Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Hafidz dan Diana
Hafidz kembali mendatangi rumah Diana. Kali ini tekatnya sudah bulat ingin menjalani hubungan serius dengan Diana. Sebagaimana permintaan sang kekasih, ia menemui bu Ratih selaku ibunda dari Diana.
"Bu, ada kak Hafidz, dia mau ngobrol serius sama ibu ?" ujar Diana ke ibunya.
"Ngobrol serius ?" kata bu Ratih yang penasaran.
Bu Ratih bersegera menemui Hafidz di ruang tamu sedangkan Diana duduk di samping Hafidz.
"Nak Hafidz, kata Diana, kamu pengin ngobrol yah sama ibu, kamu mau ngobrol apa nak ?" tanya bu Ratih.
"Begini bu, jujur , saya menyukai Diana, maksud saya datang kesini mau minta restu dari ibu, apakah ibu mengijinkan kalau saya melamar Diana Bu ?" ucap Hafidz dengan nada lembut.
Bu Ratih terkaget dengan ucapan Hafidz. Sorot matanya justru tertuju ke arah putrinya.
"Apa kamu mau menerima kak Hafidz, Diana ?" tanya bu Ratih.
Diana menganggukan kepala sembari tersenyum.
"Diana, senyum mu bukan jawaban" sahut bu Ratih.
"Diana, kamu cinta gak dengan kak hafidz ?" tanya Bu Ratih dengan serius.
"Iya bu, Diana sayang banget sama kak Hafidz, Diana merasa kak Hafidz adalah orang yang selama ini Diana cari" respon Diana kepada ibunya.
"Kalau kalian sudah saling mencintai, bismillah ibu merestui hubungan kalian" ujar bu Ratih.
"Oh yah nak Hafidz bekerja dimana ?" tanya Bu Ratih kepada Hafidz.
"Saya bekerja di event organizer dan jabatan saya saat ini event manager bu" jawab Hafidz.
"Alhamdulillah, yang terpenting buat ibu, nak Hafidz kelak bisa bertanggung jawab dengan anak ibu dan berkomitmen selalu menjagannya".
"Insya Allah Bu, mohon doanya ya bu" ujar Hafidz.
"Kalau ibu tidak keberatan, minggu depan, saya akan bawa orang tua sana kesini bu, untuk melamar Diana dan bulan depan aku dan Diana langsung menikah, bagaimana bu ?" ucap Hafidz.
Bu Ratih diam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Ibu gak usah memikirkan bagaimana nanti biayanya, semua biaya lamaran dan nikahan, saya yang tanggung", ujar Hafidz meyakinkan bu Ratih.
"Ibu benar-benar terharu karna akhirnya ada seseorang yang mau meminang anak gadis ibu dengan tulus dan yang paling penting kalian itu sama-sama saling mencintai bukan karna paksaan" sahut bu Ratih.
"Ibu merestui hubungan kalian dan ibu setuju dengan semua niat baik nak Hafidz"
"Alhamdulillah, terimakasih bu" ucap Hafidz.
Acara lamaran antara Hafidz dan Diana di gelar sederhana di rumah bu Ratih. Hafidz membawa kedua orangtuanya untuk meminang gadis yang di cintainya. Ibunda Hafidz memakaikan cincin emas ke jari telunjuk Diana sebagai tanda pengikat menuju pelaminan.
Waktu terus berputar hingga tak terasa sebulan telah berlalu, Hafidz dan Nayla melangsungkan resepsi pernikahan mereka di sebuah gedung pertemuan. Acara ini di gelar secara mewah dan meriah yang melibatkan tim event organizer tempat dimana Hafidz bekerja. Aneka ragam hindangan makanan tersaji disana.
Di atas panggung, Hafidz, Diana, bu Ratih serta kedua orangtua Hafidz duduk lalu berdiri menyambut tamu undangan.
Semua tamu undangan dan keluarga bergantian memberikan ucapan selamat di atas panggung pelaminan tak terkecuali kakak kandung Diana.
"Selamat menempuh hidup baru adikku yang paling imut, semoga langgeng dan bahagia selalu sama Hafidz" ucap sang kakak kepada adiknya sembari memeluk dan mencubit kecil pipi Diana.
"Aamiin..kebiasaan deh kak Dimas, sukanya maen cubit pipi, nanti make up Diana luntur tau" canda Diana.
"Gak papa luntur asal jangan cinta mu yang luntur ke kak Hafidz" sahut Dimas.
Hafidz dan Diana tertawa dengan coleteh Dimas.
Kembali tamu undangan menaiki panggung pelaminan. Mereka mengucapkan selamat serta mendoakan sepasang penggantin tersebut.
"Selamat yah Hafidz dan Diana, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah wa rohmah, bahagia selalu sampai maut memisahkan", ucap salah satu tamu undangan yang hadir di resepsi pernikahan mereka.
Perasaan Dimas sebenarnya bercampur aduk antara kebahagiaan namun juga di selimuti kesedihan. Di satu sisi ia merasa senang adiknya menikah tetapi di sisi lain ia teringat kisah cintanya dengan Nayla. Melihat adiknya duduk di pelaminan, Dimas bergumam dalam hati.
"Harusnya aku sih yang duduk di pelaminan sama Nayla" gumam Dimas.
Seberapa lama orang berpacaran memang tak selalu menjamin berjodoh namun adakalanya yang baru di kenal justru menjadi jodoh sebagaimana yang terjadi dengan Dimas dan Diana.
Seorang wanita menepuk pundak Dimas yang sedang melamun.
"Loh pak Dimas kok disini ? Kebiasaan deh sukanya ngelamun" ucap bu Ela yang terkejut bertemu Dimas di acara pernikahan.
"Eh bu Ela, kok disini juga ?" tanya Dimas yang juga terkejut.
"Hafidz itu saudara sepupu saya, pak Dimas kenal Hafidz ?" tanya Ela kembali.
"Diana itu adik kandung saya" jawab Dimas.
"Owalah dunia sempit sekali ya pak" ujar Ela.
"Jangan-jangan kita ?" canda Ela.
"Kita apa bu Ela ?"
"Jangan bilang kita berjodoh yah ?" canda Dimas.
"Jodoh beneran juga gak papa kali" lanjut Ela.
"Cie..cie..ada yang ngarep nih ?" kata Dimas meledek rekannya tersebut.
"Ih apaan sih pak Dimas, kan aku cuma becanda" ujar Ela.
"Tuh kan sampe lupa, aku tuh dari tadi mau ambil makanan" kata Ela.
"Yuk kita ambil bareng aja sekalian !" seru Dimas.
Setelah mengambil makanan di meja prasmanan, Dimas dan Ela duduk bersebelahan sembari menikmati alunan musik. Keduanya lalu kembali berbincang.
"Oh ya pak Dimas, aku boleh nanya sesuatu gak sih ?" tanya Ela.
"Emang mau tanya apa ?" tanya balik Dimas.
"Maaf nih sebelumnya, pak Dimas sebenarnya udah punya pacar atau belum sih ?" tanya Ela kembali.
"Sebelumnya aku memang punya pacar tapi sekarang udah putus" jawab Dimas.
"Oh pantesan akhir-akhir ini pak Dimas sering melamun, pasti mikirin sang mantan yah ?"
"Yah kurang lebih begitu bu, walaupun aku berusaha melupakan tapi semakin aku mencoba, bayangan dia semangat nyata" ucap Dimas Aditya.
"Kalau bu Ela sendiri, apa udah punya calon bu ?" tanya balik Dimas kepadanya.
"Calon apa dulu nih ?"
"Ya calon pendamping hidup lah" ucap Dimas.
"Sampai sekarang aku benar-benar masih single pak, ga punya pacar atau pun calon tapi ...."
"Tapi apa Bu ?" tanya Dimas, penasaran.
"Tapi sekarang ini, aku lagi suka sama cowo tapi gak tau juga sih dia suka aku atau gak ?" respon Ela.
"Semoga bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan ya bu" sahut Dimas.
"Andai Kamu tau, cowok yang aku maksud ya kamu" suara Ela dari dalam hatinya.
Resepsi pernikahan Hafidz dan Diana berjalan lancar tanpa kendala dari awal hingga akhir. Untaian doa mengiringi kebahagian mereka. Manusia hanya bisa merencanakan namun pada akhirnya jodoh dan jalan hidup Tuhan yang mentakdirkan. Boleh jadi seseorang membenci sesuatu padahal itu amat baik baginya dan boleh jadi seseorang mencintai sesuatu padahal itu amat buruk baginya, Tuhan maha mengetahui segalanya.
Usai menikah, Diana memilih tinggal bersama suaminya di sebuah perumahan cluster . Sedangkan bu Ratih kini hidup berdua saja di rumah dengan anak sulungnya, Dimas Aditya.