Liam, adalah anak terbuang. dari kecil hingga dewasa, dia tidak pernah merasakan memiliki keluarga. bahkan di masa tua nya, dia belum pernah merasakan cinta.
Walaupun memiliki harta yang berlimpah, namun kekayaan itu terasa tidak berguna. hingga akhirnya dia meninggal, dan terlahir kembali.
dia terlahir kembali ke umur dua puluh tahun. namun yang aneh adalah, dia terlahir kembali, dan langsung di nikahi oleh seorang gadis cantik dan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Parhusib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan jalan
Pagi yang baru, Liam dan Yuna pergi berjalan-jalan.
Hari ini, Liam berencana untuk melepas penat seharian. Jadi, dia mengajak Yuna untuk jalan-jalan.
TAMAN KOTA - PAGI
Matahari pagi menyinari dedaunan hijau. Liam, dengan rambut cokelatnya yang sedikit berantakan, menggandeng Yuna, istrinya yang cantik dengan senyum cerah. Mereka berjalan santai di taman kota yang ramai.
"Akhirnya, ya? Bisa juga kamu lepas dari tumpukan kertas itu." Ucap Yuna, yang sudah sangat gembira, karna suaminya mengajaknya jalan-jalan berduaan.
Liam tertawa kecil, "iya, Sayang. Seminggu ini rasanya kayak dikejar setan. Makanya, hari ini khusus buat kamu." Ucap Liam sembari menggoda.
Yuna mencubit pipi Liam gemas. Mereka terus berjalan, menikmati suasana pagi yang segar.
Mereka berdua berjalan ke kedai kopi terdekat.
Liam dan Yuna duduk di kedai kopi yang nyaman. Aroma kopi memenuhi ruangan. Liam menatap Yuna dengan tatapan penuh cinta.
"Kamu tahu?, setelah kita menikah, aku terlalu fokus pada pekerjaan. Jadi, untuk membalaskan rasa bersalah ini, terhadap istriku tercinta, yang penuh kelembutan dan yang paling perhatian sedunia. Hari ini, khusus untuk kita berdua, kamu yang putuskan mau bagaimana, dan aku akan mendampingi mu selamanya.
Ucap Liam dengan muka tebal nya, penuh kata menggoda.
Yuna tersipu, "Gombal! Tapi aku suka dengan perkataan mu itu. Aku yang akan menentukan, hari ini kita akan ke mana." Ucap Yuna senang.
Mereka berpegangan tangan erat. Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka.
Setelah selesai minum Americano yang dipesan, mereka berdua berjalan pergi.
"Kita mau kemana sekarang?," tanya Liam .
"Kita ke mal dulu, karna masih pagi, mal pasti masih sepi," ucap Yuna.
"Sepi atau rame, emang ada bedanya?, mal kan besar," ucap Liam penasaran.
"Kamu tidak tahu?, kamu sudah sangat terkenal sekarang. Terutama setelah konferensi pers mu itu. Sekarang kamu sudah memiliki banyak julukan sekarang," Ucap Yuna dengan cukup kesal. Karna setelah konferensi pers itu, banyak gadis-gadis, yang kasihan, kagum, dan suka dengan cara Liam. Sehingga akun media sosial Yuna, dibanjiri komentar-komentar yang membuatnya kesal.
"Emangnya, aku punya julukan apa?," tanya Liam heran.
"Kamu tidak tahu kan?, biar ku tunjukkan, aku sudah menyimpan berbagai macam julukan, yang di berikan netizen padamu.
Lalu Yuna menyerahkan ponselnya yang berisi catatan.
Di layar tertulis:
Sang Phoenix Kapital (Menggambarkan kebangkitan dari keterpurukan)
- Algojo Pasar (Menunjukkan ketajamannya dalam membaca pasar modal)
- Pembalas Bursa (Menekankan motif balas dendamnya)
- Raja Saham Tanpa Warisan (Menunjukkan bahwa kekayaannya diraih tanpa bantuan keluarga)
- Nomad Modal (Menggambarkan perjalanannya dari miskin hingga kaya di pasar modal)
- Serigala Jalanan Wall Street (Jika settingnya di luar negeri, menunjukkan keganasannya di pasar modal)
- The Underdog Investor (Menekankan bahwa dia memulai dari bawah)
- Kapitalis Tak Kenal Ampun (Menunjukkan bahwa dia tidak akan ragu untuk membalas dendam)
- Sang Maestro Reversal (Menggambarkan kemampuannya membalikkan keadaan)
- Anak Hilang Bursa (Menunjukkan bahwa dia kembali untuk merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya)
"Bagaimana?, kamu lebih suka yang mana?," tanya Yuna, setelah melihat Liam selesai membaca.
"Aku heran, bagaimana bisa para netizen menciptakan julukan julukan ini, apalagi, ini lengkap dengan artinya," ucap Liam sembari menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang kamu suka?," tanya Yuna heran.
"Aku lebih suka di juluki, pangeran cinta, yang sedang memanjakan istrinya," ucap Liam menggoda.
Mendengar itu, Yuna tersenyum manis, dia menggandeng tangan Liam semakin erat, dan berlari-lari kecil, menarik Liam ke arah mal, yang sudah ada di depannya.
Suasana mal masih sepi, hanya beberapa toko yang sudah buka. Lantai mal berkilauan karena baru dibersihkan. Liam dan Yuna berjalan bergandengan tangan, menikmati suasana yang tenang.
"Enak ya, jalan-jalan pas mal masih sepi gini." Ucap Yuna.
"Iya, bisa lihat-lihat dengan tenang. Kamu mau cari apa hari ini," tanya liam.
"Pengen lihat-lihat baju aja sih. Ayo ke sana dulu," ucap Yuna, sambil menarik Liam ke arah tempat baju-baju mewah berjejer rapi.
Liam hanya tersenyum, mengikuti apa mau istrinya ini.
Mereka berjalan menuju sebuah butik pakaian. Yuna mulai melihat-lihat koleksi baju yang dipajang. Liam dengan sabar menemaninya, memberikan pendapat sesekali.
Yuna memegang sebuah gaun berwarna pastel, "Gimana menurut kamu yang ini sayang?," tanyanya kepada liam.
"Wah, cantik banget! Cocok buat kamu, mending pilih yang ini saya," ucap Liam yang sudah mulai frustasi.
Dia tidak menyangka, kalau perempuan memilih baju itu, seperti memilih hidup atau mati. Sangatlah sulit untuk di ikuti.
"Tapi menurutku, tidak sebagus yang tadi deh," ucap Yuna, sembari mengambil pakaian, yang sebelumnya dia coba.
Melihat itu, Liam semakin frustasi, "sungguh, wanita, aku bingung mau bagaimana," gumam liam.
"Daripada pusing milih-milih, mending kamu beli semuanya deh, lihat tuh pelayanannya, sudah mulai kesal karna perbuatan mu," ucap Liam mencari alasan.
"Hah?, kesal?, dia berani kesal?," ucap Yuna, lalu melirik pelayan yang memandu mereka.
"Apa kamu kesal?," tanya Yuna ceplas ceplos. Kalau pelayan itu berani mengangguk, maka sifat harimau betinanya, akan keluar sepenuhnya.
Melihat tingkah istrinya itu, Liam hanya bisa menggelengkan kepalanya, "mbak, tolong bungkus semua yang dia pegang tadi," ucap Liam menyelamatkan pelayan itu.
"Baik tuan," ucap pelayan itu dengan wajah tersenyum riang.
Dia sudah melihat Yuna memerah hampir dua puluh gaun mewah, jika semuanya di beli, maka dia akan mendapatkan bonus penjualan yang sangat banyak.
Setelah membeli gaun-gaun itu, yang mencapai ratusan juta, Liam dan Yuna melanjutkan jalan jalannya.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, masuk ke toko sepatu dan aksesoris. Liam dengan setia mengikuti Yuna, sesekali memberikan komentar lucu yang membuat Yuna tertawa.Yuna melihat sebuah tas kecil yang berkilauan.
"Sayang, tas ini lucu ya?," sambil menunjukkan nya ke arah Liam.
"Iya, memang lucu, kalau kamu suka, beli saja." Ucap nya.
"Nanti deh, kita liat liat dulu, siapa tau masih ada yang lebih lucu," ucap Yuna.
Ucapan itu membuat Liam frustasi. "Berapa lama lagi, hanya untuk membeli tas ini ya tuhan," gumam nya.
Waktu itu berjalan dengan sangat lama bagi Liam, bukan karna dia tidak suka di samping Yuna. Tapi, dia adalah pemuda, dengan hati seorang pria tua, yang sudah berbisnis selama puluhan tahun.
Dia tidak pernah berhadapan dengan pilihan yang begitu sulit ini, jika dulu, dia dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit, dia akan dengan mudah melalui nya.
Tapi kini, hanya karna memilih sebuah tas, dia sudah frustasi.
Matahari semakin tinggi, dan mal mulai ramai dengan pengunjung. Liam dan Yuna keluar dari mal, membawa beberapa kantong belanjaan. Liam merasa lega, sepertinya, kalau istrinya mengajaknya berbelanja lagi, dia harus mencari alasan yang baik, agar tidak ikut.
Sungguh, berbelanja seperti ini, bukankah hal yang mampu dia lakukan setiap hari.
Kalau memang tidak bisa, dia lebih baik membeli satu mal utuh, agar Yuna puas mau mengambil yang mana.
"Makasih ya, udah nemenin aku belanja," ucap Yuna senang.
Liam hanya mengangguk, "sama-sama, sayang. Aku senang kok bisa nemenin kamu."
Liam merangkul Yuna, mencium rambutnya lembut. Mereka berjalan menuju mobil, siap untuk melanjutkan hari mereka bersama.
Matahari mulai tenggelam, mewarnai langit dengan warna oranye dan ungu. Liam dan Yuna duduk di pasir pantai, menikmati deburan ombak. Liam merangkul Yuna, mendekapnya erat. "Bagaimana hari ini?, apa kamu senang?," tanya Liam.
"Tentu saja, hari ini, aku sangat Heppy," ucap Yuna sambil memeluk pinggang Liam dengan erat.
Hingga hari mulai malam, lampu-lampu kota mulai menyala, menciptakan suasana yang romantis. Liam dan Yuna berjalan bergandengan tangan, menyusuri jalanan kota yang ramai.
Karna hari sudah gelap, Liam dan Yuna memutuskan untuk pulang.
Di malam hari, tepat di ruang kerja Liam, dia sedang duduk di kursi santainya.
"Aku tidak menyangka, kalau berbelanja akan jauh lebih melelahkan, daripada melawan keluarga Arison," gumam Liam, sembari menghela nafas.
Dia menatap komputer di depannya, "malam yang sunyi, adalah waktu yang tepat, untuk membuat keributan,"