Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Mulut Harimau
"Ingat, senyum. Jangan bicara."
Kairo membisikkan peringatan itu sekali lagi tepat sebelum pelayan membukakan pintu ganda ruang privat restoran. Tangannya mencengkeram pinggang Elena sedikit terlalu erat, menyalurkan kegugupan yang coba dia tutupi dengan wajah datar.
Elena menepis tangan itu pelan namun tegas. Dia membetulkan kerah tinggi qipao hitamnya, lalu menatap Kairo dengan sorot mata yang menenangkan namun dingin.
"Aku bukan anak kecil yang perlu diingatkan cara bernapas, Kairo. Fokus saja pada angkanya. Jangan biarkan dia mencium bau darah dari lukamu."
Pintu terbuka.
Aroma dupa samar dan teh melati langsung menyeruak keluar. Di tengah ruangan yang didominasi warna merah dan emas itu, duduk seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan setelan jas abu-abu mengkilap.
Rambutnya tipis, matanya sipit dan tajam seperti mata elang yang sedang mengincar mangsa.
Itu Mr. Chen. Investor kakap yang terkenal punya mulut berbisa dan dompet tak berdasar.
Di sebelahnya, duduk seorang asisten muda berkacamata yang memegang laptop, siap mencatat setiap kesalahan lawan.
Begitu melihat mereka masuk, Mr. Chen tidak berdiri. Dia tetap duduk, memutar gelas teh kecil di tangannya dengan santai.
"Ah, Pak Kairo. Akhirnya datang juga," sapa Mr. Chen dalam bahasa Indonesia yang fasih namun berlogat kental. Dia tidak melihat Kairo. Matanya langsung tertuju pada Elena.
Tatapan pria tua itu menyapu Elena dari ujung kaki hingga ke leher. Ada kilatan apresiasi, tapi juga kilatan nafsu yang menjijikkan di sana.
Dia tersenyum lebar, menampakkan gigi emas di bagian belakang.
"Dan, siapa wanita cantik ini? Saya dengar istri Anda... ehm, kurang suka keluar rumah?" sindir Mr. Chen.
Kairo maju selangkah, menutupi Elena sedikit dengan bahu lebarnya. "Ini istri saya, Sora. Dia memaksa ikut untuk menyambut Anda, Mr. Chen."
Elena melangkah keluar dari bayangan Kairo. Dia membungkuk sedikit—gerakan hormat yang sempurna tanpa terlihat merendahkan diri.
"Selamat malam, Tuan Chen. Sebuah kehormatan bisa bertemu legenda bisnis seperti Anda," sapa Elena dengan suara lembut. Dia tersenyum, senyum manis yang sudah dilatihnya di depan cermin tadi. Senyum boneka porselen.
Mr. Chen tertawa senang. Dia menunjuk Elena dengan cerutu yang belum dinyalakan.
"Bagus. Bagus sekali. Baju Cheongsam hitam... selera yang unik. Jarang ada wanita muda mau pakai baju kuno begini. Biasanya istri pejabat datang ke sini pakai baju terbuka pamer dada," Mr. Chen terkekeh, lalu menatap Kairo. "Istrimu punya kelas, Kairo. Hiasan meja yang cantik."
Hiasan meja.
Kairo merasakan rahangnya mengeras. Dia ingin membalas, tapi dia butuh uang orang tua ini. Dia butuh lima ratus miliar malam ini juga untuk menambal kebocoran yang dibuat Pak Haryo.
"Silakan duduk," kata Mr. Chen, mengibaskan tangan.
Makan malam dimulai. Pelayan menyajikan hidangan demi hidangan. Bebek peking, sup sirip hiu, abalone.
Suasana tegang. Kairo berusaha masuk ke topik bisnis, tapi Mr. Chen terus memotongnya dengan obrolan tidak penting soal cuaca, golf, dan koleksi mobil antiknya.
Itu taktik klasik: mengulur waktu untuk membuat lawan frustasi.
Elena duduk diam di samping Kairo. Dia melakukan tugasnya dengan sempurna. Menuangkan wine ke gelas Mr. Chen setiap kali isinya tinggal setengah. Mengambilkan lauk untuk Kairo. Tersenyum. Mengangguk.
Dia tampak seperti istri penurut yang bodoh. Tapi di balik bulu mata lentiknya, mata Elena merekam semuanya. Dia membaca bahasa tubuh Mr. Chen. Cara pria itu mengetuk meja saat bosan. Cara asistennya melirik jam tangan.
Mereka sedang menunggu Kairo putus asa.
Satu jam berlalu. Piring-piring kotor mulai diangkat.
"Baiklah, Pak Kairo," Mr. Chen akhirnya meletakkan serbetnya. Wajah ramahnya lenyap, digantikan wajah pebisnis yang kejam. "Saya sudah baca proposal Anda soal proyek infrastruktur di Cikarang. Sejujurnya... saya kurang tertarik."
Jantung Kairo berdegup kencang. Dia meletakkan gelas airnya. "Kenapa, Mr. Chen? Proyek ini strategis. Kami punya lahan, izin sudah lengkap, dan..."
"Izin lengkap tapi cash flow Anda berdarah," potong Mr. Chen tajam. Dia melempar sebuah map tipis ke atas meja putar (lazy susan). Map itu berputar pelan berhenti di depan Kairo.
"Saya dengar ada masalah internal. Uang bocor. Vendor tidak dibayar. Betul?"
Kairo pucat. Darimana orang tua ini tahu?
"Itu... itu hanya rumor pasar, Mr. Chen. Keuangan kami stabil. Kami hanya butuh mitra strategis untuk ekspansi, bukan untuk bail-out (dana talangan)," elak Kairo, berusaha tetap tenang meski keringat dingin mulai mengalir di punggungnya.
Mr. Chen mendengus remeh.
"Jangan bohong pada naga tua, Anak Muda. Saya bisa mencium bau bangkai dari jauh," kata Mr. Chen. "Oke, saya akan masuk. Saya kasih lima ratus miliar."
Mata Kairo berbinar. "Terima kasih, Mr. Chen! Kami akan siapkan kontrak bagi hasil lima puluh-lima puluh seperti yang..."
"Tunggu dulu," Mr. Chen mengangkat tangan. Senyum licik terukir di wajahnya. "Siapa bilang lima puluh-lima puluh? Dengan risiko sebesar ini, saya mau tujuh puluh persen saham. Dan saya mau hak veto di jajaran direksi."
"Tujuh puluh persen?!" seru Kairo tak percaya. Dia nyaris berdiri dari kursinya. "Itu sama saja Anda mengambil alih perusahaan saya! Itu akuisisi paksa namanya! Saya tidak bisa terima. Maksimal enam puluh persen."
"Tujuh puluh. Atau saya pergi, dan besok pagi semua bank akan tahu kalau Diwantara Group sedang sekarat," ancam Mr. Chen santai. Dia mengambil gelas wine-nya, menyesapnya pelan.
Kairo terpojok. Dia menatap map di depannya.
Tujuh puluh persen berarti dia kehilangan kendali atas proyek itu. Tapi kalau dia menolak, dia tidak punya uang untuk menutupi lubang korupsi Pak Haryo, dan lusa saat gajian karyawan, perusahaan akan kolaps.
Dia tidak punya pilihan.
Tangan Kairo gemetar saat meraih pulpen dari saku jasnya. Dia menunduk, egonya hancur lebur. Dia harus menjual harga dirinya demi menyelamatkan kapal yang karam.
Mr. Chen tersenyum menang. Dia menoleh ke samping, bicara pada asisten mudanya menggunakan bahasa Mandarin dengan cepat dan suara yang cukup keras, yakin kalau Kairo dan istrinya yang "pajangan" itu tidak akan paham.
"Kan, apa kubilang? Anak ini bodoh dan putus asa," ucap Mr. Chen dalam Mandarin kasar. "Dia sudah tidak punya taring. Tekan saja terus. Nanti setelah dia tanda tangan, kita ganti manajemennya dengan orang kita. Singkirkan dia pelan-pelan."
Asistennya, Liang, mengangguk sambil tertawa kecil. "Tuan Chen memang hebat. Dia bahkan tidak sadar kalau kita menawar jauh di bawah harga pasar."
"Kasihan," lanjut Mr. Chen, matanya melirik Elena yang sedang menuang teh. "Punya istri cantik tapi suaminya pecundang yang mau bangkrut. Mungkin nanti istrinya bisa kubawa jalan-jalan ke Makau kalau suaminya sudah jadi gembel."
Gelak tawa kasar meledak di antara Mr. Chen dan asistennya. Mereka tertawa di depan wajah Kairo.
Kairo tidak mengerti arti kata-kata itu, tapi dia tahu nada bicaranya. Itu nada penghinaan. Wajah Kairo memerah padam. Dia merasa ditelanjangi, tapi dia tidak berdaya.
Pulpen di tangan Kairo sudah menyentuh kertas kontrak.
Tiba-tiba, sebuah tangan halus berkulit putih menahan tangan Kairo.
Kairo menoleh kaget. Elena menahan tangannya.
"Jangan," bisik Elena pelan.
"Lepaskan, Sora," desis Kairo putus asa. "Kita tidak punya pilihan."
Elena tidak melepaskan tangannya. Dia justru mengambil pulpen itu dari jari-jari Kairo yang lemas.
Lalu, dengan gerakan anggun yang memukau, Elena meletakkan pulpen itu kembali ke meja dengan bunyi klak yang tegas.
Dia mengangkat wajahnya. Tatapan matanya yang tadi lembut dan tunduk, kini berubah tajam setajam pedang. Dia menatap lurus ke mata Mr. Chen.
Dan dia membuka mulutnya.
"Maaf memotong tawa Anda, Tuan Chen," ucap Elena.
Bukan dalam bahasa Indonesia. Bukan bahasa Inggris.
Tapi dalam bahasa Mandarin dengan aksen yang sempurna, halus, dan sangat formal.
Tawa Mr. Chen mati seketika. Dia tersedak ludahnya sendiri. Asistennya, Liang, menjatuhkan sendok tehnya ke piring.
Kairo menatap istrinya dengan mulut ternganga.
Elena belum selesai. Dia berdiri perlahan, merapikan qipao-nya, lalu menuangkan teh hangat ke gelas Mr. Chen yang kosong dengan gestur tuan rumah yang melayani tamu—tapi kali ini auranya bukan pelayan, melainkan Ratu yang sedang menuang racun.
"Anda bilang suami saya bodoh?" lanjut Elena, masih dalam bahasa Mandarin yang mengalir lancar seperti air sungai. "Menurut saya, orang yang bodoh adalah orang yang mengira dia bisa menipu mitra bisnisnya di kandang lawan."
Elena mengambil map kontrak itu. Dia membukanya, lalu menunjuk satu pasal dengan jari lentiknya yang berkuku merah marun.
"Pasal 3 Ayat 2 tentang Valuasi Aset," baca Elena, menerjemahkannya langsung ke Mandarin. "Anda menawarkan valuasi berdasarkan harga likuidasi, bukan harga pasar wajar. Itu melanggar prinsip 'Good Faith' dalam hukum investasi internasional yang berlaku di Singapura dan Jakarta."
Wajah Mr. Chen berubah dari kaget menjadi merah padam karena malu dan marah.
"Kau... kau mengerti bahasaku?" gagap Mr. Chen.
"Saya mengerti lebih dari sekadar bahasa, Tuan Chen," Elena tersenyum miring. "Saya juga mengerti kalau perusahaan Anda, Chen Group, baru saja ditolak oleh pemerintah Malaysia untuk proyek kereta cepat karena masalah pendanaan. Anda butuh proyek Cikarang ini untuk memperbaiki portofolio Anda di Asia Tenggara, bukan? Anda butuh kami sama besarnya dengan kami butuh Anda."
Skakmat.
Rahasia dapur Mr. Chen terbongkar.
Kairo, meskipun tidak paham sepatah kata pun, bisa melihat perubahan drastis di wajah lawan bicaranya. Mr. Chen yang tadi sombong seperti raksasa, kini menciut seperti balon kempes.
Elena mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpu kedua tangannya di meja.
"Jadi, mari kita berhenti bermain drama, Tuan Chen," kata Elena, suaranya merendah, penuh intimidasi. "Lima puluh-lima puluh. Hak suara seimbang. Dan dana cair besok pagi sebelum bank buka. Atau..."
Elena melirik jam tangannya.
"...atau saya akan menelepon Tuan Li dari Dippo Group. Saya dengar dia sangat tertarik masuk ke Cikarang dan dia tidak pernah menghina suami saya di meja makan."
Keheningan melanda ruangan itu selama satu menit penuh. Asisten Mr. Chen gemetar, tidak berani mengetik apapun di laptopnya.
Kairo menatap Elena dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia melihat sosok asing. Sosok yang menakutkan, brilian, dan mempesona di saat yang bersamaan.
Mr. Chen menatap Elena tajam, mencoba mencari keraguan di mata wanita muda itu. Tapi dia tidak menemukannya. Dia hanya menemukan tembok baja.
Perlahan, senyum lebar merekah di wajah tua Mr. Chen.
Bukan senyum meremehkan. Tapi senyum kekaguman. Senyum sesama predator yang bertemu lawan seimbang.
"Hahahaha!" tawa Mr. Chen meledak, kali ini tawa yang tulus dan keras sampai perut buncitnya berguncang. Dia menepuk meja dengan keras. "Bagus! Bagus sekali!"
Dia beralih menatap Kairo, bicara dalam bahasa Indonesia lagi.
"Kairo! Kau bajingan licik!" seru Mr. Chen sambil menunjuk Kairo. "Kau bawa senjata rahasia tapi pura-pura diam saja! Kau bilang istrimu cuma hiasan meja? Hah! Matamu buta!"
Mr. Chen menggelengkan kepala, menatap Elena dengan hormat.
"Dia bukan hiasan. Dia Naga, Kairo! Naga berwajah kelinci! Galak sekali! Saya suka! Saya suka wanita yang punya nyali!"
Mr. Chen mengambil pulpen yang tadi diletakkan Elena. Dia mencoret angka '70%' di kontrak itu dengan kasar, lalu menulis '50%' di sampingnya dan membubuhkan tanda tangan besar di bawahnya.
"Deal!" seru Mr. Chen. "Lima puluh-lima puluh. Uang cair besok pagi. Tapi dengan satu syarat: Nyonya Sora harus jadi komisaris pengawas di proyek ini. Saya tidak percaya padamu, Kairo, tapi saya percaya pada istrimu. Dia teliti."
Kairo menerima map kontrak itu dengan tangan yang masih sedikit kaku karena shock. Dia melihat tanda tangan itu.
Asli. Sah. Lima ratus miliar sudah di tangan.
Perusahaannya selamat.
"Terima kasih, Mr. Chen," kata Kairo, suaranya terdengar jauh.
"Jangan terima kasih padaku. Cium kaki istrimu sana," canda Mr. Chen kasar sambil berdiri dan mengancingkan jasnya. "Ayo, Liang. Kita pergi karaoke. Di sini hawanya terlalu panas, ada naga mengamuk."
Mr. Chen dan asistennya berjalan keluar ruangan sambil tertawa-tawa, meninggalkan Kairo dan Elena berdua di ruang privat yang mendadak terasa sangat sunyi.
Elena menghembuskan napas panjang, bahunya yang tegap perlahan rileks. Kakinya lemas. Melawan taipan tua itu butuh energi besar. Dia kembali duduk di kursinya, menuang segelas air putih dan meminumnya sampai habis.
"Haus," gumam Elena sambil menyeka sudut bibirnya.
Dia menoleh pada Kairo, berharap suaminya akan berterima kasih atau setidaknya memberikan bonus apartemen yang tersisa itu sekarang.
Tapi Kairo tidak bergerak.
Pria itu berdiri mematung di tempatnya. Matanya menatap Elena dengan intensitas yang membuat bulu kuduk Elena meremang. Tatapan itu bukan tatapan terima kasih.
Itu tatapan interogasi. Tatapan seorang pria yang dunianya baru saja dijungkirbalikkan.
Kairo melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Sampai dia berdiri menjulang tepat di samping kursi Elena.
Dia mencengkeram lengan kursi Elena dengan kedua tangannya, mengurung wanita itu. Wajahnya mendekat, matanya mencari jawaban di kedalaman manik mata Elena.
"Sora," panggil Kairo, suaranya rendah dan berbahaya.
"Apa? Kita sudah deal, kan? Mana kuncinya?" tanya Elena, mencoba tetap santai meski jantungnya berdegup kencang karena jarak mereka.
"Persetan dengan kunci," desis Kairo.
Tangan Kairo bergerak naik, menyentuh dagu Elena, memaksanya mendongak.
"Sejak kapan?" tanya Kairo. "Sejak kapan kau bisa bahasa Mandarin? Sejak kapan kau paham hukum investasi internasional? Sejak kapan kau tahu nama saingan Mr. Chen?"
Elena menelan ludah. "Aku... aku belajar dari drama China. Bagus lho, kau harus nonton. Nanti aku kasih tau judulnya."
"Jangan bohong!" bentak Kairo, tapi tidak kasar. Justru terdengar putus asa. "Aksenmu itu aksen bisnis Beijing. Istilah yang kau pakai itu istilah hukum tingkat tinggi. Itu tidak ada di drama percintaan, Sora!"
Kairo menatap bibir Elena yang masih merah merekah, lalu kembali ke matanya.
"Dari awal aku sudah curiga padamu. Kau siapa? Di mana istriku yang bodoh dan manja itu? Siapa yang sedang duduk di depanku ini?"
Elena terdiam. Dia tidak bisa lari.
"Apakah penting siapa aku?" tanya Elena pelan, menantang balik. "Yang penting aku menyelamatkan perusahaanmu, kan?"
"Penting," bisik Kairo. Jarak wajah mereka tinggal satu sentimeter. Napas hangat Kairo menyapu pipi Elena. "Karena aku perlu tahu... siapa nama wanita yang baru saja membuatku bertekuk lutut ini."