"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Tamu Tak Diundang di Tengah Malam
Suara pintu depan yang didobrak paksa mengejutkan Gwenola yang sedang berkutat dengan buku pelajaran di meja makan. Ia tersentak hingga pena di tangannya terlepas dan menggelinding jatuh ke lantai kayu yang sudah kusam.
Di ambang pintu, berdirilah sekelompok pria berjas hitam yang nampak sangat mengancam di bawah siraman hujan badai.
Aroma tanah basah dan hawa dingin segera memenuhi ruangan kecil yang biasanya terasa hangat itu. Dari balik kerumunan pria itu, melangkahlah Xavier dengan keangkuhan yang memancarkan kekuasaan mutlak. Pimpinan perusahaan raksasa itu menatap Gwenola dengan sepasang mata sehitam jelaga yang sangat tajam dan membekukan.
"Di mana ayahmu berada?" tanya Xavier dengan suara bariton yang berat serta penuh tekanan.
Gwenola mundur perlahan hingga punggungnya menabrak dinding rumah yang mulai lapuk dimakan usia. Ia meremas ujung seragam sekolah menengah atas yang ia kenakan hingga buku-buku jarinya memutih karena ketakutan.
"Beliau sudah tidak pulang sejak tiga hari yang lalu," jawab Gwenola dengan nada yang sangat lirih dan bergetar.
Xavier menyeringai tipis melihat rintihan gadis remaja yang nampak sangat rapuh di hadapannya tersebut. Ia mengeluarkan selembar kertas dari balik jas mahalnya lalu meletakkannya di atas meja makan yang penuh dengan tumpukan buku.
Jari-jarinya yang panjang mengetuk permukaan kayu dengan irama yang sangat pelan namun terasa mematikan bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Ayahmu melarikan diri setelah mencuri uang perusahaanku sebesar sepuluh miliar rupiah," ucap Xavier dengan nada bicara yang sangat tenang.
Gwenola terbelalak hingga jantungnya seolah berhenti berdetak saat mendengar nominal angka yang sangat fantastis itu disebutkan. Ia menggelengkan kepala berkali-kali karena merasa bahwa ayahnya yang sangat penyayang tidak mungkin melakukan perbuatan sekeji itu.
"Itu sama sekali tidak mungkin terjadi karena ayahku adalah orang yang sangat jujur," teriak Gwenola dengan air mata yang mulai menggenang.
Pria di hadapannya sama sekali tidak bergeming sedikit pun melihat tangisan gadis yang nampak sangat hancur itu. Xavier justru melangkah lebih dekat hingga aroma parfum kayu cendana yang mahal memenuhi indra penciuman Gwenola secara paksa.
Tekanan udara di dalam ruangan itu terasa semakin mencekat seiring dengan tatapan Xavier yang terus mengunci seluruh pergerakan tubuh Gwenola.
"Seluruh bukti transaksi ini sudah lebih dari cukup untuk menyeret ayahmu ke penjara seumur hidup," bisik Xavier tepat di depan wajah sang gadis.
Gwenola jatuh terduduk di atas lantai yang sangat dingin sambil menyembunyikan wajahnya di balik kedua lutut yang berguncang hebat. Ia merasa seluruh dunianya runtuh berkeping-keping hanya dalam hitungan menit saja karena ulah pria asing yang nampak sangat kejam.
"Tolong jangan bawa ayahku ke penjara karena aku hanya memiliki beliau di dunia ini," rintih Gwenola dengan nada yang sangat putus asa.
Xavier berlutut di hadapan Gwenola lalu mengangkat dagu gadis itu dengan gerakan yang sangat posesif serta kuat. Ia menatap wajah mungil yang kini basah oleh air mata itu dengan saksama seolah sedang menilai kualitas sebuah barang dagangan.
Ada kilatan ambisi yang muncul sekilas di balik manik matanya yang biasanya sangat dingin dan tidak tersentuh oleh emosi manusia.
"Aku bisa menghapus semua hutang itu dan membiarkan ibumu tetap hidup dengan sebuah syarat yang sangat mutlak," ucap Xavier dengan suara yang sangat rendah.
Gwenola menahan napasnya sambil menatap pria yang kini nampak seperti malaikat penyelamat sekaligus iblis di saat yang bersamaan. Ia bersedia melakukan apa saja asalkan ibunya yang sedang sakit tetap aman dan ia bisa terus melanjutkan sekolah.
"Apa sebenarnya syarat yang kau inginkan dariku?" tanya Gwenola dengan napas yang terengah-engah karena rasa cemas yang mendalam.
Xavier merogoh saku jasnya kembali lalu mengeluarkan sebuah map merah yang berisi dokumen pernikahan kontrak rahasia yang sudah ia siapkan. Ia menyodorkan sebuah pena berwarna emas ke arah tangan Gwenola yang masih sangat gemetar hebat karena rasa takut yang menguasai.
Sinar kilat yang menyambar di luar jendela membuat suasana di dalam rumah itu terasa sangat mencekam dan penuh dengan rahasia yang sangat besar.
"Menikahlah denganku sekarang juga dan jadilah milikku seutuhnya," perintah Xavier dengan tatapan yang sangat menuntut.