Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anika
Sophie menatap Max dengan kerutan di dahi, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibir pria itu. Nama "Blackwood" terdengar begitu asing, namun getaran di suara Max memberitahunya bahwa ini adalah sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar persaingan bisnis biasa.
"Aku tidak mengerti, Max," bisik Sophie, tangannya tanpa sadar meremas ujung blazer-nya. "Kenapa mereka mengincar kita sekarang? Apa yang mereka inginkan dari kita setelah bertahun-tahun bersembunyi?"
Max menghela napas panjang, ia menyugar rambutnya dengan frustrasi. "Itu masalahnya, Sophie. Aku sendiri masih meraba dalam kegelapan. Yang aku tahu, lima belas tahun yang lalu, saat Hoffmann Motors berada di ambang kebangkrutan total karena krisis global, sebuah suntikan dana raksasa masuk secara misterius. Tanpa nama, tanpa syarat yang jelas, kecuali satu: mereka memegang kendali atas sebagian besar saham preferen perusahaan."
Ia menjeda kalimatnya, matanya menatap kosong ke arah deretan monitor di ruang rahasia itu.
"Ayahku, Richard, mengira dia telah melakukan kesepakatan dengan iblis untuk menyelamatkan warisannya. Dan dia benar. Sejak saat itu, Hoffmann Motors tumbuh menjadi raksasa, tapi fondasinya dibangun di atas utang budi kepada Blackwood. Selama ini mereka diam, hanya mengambil keuntungan dan membiarkan Richard bermain sebagai raja. Tapi sekarang, saat aku mengambil alih dan menggulingkan Richard, sepertinya aku telah mengganggu keseimbangan yang mereka buat."
"Jadi mereka mengincarmu karena kau mencoba mencari tahu siapa mereka?" tanya Sophie, mencoba menyatukan kepingan teka-teki itu.
"Mungkin lebih dari itu," jawab Max, suaranya merendah. "Aku sedang mencoba melacak siapa pemilik saham sebenarnya dari Blackwood Holdings. Siapa orang di balik topeng itu. Tapi setiap kali aku menyentuh firewall mereka, mereka membalas dengan peringatan seperti foto tadi. Mereka seolah berkata, 'Berhenti mencari, atau kami akan menghancurkan apa yang paling berharga bagimu.'"
Max mencengkeram bahu Sophie, menatapnya dengan intensitas yang menyakitkan. "Aku tidak tahu alasan pastinya kenapa mereka bergerak sekarang. Apakah mereka ingin mengambil alih perusahaan secara penuh? Ataukah mereka memiliki agenda lain yang melibatkan sejarah keluarga kita berdua? Aku butuh jawaban itu, Sophie. Karena selama aku tidak tahu siapa wajah di balik Blackwood, aku tidak akan pernah bisa benar-benar melindungimu dan ayahmu."
Sophie terdiam, ia bisa merasakan beban raksasa yang kini berpindah ke pundaknya juga. Mereka tidak hanya melawan seorang pria seperti Richard lagi; mereka melawan sebuah sistem yang tidak terlihat.
"Kalau begitu," ucap Sophie dengan nada yang tiba-tiba tenang namun dingin, "kita jangan hanya mencari mereka secara digital. Jika mereka memiliki saham di sini, berarti ada jejak fisik yang mereka tinggalkan. Entah itu kontrak lama, sidik jari pada dokumen, atau... orang-orang lama yang pernah bertemu dengan utusan mereka."
...****************...
Siang harinya, ketegangan di ruang rapat seolah memudar saat Sophie memutuskan untuk keluar sejenak mencari udara segar di pantri eksekutif. Ia butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya yang penuh dengan teka-teki Blackwood.
Saat Sophie sedang berdiri di depan mesin kopi, memperhatikan tetesan cairan hitam yang aromatik ke dalam cangkirnya, suara langkah kaki ringan mendekat.
"Ternyata rumor itu benar. Kau memang jauh lebih cantik jika dilihat dari dekat," sebuah suara wanita yang terdengar ramah namun bersemangat menyapa dari arah belakang.
Sophie menoleh dan menemukan seorang wanita seusianya, mengenakan seragam formal dengan kartu identitas bertuliskan 'Staff Keuangan'. Wanita itu tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi yang rapi.
"Oh, halo," jawab Sophie, sedikit terkejut namun ia membalas senyuman itu dengan ramah. Ini adalah pertama kalinya ia berinteraksi secara santai dengan staf kantor tanpa ada Max di sampingnya. "Terima kasih atas pujiannya. Aku Sophie."
"Aku tahu siapa kau, Nona Sophie Adler. Seluruh gedung ini membicarakanmu sejak keributan karyawan tadi pagi," wanita itu mengulurkan tangan. "Namaku Anika. Aku dari departemen keuangan. Maaf jika aku mengejutkanmu, tapi aku benar-benar tidak tahan untuk tidak menyapa sekretarisnya Tuan CEO.”
Sophie hanya membalas jabatan tangan itu dengan senyum yang sedikit kaku. Ia teringat peringatan Max untuk tidak terlalu terbuka pada siapa pun di gedung ini, namun ia juga tidak ingin terlihat mencurigakan dengan bersikap terlalu dingin.
"Senang bertemu denganmu, Anika," jawab Sophie singkat sembari mengambil cangkir kopinya yang sudah penuh.
Anika tidak tampak terganggu dengan sikap kaku Sophie. Ia justru bersandar pada meja pantri, menghela napas panjang dengan raut wajah yang tampak lelah namun lega. "Kau tidak tahu betapa bersyukurnya kami kalian kembali. Selama kalian pergi dan tidak ada yang memimpin dengan pasti, perusahaan ini seperti kapal tanpa nakhoda yang terjebak di tengah badai."
Anika mulai bercerita dengan nada bicara seperti orang yang sudah lama memendam beban. "Di departemen keuangan, suasananya jauh lebih buruk. Orang-orang dewan direksi itu... mereka seperti burung hantu yang kelaparan. Mereka mulai mencampuri urusan teknis, memaksa kami mengeluarkan dana untuk proyek yang tidak jelas, dan saling sikut untuk mengamankan posisi masing-masing. Benar-benar kacau."
Ia melirik ke arah lorong sebentar sebelum kembali berbisik pada Sophie. "Kami para staf hanya bisa menunduk dan berdoa agar gaji kami tetap dibayar. Melihat Tuan Hoffman masuk ke ruang rapat tadi pagi bersama Anda, rasanya seperti melihat harapan baru. Meskipun jujur saja, banyak yang ragu apakah Tuan Hoffman bisa menangani 'warisan' ayahnya yang begitu rumit."
Sophie mendengarkan dengan saksama, matanya menatap tajam ke dalam cangkir kopinya namun telinganya menangkap setiap detail. Curhatan Anika terdengar tulus, sebuah gambaran keputusasaan karyawan kecil di tengah perang para petinggi.
"Tuan Hoffman tahu apa yang dia lakukan," sahut Sophie tenang, mencoba membela Max tanpa harus membocorkan rencana mereka.
"Aku harap begitu, Sophie. Karena jika perusahaan ini goyang lagi, banyak dari kami yang akan kehilangan segalanya," Anika tersenyum sedih. "Maaf, aku malah jadi curhat padamu. Padahal kau pasti jauh lebih sibuk daripada aku. Aku hanya merasa kau adalah orang yang bisa dipercaya setelah melihat aksimu tadi pagi."
"Tuan Hoffman tahu apa yang dia lakukan," sahut Sophie tenang, mencoba membela Max tanpa harus membocorkan rencana mereka.
"Aku harap begitu, Sophie. Karena jika perusahaan ini goyang lagi, banyak dari kami yang akan kehilangan segalanya," Anika tersenyum sedih. "Maaf, aku malah jadi curhat padamu. Padahal kau pasti jauh lebih sibuk daripada aku. Aku hanya merasa kau adalah orang yang bisa dipercaya setelah melihat aksimu tadi pagi.”
Sophie menggelengkan kepalanya pelan, memberikan senyum yang lebih tulus kali ini. "Tidak apa-apa, Anika. Terkadang kita memang butuh seseorang untuk mendengarkan. Aku tidak keberatan."
Saat Sophie menyesap kopinya, sinar lampu pantri memantul pada sebuah benda di leher Anika. Mata Sophie yang tajam menangkap sebuah kalung perak dengan liontin berlogo unik—sebuah desain geometris yang rumit, tampak seperti perpaduan antara akar pohon yang melilit dan garis-garis tajam yang dingin.
"Kalungmu cantik sekali," puji Sophie tulus, ia sedikit mencondongkan tubuh untuk melihat lebih dekat. "Desainnya sangat unik, aku rasa aku belum pernah melihat logo atau bentuk seperti itu sebelumnya di toko perhiasan manapun."
Anika menyentuh liontin itu dengan ujung jemarinya, gerakannya tampak sangat hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kaca yang rapuh. "Terima kasih, Sophie. Kalung ini adalah pemberian mendiang ayahku. Ini satu-satunya peninggalan yang aku punya darinya."
Sophie tertegun sejenak, rasa simpati mengalir di dadanya. Ia tahu persis bagaimana rasanya memegang erat sesuatu yang tersisa dari orang tua yang sudah tiada. Ia teringat ayahnya, Hans, yang masih ada namun jiwanya sempat hancur oleh beban masa lalu.
"Aku turut prihatin," ucap Sophie lembut, suaranya merendah penuh empati. "Tapi kau tahu, ayahmu pasti sangat bangga melihatmu sekarang. Kau tumbuh menjadi putri yang cantik, baik hati, dan bekerja keras di perusahaan sebesar ini."
Anika menatap Sophie dengan pandangan yang sulit diartikan. Matanya tampak sedikit sayu, menyimpan kesedihan yang jauh lebih dalam dari sekadar kerinduan pada orang tua.
"Aku harap begitu," jawab Anika lirih, nyaris berbisik. "Aku hanya berharap semua yang ia korbankan tidak menjadi sia-sia pada akhirnya."
Suasana di pantri itu mendadak terasa sedikit lebih berat. Sophie merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik kalimat Anika, namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat dari lorong.
Gaston muncul di ambang pintu. Sosoknya yang besar dan tatapannya yang dingin langsung membuat Anika sedikit menjauh dari Sophie.
"Nona Adler," panggil Gaston dengan suara baritonnya yang kaku. "Tuan Hoffmann menunggu Anda di ruang kerja. Sekarang."
Anika tampak sedikit terkesiap melihat kehadiran Gaston yang mengintimidasi. Ia segera merapikan letak kalungnya dan memberikan anggukan kecil yang sopan kepada Sophie, seolah sadar bahwa waktu santai mereka telah habis.
"Sepertinya tugas memanggilmu kembali," ucap Anika dengan senyum tipis yang kembali menghiasi wajahnya. "Terima kasih sudah mau mendengarkan ceritaku, Sophie. Senang bisa mengobrol denganmu."
Sophie mengangguk ramah, mencoba mencairkan suasana kaku yang dibawa oleh kehadiran Gaston. "Aku juga senang mengobrol denganmu, Anika. Sampai jumpa lagi."
Sophie kemudian meletakkan cangkir kopinya dan berjalan menghampiri Gaston yang masih berdiri tegak layaknya patung di ambang pintu. Saat ia melewati Anika, ia sempat melirik sekilas ke arah liontin unik itu untuk terakhir kalinya, merekam setiap lekukan desainnya ke dalam ingatan.
"Ayo, Gaston. Jangan menatapnya seperti kau ingin menginterogasinya," bisik Sophie pelan saat ia sudah berada di samping pria besar itu.
Gaston tidak menjawab, ia hanya memberikan gestur tangan agar Sophie berjalan di depannya, sementara ia tetap menjaga jarak yang sangat dekat di belakangnya—memastikan tidak ada seorang pun yang bisa mendekati Sophie tanpa seizinnya.