Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.
Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warung Sederhana Di Seberang Istana
Wisnu Abraham menatap sebuah peta digital yang ditampilkan di layar tablet di mejanya. Alis tebalnya terangkat satu, ekspresi yang menunjukkan ketertarikan sekaligus keheranan.
"Kamu yakin dengan lokasi ini, Alina?" tanya Wisnu.
Jarinya menunjuk sebuah titik merah di kawasan HR Muhammad. Titik itu adalah sebuah ruko tua dua lantai yang kondisinya agak terbengkalai, terjepit di antara bangunan-bangunan modern.
Yang membuat lokasi itu menarik atau gila adalah jaraknya. Ruko tua itu hanya berjarak lima puluh meter, tepat di seberang jalan agak menyerong, dari bangunan megah berkilau emas milik Royal Spoon.
"Sangat yakin, Pak," jawab Alina mantap. Ia berdiri di sisi meja Wisnu, tangannya bersedekap santai.
"Sisca baru saja menghabiskan miliaran rupiah untuk membangun branding mewah di sana. Royal Spoon sedang ramai-ramainya. Kamu mau membuka restoran di sebelahnya? Kamu mau bunuh diri finansial menantang dia head-to-head?" tanya Wisnu, menguji logika asistennya.
Alina tersenyum tipis. Senyum seorang predator yang sudah mengamati mangsanya cukup lama.
"Justru itu kuncinya, Pak. Saya tidak akan menantang dia head-to-head. Saya akan menusuknya dari arah yang tidak dia duga."
Alina menggeser layar tablet, menampilkan konsep desain restorannya.
Tidak ada lampu kristal. Tidak ada marmer impor. Tidak ada kursi beludru mahal.
Konsepnya sederhana: "Dapur Rumah". Interior didominasi kayu jati belanda yang hangat, tanaman hijau asli, dan jendela kaca besar yang membiarkan cahaya matahari masuk. Bersih, minimalis, dan homey.
"Sisca menjual gengsi, Pak. Dia menjual steak wagyu harga lima ratus ribu dan pasta yang porsinya seuprit. Orang datang ke sana untuk foto, bukan untuk kenyang," jelas Alina.
"Lalu kamu?"
"Saya menjual 'pulang'. Saya akan menjual Rawon Daging, Sop Buntut, Ayam Goreng Lengkuas, dan Sambal Dadak. Makanan yang dicari lidah orang Surabaya setiap hari. Makanan yang membuat orang merasa nyaman tanpa harus pusing memikirkan tagihan."
Alina mencondongkan tubuhnya.
"Bayangkan skenarionya, Pak. Orang-orang kaya itu akan bosan makan western food mahal di tempat Sisca. Dan saat mereka keluar dari Royal Spoon dengan perut yang belum kenyang betul dan dompet yang tipis... mereka akan melihat restoran saya di seberang jalan. Ramai, harum masakan nusantara, dan harganya seperempat dari harga Sisca."
Wisnu terdiam sejenak, mencerna strategi itu.
Sisca memiliki overhead cost (biaya operasional) yang sangat tinggi karena dekorasi dan gaji koki mahal. Dia tidak bisa menurunkan harga tanpa merusak citra mewahnya.
Sementara Alina, dengan konsep sederhana, memiliki biaya operasional rendah. Alina bisa membanting harga namun tetap untung besar dari volume penjualan.
"Ini bukan persaingan bisnis," gumam Wisnu kagum. "Ini pembunuhan karakter."
"Betul. Saya ingin Sisca melihat antrean panjang di restoran saya setiap hari dari jendela kaca restorannya yang sepi. Saya ingin dia stres melihat pelanggannya sendiri lari ke tempat saya cuma buat cari makan siang yang 'benar'."
Wisnu tertawa kecil. Ia menutup tablet itu.
"Izin diberikan. Tapi jangan pakai uang tabunganmu untuk sewa ruko itu."
"Maksud Bapak?"
"Saya yang beli ruko itu. Anggap saja investasi properti Abraham Group. Kamu kelola bisnisnya, kita bagi hasil 70-30. 70 untukmu. Saya hanya butuh hiburan melihat wajah panik keluarga Santoso."
Mata Alina berbinar. Dukungan Wisnu membuat rencananya semakin solid.
"Terima kasih, Pak. Renovasi akan dimulai besok. Saya pastikan, dalam satu bulan, 'Dapur Rumah' akan menjadi mimpi buruk bagi 'Royal Spoon'."
Keesokan harinya, di kawasan HR Muhammad.
Sisca sedang berdiri di balkon lantai dua restorannya, menikmati segelas iced latte sambil memantau area parkir yang mulai terisi mobil-mobil mewah pelanggannya.
Matanya kemudian tertuju ke seberang jalan. Sebuah truk material berhenti di depan ruko tua yang selama ini kosong. Beberapa tukang mulai menurunkan kayu dan semen. Sebuah spanduk besar dipasang menutupi fasad bangunan:
MOHON MAAF KENYAMANAN ANDA TERGANGGU
SEDANG DIBANGUN: TEMPAT MAKAN
Sisca mendengus meremehkan.
"Tempat makan lagi?" gumamnya sinis. "Palingan warung tegal atau kafe murahan. Lihat aja rukonya jelek begitu. Nggak level saingan sama Royal Spoon."
Rendy muncul dari belakang, membawa laporan stok. "Ada apa, Sis?"
"Tuh, ada yang mau buka usaha di seberang. Kasihan banget, nyari mati buka di dekat kita," tunjuk Sisca dengan dagunya.
Rendy menyipitkan mata, melihat kesibukan di seberang jalan. "Siapa ya yang punya? Kok berani banget?"
"Ah, biarin aja. Paling bertahan tiga bulan terus bangkrut," Sisca mengibaskan tangannya, tidak peduli. "Fokus aja sama promo kita. Oh ya, siapin budget buat undang influencer lagi minggu depan. Aku mau omzet kita naik terus biar bisa lunasin utang Tante Vina lebih cepat."
Sisca kembali masuk ke dalam ruangan ber-AC dingin, meninggalkan pemandangan di seberang jalan.
Ia tidak tahu bahwa di balik spanduk penutup renovasi itu, Alina sedang berdiri mengenakan helm proyek, memegang denah bangunan.
Alina menatap lurus ke arah balkon tempat Sisca tadi berdiri. Jarak mereka hanya dipisahkan aspal jalan raya selebar dua belas meter.
"Nikmati kopimu, Sisca," bisik Alina. "Karena sebentar lagi, kopi itu akan terasa pahit."
Alina berbalik menghadap mandor proyek.
"Pak, saya mau jendelanya dibuat kaca bening yang besar menghadap ke jalan," perintah Alina.
"Siap, Bu. Biar terang ya?" tanya mandor.
"Bukan," jawab Alina sambil tersenyum misterius. "Supaya tetangga di seberang bisa melihat jelas betapa nikmatnya makanan kita. Dan pastikan cerobong asap dapurnya diarahkan ke jalan, biar aroma ayam gorengnya sampai ke hidung mereka."
"Baik, Bu! Laksanakan!"
Alina menepuk debu di tangannya. Perang dagang dimulai. Dan kali ini, Alina tidak membawa senjata kemewahan, melainkan senjata paling mematikan di dunia kuliner: Rasa lapar yang jujur.