NovelToon NovelToon
TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi Isekai
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Karma Danum

Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.

Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Prinsip Dasar Telekinesis

Senja mulai menyelimuti Akademi Hunter ketika Ji-hoon menyelinap keluar dari asrama menuju Taman Batu. Sisa-sisa kelelahan dari hari itu masih melekat di ototnya—kelas teori monster yang membosankan, latihan fisik yang menguras tenaga, dan tatapan belas kasihan (atau cemoohan) dari siswa lain saat dia masih berjuang dengan push-up dasar.

Tapi semua itu memudar saat kakinya melintasi gerbang batu kecil menuju taman. Di sini, di ruang sepi yang diwarnai cahaya jingga senja, perannya sebagai siswa E-rank yang tertinggal bisa dia kesampingkan.

Guru Choi sudah menunggu. Dia duduk di atas batu yang sama, dengan dua benda baru di hadapannya: sebuah bola kristal kecil berisi serbuk logam yang berkilauan, dan sebuah mangkuk berisi air.

“Kemajuan dengan kerikil?” tanya Guru Choi tanpa basa-basi.

Ji-hoon mengeluarkan kerikil dari saku seragamnya dan meletakkannya di telapak tangan. Dengan konsentrasi penuh, dia membuatnya melayang dan mulai berputar. Putarannya masih sedikit goyah, tapi kecepatannya jauh lebih konsisten daripada kemarin.

“Dua menit empat puluh detik,” kata Guru Choi setelah mengamati dalam diam. “Lebih baik. Tapi masih ada ketidakpastian di poros putaran. Pikiranmu masih mengoreksi dirinya sendiri secara berlebihan.”

Ji-hoon menghela napas, menurunkan kerikil. “Saya mencoba membuatnya sempurna.”

“Dan disitulah letak kesalahanmu,” ujar Guru Choi, matanya berbinar. “Kau mencoba ‘membuatnya’ sempurna. Kau memaksakan kehendakmu. Itu bukan telekinesis. Itu tirani.”

Dia mengambil bola kristal berisi serbuk logam itu. “Apa ini?”

“Bola kristal… dengan serbuk besi di dalamnya?”

“Tepat.” Guru Choi menggoyangkan bola itu perlahan. Serbuk logam di dalamnya berhamburan, lalu perlahan mengendap. “Sekarang, dengan telekinesismu, tanpa menggerakkan bola, buat serbuk di dalamnya membentuk sebuah kubus.”

Ji-hoon mengerutkan kening. Itu mustahil. Dia bahkan tidak bisa menyentuh serbuk itu secara fisik. Bagaimana caranya?

“Kau berpikir dalam batasan fisik,” kata Guru Choi, membaca kebingungannya. “Pikiranmu berkata, ‘Saya harus memindahkan setiap butir debu satu per satu’. Itu adalah cara berpikir orang yang menggunakan tangan. Tapi kau tidak menggunakan tangan, Ji-hoon. Kau menggunakan *pikiran*. Dan pikiran tidak perlu bergerak dari A ke B. Pikiran bisa berada di mana-mana sekaligus.”

Dia menatap bola kristal itu. Tiba-tiba, serbuk logam di dalamnya—yang tadi berantakan—mulai bergerak. Butiran demi butiran bergeser, saling menarik dan menolak, membentuk garis, sudut, bidang. Dalam sepuluh detik, sebuah kubus sempurna yang terbuat dari serbuk logam terbentuk di tengah bola kristal.

Ji-hoon terpana. Itu bukan kekuatan kasar. Itu… keanggunan. Presisi mutlak.

“Bagaimana Anda melakukannya?”

“Aku tidak ‘melakukan’ apa-apa,” jawab Guru Choi. “Aku hanya *memahami* serbuk logam itu. Aku memahami bahwa setiap butirnya tertarik pada medan magnet, bahwa mereka memiliki bobot tertentu, gesekan tertentu. Lalu, aku hanya… menciptakan kondisi di dalam pikiranku di mana bentuk yang kuinginkan menjadi hasil yang paling *mungkin* bagi mereka.”

Dia menggoyangkan bola lagi, kubusnya hancur. “Cobalah. Jangan coba mengendalikan. Coba *pahami*.”

Ji-hoon mengambil bola itu. Dingin. Dia menutup mata, mencoba merasakan isinya dengan telekinesisnya. Awalnya hanya kegelapan. Lalu, dia mulai merasakan titik-titik kecil—ribuan dari mereka—bergetar dengan energi yang sangat kecil. Setiap titik adalah butiran logam.

*Mereka bergerak acak,* pikirnya. *Tapi… ada pola. Mereka saling memantul. Ada ruang di antara mereka.*

Dia mencoba membayangkan sebuah kubus di tengah bola. Kemudian, dia mencoba *tidak* memaksa butiran-butiran itu masuk ke dalam bentuk itu, tapi membayangkan bagaimana jika setiap butiran itu *memilih* untuk berada di posisi yang membentuk kubus. Bagaimana gaya tarik dan tolak akan bekerja. Bagaimana mereka akan saling menopang.

Sesuatu bergerak.

Ji-hoon membuka mata. Serbuk logam itu… sedikit berkumpul. Tidak membentuk kubus, tapi mereka mulai bergerak menjauh dari dinding bola, mengerumuni area di tengah.

“Bagus,” bisik Guru Choi. “Kau merasa tarikan antar butirannya, kan? Sekarang, alih-alih menarik mereka ke bentuk yang kau mau, coba *kurangi* gesekan di titik-titik tertentu, sehingga mereka bisa meluncur ke posisi yang lebih stabil… posisi yang kebetulan adalah sudut-sudut kubus.”

Ji-hoon mencoba. Berkeringat. Kepalanya mulai berdenyut. Ini jauh lebih rumit daripada mengangkat kerikil. Ini seperti memecahkan puzzle dinamis dengan ribuan keping, sementara puzzle itu sendiri terus bergerak.

Tapi perlahan, sangat perlahan, empat butiran logam bergerak ke empat titik yang membentuk persegi. Lalu butiran lain bergabung.

Dia tidak berhasil membentuk kubus. Tapi dia berhasil membuat sebuah persegi datar dari serbuk logam, yang bertahan selama lima detik sebelum runtuh.

Ji-hoon terengah-engah, melepaskan bola itu seolah-olah terbakar. Kepalanya berdenyut nyeri.

“Kelelahan psikis,” kata Guru Choi, menganggung. “Itu wajar. Apa yang baru saja kaualami adalah perbedaan mendasar antara telekinesis tingkat rendah dan tinggi. Tingkat rendah memaksa realitas. Tingkat tinggi… *bernegosiasi* dengan realitas.”

“Bukan kekuatan, tapi pemahaman,” gumam Ji-hoon, mengulangi pelajaran yang tersirat.

“Tepat.” Guru Choi mengambil mangkuk air. “Pelajaran selanjutnya: air.” Dia mencelupkan jarinya, membuat riak. “Air tidak memiliki bentuk tetap. Ia mengalir. Ia beradaptasi. Untuk memanipulasi air dengan telekinesis, kau tidak bisa bersikap kaku. Kau harus menjadi seperti air itu sendiri. Mengalir bersamanya, lalu secara halus membelokkan alirannya.”

Dia menarik jarinya. Dengan tatapannya, air di mangkuk itu mulai berputar, membentuk pusaran yang sempurna. Lalu, pusaran itu melambat, dan air mulai membentuk menara kecil yang menjulang dari permukaan, berputar perlahan seperti tornado mini.

“Air mengikuti tekanan, gravitasi, dan momentum. Pahamilah itu, dan kau bisa membentuknya menjadi apa pun. Paksalah, dan kau hanya akan mencipratkannya ke mana-mana.”

Ji-hoon memandang air itu, lalu pada bola kristal, lalu pada kerikil di tangannya. Sebuah pola mulai terbentuk di pikirannya.

“Semuanya tentang… properti,” ucapnya perlahan. “Berat, gesekan, aliran, kohesi, elastisitas. Telekinesis adalah alat untuk memanipulasi properti itu, bukan untuk mengabaikannya.”

Senyum tipis muncul di wajah Guru Choi. “Akhirnya kau mengerti. Itulah prinsip dasarnya. Kau bukan menciptakan kekuatan dari ketiadaan. Kau menggunakan kekuatan yang sudah ada—energi psikismu—untuk memengaruhi variabel-variabel yang sudah ada di dunia fisik. Semakin dalam pemahamanmu tentang variabel itu, semakin sedikit energimu yang terbuang, dan semakin halus pengaruhmu.”

Dia berdiri. “Tugasmu untuk minggu ini: pahami tiga benda. Kerikilmu, secangkir air, dan selembar daun. Buat kerikil itu berputar sempurna. Buat air di cangkir membentuk gelombang diam yang tidak tumpah. Dan buat daun yang jatuh melayang mengikuti pola geometri yang kau tentukan. Lakukan itu dengan *pemahaman*, bukan paksaan.”

Ji-hoon mengangguk, menyerap instruksi itu. Ini adalah latihan yang sama sekali berbeda dari yang dia dapatkan di kelas siang hari. Di sana, mereka diajari untuk “mengeluarkan kekuatan sebanyak mungkin” untuk mengangkat batu yang lebih berat. Di sini, dia diajari untuk menggunakan “kekuatan sesedikit mungkin” untuk melakukan hal yang jauh lebih rumit.

“Guru,” tanyanya sebelum sang guru pergi, “apakah ini yang membedakan hunter kelas S dengan yang lain? Pemahaman?”

Guru Choi berhenti, bayangannya memanjang di tanah yang semakin gelap. “Itu salah satu pembedanya. Tapi yang lebih penting, ini yang membedakan hunter yang *bertahan lama* dengan yang sekadar kuat. Kekuatan kasar habis terkikis waktu dan cedera. Pemahaman… tumbuh. Dan pemahaman bisa diterapkan di mana saja, bahkan ketika kekuatanmu telah memudar.”

Dia melangkah pergi, menyisakan Ji-hoon sendirian dengan bola kristal, mangkuk air, dan kerikilnya—tiga guru kecil yang bisu, menunggu untuk dipahami.

Ji-hoon duduk kembali, memandangi ketiga benda itu di cahaya senja yang memudar. Kepalanya masih sakit, tapi pikirannya jernih. Untuk pertama kalinya, jalur di depannya tidak lagi kabur.

Dia tidak perlu menjadi yang terkuat. Dia hanya perlu menjadi yang paling *paham*.

Dan malam itu, di Taman Batu, seorang editor dengan jiwa tua mulai belajar membaca naskah alam semesta—satu kerikil, setetes air, dan sehelai daun pada suatu waktu.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!