Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Genta Cemburu Dengan Fadhil
Ruang sidang terasa lebih dingin dari biasanya, tahap pembuktian selalu membawa aura berbeda, bukan lagi soal cerita, melainkan soal fakta yang tidak bisa diputarbalikkan..!
Zahra duduk dengan punggung tegak, di hadapannya, berkas-berkas bukti telah disusun rapi oleh Mbak Rima..
Tidak berlebihan, tidak dramatis, hanya cukup untuk menunjukkan satu hal, ia tidak berkhayal, tidak mengada-ada.
Hakim membuka sidang dengan ketukan singkat..
“Silakan pihak penggugat mengajukan bukti.”
Mbak Rima berdiri..
“Yang Mulia, kami mengajukan bukti tertulis berupa pesan elektronik, rekaman suara, serta saksi yang mengalami langsung tekanan psikis yang dialami klien kami.”
Genta menelan ludah, tangannya mengepal di atas meja..
Satu per satu bukti ditampilkan, pesan suara Bu Ratna, bernada memerintah, mengancam, dan merendahkan, diputar singkat, tidak semuanya, hanya bagian yang relevan.
Ruangan hening seketika..
Bu Ratna, yang duduk di bangku pengunjung, langsung berdiri..!
“Itu dipotong! Tidak utuh!” bentaknya.
Hakim mengangkat tangan.
“Ibu Ratna, harap tenang, jika ingin menyanggah, silakan melalui kuasa hukum.”
Bu Ratna duduk kembali dengan napas memburu, wajahnya memerah bukan karena malu, melainkan karena kehilangan kendali
Lalu saksi pertama dipanggil, Bu Lestari, tetangga lama yang selama ini memilih diam.
Dengan langkah hati-hati, perempuan paruh baya itu maju..
"Saya sering mendengar pertengkaran, bukan pertengkaran suami istri biasa, tapi tekanan… terutama dari ibu mertua dan saya juga sering melihat wanita asing datang kerumah Genta" ucap Bu Lestari jujur
Bu Ratna menggeleng keras.
"Dia bohong!”
Namun hakim hanya mencatat dan saksi kedua dipanggil..
"Fadhil Pratama"
Nama itu membuat ruangan berdesis pelan.
Seorang pria yang baru datang langsung melangkah ke hadapan majelis hakim dengan sikap tenang dan tegap.
Genta spontan mengangkat kepala, sementara Bu Ratna membeku di tempat duduknya.
"Pria itu… Yang ada di gambar kemarin, gambar yang Mak Ratna kirim ke aku"
Jari-jari Genta mengepal erat..!
"Jadi dia benar-benar berani datang dan menjadi saksi, aku yakin ini semua sudah direncanakan dari jauh-jauh hari oleh Zahra dan selingkuhannya itu"
Fadhil berdiri lurus di depan hakim..!
“Saya tidak hadir sebagai rekan kerja, melainkan sebagai saksi profesional atas dampak tekanan nonfisik terhadap kinerja dan kondisi psikologis seseorang.” ucapnya lugas tanpa ragu
Hakim mengangguk singkat.
“Silakan lanjutkan.”
“Dalam beberapa bulan awal saya bekerja dengan Bu Zahra, saya menyaksikan kecemasan berlebihan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Setelah ditelusuri, sumbernya berasal dari tekanan keluarga yang terus-menerus.” lanjut Fadhil dengan suara stabil
Belum sempat Fadhil melanjutkan, Bu Ratna berdiri dengan wajah merah padam..
“Anda tidak punya hak menilai urusan keluarga kami! Karena Anda orang luar, dan saya lihat anda ini sering sekali berduaan dengan menantu saya Zahra, apa ini rencana kalian? Ingin menyingkirkan anak saya, Genta, lalu secepatnya menikah?!” bentaknya tajam
Ruangan sidang mendadak tegang.
Fadhil menoleh, tatapannya tenang namun tegas.
“Benar sekali! Saya memang tidak punya hak mencampuri urusan rumah tangga Bu Zahra, tapi saya punya kewajiban menyampaikan fakta yang saya lihat secara langsung dan hubungan saya dengan Bu Zahra hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih dari itu.” jawabnya tanpa meninggikan suara
Kata-kata itu jatuh seperti palu, keras, tegas, dan menghantam keheningan ruang sidang.
Hakim mencatat panjang..!
Saat giliran pihak Genta menyampaikan bukti, suasana berubah canggung, tidak ada banyak bukti yang bisa diajukan, Genta menatap meja lebih sering daripada menatap hakim..
Lalu Bu Ratna melakukan langkah terakhirnya..! Ia maju tanpa diminta.
"Yang Mulia, kalau Zahra merasa tertekan, itu karena dia tidak mau tunduk, perempuan menikah harus tahu posisi!” ucapnya dengan suara tinggi
Ruangan gempar..!
Hakim mengetuk meja keras..
“Cukup! Pernyataan Ibu justru menguatkan dugaan tekanan psikis, saya minta Ibu duduk dan tidak berbicara lagi.”
Wajah Bu Ratna pucat, ia menyadari terlambat bahwa mulutnya sendiri menjadi senjata paling berbahaya..
Sidang ditutup sementara, putusan belum dibacakan, tapi arah angin sudah jelas..
Di luar ruang sidang, Genta menghampiri Zahra wajahnya terlihat kusut
“Aku kalah dan kamu hebat Zahra bisa bermain secantik ini, tanpa aku curiga" ucap Genta lirih.
Zahra menatapnya tenang.
“Asal kamu tahu Mas, ini bukan soal menang atau kalah dan apa maksud ucapan mu dengan bermain cantik?"
“Kamu jangan berpura-pura polos Zahra di hadapan ku" ucap Genta
Zahra menghembuskan napas pelan, tatapannya tetap tenang, tapi ada kilat luka yang singkat melintas di matanya.
“Aku tidak berpura-pura, Mas! Kamu yang terlalu lama merasa paling mengerti segalanya, termasuk diri ku.” jawab Zahra datar
Genta terkekeh pahit, ia menyelipkan tangan ke saku jasnya, langkahnya mundur setengah, seolah beban di dadanya semakin berat..!
"Kamu mengatur semuanya, saksi, waktu, bahkan ekspresi kamu di ruang sidang. Jangan bilang itu kebetulan dan kamu memilih pria yang bernama Fadhil selingkuhan mu itu, sebagai saksi kamu" ucap Genta sambil menatap Zahra dengan tatapan tajam..
Zahra menggeleng pelan.
“Yang aku atur hanya satu hal kebenaran supaya akhirnya didengar, kalau itu terlihat seperti strategi di matamu, mungkin karena selama ini kamu terbiasa melihat hidup sebagai papan catur dan aku cuma mengingat kan saja, yang selingkuh itu kamu" jawab Zahra
Wajah Genta menegang.
“Kamu sengaja menjatuhkan aku.”
“Aku tidak menjatuhkan siapa pun, kamu jatuh karena pilihanmu sendiri, aku hanya berhenti menutupinya.” jawab Zahra suaranya tetap rendah namun tegas
Hening sesaat, suara langkah kaki orang-orang yang keluar masuk ruang sidang berlalu tanpa mereka pedulikan...
Genta menatap Zahra lama, mencari celah, mencari sisa perempuan yang dulu selalu memaafkan.
"Aku tidak mengenalmu lagi Zahra, kamu telah berubah" ucap Genta akhirnya.
Zahra tersenyum tipis bukan senyum kemenangan, melainkan kelegaan..
"Mungkin karena untuk pertama kalinya, aku mengenal diriku sendiri.”
Setelah berbicara seperti itu, Zahra melangkah pergi, meninggalkan Genta terpaku di lorong itu, dengan kekalahan yang bukan datang dari pengadilan, melainkan dari kebenaran yang tak lagi bisa ia bantah.
Bu Ratna keluar paling akhir, tidak ada yang menyapanya dan tidak ada yang menunggu..!
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar sendirian hanya dikelilingi gema kata-katanya sendiri..!
Malam itu, Zahra bersujud lebih lama dari biasanya dan tak lupa ia berdoa dan menceritakan semuanya untuk mengeluarkan semua sesak yang menghimpit hatinya!
Di langit malam yang sunyi, Zahra tahu, roda kehidupan telah berputar, bahkan terlalu jauh untuk dihentikan..!