aku harus masuk kembali ke wilayah Sekte Azure Cloud?" tanyanya pelan namun penuh penegasan.
"Benar sekali," jawab Yue-Jian tegas. "Di wilayah inti Sekte Azure Cloud, tepat di bawah Menara Pusat mereka, terdapat lokasi yang sangat terkenal di wilayah ini: Danau Roh Bumi. Itu adalah sumber energi terbesar di seluruh Kota Awan Melayang. Energi di sana sangat pekat, sangat murni, dan mengandung unsur bumi serta air yang sangat cocok untuk pemadatan energi. Di sanalah tempat terbaik, bahkan satu-satunya tempat dalam jangkauan kita sekarang, untuk kau melakukan terobosan itu. Di sana, energi alam akan membantu memadatkan energi di dalam Dantianmu menjadi Fondasi yang kokoh dan kuat."
Napas Ye Chen sedikit memburu karena antusiasme bercampur tantangan. Masuk kembali ke Sekte Azure Cloud. Tempat di mana ia dikhianati, tempat di mana ia dianggap sampah, tempat di mana nama baiknya dicuri dan identitasnya dihapus. Masuk ke sana bukanlah hal mudah, apalagi dengan wajah aslinya. Jika ia muncul begitu saja, semua rencananya akan hancur seketika. Mo Feng dan Bai Long pasti akan berusaha membunuhnya lagi, bahkan dengan cara yang jauh lebih kejam.
"Guru... jika aku masuk kembali dengan wajah asliku..." gumam Ye Chen, tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.
"Mustahil dan bunuh diri," potong Yue-Jian cepat dan tegas. "Mereka mengira kau sudah mati di Lembah Ratapan. Nama mu sudah dicoret dari buku pendaftaran, mayatmu tidak ditemukan, dan mereka merasa aman karena mengira kerusakan meridianmu parah hingga tak mungkin sembuh. Jika kau muncul sekarang, kau akan langsung menjadi sasaran empuk sebelum sempat bernapas lega. Kau harus menyamar, Ye Chen. Kau harus masuk sebagai orang baru, wajah baru, identitas baru, pendekar muda asing yang datang dari wilayah jauh yang belum pernah didengar oleh siapa pun di sini."
Seringai dingin perlahan terukir di bibir Ye Chen. Rencana itu berisiko tinggi, namun sekaligus sangat cerdik.
"Identitas baru..." ulangnya pelan. "Masuk ke dalam sarang musuh, duduk di meja makan yang sama, tersenyum pada mereka yang membenciku, lalu saat mereka lengah... aku akan menghancurkan semuanya dari dalam."
"Persis sekali," Yue-Jian tertawa kecil mendengar jawaban muridnya yang penuh dendam dan ambisi itu. "Itulah cara kerja terbaik seorang pendekar Sekte Bayangan. Diam-diam menyusup, diam-diam bertumbuh kuat, lalu meledakkan kekuatanmu di saat yang paling tidak mereka duga. Sekarang, persiapkan dirimu baik-baik. Kita punya banyak hal yang harus dilakukan sebelum sampai ke sana."
Yue-Jian memberikan jeda sejenak, lalu suaranya berubah menjadi nada instruksi yang jelas dan terperinci.
"Pertama, periksa kembali seluruh harta benda dan peninggalan yang kau ambil dari reruntuhan dan dari bangkai Serigala Kematian itu. Pastikan tidak ada yang tertinggal atau rusak. Barang-barang itu akan menjadi modal hidup, modal bertarung, dan modal kekayaanmu di dunia luar."
Ye Chen mengangguk. Ia segera duduk bersila di atas batu besar yang datar dan lebar di dekat tebing itu. Ia meletakkan kantong penyimpanan yang ia ambil dari pemimpin Taring Serigala dulu, serta kantong kecil miliknya sendiri. Dengan gerakan terampil, ia mulai mengeluarkan dan memeriksa satu per satu barang yang ia miliki sekarang.
Pertama, ada puluhan Batu Spiritual Tingkat Rendah dan Tingkat Menengah yang ia ambil dari ruang harta tersembunyi. Jumlah itu cukup banyak, bernilai tinggi, dan bisa menukarnya dengan apa saja di pasar kota. Kemudian ada dua gulungan teknik bela diri tingkat tinggi: Tangan Es Penghancur Tulang dan Perisai Kabut Abadi. Ye Chen sudah mempelajari inti dari kedua teknik itu berkat panduan Yue-Jian, namun ia masih harus berlatih mempraktikkannya hingga sempurna.
Selanjutnya, ada barang yang paling berharga: Buku Catatan Pendiri Sekte Bayangan. Ye Chen mengeluarkan buku kulit tebal itu, memegang sampulnya yang kasar namun kokoh. Di dalamnya tersimpan sejarah, rahasia, dan dendam darah klan Ye yang tertunda ribuan tahun. Ini bukan sekadar buku, ini adalah warisan masa lalu yang akan menuntun masa depannya.
Lalu ada barang-barang hasil buruannya dari Serigala Kematian Berduri: Inti Kristal Energi sebesar kepalan tangan yang berkilau abu-abu gelap, empat gigi taring sekeras baja yang beracun, serta sepotong duri punggung raksasa yang tajam dan kuat. Semua ini adalah bahan-bahan langka yang sangat dicari oleh para pandai besi dan pembuat pil. Nilainya tak ternilai di pasaran.
Terakhir, ada senjata utamanya: Pedang Hitam. Ye Chen mengeluarkan senjata itu dari sarungnya. Bilahnya yang hitam pekat dan tidak berkilau itu terasa dingin saat disentuh. Senjata ini bukan sekadar besi biasa, ini adalah pasangan jiwanya, saksi mata semua penderitaan dan kemenangannya. Di samping itu, ia juga menyimpan sebilah pedang besi biasa yang ia ambil dari pemimpin Taring Serigala, rencananya akan digunakan sebagai senjata tampilan luar agar tidak mencolok mata.
"Semua lengkap dan aman," lapor Ye Chen setelah selesai memeriksa. Ia menyimpan kembali semuanya ke dalam kantong penyimpanan dengan rapi dan aman.
"Bagus," ucap Yue-Jian. "Kedua, kau harus mengubah penampilanmu. Wajahmu sekarang terlalu khas, terlalu mudah dikenali oleh orang-orang Sekte Azure Cloud. Kita harus mengubahnya sedikit saja, cukup untuk membuat mereka ragu dan tidak yakin, namun tidak sampai mengubah bentuk aslimu sepenuhnya. Nanti saat saat yang tepat tiba, saat kau membuka kedokmu, perubahan itu akan hilang dan wajah aslimu akan muncul kembali sebagai kejutan terbesar bagi mereka."
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Ye Chen.
"Kau sudah mempelajari sedikit tentang ramuan dan racun dari catatan-catatanku, bukan?" tanya balik Yue-Jian. "Gunakan pengetahuan itu. Di sekitar sini, aku merasakan keberadaan beberapa tanaman obat yang cocok. Ada Akar Penyamaran, Daun Perubahan Rupa, dan Bunga Kabut. Campurkan ketiganya sesuai takaran yang aku ajarkan, oleskan ke wajah dan lehermu. Itu akan mengubah warna kulitmu menjadi sedikit lebih gelap, mengubah bentuk alis menjadi lebih tebal dan melengkung, serta sedikit memadatkan struktur tulang pipimu. Efeknya bertahan selama berbulan-bulan, dan sangat sulit dideteksi bahkan oleh mata spiritual tetua sekte biasa."
Ye Chen segera bergerak. Berkat panduan indra Yue-Jian, ia dengan mudah menemukan ketiga jenis tanaman itu di bawah semak belukar sekitar tebing. Ia memetik, mengolah, dan menumbuknya menggunakan batu datar hingga menjadi pasta halus berwarna hijau kecokelatan yang berbau sedikit menyengat namun segar. Ia mengoleskan ramuan itu ke seluruh wajah, leher, dan bagian kulit yang terbuka.
Rasanya agak dingin dan sedikit perih, namun dalam beberapa detik saja, sensasi itu hilang. Saat ia menyentuh wajahnya sendiri, ia merasakan tekstur kulit yang sedikit berbeda, lebih kasar dan lebih tebal. Ia mengambil pecahan batu datar yang mengkilap sebagai cermin. Di sana, terlihat pantulan wajah pemuda asing yang sama sekali baru. Kulitnya lebih gelap, alisnya tebal dan gagah, rahangnya lebih kotak dan keras. Wajah yang tampan dan gagah, namun bukan wajah Ye Chen yang dulu dikenal orang. Wajah ini adalah wajah 'Han Yu'—identitas barunya.
"Sempurna," gumam Yue-Jian puas. "Bahkan jika ibu kandungmu melihatmu sekarang, dia pun akan ragu. Dan yang paling penting, ramuan ini tidak mengubah aura atau energimu. Jadi, tidak ada tetua yang bisa mendeteksi perubahan lewat rasa energi."
Ye Chen tersenyum tipis melihat pantulan dirinya. Ia menyeka sisa ramuan yang kering, lalu berganti pakaian. Ia membuang jubah hitam yang sudah penuh noda dan sobekan itu, menggantinya dengan jubah abu-abu polos yang ia ambil dari bangkai pemimpin Taring Serigala. Jubah ini terlihat sederhana, sedikit lusuh, namun cukup rapi dan bersih. Ia mengikat rambut panjang hitamnya dengan pita kain biasa, tidak lagi menggunakan peniti giok milik klan Ye. Di pinggangnya, ia menggantungkan pedang besi biasa itu, sementara Pedang Hitam asli tersembunyi aman di dalam kantong penyimpanan, menunggu waktu yang tepat untuk kembali terhunus.
"Identitas baru sudah siap," ucap Ye Chen pelan. Matanya yang dingin dan tajam kini menatap lurus ke arah Kota Awan Melayang yang semakin terlihat jelas di kejauhan.
"Terakhir," suara Yue-Jian terdengar serius dan berat, memberikan instruksi terakhir sebelum keberangkatan. "Ingat baik-baik, Ye Chen. Selama berada di luar sana, selama masih menyamar, kau harus menekan energimu. Jangan biarkan siapa pun tahu bahwa kau sudah berada di puncak Qi Condensation. Sembunyikan energimu di tingkat keempat atau kelima saja. Cukup kuat untuk dianggap berbakat dan diperbolehkan masuk, tapi tidak terlalu kuat untuk menjadi sasaran utama atau menimbulkan kecurigaan berlebih. Kau harus bergerak perlahan, diam-diam, mengumpulkan informasi, mencari tahu jadwal acara besar, mencari tahu lokasi Danau Roh Bumi, dan mencari tahu kelemahan-kelemahan musuhmu."
Yue-Jian menjeda sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang penuh penekanan.
"Dan satu hal lagi... Jangan bertindak gegabah saat melihat Mo Feng atau Bai Long. Jangan serang mereka sebelum kau mencapai ranah Foundation Establishment. Saat ini, meski kau kuat, selisih kekuatan dan pengalaman masih berpihak pada mereka. Sabar, Ye Chen. Dendam adalah hidangan yang paling nikmat jika disajikan dalam keadaan dingin dan matang sempurna."
Ye Chen menarik napas panjang, menegakkan punggungnya, dan menguatkan tekadnya hingga membatu. Ia mengangguk tegas, menerima semua pesan dan instruksi gurunya.
"Aku mengerti, Guru. Aku akan bersabar. Aku akan bersembunyi seperti bayangan, menunggu momen yang tepat, dan saat aku muncul kembali sepenuhnya... itu akan menjadi hari kehancuran mereka."
Angin pagi berhembus kencang sekali lagi, menerbangkan ujung jubah abu-abunya. Di langit, awan putih berarak pelan menutupi sebagian sinar matahari, seolah menandakan bahwa kegelapan dan persembunyian akan segera berakhir, digantikan oleh badai besar yang akan melanda dunia kultivasi.
Ye Chen tidak menunda lagi. Ia memutar tubuhnya, berbalik arah, dan melangkah menuruni tebing, masuk kembali ke dalam rimbunan hutan yang luas. Ia akan menempuh perjalanan satu hari satu malam ke arah utara, menuju gerbang besar Kota Awan Melayang.
Di belakangnya, ia meninggalkan masa lalu yang penuh penderitaan dan ketidakberdayaan. Di depannya, terbentang jalan panjang menuju kekuasaan, pembalasan, dan kebangkitan.
Sosok pemuda berwajah baru itu bergerak cepat, ringan, dan senyap, persis seperti bayangan yang melebur dengan kegelapan. Perjalanan kembali ke rumah—yang kini bukan lagi rumah, melainkan sarang musuh—telah dimulai.