NovelToon NovelToon
Mahkota Untuk Aurora

Mahkota Untuk Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: apel manis

Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.


Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5_Mahkota Untuk Aurora

Malam yang dinantikan oleh seluruh bangsawan Noxvallys akhirnya tiba. Istana yang biasanya dingin dan suram kini disulap menjadi lautan cahaya. Ribuan lilin kristal digantung di langit-langit aula besar, memancarkan kilauan yang memantul pada lantai marmer hitam yang telah digosok hingga mengkilap seperti cermin. Aroma makanan mewah dan anggur terbaik memenuhi udara, bercampur dengan wangi parfum bunga-bunga mahal yang dibawa oleh para tamu undangan.

Namun, di balik kemegahan itu, di lorong-lorong gelap menuju dapur, seorang gadis sedang berjuang melawan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ara, dengan wajah yang masih pucat karena tidak diberi makan selama dua hari, dipaksa mengenakan pakaian pelayan yang paling bersih—meskipun tetap saja kain itu terasa kasar di kulitnya yang penuh luka memar.

"Jangan berani-berani kau mempermalukanku lagi, budak kotor!" ancam Putri Morena sesaat sebelum pesta dimulai. Morena tampak sangat megah dengan gaun berwarna merah darah dan mahkota perak yang bertabur permata. "Tugasmu malam ini adalah membawa nampan minuman dan memastikan gelas para tamu tidak pernah kosong. Jika kau menjatuhkan satu gelas saja, aku sendiri yang akan memotong jemarimu!"

Ara hanya menunduk pelan, menyembunyikan tatapan matanya yang layu. Ia membawa nampan perak yang sangat berat, berjalan dengan langkah gemetar masuk ke dalam aula pesta yang riuh.

Di sisi lain aula, perhatian semua orang teralihkan ketika pintu besar terbuka. Tujuh pria dengan perawakan luar biasa gagah melangkah masuk. Mereka mengenakan pakaian kebesaran dari sutra emas dan biru tua, warna khas Kerajaan Aethelgard yang sangat agung. Kehadiran mereka seolah membawa cahaya matahari ke dalam ruangan yang gelap itu.

"Siapa mereka?" bisik para tamu dengan nada kagum.

Alistair berjalan di depan, matanya yang tajam langsung menyapu seluruh ruangan. Di belakangnya, Benedict, Caspian, Darian, Evander, Fabian, dan Gideon berjalan dengan wibawa seorang ksatria sejati. Mereka datang dengan samaran sebagai pangeran dari wilayah sekutu jauh, namun aura kepemimpinan mereka tidak bisa disembunyikan.

"Cari dia," bisik Alistair kepada adik-adiknya. "Jangan biarkan perhatian kalian teralih oleh musik atau makanan ini."

Putri Morena, yang melihat kehadiran tujuh pria tampan itu, seketika merasa jantungnya berdebar. Matanya tertuju pada Benedict, pangeran kedua yang memiliki raut wajah dingin namun sangat maskulin. Morena segera menghampiri mereka dengan senyuman yang dibuat sesempurna mungkin.

"Selamat datang di istana kami, Tuan-tuan yang mulia," ucap Morena dengan suara yang dibuat lembut. "Saya adalah Putri Morena Valeska. Sebuah kehormatan bisa menyambut tamu sehebat kalian."

Benedict hanya mengangguk sopan namun sangat kaku, sementara Darian menjawab dengan bahasa diplomatis yang cerdik untuk mengalihkan perhatian Morena agar saudara-saudaranya bisa mencari keberadaan Ara.

Saat pesta mencapai puncaknya, musik dansa yang megah mulai bergema. Ara terus berjalan di antara kerumunan tamu, membawa nampan berisi gelas-gelas kristal. Kepalanya terasa sangat pening karena lapar, dan lantai yang mengkilap itu seolah berputar di matanya. Di tengah aula, Morena sedang berusaha menarik perhatian Benedict untuk mengajaknya berdansa.

Tiba-tiba, seorang bangsawan yang sedang mabuk tidak sengaja menyenggol bahu Ara dengan kasar. Tubuh Ara yang sudah lemah kehilangan keseimbangan. Nampan perak itu miring, dan gelas-gelas di atasnya mulai merosot.

"Ah!" Ara memekik kecil. Ia memejamkan mata, membayangkan amarah Morena dan hukuman mati yang mungkin menantinya jika gelas-gelas ini hancur di tengah aula.

Namun, rasa sakit yang ia bayangkan tidak pernah terjadi.

Sepasang lengan yang sangat kuat dan kokoh menangkap tubuhnya sebelum ia menyentuh lantai. Dengan gerakan yang sangat cepat dan anggun, seseorang juga berhasil menahan nampan perak itu agar gelas-gelas di atasnya tidak tumpah.

Ara membuka matanya perlahan. Wajah yang sangat dekat dengannya adalah wajah pria yang diam dan dingin—Pangeran Benedict. Pria itu menatap Ara dengan tatapan yang sangat dalam, seolah-olah sedang menatap jiwa yang sangat ia kenali.

"Hati-hati, Gadis Kecil," bisik Benedict.

Suaranya yang berat namun lembut terdengar seperti melodi yang indah di telinga Ara.

Seluruh aula mendadak sunyi. Para tamu menatap pemandangan itu dengan heran: seorang pangeran agung menyelamatkan seorang pelayan rendahan dengan cara yang sangat romantis. Alistair dan lima pangeran lainnya yang melihat kejadian itu dari kejauhan segera mendekat, jantung mereka berdegup kencang. Mereka tahu, itulah gadis yang mereka cari.

Ara terpaku dalam dekapan Benedict. Untuk sesaat, ia merasa aman. Ia merasa seolah-olah seluruh penderitaannya selama delapan belas tahun menghilang hanya karena pelukan pria ini. Namun, kenyataan pahit segera menyadarkannya ketika ia melihat wajah Morena yang berubah menjadi merah padam karena cemburu dan malu.

"Lepaskan dia, Pangeran!" teriak Morena sambil melangkah maju dengan kasar. "Dia hanyalah pelayan bodoh yang tidak tahu cara berjalan! Ara, berani-beraninya kau mencari perhatian di depan tamuku!"

Morena menarik lengan Ara dengan paksa agar menjauh dari Benedict. Morena merasa terhina karena pria yang ia sukai justru lebih memilih menyelamatkan seorang pelayan daripada memperhatikannya.

"Maafkan saya, Tuan Putri... saya tidak sengaja," ucap Ara sambil gemetar ketakutan.

"Maaf tidak cukup!" Morena mengangkat tangannya, bersiap menampar Ara di depan umum.

Namun, sebelum tangan Morena mendarat, Alistair sudah berdiri di samping mereka dan menahan tangan Morena dengan tekanan yang cukup kuat hingga sang Putri meringis.

"Tuan Putri yang terhormat," ucap Alistair dengan nada suara yang sangat dingin hingga membuat suhu di ruangan itu seolah turun. "Di kerajaan kami, seorang putri dinilai dari cara ia memperlakukan orang-orang yang paling lemah di bawahnya. Menyakiti seorang gadis yang sedang terluka di depan para tamu bukanlah tindakan yang bijak."

Morena tertegun. Ia merasa sangat terpojok oleh tatapan mata Alistair yang mengerikan. "Dia... dia hanya pelayan, Tuan. Anda tidak perlu membelanya."

"Dia adalah manusia," sela Evander dengan nada sedih yang mendalam, melihat luka lebam di pergelangan tangan Ara yang terlihat saat lengan bajunya tersingkap.

Ara menatap ketujuh pria itu bergantian dengan rasa tidak percaya. Mengapa orang-orang sehebat ini membelanya? Siapa mereka sebenarnya? Di tengah kebingungannya, Ara merasakan sesuatu yang hangat di dadanya. Pulpen Cendana Emas yang ia sembunyikan seolah bergetar dengan frekuensi yang sama dengan kehadiran tujuh pria ini.

"Pergilah ke dapur, bersihkan dirimu," bisik Benedict pelan kepada Ara sebelum melepaskan perhatiannya.

Ara segera menunduk dan berlari keluar dari aula pesta secepat yang ia bisa. Air mata jatuh membasahi pipinya—bukan karena sedih, tapi karena untuk pertama kalinya ia merasa dihargai sebagai manusia.

Di dalam aula, suasana pesta menjadi sangat canggung. Morena menyimpan dendam yang sangat besar di hatinya. Ia bersumpah akan menyiksa Ara lebih parah malam ini setelah para tamu pergi. Namun, ia tidak tahu bahwa malam ini adalah malam terakhir ia bisa menyentuh Ara, karena tujuh singa Aethelgard kini telah menemukan mangsa mereka—dan mangsa itu adalah kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh Noxvallys.

"Kita tidak bisa membiarkannya lebih lama lagi di sini," bisik Gideon kepada Alistair saat mereka berdiri di pojok ruangan. "Dia terluka, Kak. Aku melihat memar di lehernya."

Alistair mengangguk, matanya menatap tajam ke arah Raja Malakor yang sedang tertawa di singgasananya. "Besok, kita akan membuat alasan untuk mengunjungi area pelayan. Kita akan membawanya pulang, apapun resikonya."

Sementara itu, di dapur yang sepi, Ara memegang dadanya yang sesak. Ia mengeluarkan Pulpen Cendana Emas dan menatapnya. "Siapa aku sebenarnya? Dan mengapa pria-pria itu membuatku merasa seperti aku memiliki rumah?"

1
leci_mannis
alurnya benerbenerr dibuat campur aduk ada rasa kasihan, kesel, bahagia, dan romantis.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!