NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Uncle Noah

Terjerat Cinta Uncle Noah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Si Mujur / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi Ke Pesta

Sunak dan Jessica sibuk membantu Ninda mengemasi barang-barangnya. Meski hanya membawa sebagian pakaian dan beberapa buku serta alat-alat gambar, hal itu tetap terasa merepotkan. Setiap kali Ninda memasukkan barang ke dalam kardus,  dia tampak masih berat hati meninggalkan apartemen itu.

“Kenapa barangmu sedikit sekali, sih?” tanya Jessica dengan nada heran, matanya menatap tumpukan kardus yang hanya beberapa biji saja.

“Aku kan cuma sementara tinggal di apartemen mu,” jawab Ninda sambil memasukkan buku-buku ke dalam kardus dengan hati-hati.

“Nanti aku akan cari flat sendiri.”

Jessica tersenyum hangat, “Kamu itu sahabatku. Kalau mau tinggal di apartemenku selamanya, aku nggak keberatan, kok.”

Sunak ikut menyahut dengan nada bercanda, “Senang ya, punya teman kaya dan baik hati seperti Jessica.”

Jessica menoleh ke arah Sunak, “Aku mau berteman sama kalian karena kalian jenius, dan selama ini sering membantuku.”

Ninda tersenyum kecil mendengar perkataan Jessica itu.

“Bayangkan saja, aku dengan otak yang pas-pasan ini, harus kuliah di antara manusia pintar dari berbagai negara. Sunak, kamu yang paling repot ngurusin aku selama ini kan.”

Sunak mengangguk setuju,

“Aku beruntung bertemu Jessica yang baik hati. Uang saku ku pas-pasan,  Jessica selalu membantu ku"

Hal itu benar adanya Jessica sebaik itu dia membantu Sunak  mulai dari urusan makan sampai hal-hal kecil lainnya. Tentu saja Sunak harus bayar dengan kepintarannya.

Akhirnya, mereka selesai berbenah. Sunak dan Jessica membawa dus berisi buku-buku, sementara Ninda sudah siap dengan koper kecilnya. Namun, saat hendak keluar apartemen, ponsel Ninda bergetar, menandakan ada panggilan masuk.

“Kalian duluan saja, ya. Mamahku telpon,” ucap Ninda sambil menerima telepon itu. Sunak dan Jessica mengangguk mengerti dan segera beranjak meninggalkan apartemen.

“Kami tunggu di bawah,” kata Jessica sambil melambaikan tangan. Ninda membalas dengan anggukan sambil menatap layar ponselnya.

“Ya, Mah,” jawab Ninda lembut.

“Nin, kamu pulang, ya? Nanti malam Opah Jonathan ulang tahun,” suara ibunya terdengar penuh kasih sayang dari telepon.

Ninda terdiam sejenak, hatinya berdebar. Dengan datang ke acara itu, dia akan bertemu dengan Noah dan pacarnya. Rasa cemas dan sakit hati menyelinap dalam dadanya.

“Hallo, Nin,” suara ibunya memanggil lagi beberapa kali.

“Iya, Mah. Akan kuusahakan,” jawab Ninda pelan, berusaha menenangkan diri.

“Kalau bisa datang, ya, Nin. Opah Jonathan sudah banyak bantu keluarga kita,” ibunya menambahkan dengan nada penuh harap.

Ninda menelan ludah, “Iya, Mah. Nanti aku kasih kabar secepatnya.”

“Ya sudah, Nin. Mamah sayang kamu,” ucap ibunya penuh kehangatan.

“Ninda juga,” balas Ninda dengan suara bergetar.

Sambungan telepon pun terputus. Ninda menghela napas berat, kemudian bergegas menyusul teman-temannya yang sudah menunggu di bawah.

Tak butuh waktu lama, Ninda terlihat mendorong kopernya, disambut oleh Sunak yang membantu mengangkatnya ke bagasi mobil. Ninda masuk dari pintu depan dan duduk di samping Jessica.

Setelah semuanya siap, Jessica langsung menancap gas meninggalkan tempat itu. Apartemen Ninda dan Jessica tidak terlalu jauh, hanya berjarak beberapa blok saja. Dalam waktu singkat, mereka pun tiba di apartemen Jessica.

Sesampainya di atas, Ninda langsung membereskan barang-barangnya. Apartemen Jessica sangat luas, bahkan memiliki dua kamar. Menurut cerita Jessica, kamar itu tadinya milik saudara sepupunya yang akhirnya kuliah di kota lain.

Sunak dan Jessica duduk di ruang tengah sambil berbincang. Ninda menghampiri mereka, duduk di tengah di antara keduanya.

“Terima kasih, ya, Jess. Aku nggak tahu harus gimana membalas kebaikanmu,” ungkap Ninda dengan suara pelan, matanya penuh rasa syukur.

“Kamu bilang belum cerita sama mamahmu, kan?” tanya Jessica sambil tersenyum, menatap Ninda yang tampak banyak pikiran.

“Belum, sih,” sahut Ninda sambil termenung, mengingat pembicaraannya dengan ibunya tadi di telepon.

“Aku disuruh pulang nih sama mamah, jadi hari ini aku belum bisa tidur di sini, ya, Jess,” tambah Ninda dengan nada sedikit ragu.

“Tiba-tiba banget, ada apa, Nin?” tanya Jessica heran.

“Opah Jonathan ulang tahun. Mamah pengen kita semua hadir,” jawab Ninda.

“Ulang tahun Opahmu? Ya harus hadir dong!” sahut Sunak dengan suara tegas.

“Opah Jonathan, ayahnya Noah,” celetuk Ninda.

Seketika, Sunak dan Jessica saling berpandangan, terkejut secara bersamaan.

“Kamu mau datang?” tanya Sunak sambil menatap Ninda dengan serius.

“Aku harus datang. Aku nggak punya pilihan,” sahut Ninda dengan suara lemas.

“Berbohong saja kalau kamu nggak mau datang. Bilang saja kamu sakit,” saran Jessica, tak ingin sahabatnya semakin terluka dengan hadir di acara itu.

“Tidak. Menurut ku kamu harus datang,” timpal Sunak, menatap Ninda dan Jessica.

“Kamu harus menunjukkan padanya kalau kamu baik-baik saja,” tambah Sunak lagi. Jessica merenung sebentar, memikirkan ucapan Sunak, lalu setuju.

“Apa aku harus benar-benar datang?” tanya Ninda ragu, menatap satu per satu sahabatnya.

“Hadapi rasa sakitmu, maka kamu akan cepat sembuh. Cara melupakan adalah dengan melihatnya secara langsung, bersama pacarnya,” ungkap Sunak dengan bijak. Di saat-saat seperti ini, sosok kutu buku itu sering memberikan nasihat yang tepat.

“Kamu boleh juga,” ucap Jessica sambil tersenyum ke arah Sunak.

“Kamu bilang pacarnya Noah itu seorang dokter, bukan?” tanya Ninda, mengangguk pelan.

“Dia pasti sangat elegan. Sebelum kamu datang ke tempat itu, aku harus memastikan sesuatu dulu,” ujar Jessica, tiba-tiba berhenti bicara dan mengambil sebuah kotak besar dari dalam lemari.

Dia menyerahkan kotak itu kepada Ninda. Ninda menatap Jessica, lalu menerima kotak tersebut dengan rasa penasaran.

“Apa ini?” tanya Ninda perlahan.

“Buka saja,” sahut Jessica sambil tersenyum penuh semangat.

Ninda membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah gaun putih yang cantik, tas tangan kecil, dan sepatu berwarna senada. Di salah satu sudut, tampak logo kecil merek ternama yang cukup mahal. Ninda terdiam, matanya membelalak menatap Jessica.

“Kamu boleh meminjamnya. Tapi kamu harus janji padaku, kamu harus tampil cantik,” kata Jessica sambil memeluk Ninda erat.

Ninda hanya menatap Jessica, senyumnya merekah di wajahnya. Semangatnya seketika bangkit. Setelah itu, Jessica mengantar Ninda pulang ke rumah orang tuanya.

Setibanya di rumah, Ninda turun dari mobil sambil melambaikan tangan ke arah Jessica dan Sunak. Mobil yang ditumpangi Jessica dan Sunak pun berlalu meninggalkan tempat itu.

Ninda masuk ke dalam rumah, matanya mencari sosok ibunya. Dia terus mencari hingga ke dapur, di sana tampak Tonny dan ibunya sedang duduk berbincang di meja makan.

“Mah, aku pulang,” suara Ninda mengejutkan Tonny dan ibunya. Mereka menoleh ke arahnya.

“Ninda, kenapa tidak minta dijemput?” tanya Tonny, Ninda hanya tersenyum lembut.

“Kamu ke sini naik apa?” tanya ibunya.

“Aku diantar Jessica, temanku, Mah,” jawab Ninda dengan jelas agar ibunya tidak khawatir.

“Aku ke atas dulu ya, Mah,” kata Ninda sambil tersenyum.

“Iya, beristirahatlah. Kamu pasti capek,” ucap ibunya dengan senyum penuh kasih.

Ninda perlahan menaiki tangga. Rumah itu kembali mengingatkannya pada sosok Noah. Bayangannya melintas, Noah berlari mengejarnya. Ninda melangkah melewati lorong menuju kamarnya, melirik sejenak ke kamar Asta, lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri.

Dia meletakkan kotak besar itu di atas meja, lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sekali lagi, bayangan Noah muncul, berbaring di sampingnya, tersenyum menatapnya penuh cinta.

Ninda menutup matanya, mencoba tidur sejenak. Mungkin dengan cara ini, dia bisa melupakan Noah untuk sesaat.

Namun dalam tidur, dia bermimpi tentang Noah. Wajah Noah mendekat, lalu menciumnya sambil berkata, “Ninda, aku sangat mencintaimu.” Ninda terperanjat, terbangun dari tidurnya. Suara Noah masih terngiang jelas di kepalanya.

“Dalam tidurku pun kamu masih mengganggu,” ucap Ninda pelan. Dia menatap ke arah jendela, langit mulai redup. Dia melirik jam tangannya, sudah jam tujuh malam. Di Belanda, jam tujuh masih terang seperti sore di Indonesia.

Ninda segera pergi ke kamar mandi, membersihkan dirinya. Setelah beberapa menit, dia membuka kotak di atas mejanya. Mengambil gaun putih cantik itu dan mengenakannya sambil bercermin.

Dia sedikit merias wajahnya, meraih tas tangan, dan mengenakan sepatu yang serasi. Tak lupa, kalung pemberian Noah yang selalu dia kenakan. Kemudian dia turun ke lantai bawah.

Di sana, sudah terlihat Asta, Tonny, dan ibunya yang sudah bersiap-siap. Pandangan mereka semua tertuju pada Ninda.

“Aku baru saja akan memanggilmu,” ucap ibunya sambil menatap Ninda dengan kagum.

“Kau cantik sekali,” puji ibunya dengan penuh takjub.

“Ayo kita berangkat,” kata Tonny sambil berdiri, diikuti ibunya. Asta menghampiri kakaknya terlebih dahulu.

“Kakak baik-baik saja, bukan?” tanya Asta dengan wajah penuh kekhawatiran. Dia sudah mendengar kabar tentang hubungan Noah dengan Sarah. Terlebih lagi, Tonny adalah orang yang ada di balik perjodohan antara Noah dan Sarah. Saking senangnya, Opah Jonathan sampai memberikan posisi penting kepada Tonny di yayasan miliknya.

“Kakak baik-baik saja, dek,” jawab Ninda pelan, meski Asta tahu kakaknya berusaha menutupi kesedihan.

Asta memeluk kakaknya erat. Ninda hanya tersenyum sambil mengelus rambut adiknya.

“Hi, aku tidak apa-apa. Lihat, aku baik-baik saja,” ujar Ninda sambil memamerkan gaun cantiknya. Asta tersenyum tipis.

“Aku nggak mau ada yang menyakiti kakak,” ucap Asta lirih.

“Terima kasih, ya,” sahut Ninda sambil tersenyum, lalu menggandeng tangan Asta.

Dari arah luar, Tonny sudah membunyikan klakson. Ninda dan Asta pun bergegas keluar, menghampiri mobil yang terparkir di depan rumah.

“Ayo cepat, anak-anak, kita akan terlambat,” ucap Tonny.

Asta melirik ke arah Ninda, kemudian mereka masuk ke dalam mobil dari sisi yang berlawanan. Tak lama kemudian, mobil itu melaju meninggalkan rumah.

Sepanjang perjalanan, Asta menggenggam tangan kakaknya, memberikan semangat dan kekuatan. Ninda sangat terharu melihat perhatian dan kepedulian adiknya itu. Dia menoleh ke arah Asta sambil tersenyum.

“Kakak baik-baik saja,” ucap Ninda sekali lagi. Asta sedikit lega dan melepaskan genggaman tangannya sambil tersenyum hangat ke arah kakaknya.

1
Evi Lusiana
org luar plgi mntan atlet,mayoritas pcinta sex bebas,kasihan ninda cm d php,
Evi Lusiana
asyik psti puny tmn² yg somplak tp asyik
Evi Lusiana
asta cerdas👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!