Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Gejala yang tak terduga
Rasa mual yang semakin menjadi-jadi di dalam perutnya seolah memberi tahu bahwa kebenaran yang pahit tidak akan bisa lagi disembunyikan. Anindira mencengkeram pinggiran wastafel dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar hebat. Ia mencoba mengatur napas yang tersengal-sengal sambil menatap pantulan wajahnya yang pucat pasi di permukaan cermin yang mulai berembun.
Keringat dingin membasahi dahi dan punggungnya meskipun udara di dalam kamar mandi terasa sangat sejuk. Ia merasa kepalanya terus berputar-putar seperti gasing yang tidak kunjung berhenti hingga pandangannya mulai mengabur. Setiap aroma sabun yang biasanya tercium sangat wangi kini justru membuatnya merasa ingin memuntahkan seluruh isi perut lagi.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada tubuhku?" rintih Anindira sambil memegangi perut yang terasa sangat bergejolak.
Ia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia mengalami siklus bulanan yang biasanya datang sangat teratur. Jantungnya berdegup sangat kencang saat menyadari bahwa ia telah melewati tanggal yang seharusnya sejak lebih dari satu minggu yang lalu. Ketakutan yang sangat besar mulai menyusup ke dalam hati dan membuat seluruh tubuhnya mendadak terasa sangat kaku.
"Dira, kenapa kamu lama sekali di dalam sana?" teriak Sarah sambil menggedor pintu kamar mandi dengan sangat keras.
Anindira tersentak hebat dan segera membasuh wajah dengan air dingin untuk menyembunyikan sisa-sisa mual di wajahnya. Ia menarik napas sedalam mungkin lalu membuka kunci pintu dengan tangan yang masih gemetar hebat. Saudara tirinya itu berdiri di sana dengan tatapan mata yang sangat tajam dan penuh dengan kecurigaan yang mendalam.
"Aku hanya merasa sedikit pusing karena kelelahan setelah membersihkan kekacauan di kamar tadi," jawab Anindira dengan suara yang diusahakan tetap tenang.
"Pusing atau sedang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dariku?" tanya Sarah sambil melangkah masuk ke dalam kamar tanpa izin.
Sarah mulai mengendus udara di dalam ruangan itu dengan raut wajah yang nampak sangat menyebalkan bagi Anindira. Ia menatap ke arah tempat sampah kecil yang berada di sudut ruangan seolah sedang mencari bukti fisik lainnya. Anindira berdiri mematung di ambang pintu sambil berusaha keras menahan rasa mual yang kembali menyerang kerongkongan.
"Cepat keluar dari kamarku, aku ingin beristirahat dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun!" usir Anindira dengan nada yang sedikit meninggi.
"Jangan galak-galak begitu, ayah sedang menunggumu di bawah untuk pergi ke rumah sakit sekarang juga," ujar Sarah dengan senyum sinis yang menghina.
Anindira merasa kakinya seperti baru saja disambar petir hingga ia tidak mampu lagi untuk menggerakkan langkah sedikit pun. Keputusan ayahnya untuk melakukan pemeriksaan medis adalah hukuman mati bagi rahasia yang baru saja ia sadari keberadaannya. Ia tahu bahwa teknologi kedokteran tidak akan bisa ia bohongi semudah ia membohongi anggota keluarganya sendiri.
"Aku tidak ingin pergi, aku hanya butuh beristirahat di atas tempat tidur saja!" protes Anindira dengan suara yang mulai terdengar serak karena panik.
"Pilihanmu hanya dua, berjalan sendiri ke mobil atau ayah yang akan menyeretmu keluar rumah ini!" ancam Sarah sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Anindira tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti kemauan saudara tirinya yang sangat manipulatif dan licik tersebut. Ia berjalan menuruni tangga dengan langkah yang sangat goyah dan berat seolah setiap anak tangga memiliki beban ribuan kilogram. Ayahnya sudah berdiri di depan pintu utama dengan kunci mobil yang didentingkan berkali-kali ke telapak tangannya sendiri.
Suasana di dalam mobil sepanjang perjalanan menuju klinik terasa sangat sunyi dan penuh dengan ketegangan yang menyesakkan dada. Ayahnya sama sekali tidak menoleh ke arah Anindira dan hanya fokus menatap lurus ke arah jalanan yang sangat padat. Sementara itu Sarah terus memperhatikan Anindira melalui cermin tengah dengan tatapan mata yang seolah sedang menelanjangi semua rahasia.
Sesampainya di depan gedung klinik, Anindira merasa perutnya semakin melilit hebat akibat rasa cemas yang meluap-luap. Ia ingin melarikan diri dari sana namun cengkeraman tangan ayahnya pada lengannya sangat kuat dan tidak menyisakan celah sedikit pun. Mereka berjalan masuk menuju ruang pendaftaran dan segera mendapatkan nomor antrean untuk pemeriksaan laboratorium yang sangat mendetail.
"Masuklah ke dalam dan jangan pernah berpikir untuk mencoba melakukan penipuan apa pun pada dokter itu!" perintah ayahnya dengan suara yang sangat rendah namun mengintimidasi.
Anindira masuk ke dalam ruang pemeriksaan dengan jantung yang berdegup liar seperti ingin melompat keluar dari rongga dada. Seorang perawat meminta Anindira untuk memberikan sampel urine di dalam wadah kecil yang terbuat dari bahan plastik transparan. Ia berjalan menuju kamar mandi di dalam ruangan itu dengan tangan yang mendingin dan pikiran yang benar-benar kalut.
Ia menatap wadah kecil di tangannya dengan air mata yang mulai menetes satu-satu membasahi punggung jemarinya yang pucat. Semua harapan untuk menyangkal kenyataan pahit ini akan segera berakhir dalam beberapa menit ke depan setelah hasil pemeriksaan keluar. Bayangan dua garis merah yang menakutkan mulai menari-nari di dalam pikirannya dan membuat jiwanya merasa sangat terancam.