Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang menghancurkan
Rendra mulai beradaptasi di pesantren. Tidak seperti Langit dulu yang suka kabur ke kuburan atau bikin heboh, Rendra justru terlihat lebih pandai bergaul. Ia cepat akrab dengan santri lain, lebih nurut pada aturan, meski tetap menyimpan sisi nakal khas anak kota.
Malam itu, ia duduk di serambi masjid bersama teman sekamarnya, Dani. Angin malam berhembus pelan, suara santri mengaji terdengar dari dalam.
Dani menepuk bahu Rendra, lalu menunjuk ke arah halaman ndalem.
“Eh, itu… lihat. Cantik banget kan?”
Rendra menoleh. Matanya langsung terpaku pada sosok seorang wanita yang berjalan pelan, membawa buku di tangannya. Wajahnya teduh, auranya lembut, seolah cahaya lampu masjid memantul di wajahnya.
Rendra terdiam. Dalam hati, ia bergumam, Astaga… cantik banget. Spek bidadari.
Dani terkekeh. “Itu Senja. Putri Abah Danardi. Katanya… istri Langit Sterling.”
Rendra spontan menegakkan duduknya. “Serius? Itu istri Langit?”
Dani mengangguk mantap. “Iya. Makanya Langit betah di sini. Kamu tahu sendiri kan, cowok tengil itu dulu gimana. Tapi sejak nikah sama Senja, katanya berubah total.”
Rendra menelan ludah, matanya masih tak lepas dari Senja.
Pantas saja Langit betah… ternyata istrinya secantik ini. Spek bidadari banget. Nggak heran kalau dia rela berubah.
Senyum tipis muncul di bibir Rendra. Ada rasa penasaran yang mulai tumbuh. Bukan sekadar ingin tahu, tapi juga rasa ingin membuktikan sesuatu: bagaimana musuh bebuyutannya dulu bisa mendapatkan wanita seindah itu.
Hari-hari Rendra di pesantren mulai berjalan dengan tenang. Ia mondok di Mambaul Ulum, namun tetap kuliah di salah satu kampus sekitar Yogyakarta. Penampilannya cukup rapi, sikapnya ramah, dan ia cepat akrab dengan santri lain. Tidak seperti Langit dulu yang suka kabur ke kuburan atau bikin heboh, Rendra justru terlihat lebih nurut pada aturan.
Namun di balik sikapnya yang tampak baik, ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Suatu sore, Rendra memberanikan diri menunggu di depan gerbang sekolah Senja. Ia berdiri dengan santai, menunggu gadis itu keluar. Begitu Senja muncul dengan sepeda putihnya, wajahnya teduh meski tampak lelah, Rendra segera melangkah mendekat.
“Senja,” panggilnya pelan, senyum tipis menghiasi bibirnya. “Bareng pulang yuk. Aku sekalian balik ke pesantren.”
Senja menoleh, sedikit terkejut melihat Rendra. Senyumnya sopan, tapi cepat menggeleng.
“Maaf, Ren. Aku bawa sepeda. Jadi pulangnya sendiri aja.”
Jawaban itu sederhana, tapi menusuk hati Rendra. Senja melaju dengan sepedanya, meninggalkan Rendra yang berdiri kaku di pinggir jalan.
Rendra menatap punggung Senja yang semakin jauh, lalu menghela napas panjang. Ada rasa sakit yang tak bisa ia sembunyikan.
Kenapa dia menolak? Apa aku nggak pantas?
Tatapannya mengeras. Bara kecil mulai tumbuh di dadanya.
Langit… musuh bebuyutanku dulu. Sekarang dia punya istri secantik ini. Dan aku? Ditolak begitu saja. Nggak bisa. Aku harus balas. Aku harus hancurkan dia… lewat Senja.
Sejak hari itu, Rendra menyimpan ambisi. Senja bukan lagi sekadar sosok cantik yang membuatnya kagum. Senja menjadi kunci untuk melukai Langit.
Di pesantren, wajah Rendra tetap ramah, pandai bergaul, seolah santri teladan. Tapi di balik senyum itu, hatinya menyimpan rencana. Rencana yang bisa mengubah segalanya.
Rendra semakin lihai membaca keadaan sekitarnya. Hari-harinya di pesantren ia gunakan bukan hanya untuk kuliah dan bergaul, tapi juga mengamati. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Langit dan Senja—musuh bebuyutannya dulu dan wanita yang kini membuatnya penasaran.
Tak butuh waktu lama, informasi itu datang dengan mudah. Seorang santri yang sedang duduk santai di serambi masjid bercerita tanpa sadar.
“Dulu, sebelum menikah, Senja punya pacar. Namanya Gus Azka. Anak pondok besar di Jawa Tengah. Minggu depan dia akan datang ke sini, mengisi kajian dalam rangka peringatan Tahun Baru Islam.”
Rendra menahan senyum. Matanya berkilat, seolah menemukan celah yang ia cari.
Jadi begitu… Senja pernah punya pacar. Dan pemuda itu akan datang ke sini. Kalau kabar ini benar, pondok ini bisa jadi bahan omongan. Aku bisa membuat semuanya malu. Dan kalau pondok ini malu, aku bisa keluar dengan mudah… tanpa bersusah payah.
Ia bersandar di tiang masjid, senyum tipis menghiasi wajahnya. Dari luar, ia tampak tenang, bahkan ramah. Tapi di dalam hatinya, rencana mulai terbentuk.
Langit… kau pikir sudah menang? Kau pikir hidupmu aman dengan Senja? Tunggu saja. Aku akan balas dendam. Dan Senja… akan jadi kunci untuk menghancurkanmu.
Rendra menatap langit malam di atas pesantren. Senyumnya semakin lebar. Senyum yang menyimpan ambisi, rencana, dan bara dendam yang siap meledak kapan saja.
Di kamar kosnya di Australia, Langit sibuk berjongkok di lantai, koper besar terbuka lebar. Baju-baju ia lipat seadanya, beberapa buku kuliah diselipkan di antara pakaian, dan oleh-oleh kecil ia masukkan dengan hati-hati.
Sudah enam bulan ia jalani hari tanpa Senja. Enam bulan penuh tugas, kuliah, dan kesibukan yang membuatnya tampak kuat di luar, padahal hatinya selalu kosong. Kini, libur semester lima akhirnya tiba.
Langit berhenti sejenak, menatap foto Senja yang tersimpan di layar ponselnya. Senyum tengilnya muncul, matanya berbinar.
Hal pertama yang akan aku lakukan begitu sampai di Indonesia… memeluk Senja. Aku kangen setengah mati.
Ia tertawa kecil sendiri, cengengesan seperti biasa.
“Wah, pasti seru. Tahun baru Islam, acara pesantren, suasana baru… dan aku bisa ketemu Senja lagi. Aduh, nggak sabar!”
Tangannya kembali sibuk merapikan koper, tapi hatinya melayang jauh ke Yogyakarta. Bayangan Senja dengan senyum lembutnya membuat Langit semakin bersemangat.
“Pokoknya liburan kali ini harus aku manfaatkan sebaik-baiknya. Nggak ada yang bisa ganggu. Aku, Senja, dan… ya, semua hal yang bikin aku betah di pesantren.”
Langit menutup koper dengan bunyi klik, lalu berdiri tegak. Senyum tengilnya semakin lebar.
“Indonesia, tunggu aku. Senja, tunggu aku. Aku pulang untuk rindu.”
Acara tahun baru Islam di pesantren Mambaul Ulum berlangsung meriah. Santri sibuk menyiapkan kajian, dekorasi sederhana menghiasi aula, dan suasana penuh semangat. Di tengah keramaian itu, Rendra sudah menyiapkan sebuah rencana.
Sore hari, ia keluar sebentar ke warung dekat pesantren. Tangannya membawa beberapa bungkus cemilan dan satu botol Coca Cola dingin. Senyum tipis menghiasi wajahnya, senyum yang menyimpan maksud tersembunyi.
Setelah kembali, Rendra menghampiri Lulu—teman dekat Senja yang terkenal ceria dan selalu update gosip. Dengan nada santai, ia menitipkan kantong plastik berisi cemilan.
“Ini ada titipan. Katanya dari Langit, suaminya Senja. Tolong kasih ke dia, ya. Yang satu botol Coca Cola ini spesial, jangan lupa bilang dari Langit.”
Lulu mengangguk, tidak curiga sedikit pun. Malam itu, di kamar asrama putri, ia membagikan cemilan kepada penghuni kamar. Semua senang, suasana jadi ramai.
Lalu Lulu menyerahkan satu kantong plastik khusus kepada Senja.
“Ini buat kamu, Senja. Katanya dari suamimu, Langit. Dititipin lewat Rendra.”
Senja tertegun, lalu tersenyum bahagia. Matanya berbinar, seolah rindu yang ia simpan selama berbulan-bulan sedikit terobati.
“Dari Langit?” tanyanya pelan, senyum merekah di wajahnya.
Lulu mengangguk mantap. “Iya. Katanya dititipin lewat Rendra.”
Senja memeluk kantong plastik itu, hatinya hangat. Ia mengira Langit dan Rendra adalah sahabat, saling membantu, saling menjaga. Tidak ada sedikit pun kecurigaan bahwa di balik senyum ramah Rendra, tersimpan ambisi yang kelam.
Di luar kamar, Rendra berdiri di serambi masjid, menatap ke arah asrama putri. Senyum tipisnya muncul lagi.
Bagus… Senja percaya. Langit akan hancur lewat caraku. Dan semua ini baru permulaan.
"Senja, dipanggil Abah Kyai ke kediaman," lapor salah seorang santri yang kebetulan melintas di depan asrama.
Senja segera bangkit dari duduknya. Ia tak lupa menyambar tas plastik kresek pemberian suaminya yang sedari tadi ia dekap erat. Langkah kakinya bergerak cepat menuju rumah utama.
Setibanya di sana, ia mencium punggung tangan Abah dan Umi dengan takzim, sebuah kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan sebagai bentuk penghormatan.
"Bantu Umi ya, Nduk? Azka mau datang sama teman-temannya ke sini," ucap Umi Siti lembut sambil menata piring.
"Baik, Umi," jawab Senja patuh.
Ia segera melangkah menuju dapur yang mulai sibuk. Rupanya, Umi Siti sedang menggoreng sambal dalam porsi besar. Aroma cabai yang menyengat seketika menyerbu indra penciumannya, membuat Senja terbatuk-batuk hebat hingga matanya berair. Di tengah rasa sesak itu, pandangannya tertuju pada sebuah botol minuman soda di atas meja kayu. Tanpa berpikir panjang, ia menyambar botol itu dan meneguk isinya dengan rakus hingga tandas demi membasahi tenggorokannya yang terbakar.
Namun, ada yang aneh. Cairan itu tidak memberikan kesegaran yang ia harapkan. Sebaliknya, rasa pahit yang tajam dan panas menyergap lidahnya.
Kok rasanya seperti minuman keras? batin Senja heran. Tak butuh waktu lama, dunianya mendadak berputar. Dinding dapur seolah bergerak miring, dan langkah kakinya terasa seringan kapas.
Gus Azka dan teman-temannya tiba tak lama kemudian. Mereka disambut hangat oleh Abah Kyai dan langsung dipersilakan menuju ruang makan. Senja, yang mulai merasa kesadaran sementaranya memudar, memaksakan diri untuk tetap sopan. Setelah membantu meletakkan hidangan terakhir, ia mendekati Umi Siti dengan wajah pucat.
"Umi, Senja izin ke kamar dulu, ya? Kepala Senja pusing sekali," pamitnya lirih.
"Iya, Nduk. Istirahat saja kalau tidak kuat," sahut Umi penuh perhatian.
Di dalam kamar, Senja segera melepas kerudungnya. Hawa panas yang tak wajar merayap di sekujur tubuhnya. "Duh, kok panas banget, sih?" gumamnya seraya merebahkan diri di atas kasur. Kepalanya semakin berdenyut kencang, membawa jiwanya ke ambang halusinasi.
Suara adzan Magrib lamat-lamat terdengar dari masjid pondok. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Senja mencoba bangkit untuk menunaikan kewajibannya. Ia mengambil pasmina, melilitkannya secara asal-asalan ke kepala, lalu berjalan keluar kamar. Langkahnya oleng, persis seperti orang yang tengah mabuk berat.
Saat menuruni tangga menuju lantai bawah, keseimbangannya hilang sepenuhnya. Tubuh Senja limbung, hampir saja terjerembap ke lantai marmer jika sebuah tangan kokoh tidak menangkapnya dari belakang.
Senja mendongak, matanya yang sayu dan berkabut bertemu dengan netra Azka yang menatapnya cemas. Pada saat itu, logika Senja sudah lumpuh. Yang tersisa hanyalah kerinduan mendalam yang selama ini ia pendam rapat-rapat. Ia kehilangan kontrol atas dirinya sendiri.
Jemarinya mencengkeram lengan Azka, sementara wajahnya mulai mendekat, mengendus aroma maskulin di leher pria itu.
"Senja? Kamu kenapa? Sadar, Senja!" Azka berusaha keras melepaskan diri dan menyadarkan wanita di pelukannya.
Namun, serangan kasih sayang yang tiba-tiba itu membuat pertahanan Azka runtuh. Dalam keremangan cahaya koridor, Azka terbuai oleh suasana. Ia justru membalas dekapan itu dan mencium bibir Senja dengan dalam.
Di saat itulah, dunia seolah berhenti berputar. Dari ujung koridor, Abah Kyai bersama Langit berdiri mematung. Mata mereka menyaksikan pemandangan itu dengan jelas.
"Astaghfirullahaladzim!" Suara Abah Kyai menggelegar, menghancurkan keheningan Magrib yang seharusnya suci.
Langit hanya terdiam, namun tatapannya tajam menghunjam, menyimpan luka dan amarah yang siap meledak kapan saja.