NovelToon NovelToon
Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Single Mom / Anak Genius / Duda / Cintapertama
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: Ega Sanjana

Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita Yang Menghubungkan Hati

Dua minggu setelah acara pembukaan ulang, hari yang ditunggu-tunggu tiba—acara bacaan bersama di perpustakaan kota. Pukul 08.30 pagi, Lila, Siti, Dina, Rian, Rama, dan Rara sudah tiba di perpustakaan. Ruang bacaan yang luas sudah dihiasi dengan spanduk "Hati yang Bersama" dan bunga kertas, dan puluhan anak-anak sudah duduk antri, membawa buku catatan dan pena.

"Wow, banyak banget anak yang dateng!" bisik Siti dengan mata yang bersinar, memegang buku yang akan dibaca.

Seorang wanita bernama Bu Lina, yang bekerja di perpustakaan, mendekati mereka. "Selamat pagi, semuanya! Anak-anak udah nunggu lama nih. Kita akan mulai dengan bacaan dari buku kalian, lalu ada sesi tanya jawab dan kerja sama buat nulis cerita bareng."

Acara dimulai pukul 09.00. Lila dan Siti naik ke panggung kecil di depan ruang bacaan. Lila membuka buku dan mulai membaca cerita tentang hari pertama Siti mulai sekolah—saat dia takut bertemu teman baru, tapi akhirnya menemukan Dina yang jadi sahabatnya.

Selama bacaan, suasana menjadi tenang. Banyak anak-anak duduk dengan posisi tegak, mata mereka terpaku ke Lila dan Siti, seolah-olah terhanyut dalam cerita. Saat Lila selesai membaca, Siti mengambil mikrofon. "Kalau kalian punya cerita yang takut dibagikan, jangan takut ya. Karena setiap cerita itu berharga, dan pasti ada orang yang mau dengar."

Setelah itu, sesi tanya jawab dimulai. Seorang anak laki-laki kecil mengangkat tangan. "Kak Siti, bagaimana caramu bisa nulis cerita yang bagus? Aku selalu bingung mau mulai dari mana."

Siti tersenyum. "Aku mulai dari hal-hal kecil yang terjadi di kehidupanku loh—seperti waktu main ke taman, atau berbicara sama Ayah Rama dan Ibu Rara. Cukup tulis apa yang kamu rasakan, itu sudah cukup bagus!"

Kemudian, seorang anak perempuan bertanya kepada Dina. "Kak Dina, gambarmu di buku itu sangat cantik. Kamu belajar melukis dari mana?"

"Dari diri sendiri, dan dari teman-teman yang selalu mendukung," jawab Dina. "Kalau kamu suka menggambar, coba gambar apa yang kamu lihat atau bayangkan—tidak perlu sempurna, yang penting ada hati di dalamnya."

Setelah sesi tanya jawab, ada aktivitas kerja sama: anak-anak dibagi menjadi kelompok kecil, dan setiap kelompok diminta membuat cerita pendek bersama. Lila, Siti, Dina, dan Rian masing-masing mengawasi satu kelompok.

Rian mengawasi kelompok yang sedang bingung mau bikin cerita apa. "Yuk, kita pikirkan bersama—kalau kamu punya sahabat yang sedang sedih, apa yang akan kamu lakukan?"

Anak-anak mulai berbicara ramai. "Aku akan bawanya main ke taman!" "Aku akan ceritakan cerita lucu!" "Aku akan berbagi camilan!" Dengan bantuan Rian, mereka menyusun cerita tentang sahabat yang saling membantu.

Di kelompok Siti, anak-anak sedang menggambar karakter cerita mereka. Satu anak perempuan menggambar anak yang sedang menangis, dan Siti menambahkan gambar bunga di sampingnya. "Ini artinya, meskipun sedih, ada hal-hal indah yang bisa membuat kita senang lagi," ujarnya.

Setelah satu jam, setiap kelompok menampilkan cerita mereka. Kelompok pertama membaca cerita tentang keluarga yang berlibur, kelompok kedua menampilkan gambar cerita tentang kucing yang mencari teman, dan kelompok ketiga membaca cerita yang penuh kebahagiaan tentang sahabat.

Bu Lina naik ke panggung lagi. "Semua cerita itu luar biasa! Kalian semua hebat! Untuk menghargai kerja keras kalian, kita akan menyimpan semua cerita ini di sudut perpustakaan khusus—sebagai bukti bahwa anak-anak di kota ini juga bisa bikin cerita yang menginspirasi!"

Semua anak-anak bersorak kegembiraan. Satu anak laki-laki mendekat Lila dan memberikan selembar kertas. Di atasnya tertulis: "Terima kasih kakak-kakak. Aku sekarang ingin bikin banyak cerita lagi!"

Sore hari, acara berakhir. Mereka semua berdiri di depan perpustakaan, melihat anak-anak yang pulang dengan senyum di wajah. Rara memeluk Siti. "Kamu lihat? Kamu semua telah memberikan hadiah yang tak ternilai bagi anak-anak ini—kepercayaan diri untuk berbagi cerita mereka."

Rama melihat ke arah Lila. "Ini yang aku suka dari kamu—selalu mau berbagi cinta dan harapan dengan orang lain. Kamu benar-benar orang yang hebat."

Lila memegang tangannya, wajah penuh kebahagiaan. "Semua ini tidak mungkin terjadi tanpa kamu semua—Rama, Rara, Siti, Dina, Rian. Bersama-sama, kita bisa membuat dunia ini sedikit lebih baik dengan cerita kita."

Mereka semua berdiri bersama, melihat matahari yang mulai terbenam di balik gedung perpustakaan. Di hati mereka, ada harapan baru—bahwa cerita "Hati yang Bersama" akan terus berjalan, menghubungkan hati banyak orang dan membangkitkan semangat untuk menulis cerita mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!