"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Pertama Rara
Rara terburu-buru keluar dari kubangan lumpur sawah. Pagi ini ia akan ujian catur wulan pertama, jam 9.00 WIB ia sudah masuk kelas. Namun, ia tidak punya jam dinding di rumah, hanya bisa menerka-nerka, lalu bergegas mandi.
Adiknya Alisya sudah duluan berangkat tadi pagi.
"Ra, sebelum sekolah tolong benih yang belum selesai kemarin, dicabut lagi." pesan ayah sebelum ia berangkat ke kebun.
Sebenarnya ia keberatan, tapi tidak punya kekuatan untuk membantah.
Rara meraih baju merah putih lusuh miliknya, baju itu kusut, ia tidak sempat lagi untuk menyetrika, lalu memakainya terburu-buru. Ia berangkat dalam keadaan perut keroncongan, bergegas meninggalkan rumah.
Terbayang lagi dalam ingatannya, kehangatan ketika masih di kampung nenek, setiap pagi ibu akan menyediakan baju untuknya. Baju yang rapi, ada bekal sekolah dan ibu akan menemani hingga ia masuk kelas.
Tapi saat ayah memboyong keluarganya ke kota ini, Rara terpaksa berhenti sekolah. Nenek sempat meminta Rara tinggal bersamanya, menjelang ujian kenaikan kelas usai. Rara tidak bersedia.
Sekarang ia sekolah lagi, bedanya sekarang ia harus mandiri tanpa ibu.
Sejak ibu tidak ada ia bahkan hampir tidak lagi punya waktu untuk bermain.
Ia menarik napas berat, langkah kakinya semakin cepat bahkan setengah berlari. Menempuh jarak dua kilometer untuk sampai sekolah, melewati persawahan yang licin dan kotor di guyur hujan semalaman. Rara memacu semangatnya, sepatunya berkubangan lumpur, ia tak hiraukan. Hanya sesekali mencongkel tanah di telapaknya karena sudah terasa berat.
Tiba di sekolah Rara masuk kelas dengan ngos-ngosan, ia mengetuk pintu. Seorang perempuan berhijab membuka pintu, wanita paruh baya itu menatapnya sejenak.
"Hampir setengah jam kamu terlambat, Ra!" tegas Bu Neti dengan suara agak tinggi. Ia merunduk, wajahnya ketakutan. Setiap mata di dalam kelas menatapnya.
"Kemana aja kamu?" Rara masih tak bersuara.
"Sudah duduk, masih ada setengah jam lagi selesaikan ujian."
Rara beranjak dari tempatnya berdiri, duduk di bangku miliknya. Arini teman sebangkunya menyambut dengan ramah.
"Kenapa terlambat?" bisiknya di telingan Rara pelan.
"Hm!" deham Bu Neti. Mereka gelagapan. Selembar kertas ujian diserahkan pada Rara. Ia mengambil lembaran itu.
Kemudian ia sibuk dengan soal-soal yang ada di kertas tersebut.
Teeeet
Bel berbunyi tanda ujian telah selesai. Ruangan mulai riuh rendah, Rara gusar, belum semua soal selesai ia kerjakan. Teman-temannya yang lain sudah mengumpulkan jawaban. Ia tampak panik. Bu Neti seperti mengerti kegelisahannya ia berjalan mendekati meja Rara.
"Ibu kasih waktu sepuluh menit lagi. Kerjakanlah yang belum selesai," tegasnya. Ia kembali duduk di mejanya.
Sekarang hanya tersisa Rara di kelas, ia terpaksa pulang terlambat. Di pintu keluar Alisya dan Arini sedang menunggunya.
Untuk catur wulan pertama ini, adalah progres terbesar Rara, ia sudah bisa membaca walaupun masih terbata-bata. Selain berkat bantuan Arini, semua juga tak lepas dari peran Bu Neti, wali kelasnya.
"Bagaimana Ra?"Bu Neti kembali menghampirinya. Rara menoleh guru cantik itu.
"Dua soal lagi bu."jawabnya sangat pelan.
"Kalau boleh ibu tahu, kamu kenapa terlambat datang?"
Rara menghentikan aktivitasnya sejenak, mendongak ke arah Bu Neti.
"Aku bantu ayah dulu bu, mencabut bibit padi di sawah," jawabnya datar.
Bu Neti terdiam, hatinya terenyuh. Ia mengelus lembut rambut Rara lalu tersenyum kecil.
Ada kehangatan yang mengalir di hati Rara, elusan yang sudah lama hilang dari hidupnya. Matanya berkaca, ada sosok yang ia rindukan.