Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana licik tiga ular
Siska menghentakkan kakinya ke lantai dengan geram. Matanya yang tajam menatap nanar ke arah Evan dan Kamila bergantian, memancarkan kebencian yang mendalam.
"Tunggu saja saatnya tiba, Evan... Kau akan menyesal karena telah percaya dengan wanita kampungan dan penipu seperti Kamila!" teriak Siska, suaranya melengking di antara desiran angin pantai. "Aku bersumpah akan membuat kau membenci wanita kampungan itu seumur hidupmu! Camkan itu!"
Dengan perasaan terhina, Siska membalikkan badan dan melangkah pergi dengan langkah lebar, meninggalkan aroma parfum menyengat yang perlahan tersapu angin laut. Suasana di meja itu mendadak hening, hanya menyisakan ketegangan yang masih menggantung di udara.
Evan menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak amarah di dadanya. Ia kemudian berbalik ke arah Kamila. Melihat bekas kemerahan yang mulai membengkak di pipi putih wanita itu, hatinya mencelos. Secara refleks, Evan mengulurkan tangannya, mencoba mengusap lembut pipi Kamila untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Kamila, maafkan perbuatannya..." bisik Evan lembut.
Namun, sebelum jemari Evan menyentuh kulitnya, Kamila sedikit memundurkan kepalanya. Ia menghindar dengan halus, menundukkan wajah dalam-dalam hingga hijabnya menutupi bekas tamparan itu.
"Maaf Tuan, sebaiknya Anda segera selesaikan masalah Tuan dengan Nona Siska secara baik-baik," ujar Kamila dengan suara bergetar. "Saya tidak mau terjadi kesalahpahaman seperti ini lagi. Jika karena keberadaan saya hubungan Tuan menjadi berantakan, sebaiknya... sebaiknya saya berhenti saja bekerja."
Mendengar kata "berhenti", rahang Evan mengeras. Alih-alih merasa iba, ia justru merasa tersinggung sekaligus takut kehilangan sosok yang selama ini menjadi nyawa bagi rumahnya. Ia melangkah maju dan mencengkram kuat kedua bahu Kamila, memaksanya untuk menatap matanya.
"Aku jelaskan sekali lagi padamu, Kamila," suara Evan terdengar berat dan penuh penekanan. "Siska itu tidak ada hubungannya denganku! Dia bukan siapa-siapaku, dan tidak akan pernah menjadi bagian dari masa depanku. Jadi, jangan pernah berpikir untuk pergi."
Cengkeraman tangannya mengendur, namun tatapannya masih mengunci netra Kamila yang berkaca-kaca. "Aku tidak akan pernah memberikan izin padamu untuk berhenti menjadi ibu susunya Zevan. Tidak akan pernah."
Tepat saat ketegangan di antara mereka memuncak, suara tangisan bayi yang melengking memecah suasana. Zevan terbangun, mungkin karena terkejut mendengar suara bentakan tadi atau merasakan kegelisahan ibunya.
Kamila seolah mendapatkan kekuatannya kembali. Ia segera melepaskan diri dari hadapan Evan dan meraih tubuh mungil Zevan dari atas stroller.
"Sstt... sayang, ini Ibu. Cup, cup... jangan menangis," bisik Kamila sambil mendekap Zevan erat ke dadanya. Ia mengayunkan tubuhnya pelan, mencoba memberikan rasa aman pada bayi itu meskipun tangannya sendiri masih gemetar hebat.
Evan berdiri terpaku, menyaksikan pemandangan di depannya. Ada rasa bersalah yang amat besar karena ia telah menyeret Kamila ke dalam drama hidupnya yang rumit. Namun, melihat betapa tulusnya Kamila menenangkan Zevan, mengabaikan rasa perih di pipinya sendiri demi sang bayi. Evan sadar bahwa keputusannya untuk mempertahankan wanita ini adalah hal yang paling benar.
Kamila tidak hanya menyusui bayinya, tetapi ia telah memberikan seluruh hatinya untuk Zevan.
.
.
Siska mengemudikan mobilnya dengan kalap. Amarah yang membara di dadanya harus segera dicarikan pelampiasan. Ia tidak akan membiarkan seorang pengasuh rendahan merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya. Setelah melakukan beberapa panggilan telepon untuk mencari tahu asal-usul Kamila, Siska sampai di sebuah rumah yang nampak sederhana namun terkesan berantakan.
Di sana, dua orang wanita telah menunggunya dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Mereka adalah Bu Elma, ibu tiri Kamila, dan Mita, kakak tiri Kamila yang selalu merasa iri.
Siska meletakkan tas bermereknya di atas meja kusam dengan kasar. "Jadi, kalian adalah keluarga Kamila?"
Bu Elma menyesap tehnya, matanya berbinar melihat penampilan Siska yang glamor. "Benar sekali Nyonya. Saya ibunya, maksudnya ibu tirinya, tapi ya begitu... Kamila itu anak yang tidak tahu diuntung. Sejak bekerja pada orang kaya, dia lupa daratan."
"Dia bukan sekadar bekerja, Bu Elma. Dia sedang mencoba merayu calon suamiku, Evan!" seru Siska dengan nada tinggi. "Dia menggunakan bayi itu untuk mendekati Evan. Aku tidak bisa membiarkannya, sepertinya Kamila menyukai Evan dan berusaha agar Evan menjadikan nya sebagai penggantinya Jingga"
Mita, yang sedari tadi sibuk memperhatikan kuku-kukunya, langsung mendongak. Senyum sinis terukir di bibirnya. "Oh, jadi si polos Kamila sudah belajar jadi penggoda ya? Tidak heran. Dia memang pintar berakting sedih agar orang merasa kasihan, cuih...dasar wanita rendahan tidak tahu malu."
Siska memajukan duduknya, suaranya merendah namun penuh intonasi licik. "Aku ingin dia lenyap dari hidupnya Evan, Aku ingin Evan membencinya setengah mati. Kalian pasti tahu sesuatu yang bisa kita gunakan untuk menghancurkannya, bukan? Sesuatu yang akan membuatnya terlihat seperti penipu di mata Evan, bagaimana apakah kalian sependapat dengan rencanaku ini?"
Bu Elma tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dingin. "Nyonya Siska tidak perlu khawatir. Kami tahu betul 'celah' Kamila. Sebelum dia bekerja di sana, dia punya banyak tanggungan hutang karena mendiang ayahnya, apalagi dia baru saja kehilangan bayinya sekaligus di ceraikan oleh suaminya, sungguh miris, dan kami bisa membuat cerita seolah dia masuk ke rumahnya Tuan Evan hanya untuk menguras hartanya." Ucap Bu Elma berbohong.
"Itu terlalu biasa," potong Mita dengan mata berkilat. "Bagaimana kalau kita buat dia seolah-olah terlibat dalam sindikat penculikan anak? Kita tahu betapa Tuan Evan sangat memuja bayinya. Jika kita memfitnah Kamila bahwa dia bekerja sama dengan orang luar untuk menjual Baby Zevan, Tuan Evan pasti akan menendangnya keluar saat itu juga, dan aku sudah tidak sabar melihat wajah Kamila yang penuh dengan air mata, wanita itu tidak boleh mendapatkan kebahagiaan sedikitpun."
Siska tersenyum puas. Ide itu sangat brilian.
"Sempurna. Aku akan menyiapkan bukti-bukti palsu, dan aku butuh kalian untuk bersaksi. Aku akan membayar kalian dengan sangat mahal jika rencana ini berhasil."
Bu Elma dan Mita saling berpandangan, lalu mengangguk serempak. Bagi mereka, menghancurkan Kamila adalah kesenangan, apalagi jika dibayar dengan uang berlimpah.
"Inilah saat yang tepat," gumam Bu Elma. "Dulu dia selalu jadi anak kesayangan suamiku, sekarang biarlah dia merasakan bagaimana rasanya dibuang oleh semua orang."
Sementara itu, di kediaman Evan, suasana masih terasa kaku. Kamila sedang menidurkan Baby Zevan di dalam kamar. Pipinya masih terasa berdenyut, namun hatinya jauh lebih sakit. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, badai besar sedang dipersiapkan untuk menghantam hidupnya.
Evan berdiri di depan pintu kamar yang sedikit terbuka, menatap punggung Kamila dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara rasa kagum, bersalah, dan keinginan kuat untuk melindungi.
Bersambung...
kopi untuk mu👍