Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIAT PUASA MUTIHKU
Saat bapak mulai menyiramkan guyuran pertama di atas kepalaku, seketika itu juga aku seperti terasa dicekik pelan. Nafasku tiba-tiba terasa terhenti. Sambil terasa seluruh tubuhku dialiri air. Semerbak bunga tujuh rupa tercium wangi dihidungku. Dan yang terasa selanjutnya adalah dingin. Tapi bukan dingin seperti biasa, dingin yang terasa... Lebih menusuk tulang...
Lanjut Bapak menyiramkan guyuran kedua ke kepalaku. Nafasku yang tadi terasa dicekik pelan kini kembali lepas. Tapi, ada yang aneh kurasakan pada guyuran ke dua ini. Aku merasa ada hawa panas yang keluar dari dalam tubuhku. Seolah seperti ada uap yang keluar. Dan aroma bunga tujuh rupa itu berubah menjadi aroma bunga kantil yang sangat jelas. Aroma bunga kantil yang sama persis dengan dalam mimpiku bersama almarhum kakek. Dan juga aromanya sama persis dengan bunga kantil yang diberikan oleh Bu Inah.
Untuk selanjutnya bapak menyiramkan air pada guyuran ketiga. Kini tubuhku sudah basah seluruhnya dengan sebagian bunga tujuh rupa yang menempel. Setelah itu, bapak seperti membaca sebuah do'a yang aku belum pernah dengar sebelumnya.
Dan ketika selesai, bapak langsung memintaku berdiri, dan menyerahkan gayungnya padaku. Bapak bilang, "Nis, sekarang kamu lanjutkan mandi sendiri, kayak biasanya aja kamu mandi, dilepas semua kain jariknya ya. Habiskan airnya itu."
Bapak lantas keluar kamar mandi, dan aku tutup pintunya dari dalam. Aku lepas semua kain jariknya. Dan aku lanjutkan mandi seperti biasa. Aku berusaha menyiram dengan perlahan saja sampai air di dalam bak itu habis.
Pada momen ini, aku seperti terlahir kembali. Badanku terasa sangat ringan seolah tiada beban apapun. Tak ada rasa lelah seperti biasanya. Tak ada pikiran yang berat dalam kepalaku.
Singkat cerita, aku sudah selesai mandi bunga tujuh rupa. Dan kini aku sudah memakai mukena untuk bersiap sholat Maghrib. Tapi kali ini Bapak menyuruhku untuk sholat sendirian. Karena ada sebuah niat dan do'a khusus yang wajib aku baca ketika selesai sholat maghrib.
Aku di dalam kamarku, dengan lampu kamar yang berwarna kuning, menjadi agak sedikit redup suasana kamarku. Aku menggelar sajadah, dan mulai mengucap takbir, "Alloohu Akbar..."
Dan betapa terkejutnya aku, secara samar namun jelas, terdengar suara seseorang perempuan di belakangku seketika aku mengucap takbir itu...
"Alloohu Akbaar..."
Aku mulai merinding... Suara itu seolah menjadi makmum di belakangku saat ini. Aku mencoba khusyuk saja, mencoba menepisnya, mungkin itu hanya halusinasiku saja.
Tapi itu tak berlangsung lama, ketika aku selesai membaca Al-Faatihah, dan mengucap kata "Aamiin" di dalam hati, suara perempuan di belakangku terdengar lagi.
Samar... Lembut... Namun jelas...
"Aamiin"
Semakin merinding aku dibuatnya. Namun aku sadar, sekarang aku sedang sholat. Aku harus tetap fokus untuk menyembah Alloh. Dan aku tak boleh menjadi takut hanya karena suara itu.
Singkat cerita, sampailah aku di tahiyyat akhir sebelum salam. Suara tadi selama roka'at kedua dan ketiga tak terdengar lagi.
Aku mengucap salam, sambil menoleh ke kanan, dan ke kiri. Tanda bahwa sholatku sudah selesai. Aku lanjutkan dengan membaca wirid dan do'a.
Ketika semua rangkaian sholat maghrib itu sudah kulaksanakan, aku duduk bersila menghadap arah kiblat. Dan aku buka selembar kertas dengan tulisan bapak. Aku baca niat untuk melaksanakan puasa mutih yang dimulai besok hari.
Aku baca dengan perlahan niatnya dengan suara yang lembut dan cukup terdengar di kedua telingaku.
"Niat ingsun poso mutih, ngeresi'i jiwo rogo ingsun, buko mata batin ingsun, kerono Alloh ta'ala."
Lalu, kulanjutkan membaca tulisan bapak di atas kertas itu, bacaan-bacaan yang berbahasa jawa Kromo Inggil (bahasa jawa kerajaan/kesultanan).
Tapi... Kembali lagi aku dibuat merinding ketika membacanya...