NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Ragu

Radit masih diam di tempat duduknya.

Ada tatapan.

Tatapan dari Ayahnya yang menyipit menilai. Dari Ibunya yang tampak sedikit tersenyum.

Tapi tidak ada yang tahu kalau Radit justru sedang panik.

Dalam dadanya, detak jantung berlari tak karuan. Rania terlalu ‘on point’ malam ini.

Apa dia sungguh cuma akting?

Atau… apa dia juga ikut tenggelam dalam semua ini?

Atau justru… aku yang kelewat hanyut?

Radit meneguk air putihnya cepat. Ia merasa tubuhnya mulai panas.

“Radit?” suara Ayahnya menyentak lamunannya.

Radit menoleh, mencoba tersenyum. “Ya?”

“Kamu diam saja. Biasanya kamu yang paling cerewet soal politik bisnis. Apa karena ada Soraya di sampingmu, jadi berubah total?” goda sang Ayah, disambut tawa kecil di meja.

Rania ikut tertawa, memainkan peran dengan sempurna. “Biar aku yang atur obrolannya nanti, Om. Biar Radit makan dulu.”

Seketika meja kembali riuh oleh candaan dan kekaguman.

Namun Radit tidak bisa bertahan lebih lama.

Seketika ia meraih ponselnya dari saku jas, dan berpura-pura melihat layar.

“Oh, maaf… sepertinya ada panggilan masuk. Penting.”

Ia berdiri sambil menunjukkan layar ke Ayahnya—yang kosong, sebenarnya.

“Aku harus angkat sebentar. Mungkin harus cabut juga habis ini. Ini soal ekspansi cabang baru.”

Sang Ayah mengangguk penuh pengertian, meski sedikit kecewa.

“Silakan. Tapi jangan terlalu lama biar Soraya enggak nunggu sendirian.”

Rania tampak menoleh. Senyumnya tak hilang, tapi matanya seakan menyelidik.

Radit membungkuk sedikit, sopan, sebelum berbalik. Langkahnya cepat. Hampir tergesa.

Begitu keluar dari ruangan makan dan menjauh dari pandangan keluarga, ia menghembuskan napas panjang. Bahunya terangkat, lalu jatuh pelan.

Ia mendekat ke balkon, menatap langit malam Jakarta yang berkelip.

Sialan. Ini semua kelewatan.

Kenapa aku malah gugup sendiri? Bukannya harusnya Rania yang gugup?

Tangannya masih memegang ponsel yang bahkan tidak berdering.

Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri.

Tapi gambar wajah Rania ataupun Soraya—saat menyebut “sayang” tadi masih muncul begitu jelas. Suara lembutnya. Sentuhan tangannya. Semua terasa seperti sungguhan.

Padahal ini hanya kontrak. Seharusnya hanya permainan.

Sementara itu langkah Rania cepat dan mantap menyusul Radit yang kabur lebih dulu dari ruang makan.

Begitu melihat Radit berdiri di koridor luar ruangan menuju tangga bawah, Rania langsung menggenggam tangannya dari belakang.

"Radit!" panggilnya pelan tapi mendesak.

Radit menoleh, sedikit kaget dengan sentuhan itu.

"Apa aku ngelakuin kesalahan?" tanya Rania dengan nada menahan marah, namun lebih didominasi rasa kecewa. "Kenapa kamu pergi gitu aja? Kita sepakat buat jalani ini bareng, kan?"

Tatapan Radit tajam, tapi matanya jelas berantakan. Bukan marah... tapi bingung.

"Kamu pikir semua ini masih dalam kendali kita?" balasnya setengah membentak. "Aku minta kamu jangan terlalu jauh bawa ini semua—"

"Terlalu jauh?!" potong Rania, "Baru tadi siang kamu bilang siap lakuin apapun kalau perlu, dan sekarang kamu pergi kayak aku ini masalah buat kamu?"

Radit diam.

"Kenapa? Kamu malu? Karena aku bukan siapa-siapa? Karena aku bukan cewek yang sepadan sama kamu dan keluargamu?!" Rania melanjutkan, suaranya mulai pecah.

"Rania, cukup!" akhirnya Radit bersuara lebih keras. "Bukan itu maksudku. Tapi... ini semua udah kelewatan. Aku cuma butuh waktu sendiri. Itu aja!"

Ia menarik tangannya dari genggaman Rania, lalu langsung menuruni tangga menuju basement parkir. Rania terpaku di tempatnya. Napasnya naik turun. Tapi ia tak menyerah.

Dengan cepat, ia menyusul ke basement. Beruntung ia menemukan Radit yang baru membuka pintu mobil. Tanpa bicara, ia langsung masuk ke kursi penumpang.

“Keluar, Ran. Aku mau sendiri.”

“Aku ikut.”

Radit menghela napas keras, memutar matanya. Tapi tak ada tenaga lagi untuk memaksa perempuan itu keluar.

Mobil pun melaju dalam diam. Jalanan malam terlihat lengang, tapi suasana di dalam kendaraan jauh lebih sunyi dari luar. Hening. Sesak.

Rania melirik Radit beberapa kali. Tapi pria itu tetap fokus ke jalan, tak berkata sepatah kata pun.

"Aku enggak ngerti, Radit... Apa aku ngelakuin sesuatu yang bikin kamu ngerasa... enggak nyaman?"

Tak ada jawaban.

“Aku kira kita sepakat, kontrak ini berjalan sesuai kesepakatan. Aku cuma ingin bantu kamu, kamu juga bantu aku. Apa sekarang... kamu berubah pikiran?”

Radit mengerem pelan di lampu merah. Ia baru menjawab ketika pandangan matanya tak lagi mengarah ke jalan.

“Malam ini kamu bisa pulang ke kost-an. Temui Aira. Istirahat.”

Suara itu pelan... tapi dingin.

“Aku juga butuh istirahat. Sendiri.”

Deg.

Kata-kata itu seperti hantaman. Rania tidak bereaksi, hanya menunduk... tapi matanya mulai memanas.

Perjalanan berlanjut tanpa suara. Saling diam. Radit menurunkan Rania di jalan yang bahkan jauh dari kostannya.

"Kamu bisa naik taksi dari sini," ungkapnya.

"Radit..."

"Aku mohon. Kasih aku waktu untuk sendiri."

Rania turun dari mobil. Sedih. Marah. Kecewa. Ia tak berbicara hanya menyaksikan mobil itu pergi dan menjauh darinya.

___

Cahaya kota memantul di jendela besar apartemen Radit, menggambarkan betapa gemerlapnya dunia luar dengan kekacauan yang bergejolak di dalam hatinya.

Ia baru saja masuk ke unitnya, pintu ditutup pelan namun berat.

Brakk.

Satu hentakan tubuhnya jatuh ke sandaran kursi, tangan kanan langsung menutup wajah. Pikirannya penuh. Terlalu penuh.

Kilasan demi kilasan makan malam tadi berputar cepat.

Wajah Rania—atau Soraya, sebutannya malam ini, terus menari-nari dalam benaknya. Cantik. Elegan. Cerdas.

“Bodoh,” gumam Radit.

Ia berdiri, berjalan ke dapur kecil dan menuangkan air putih ke gelas tinggi. Diminumnya perlahan, berharap kesadarannya kembali.

Tapi tidak.

Seteguk. Dua teguk. Bahkan setelah tiga kali mengisi gelasnya, pikirannya tak juga tenang.

Lalu, suara notifikasi pesan dari ponsel memecah kesunyian.

"Kamu hebat malam ini, Radit."

"Papa suka cara perempuan itu bicara. Elegan, percaya diri, dan bisa membaca situasi. Papa akan sabar menunggu kabar baik soal pernikahan kalian."

"Kamu tahu apa yang harus dilakukan."

Radit menatap pesan-pesan itu lama.

Tangannya yang memegang gelas mulai menegang, hingga air di dalamnya sedikit tumpah ke lantai.

"Ini semua seharusnya cuma kontrak."

"Cuma sandiwara."

"Lalu kenapa aku malah... takut kehilangan dia?"

Radit tertawa pelan—tawa getir. Ia berjalan menuju balkon, menatap langit malam yang kosong.

Tapi pikirannya tetap terisi oleh Rania.

Wajahnya tadi, saat marah. Tatapannya, saat bertanya, "Apa aku terlalu jauh?"

Radit memukul pelan keningnya sendiri. "Kamu terlalu jauh, Dit. Terlalu jauh..."

Sementara itu, beralih ke Kostan Rania.

Kamar kecil itu kembali dalam bentuk aslinya, sunyi, sederhana, dan penuh kenyataan.

Tak ada lampu kristal, tak ada piring mewah. Tak ada nama "Soraya" di tempat ini. Hanya ada Rania… dan Aira, yang terlelap di sampingnya, dengan nafas tenang dan tangan mungil memeluk guling kecil berwarna pastel.

Rania duduk di depan cermin kecil, mengenakan kaus longgar dan celana tidur yang mulai usang.

Ia memandangi bayangan dirinya di balik cermin… dan diam cukup lama.

Lalu, bibirnya bergetar, pelan tapi pasti.

"Bodoh."

Ia menunduk.

Kenapa tadi aku harus sejauh itu?

Apa jangan-jangan, Radit…

Ia terdiam.

Tak berani melanjutkan gumaman itu.

Ia tahu, begitu ia mengakuinya… semua akan berubah. Tidak akan ada lagi garis tegas antara pekerjaan dan perasaan. Dan Rania tidak yakin apakah ia cukup kuat untuk menanggung resikonya.

Ia mengangkat wajahnya lagi, kali ini menatap lebih dalam ke arah bayangan dirinya. Tak ada kemewahan, tak ada nama baru. Hanya perempuan biasa… yang pernah terlalu hancur untuk percaya pada impian.

Perempuan…

Yang kini hanya berharap masa depan untuk anaknya.

Ia menoleh.

Aira masih tertidur. Tangannya bergerak kecil, seperti sedang bermimpi.

Wajah mungil itu membuat Rania tersenyum tipis.

Ia mendekat, membetulkan selimut Aira, dan berbisik lembut.

“Mama janji…”

“Kamu akan dapat apa yang selama ini harusnya jadi hak kamu.”

“Mama bakal usaha, sayang… Sejauh apapun.”

Tangannya membelai rambut Aira perlahan. Ditatapnya wajah damai itu, seolah mengambil kekuatan yang tadi sempat hilang karena keraguan pada diri sendiri… dan pada Radit.

Tangannya belum lepas dari kening anak itu, memastikan suhu tubuhnya tetap normal.

Namun, tepat ketika ia hendak bersandar ke dinding, suara ketukan terdengar di pintu.

Tok. Tok. Tok.

Pelan, tapi jelas.

Rania sontak menoleh.

"Mbak… belum tidur?"

Rania mengerutkan kening. Yani biasanya sudah tidur jika ia datang. Jarang sekali, ia menyia-nyiakan kesempatan untuk beristirahat.

"Iya, Mbak Yani? Ada apa?"

Yani berdiri di depan pintu dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Ia menoleh ke kiri dan kanan koridor, lalu kembali menatap Rania.

"Maaf aku ganggu malam-malam begini, tapi… ta

di ada yang datang nyari Mbak."

Rania menegang.

"Nyari aku?"

Yani mengangguk perlahan. "Iya… laki-laki. Tapi bukan Pak Radit."

Deg.

Rania menahan napas.

Sementara Yani menambahkan dengan suara pelan namun tegas…

"Dia bilang dia Ayahnya Aira."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!