NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Suasana perpustakaan semakin hening, hanya terdengar suara gesekan kertas dan detak jam dinding, saat ini arkan dan naura sedang mengerjakan tugas kelompok dengan sangat terpaksa.

Arkan menarik sebuah buku tebal berjudul Etika Literasi, lalu mendorongnya ke hadapan Naura.

"Kita hampir selesai dengan fungsi bahasa," kata Arkan datar. "Tapi laporan ini nggak akan diterima Pak Effendi kalau kita nggak bahas Plagiarisme dan Etika Penulisan. Mengingat betapa rapinya lo meniru identitas orang lain, gue rasa materi ini sangat relevan buat lo."

Naura hanya mengangkat alis, tidak terpancing. Ia mengambil buku itu dan mulai membuka bab tentang integritas akademik.

Materi yang di cari naura tentanh Plagiarisme dan Etika Penulisan

Naura menuliskan poin-poin penting di lembar kerja mereka menggunakan bolpoin hitamnya.

Didalam nya berisi tentang, Definisi Plagiarisme :

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 17 Tahun 2010, plagiarisme adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya pihak lain tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai.

"Intinya," Naura bergumam, "Mengambil milik orang lain dan mengakuinya sebagai milik sendiri. Entah itu ide, kata-kata, atau... kehidupan seseorang."

Arkan menambahkan daftar di bawah tulisan Naura dengan tulisan tangannya yang tajam dan tegas tentang jenis-jenis plagiarisme

Plagiarisme Total: Menyalin seluruh karya orang lain.

Plagiarisme Parsial: Mengambil sebagian tanpa sitasi.

Auto-plagiarisme (Self-plagiarism): Menggunakan karya sendiri yang sudah pernah dipublikasikan sebelumnya tanpa menyebutkan bahwa itu adalah penggunaan ulang.

Plagiarisme Antarbahasa: Menerjemahkan karya asing tanpa menyebut sumber aslinya.

"Untuk menghindari tuduhan plagiarisme, kita harus jujur pada sumber," ujar Arkan sambil menatap Naura intens. Ada dua cara utama yang mereka diskusikan :

Kutipan Langsung: Menyalin kata demi kata dengan tanda petik ("...").

Paragraf/Paraphrasing: Mengungkapkan ide orang lain dengan bahasa sendiri namun tetap mencantumkan sumber.

Arkan mengetukkan jarinya di atas meja. "Dalam penulisan, kalau kita melakukan plagiarisme, kita akan kehilangan kredibilitas. Di dunia nyata, kalau seseorang memalsukan 'sumber asli' mereka, konsekuensinya bisa lebih fatal dari sekadar nilai nol."

Naura tersenyum tipis, kali ini senyumannya terasa dingin. "Itu benar. Tapi dalam etika penulisan, ada yang namanya anonimitas. Terkadang, penulis menyembunyikan identitas aslinya, menggunakan pseudonim atau nama pena, bukan untuk menipu, tapi untuk melindungi pesan yang ingin disampaikan. Bukankah itu juga sebuah hak?"

"Nama pena itu legal," balas Arkan cepat.

"Tapi mencuri gaya penulisan orang lain agar terlihat seperti mereka? Itu namanya infiltrasi intelektual."

Naura menutup buku itu dengan suara debukan pelan. "Mungkin. Tapi jangan lupa, Arkan, dalam etika penulisan ada juga yang disebut Fair Use. Terkadang kita harus menggunakan sedikit 'materi' orang lain untuk tujuan kritik, komentar, atau pelaporan berita. Sama seperti gue yang 'menggunakan' lingkungan sekolah ini untuk tujuan gue sendiri."

"Selesai," ucap Naura sambil membereskan tasnya. "Tugas ini membuktikan satu hal: kejujuran itu mahal, tapi teknik menyusun kata agar terlihat jujur itu jauh lebih mahal."

Arkan berdiri, menghalangi jalan Naura sejenak. "Hati-hati, Naura. Sekali seorang penulis ketahuan melakukan plagiarisme, semua karyanya yang terdahulu akan dipertanyakan keasliannya. Begitu juga dengan lo."

Naura hanya tersenyum manis, kembali ke mode "siswi ceria". "Makasih atas pelajarannya, Arkan. Sampai ketemu di kelas besok."

......................

Malam harinya, Arkan terpaksa mengikuti rencana teman-temannya Bimo dan Rio untuk berkumpul di rumah Najam yang merupakan salah satu teman mereka dari SMA lain.

Bagi Arkan, ini adalah bagian dari "operasi penyamaran" agar ia tetap terlihat seperti remaja normal yang memiliki lingkaran pertemanan, bukan seorang penyendiri yang mencurigakan.

"Rumah Najam di kompleks ini, kan? Katanya dia baru beli konsol game terbaru," seru Bimo semangat sambil memarkirkan motornya.

Arkan turun dari motor, membenahi jaketnya, dan menatap rumah pagar putih di depan mereka. Rumah itu terlihat asri, namun insting Arkan mendeteksi sesuatu yang ganjil. Ada sistem keamanan yang lebih canggih daripada rumah-rumah di sekitarnya, sensor gerak yang tersembunyi sangat rapi di balik pot bunga.

"Ayo, Arkan! Jangan bengong mulu," Rio menarik lengan Arkan dan menekan bel rumah.

Ting tong!

Langkah kaki terdengar dari dalam. Suara kunci diputar, dan pintu kayu besar itu terbuka perlahan.

"Iya, sebentar—"

Kalimat itu terputus. Sosok yang membuka pintu bukanlah Najam, melainkan seorang gadis dengan kaos santai dan rambut yang diikat asal-asalan. Ia memegang sebuah buku catatan di tangan kirinya.

Naura membeku. Matanya yang biasanya terlihat polos kini melebar karena terkejut yang nyata, bukan akting. Di depannya berdiri Arkan, pria yang tadi siang hampir menjatuhkannya dari atap sekolah, lengkap dengan tatapan tajamnya yang mengintimidasi.

"Arkan?" gumam Naura spontan.

"Naura?!" teriak Bimo dan Rio bersamaan.

"Lho, kok lo ada di rumah Najam? Jangan bilang kalian..."

Najam muncul dari balik punggung Naura sambil membawa nampan berisi gelas-gelas sirup dingin. Ia tertawa lebar melihat ekspresi teman-temannya. "Nah, kenalin. Ini Naura, adik kesayangan gue. Yang gue ceritain tempo hari"

​"Jadi," Arkan membuka suara, memotong ucapan Bimo. "Naura ini 'adik yang lemah lembut' ya, Jam? Menarik. Kadang apa yang tertulis di 'sampul' memang seringkali berbeda dengan isi 'bab' di dalamnya." lanjutnya dengan senyum kecil milik nya

......................

Suasana di teras rumah Najam mendadak menjadi medan perang dingin yang hanya dimengerti oleh Arkan dan Naura. Bimo dan Rio masih sibuk menggoda Najam tentang betapa cantiknya adiknya, sementara Naura sudah berhasil menguasai diri, meski kilat di matanya menunjukkan bahwa ia sedang menyusun rencana darurat.

Naura memaksakan sebuah tawa kecil, tipe tawa yang biasa ia gunakan untuk memikat guru-guru di sekolah. Ia menoleh ke arah kakaknya dengan ekspresi yang sangat meyakinkan.

"Kak, kayaknya aku nggak jadi lanjut baca di sini deh. Berisik banget ada temen-temen Kakak," ujar Naura sambil mengerucutkan bibirnya sedikit, akting sebagai adik yang terganggu.

"Yah, jangan dong Ra. Padahal gue mau pamerin lu ke mereka kalau lu pinter masak," keluh Najam polos, sama sekali tidak menyadari ketegangan yang ada.

Naura menggeleng pelan, lalu menatap Arkan sekilas. "Lagipula, aku baru ingat ada janji sama temen-temen. Mereka udah nunggu di kafe depan kompleks. Boleh ya, Kak?"

"Sama temen-temen cewek kan? Jangan pulang malem-malem ya," pesan Najam protektif.

"Siap, Bos!" Naura memberikan hormat lucu, sebuah gestur yang membuat Bimo dan Rio bersorak gemas, namun membuat Arkan semakin muak dengan kepalsuannya.

Naura kemudian masuk ke dalam sebentar untuk mengambil tas kecil dan jaketnya. Saat ia keluar lagi dan melewati Arkan yang masih berdiri di dekat pintu, ia sengaja memperlambat langkahnya. Suaranya merendah, hanya cukup untuk didengar oleh Arkan di tengah kebisingan Bimo dan Rio yang sedang meributkan stik game.

"Seperti yang lo bilang tadi siang, Arkan... teknik menyusun kata agar terlihat jujur itu memang mahal. Dan malam ini, performa gue gratis buat lo tonton," bisik Naura dengan nada yang sangat berbeda dari suaranya pada Najam, dingin dan penuh tantangan.

Arkan tidak bergeming, ia hanya memasukkan tangan ke saku jaketnya.

"Hati-hati di jalan, Naura. Jangan sampai 'materi' yang lo gunakan di luar sana malah bikin lo kena masalah hak cipta."

Naura hanya membalasnya dengan senyuman manis yang mematikan. "Jangan khawatir. Gue selalu tahu kapan harus pakai nama pena, dan kapan harus jadi diri sendiri."

Tanpa menoleh lagi, Naura berpamitan pada Bimo dan Rio dengan lambaian tangan yang ceria, lalu melenggang pergi meninggalkan rumah itu.

Arkan menatap punggung Naura yang menjauh hingga gadis itu menghilang di tikungan jalan. Di dalam kepalanya, potongan-potongan teka-teki tentang siapa sebenarnya Naura mulai tersusun, namun satu hal yang pasti, pertemuan di rumah Najam ini bukanlah sebuah kebetulan yang menyenangkan bagi misi mereka berdua.

"Woy, Arkan! Malah bengong liatin adek orang. Ayo masuk!" teriak Rio dari dalam ruang tamu.

Arkan menghela napas panjang, lalu melangkah masuk ke dalam rumah yang kini terasa seperti sarang rahasia baru yang harus ia selidiki.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!