NovelToon NovelToon
BEHIND THE SPOTLIGHT

BEHIND THE SPOTLIGHT

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Romantis
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Kde_Noirsz

"Menjadi adik dari 7 megabintang dunia adalah satu hal, tapi menjadi penulis misterius yang diperebutkan oleh 4 pangeran kampus sambil menyamar jadi siswi biasa adalah tantangan yang sesungguhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Aroma Cinta dan Rahasia di Balik Apron

Pagi pertama dari "masa hukuman" Aira dimulai dengan suasana yang sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada alarm dari ponsel, tidak ada ketukan pintu dari asisten yang mengingatkan jadwal syuting, dan tidak ada tekanan naskah. Aira terbangun karena sinar matahari yang menyelinap masuk melalui celah gorden kamarnya yang mewah, menerangi butiran debu yang menari di udara.

Aira menggeliat di balik selimut sutranya, memeluk boneka kelinci rajut dari agensi kecilnya yang kini menjadi teman tidurnya yang paling setia. Ia menoleh ke arah meja rias, di mana gelang-gelang dari kakak-kakaknya dan gelang tali dari Golden Fourth Circle tertata rapi. Aira tersenyum kecil; meskipun ia dilarang keluar rumah selain untuk sekolah, ia justru merasa sangat bebas.

"Aira? Kau sudah bangun, Sayang?" suara lembut itu berasal dari Jin, yang baru saja membuka pintu kamar dengan membawa nampan berisi segelas susu madu hangat.

"Kak Jin..." Aira merentangkan tangannya lebar-lebar, mode manjanya langsung aktif di level maksimal. "Gendong ke bawah... Aira masih lemes kakinya."

Jin terkekeh, ia meletakkan nampannya dan duduk di pinggir tempat tidur. Ia mengusap rambut Aira yang berantakan dengan penuh kasih sayang. "Anak nakal yang kemarin bolos sekolah sekarang minta gendong? Kau tahu, Yoongi masih sedikit kesal padamu, lho. Tapi tenang saja, Kakak sudah membuatkan sarapan favoritmu di bawah."

Aira cemberut, ia menarik ujung kaos Jin. "Kak Yoongi jahat... Aira kan cuma mau makan ramen. Kak Jin jangan marah juga dong?"

"Kakak tidak marah, hanya khawatir. Sekarang, cuci mukamu dan turun ke dapur. Hari ini Kakak libur jadwal pemotretan individu, jadi Kakak akan menghabiskan waktu seharian untuk mengajarimu memasak. Kau bilang mau belajar buat camilan untuk Minju dan Ryujin, kan?"

Mata Aira berbinar. "Iya! Aira mau buat kue kering yang bentuknya imut!"

Aira akhirnya turun ke bawah, namun bukan dengan berjalan kaki, melainkan berpegangan erat di punggung Jin. Saat melewati ruang tengah, mereka bertemu dengan Jimin dan Jungkook yang sedang asyik bermain game console.

"Wah, lihat si tuan putri pembolos sudah bangun," goda Jungkook tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV. "Aira, jangan lupa ya, nanti sore jadwal latihan fisikmu denganku tetap jalan. Masa hukuman artinya kau harus lebih rajin olahraga."

Aira menjulurkan lidahnya ke arah Jungkook. "Nggak mau! Aira mau masak sama Kak Jin! Kak Kookie bau keringat, Aira nggak suka!"

"Apa kau bilang?!" Jungkook langsung melempar bantal ke arah Aira, namun dengan sigap Jin menghindar sambil tertawa. Di rumah ini, meskipun ada hukuman, tawa tetap menjadi bumbu utama.

Dapur Mansion Kim yang sangat luas dan modern itu kini berubah menjadi "laboratorium" bagi Aira dan Jin. Jin mengenakan apron berwarna merah muda, sementara Aira mengenakan apron mungil bergambar beruang. Di atas meja marmer putih, berbagai bahan kue sudah tertata rapi: tepung, mentega, telur, dan berbagai macam cokelat.

"Pertama, kita harus mengocok menteganya sampai lembut, Aira. Pelan-pelan saja," instruksi Jin sambil memegang tangan Aira yang memegang mixer.

Aira tampak sangat serius. Namun, namanya juga Aira, fokusnya mudah teralihkan. Saat ia melihat ada sisa tepung di mangkuk, ia sengaja mengambil sedikit dan mengusapkannya ke pipi Jin.

"Hahaha! Kak Jin jadi kayak hantu!" tawa Aira pecah.

Jin tertegun sejenak, lalu ia membalas dengan mencolekkan sedikit krim mentega ke hidung mungil Aira. "Oh, jadi kau mau main-main ya? Rasakan ini!"

Dalam sekejap, dapur mewah itu berubah menjadi area perang tepung yang manis. Aira berlari-lari di sekitar meja pulau (kitchen island), menghindari kejaran Jin. Namun, langkahnya terhenti saat ia menabrak dada bidang seseorang yang baru saja masuk ke dapur.

"Apa yang terjadi di sini?" suara dingin itu milik Yoongi. Wajahnya yang biasanya datar kini tertutup sedikit bercak tepung karena tabrakan Aira.

Aira membeku, ia mendongak menatap Yoongi dengan wajah penuh rasa bersalah yang dibuat-buat agar Yoongi tidak marah. "Kak Yoongi... hiks... Kak Jin duluan yang mulai..." rengek Aira sambil bersembunyi di balik apron Yoongi, meninggalkan noda tepung di celana hitam mahal kakaknya itu.

Yoongi menghela napas panjang, namun tangannya justru bergerak mengusap sisa tepung di dahi Aira. "Kalian berdua benar-benar seperti anak kecil. Jin-hyung, kau harusnya menjaganya, bukan malah ikut jadi berantakan begini."

Jin hanya mengangkat bahu sambil tersenyum lebar. "Dia butuh hiburan, Yoongi. Lihatlah, dia tertawa lebar hari ini."

Yoongi terdiam, ia menatap Aira yang sedang menatapnya dengan mata bulat yang penuh harap. "Lain kali, jangan berantakan seperti ini. Dan Aira... buatkan aku satu loyang khusus yang tidak terlalu manis. Jika enak, aku akan mempertimbangkan untuk mengurangi masa hukumanmu."

Aira langsung melompat kegirangan dan memeluk pinggang Yoongi erat-erat. "Janji ya Kak?! Aira bakal buatin yang paling enak sedunia buat Kak Yoongi!"

Di tengah kesibukan Aira menghias kue keringnya, bel pintu mansion berbunyi. Tak lama kemudian, pelayan datang mengumumkan bahwa ada tamu yang ingin bertemu Aira.

"Siapa?" tanya Jin sambil mencuci tangannya.

"Tuan Guanlin, Tuan Muda," jawab pelayan itu.

Jin dan Yoongi saling pandang dengan tatapan yang tidak senang. Namun, sebelum mereka sempat melarang, Aira sudah berlari menuju pintu depan dengan tangan yang masih penuh dengan adonan kue.

"Kak Guanlin!" seru Aira saat melihat Guanlin berdiri di lobi dengan membawa buket bunga mawar putih dan sebuah kotak kecil dari toko perhiasan ternama.

Guanlin tersenyum sangat tulus saat melihat penampilan Aira yang berantakan namun sangat menggemaskan dengan apron beruangnya. "Aku dengar kau sedang menjalani hukuman 'tahanan rumah', jadi aku membawakanmu sesuatu agar kau tidak bosan."

Guanlin berlutut, ia mengambil tisu dari sakunya dan mengusap noda tepung di pipi Aira dengan sangat lembut. "Kau terlihat cantik bahkan saat penuh dengan tepung, Aira."

"Ehem!" suara dehaman keras dari arah dapur menginterupsi momen manis itu. Jin dan Yoongi berjalan mendekat dengan aura yang sangat mengintimidasi.

"Guanlin-ssi, bukankah kau sudah setuju semalam bahwa Aira tidak boleh ada gangguan syuting atau kencan selama seminggu?" tanya Jin dengan nada bicara yang sopan namun tajam.

"Saya tidak datang untuk kencan, Tuan Jin. Saya hanya datang sebagai tunangan yang ingin memastikan Aira makan dengan baik," jawab Guanlin tenang, ia tidak sedikit pun gentar menghadapi dua harimau maut keluarga Kim.

Guanlin memberikan kotak perhiasan itu pada Aira. "Ini adalah pena khusus dengan tinta emas, Aira. Aku tahu kau suka menulis naskah di buku catatanmu. Pakai ini agar setiap kata yang kau tulis terasa seberharga dirimu."

Aira menerima pena itu dengan mata berbinar. "Wah... bagus banget! Makasih Kak Guanlin!"

Yoongi menyilangkan tangannya di dada. "Pena yang bagus. Sekarang, karena kau sudah memberikan hadiahmu, kau boleh pergi. Aira harus kembali ke dapur untuk menyelesaikan 'tugas' dariku. Dan kau," Yoongi menunjuk Aira, "Masuk ke dalam. Jangan buat adonan kuenya jadi bantet karena terlalu lama mengobrol."

Aira menjulurkan lidahnya ke arah Yoongi, lalu melambaikan tangan pada Guanlin. "Dadah Kak Guanlin! Nanti Aira kasih kuenya kalau sudah jadi!"

Guanlin hanya bisa tersenyum pasrah saat pintu besar itu ditutup di depan wajahnya oleh Yoongi. Di dalam dapur, persaingan untuk mendapatkan perhatian Aira terus berlanjut, sementara aroma kue yang sedang dipanggang mulai memenuhi seluruh mansion, membawa kehangatan yang mendalam bagi mereka semua.

Aroma mentega panggang dan cokelat vanila mulai menyeruak keluar dari oven besar di dapur, memenuhi lorong-lorong Mansion Kim yang luas. Wangi itu seperti magnet yang menarik paksa tiga sosok yang sejak tadi mencoba fokus dengan aktivitas masing-masing. Jimin, Taehyung, dan Jungkook tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur hampir secara bersamaan.

"Baunya enak banget! Aira, kuenya sudah jadi?" seru Jungkook yang masih mengenakan kaos tanpa lengan, handuk kecil tersampir di lehernya setelah sesi latihan singkat di gym pribadi mereka.

Aira, yang hidungnya tercoreng noda cokelat, menoleh dengan bangga. Ia sedang memakai sarung tangan oven besar bermotif kucing. "Belum! Sedikit lagi! Kak Kookie jangan dekat-dekat, nanti kena keringat!" rengek Aira sambil menghalangi Jungkook dengan tubuh mungilnya.

Jimin menyelinap di bawah lengan Jin dan mencoba mengintip ke dalam oven. "Wah, bentuknya beruang dan kelinci? Imut sekali, persis seperti yang membuatnya," puji Jimin sambil memberikan kedipan mata yang membuat Aira tersipu.

"Minggir, minggir! Aku harus memotret ini sebelum dimakan," seru Taehyung sambil menyiapkan kamera ponselnya. Ia menata beberapa piring estetik yang sudah disiapkan sebelumnya. "Seni kuliner Aira harus diabadikan."

Jin yang sedang mencuci peralatan masak hanya bisa geleng-geleng kepala. "Kalian ini benar-benar ya. Begitu ada bau makanan, langsung muncul seperti zombie. Aira, ayo keluarkan loyangnya pelan-pelan."

Dengan bantuan Jin, Aira mengeluarkan loyang berisi kue kering yang masih mengepul panas. Bentuknya beragam; ada yang sangat rapi (hasil bantuan Jin), dan ada yang sedikit "abstrak" (hasil murni kreativitas Aira).

"Aku mau yang beruang ini!" Jungkook bergerak cepat hendak mengambil satu, namun tangannya langsung dipukul oleh Jin menggunakan sudut kayu.

"Panas, Bodoh! Tunggu dingin dulu!" bentak Jin.

Aira tertawa terbahak-bahak melihat Jungkook yang meringis sambil meniup-niup jarinya. "Mangkanya sabar, Kak Kookie! Ini hukuman karena Kakak tadi ngejek Aira pembolos!"

Setelah sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh tahun bagi trio maknae, akhirnya kue-kue itu siap dicicipi. Aira menata mereka di atas meja makan besar, membaginya menjadi beberapa piring. Ada piring khusus dengan gula rendah untuk Yoongi, dan piring penuh cokelat untuk yang lain.

"Oke, silakan dicoba! Ini adalah mahakarya Miss KA!" seru Aira sambil berdiri di kursi, tangannya berkacak pinggang dengan gaya sombong yang menggemaskan.

Namjoon yang baru saja pulang dari kantor agensi ikut bergabung dalam "sidang rasa" ini. Ia mengambil satu kue berbentuk bintang. Krak. "Hmm... teksturnya cukup renyah," komentar Namjoon dengan nada serius seperti juri kompetisi memasak. "Tapi... Aira, apa kau memasukkan garam sedikit terlalu banyak?"

Aira mengerutkan kening. "Eh? Aira cuma masukin satu sendok kecil kok."

Yoongi yang sejak tadi diam, mengambil kue khusus miliknya. Ia mengunyahnya perlahan, ekspresinya sulit dibaca. "Ini... unik. Rasanya seperti... perjuangan seorang penulis naskah yang sedang dikejar tenggat waktu. Pahit sedikit, tapi ada kejutan manis di ujungnya."

"Pahit?!" Aira langsung mengambil satu dan memakannya. "Ih! Kak Yoongi! Ini gosong bawahnya! Pantesan pahit!" Aira langsung merengek dan menyembunyikan wajahnya di bahu Taehyung karena malu.

Taehyung justru tertawa dan memakan kue gosong itu dengan santai. "Nggak apa-apa, Aira. Rasa gosongnya menambah cita rasa smoke yang estetik. Aku suka."

Jungkook yang sudah menghabiskan lima kue sekaligus hanya bergumam dengan mulut penuh. "Nggak usah didengerin, Ra. Enak kok. Apalagi kalau gratis begini."

Jimin mendekati Aira dan mengusap sisa tepung di dahinya. "Jangan sedih. Ini jauh lebih baik daripada pertama kali Kak Jin belajar masak dulu. Dulu Kak Jin hampir membakar dapur, tahu?"

"Hei! Aku dengar itu!" teriak Jin dari arah kulkas.

Suasana dapur yang hangat itu benar-benar menjadi obat bagi Aira. Di sini, ia tidak perlu menjadi orang hebat. Ia hanya perlu menjadi Aira, adik kesayangan yang karyanya sekalipun gosong tetap dipuja oleh tujuh pria paling populer di Korea.

Saat malam semakin larut dan para abang mulai kembali ke kamar masing-masing, Aira tertinggal di dapur untuk membereskan beberapa toples kue yang akan ia bawa ke sekolah besok untuk Minju, Ryujin, dan Beomgyu.

Tiba-tiba, ponselnya yang diletakkan di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Eunwoo.

"Aira, aku dengar hari ini kau belajar memasak dengan Jin-hyung. Aku harap kau menyisakan satu untukku besok di sekolah. Aku juga ingin tahu, apa rasa kue buatan penulis naskah terhebatku."

Tak lama kemudian, pesan lain masuk dari Sunoo.

"Aira-ya! Jangan cuma kasih Eunwoo! Aku mau yang paling manis, semanis dirimu hari ini. Oh ya, aku dengar Guanlin datang ke rumahmu tadi siang? Dia curang sekali memanfaatkan masa hukumanmu untuk datang berkunjung. Aku sangat cemburu."

Aira tersenyum geli melihat pesan-pesan itu. Ia merasa seperti sedang memegang kendali atas banyak hati. Namun, ia teringat pada pena tinta emas pemberian Guanlin tadi siang. Ia mengambil pena itu dan secarik kertas, lalu mulai menulis sesuatu.

Saat ia sedang asyik menulis, Yoongi tiba-tiba muncul di belakangnya, masih mengenakan piyama hitamnya. "Belum tidur?"

Aira terlonjak kaget dan buru-buru menutupi kertasnya. "K-kak Yoongi! Ngagetin aja!"

Yoongi melirik pena emas di tangan Aira. "Pemberian Guanlin?"

Aira mengangguk pelan. "Bagus kan, Kak? Katanya biar naskah Aira makin berharga."

Yoongi duduk di hadapan Aira, menatap adiknya dengan tatapan yang sangat dalam. "Alat tulis tidak menentukan harga naskahmu, Aira. Hatimu yang menentukan. Tapi jika pena itu membuatmu senang, simpanlah. Tapi ingat satu hal..." Yoongi mencondongkan tubuhnya ke depan. "Jangan biarkan pria-pangeran itu masuk ke kepalamu terlalu dalam. Kau masih punya tujuh dinding di rumah ini yang tidak akan membiarkanmu terluka."

Yoongi kemudian mengambil satu toples kecil berisi kue hasil karyanya yang paling rapi. "Ini aku simpan di kamarku. Untuk teman kerja lembur malam ini. Sekarang, tidur. Besok kau harus sekolah."

Aira terpaku melihat Yoongi yang berjalan pergi membawa toples kuenya. Kakak yang paling dingin itu ternyata adalah yang paling manis dengan caranya sendiri. Aira membereskan peralatannya, mematikan lampu dapur, dan berjalan menuju kamarnya dengan hati yang berbunga-bunga. Masa hukuman ini ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan.

Pagi itu, Aira melangkah turun dari van mewah keluarganya dengan penuh kehati-hatian. Di dalam tas jinjingnya, terdapat empat toples kaca yang sudah ia hias dengan pita warna-warni. Satu untuk Minju, satu untuk Ryujin, satu untuk Beomgyu, dan satu lagi... Aira masih bingung harus memberikannya kepada siapa di antara para pangeran yang sudah membanjirinya dengan pesan singkat sejak semalam.

Baru saja kakinya menginjak aspal gerbang sekolah, Aira sudah dihadang oleh pemandangan yang luar biasa. Guanlin, Eunwoo, dan Sunoo sudah berdiri berjajar seolah sedang menunggu kedatangan tamu kenegaraan.

"Aira, selamat pagi. Aku dengar ada aroma vanila yang sangat manis terbawa sampai ke rumahku semalam," sapa Sunoo dengan senyum rubahnya yang mematikan. Matanya langsung melirik ke arah tas jinjing Aira.

"Jangan menakut-nakutinya, Sunoo," sela Eunwoo sambil mendekat. Ia mengenakan seragam yang sangat rapi, tampak sangat pangeran. "Aira, apa kau membawa apa yang kau janjikan di pesan semalam?"

Aira mengerucutkan bibirnya, ia memeluk tasnya erat-erat. "N-nggak ada! Ini semua buat Kak Minju sama yang lain!" rengek Aira manja. Ia mencoba menerobos di tengah-tengah mereka, namun Guanlin dengan tenang menghalangi jalannya.

"Kau berjanji akan memberikan kuenya jika sudah jadi, Aira. Dan aku melihat setidaknya ada satu toples sisa di sana yang tidak memiliki nama sahabatmu," ucap Guanlin dengan nada Sultan-nya yang tak terbantahkan.

"Hish! Kakak-kakak ini berisik banget!" Aira mulai merajuk. Beruntung, dari kejauhan Ryujin datang dengan gaya cool-nya, diikuti Beomgyu yang sedang menguap lebar.

"Woi, minggir kalian semua! Jangan bikin jalanan macet!" seru Ryujin. Ia langsung menarik tangan Aira dan membawanya masuk ke dalam gedung sekolah, meninggalkan para pangeran yang hanya bisa menatap punggung Aira dengan rasa lapar dan cemburu.

Di atap gedung sekolah yang menjadi tempat persembunyian rahasia Golden Fourth Circle, Aira akhirnya membuka toples-toplesnya. Minju membantu menata kue-kue itu di atas kain serbet yang bersih.

"Wah, ini beneran kamu yang buat sendiri, Ra?" tanya Beomgyu tidak percaya sambil mengambil satu kue berbentuk bintang. Krak. "Eh... rasanya... kok ada pedas-pedasnya sedikit?"

Aira tersentak. "Masa sih? Oh! Aira lupa, kemarin Kak Kookie kayaknya naruh bubuk cabai di dekat gula pasir buat ngerjain Kak Jin! Jangan-jangan kemasukan!"

Ryujin tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak. "Pantesan! Tapi justru ini enak, Ra. Unik banget. Kayak kepribadian kamu, manis tapi kalau diganggu bisa bikin pedas di mata."

Minju mencicipi yang berbentuk kelinci. "Ini lembut banget di dalam. Kamu beneran punya bakat, Aira. Kamu harus bangga, naskahmu bagus, aktingmu di film hebat, sekarang masakmu juga oke. Kurang apa lagi coba?"

"Kurang pacar!" celetuk Beomgyu nakal, yang langsung dihadiahi cubitan maut di lengannya oleh Aira.

"Ih, Beomgyu! Aira nggak mau pacaran dulu! Aira mau manja-manjaan sama kalian aja!" rengek Aira sambil menyandarkan kepalanya di bahu Minju.

Namun, kedamaian mereka terusik saat pintu menuju atap terbuka perlahan. Heeseung muncul dengan membawa gitar di punggungnya. Ia tampak ragu sejenak sebelum mendekat. "Aira... aku mencium bau kue yang sangat enak dari bawah. Boleh aku... mencicipi satu?"

Ryujin menyilangkan tangannya di dada. "Satu potong seribu dollar, Heeseung-ssi."

Heeseung tertawa kecil dan mendekati Aira. Ia mengambil satu kue yang paling kecil. "Untuk ini, aku bahkan rela memberikan seluruh koleksi gitarku."

Suasana di atap itu menjadi hangat. Aira merasa sangat bahagia melihat orang-orang yang ia sayangi menikmati hasil kerja kerasnya di dapur kemarin. Ia belajar bahwa berbagi sesuatu yang dibuat dengan tangan sendiri memberikan kepuasan yang jauh lebih besar daripada sekadar menulis naskah yang dibaca ribuan orang.

Saat jam pulang sekolah tiba, Aira menyadari ia masih memiliki satu toples terakhir yang sebenarnya ia siapkan sebagai cadangan. Namun, kabar tentang "Kue Legendaris Miss KA" sudah tersebar ke seluruh sekolah berkat mulut ember Beomgyu.

Aira dikepung di lorong loker. Guanlin, Eunwoo, dan Sunoo sudah bersiap untuk melakukan "negosiasi" terakhir.

"Aku akan memberikan tiket VIP konser manapun yang kau mau untuk toples itu," tawar Sunoo.

"Aku akan mengerjakan tugas naskah risetmu selama sebulan," timpal Eunwoo.

Guanlin hanya diam, ia mengeluarkan sebuah kunci mobil mainan dari sakunya. "Ini kunci replika mobil impianmu yang akan ada di garasimu kalau kau memberikan toples itu padaku."

Aira merasa pusing. Ia melihat toples terakhir di tangannya, lalu melihat wajah-wajah penuh harap dari para pria tampan itu. Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Aira justru berlari menjauh dari mereka dan menghampiri seorang petugas kebersihan sekolah yang sudah tua yang sedang duduk beristirahat di pojok lorong.

"Bapak, ini buat Bapak. Bapak kelihatan capek," ucap Aira lembut sambil memberikan toples terakhirnya. "Ini kue buatan Aira sendiri. Semoga Bapak suka ya."

Bapak petugas itu tertegun, lalu tersenyum sangat lebar sambil menerima toples itu. "Terima kasih, Nak Aira. Kamu cantik sekali hatinya."

Guanlin, Eunwoo, dan Sunoo membeku di tempat. Mereka merasa baru saja mendapatkan pelajaran berharga. Aira tidak bisa dibeli dengan tiket, tugas, atau mobil. Hatinya adalah milik orang-orang yang tulus dan membutuhkan.

"Kita kalah telak," gumam Sunoo sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Aira berbalik dan menjulurkan lidahnya ke arah ketiga pangeran itu. "Wleee! Makanya jangan sombong! Aira lebih suka kasih ke Bapak itu daripada ke kalian yang sudah kaya!"

Aira kemudian berlari menuju van-nya yang sudah menunggu, di mana Jungkook sudah melambai dari jendela. "Aira! Cepat masuk! Kita harus latihan fisik sebelum makan malam!"

Aira tertawa bahagia. Hari ini, ia menutup masa hukumannya dengan pelajaran tentang berbagi. Aroma cinta dari dapur Jin ternyata tidak hanya sampai di lidah, tapi juga sampai ke hati orang-orang di sekitarnya.

📢 RESPECT BANGET! 😍 Aira bener-bener punya hati malaikat ya! Para pangeran sultan Hanlim langsung kena 'skakmat' karena Aira lebih milih kasih kue ke bapak petugas kebersihan. Siapa yang makin jatuh cinta sama kepribadian Aira?

👇 VOTE [A] TEAM AIRA SI HATI EMAS! | [B] TEAM GUANLIN! (Masih usaha keras) | [C] TEAM BEOMGYU! (Sahabat paling lucu) | [D] KAK JUNGKOOK! (Siap-siap latihan fisik nih! 😂)

💬 KOMEN: Coba dong tebak, apa reaksi Jungkook pas tahu Aira kasih kue ke orang lain tapi gak nyisain buat dia di sekolah? 😂

🔔 SUBSCRIBE & FAVORITE! Bab selanjutnya, bakal ada drama saat latihan fisik bareng Jungkook berubah jadi sesi curhat yang emosional!

⭐ KASIH RATING 5 STARS buat kebaikan hati Aira hari ini!

BehindTheSpotlight #MangaToonRomance #AiraKindHeart #CookieDrama #HanlimHigh #TheGoldenFourthCircle

1
Ayu Nur Indah Kusumastuti
Syuka banget sama FL nya, manja2 gitu deh
Noirsz: pembaca setia nih, mode lock on 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!