Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah yang Terlambat Lima Tahun
Aulia melangkah masuk ke dalam mobil, namun ia tidak memilih kursi penumpang di samping kemudi. Secara refleks, ia membuka pintu belakang dan duduk di sana dengan tenang. Ingatan masa lalu berputar di kepalanya seperti duri yang menusuk; ia teringat suatu kali pernah mencoba duduk di kursi depan, namun matanya tertuju pada sebuah stiker kecil yang ditempel Rizki di sana: "Kursi khusus Meli, orang lain dilarang duduk."
Rizki melihat dari spion tengah, namun ia tidak membantah pilihan Aulia. Ia hanya mengatupkan rahangnya rapat-rapat dan melajukan mobil membelah jalanan kota dalam keheningan yang mencekam.
Sepuluh menit kemudian, mobil berhenti di depan gerbang taman hiburan terbesar di Kota Nordigo. Di tengah malam yang seharusnya gelap dan sunyi, seluruh wahana di sana justru menyala terang dengan lampu warna-warni yang megah. Rizki telah menggunakan kekuasaan dan uangnya untuk menyewa seluruh tempat itu, mengosongkannya hanya untuk satu orang: Aulia.
Rizki teringat sebuah percakapan lama yang hampir ia lupakan. Saat ulang tahun Aulia yang ke-19, wanita itu pernah membisikkan sebuah keinginan sederhana: ia ingin menikmati taman hiburan di malam hari tanpa perlu mengantre dan berdesakan. Kini, lima tahun kemudian, Rizki mewujudkannya.
Aulia menatap kincir raksasa yang berkilauan dengan senyum pahit. Rizki yang sekarang sedang mencoba menjadi suami yang baik, namun ia tidak sadar bahwa Aulia yang berusia 24 tahun sudah bukan lagi gadis remaja yang menyukai taman hiburan. Meski begitu, Aulia memutuskan untuk menerima tawaran itu—bukan untuk menghargai Rizki, melainkan sebagai ritual perpisahan terakhir bagi dirinya yang dulu pernah mencintai pria ini dengan begitu tulus.
"Aku mau coba semua wahana. Satu pun tidak boleh terlewat," tantang Aulia, menatap Rizki dengan sorot menantang.
Rizki menyanggupinya tanpa ragu, meskipun wajahnya sedikit menegang. Ia memiliki rahasia yang tidak banyak diketahui orang: ia sangat takut pada ketinggian.
Aulia seolah sengaja ingin "menyiksa" Rizki. Ia menyeret pria itu naik ke berbagai wahana yang memutar dan menjulang tinggi. Setelah turun dari kincir raksasa, wajah Rizki sudah pucat pasi dan langkahnya sedikit sempoyongan. Saat mereka tiba di depan wahana kereta luncur (roller coaster) yang memiliki lintasan paling ekstrem, Rizki akhirnya menyerah. Ia membiarkan Aulia naik sendirian.
Dari balik pagar pembatas, Rizki berdiri diam, mematung menyaksikan kereta itu melesat membelah kegelapan malam. Di tengah deru mesin kereta, ia mendengar sesuatu yang sangat asing di telinganya: suara tawa Aulia.
Itu adalah tawa yang lepas, ceria, dan tanpa beban—suara yang sudah bertahun-tahun menghilang selama mereka tinggal di bawah atap yang sama. Mendengar tawa itu, entah mengapa, beban berat di hati Rizki yang menumpuk sejak kunjungan ke makam Hope terasa sedikit terangkat. Ia merasa telah melakukan hal yang benar.
Namun, Rizki terlalu buta untuk menyadari satu hal. Tawa Aulia malam itu bukanlah tanda bahwa hatinya mulai luluh atau cintanya mulai kembali. Tawa itu adalah tanda kebebasan. Aulia sedang melepaskan semua sisa-sisa harapannya di setiap tikungan tajam kereta luncur itu.
Bagi Rizki, ini adalah awal dari pengejarannya kembali. Namun bagi Aulia, ini adalah "pesta perpisahan" yang sengaja ia buat untuk menutup peti kemas kenangan masa lalu mereka selamanya.
Rizki mulai menikmati momen kebahagiaan Aulia dengan harapan palsu. Akankah malam romantis yang ia bangun dengan susah payah ini mampu menahan langkah Aulia, atau justru menjadi titik final bagi Aulia untuk menyerahkan surat cerai keesokan harinya?
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.