Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH.31
Distrik Penempaan di pinggiran Kota Air Hitam adalah tempat di mana siang dan malam tidak memiliki arti.
Langit di atas wilayah kumuh itu tertutup permanen oleh asap tebal berwarna kelabu yang berbau belerang dan logam terbakar. Suara dentang palu yang menghantam besi panas terdengar sahut-menyahut bagaikan detak jantung raksasa yang tak beraturan, menciptakan irama bising yang memekakkan telinga.
Shen Yu berjalan menembus kabut asap itu. Jubah murid luarnya yang dulu putih kini telah dibuang, diganti dengan pakaian kasar berwarna abu-abu gelap yang ia rampas dari mayat seorang bandit. Tudung kepalanya ditarik rendah, menutupi wajahnya yang semakin kehilangan ekspresi.
Lengan kirinya yang buntung tersembunyi di balik jubah yang menjuntai kosong.
Di belakangnya, Su Ling berjalan sambil memegangi ujung baju Shen Yu. Gadis itu menutup kedua telinganya dengan tangan, wajahnya sedikit meringis. Bagi seseorang yang "melihat" dunia melalui suara, tempat ini adalah neraka yang penuh dengan jeritan logam.
"Kau yakin ini jalannya?" tanya Shen Yu tanpa menoleh.
"Baunya..." bisik Su Ling, suaranya sedikit gemetar menahan bising. "Di antara bau keringat dan arang, ada aroma amis yang berbeda di ujung lorong ini. Bau sumsum tulang yang dibakar. Sangat pekat."
Shen Yu mengikuti arahan itu. Mereka berbelok ke sebuah gang sempit yang lembap. Di ujung gang, berdiri sebuah bangunan yang lebih mirip bangkai binatang buas daripada rumah.
Dindingnya tersusun dari tulang rusuk monster raksasa yang diputihkan, dipadu dengan lempengan besi berkarat. Di atas pintu masuk yang rendah, tergantung sebuah tengkorak kerbau bertanduk empat yang dicat merah darah.
Tidak ada papan nama. Hanya ada aura panas yang menyengat keluar dari celah-celah tulang itu.
Shen Yu tidak mengetuk. Ia menendang pintu kayu tebal itu hingga terbuka.
BRAK!
Hawa panas langsung menyergap wajah mereka.
Ruangan itu sempit dan sesak. Dindingnya dipenuhi senjata-senjata dengan bentuk mengerikan. Ada kapak yang gagangnya terbuat dari tulang belakang ular, perisai dari tempurung kura-kura berduri, dan belati yang terlihat seperti gigi taring yang diasah.
Di tengah ruangan, di depan sebuah tungku perapian yang menyala biru, berdiri seorang pria kerdil bertubuh gempal. Otot-otot punggungnya yang telanjang penuh dengan bekas luka bakar. Ia sedang memukul sebatang logam merah di atas paron hitam.
TANG! TANG! TANG!
Tuan Tie (Si Besi). Penempa senjata paling gila di Kota Air Hitam, yang rumornya diusir dari sekte besar karena menggunakan tulang manusia dalam senjatanya.
Pria itu tidak menoleh meski pintunya didobrak. Ia terus memukul dengan ritme yang obsesif.
"Tutup pintunya atau aku akan menjadikan kepalamu bahan bakar tungku," geram Tuan Tie tanpa berhenti memukul. Suaranya parau seperti gesekan batu kasar.
Shen Yu melangkah masuk, membiarkan pintu tetap terbuka.
"Aku butuh tangan," kata Shen Yu datar.
Palu Tuan Tie berhenti di udara.
Perlahan, penempa itu berbalik. Ia menurunkan kacamata pelindung kristal hitamnya, menampakkan sepasang mata kecil yang liar dan merah karena kurang tidur. Ia melompat turun dari pijakan kayunya, berjalan mendekati Shen Yu sambil menyeret palu besinya.
"Tangan?" Tuan Tie mendengus, meludah ke lantai. "Aku penempa senjata, bukan pemahat patung kayu. Pergilah ke tukang kayu kalau kau mau tangan palsu untuk menggaruk punggung."
Shen Yu tidak menjawab. Dengan gerakan tenang, ia menyibakkan jubah kirinya, memperlihatkan bahunya yang buntung. Lukanya sudah dijahit kasar, daging merah muda dan putih terlihat mengerikan di sekitar pangkal lengan yang hilang.
Tuan Tie menyipitkan matanya. Ia mendekat, bau tubuhnya seperti campuran arak murah dan besi.
"Hancur sampai pangkal," gumam Tuan Tie. Jari-jarinya yang kotor dan berminyak meraba bekas luka Shen Yu dengan kasar. "Gigitan melintir. Tulangnya remuk total. Kau beruntung tidak mati kehabisan darah."
Tiba-tiba, Tuan Tie menekan jempolnya kuat-kuat tepat di tengah daging yang baru sembuh itu.
Itu adalah titik saraf yang sangat sensitif.
Namun, Shen Yu tidak bergeming.
Napasnya tidak berubah. Pupil matanya tidak melebar. Wajahnya tetap sedingin air kolam musim dingin.
Tuan Tie menekan lebih keras, kukunya hampir menembus kulit. Masih tidak ada reaksi.
Seringai lebar perlahan muncul di wajah kotor Tuan Tie, memperlihatkan gigi-giginya yang kuning dan tajam.
"Hah! Menarik..." kekeh Tuan Tie. "Sarafmu mati? Atau jiwamu yang sudah mati? Orang biasa akan menjerit dan kencing di celana jika ditekan seperti ini."
"Aku tidak punya rasa sakit," jawab Shen Yu singkat. "Bisakah kau membuatnya?"
"Bisa? Tentu saja aku bisa!" Tuan Tie berbalik, berjalan cepat ke meja kerjanya yang berantakan. Ia membongkar tumpukan gulungan kulit binatang.
"Untuk tubuh yang tidak merasakan sakit... aku tidak perlu khawatir soal penolakan saraf. Aku bisa menanamkan pasak besi langsung ke tulang bahumu!"
Tuan Tie membentangkan sebuah gambar rancangan. Itu adalah gambar lengan mekanis yang rumit, terdiri dari ratusan segmen kecil yang saling terhubung seperti tulang punggung kelabang.
"Lengan Tulang Roh (Spirit Bone Arm)," kata Tuan Tie, matanya berbinar gila. "Kuat seperti baja, fleksibel seperti daging. Bisa mengalirkan Qi. Bahkan bisa menyimpan senjata rahasia di dalamnya."
Shen Yu mengangguk. "Berapa harganya?"
"Bah!" Tuan Tie mengibaskan tangannya. "Aku tidak butuh Batu Roh sampahmu! Untuk membuat mahakarya ini, aku butuh bahan yang sepadan. Besi biasa terlalu berat. Baja terlalu kaku."
Ia menunjuk ke arah peta wilayah liar yang tertempel di dinding.
"Aku butuh Tulang Punggung Laba-laba Besi (Iron-Backed Spider). Yang sudah hidup minimal seratus tahun. Hanya tulang punggung makhluk itu yang memiliki saluran Qi alami dan kekerasan setara Artefak Tingkat Rendah."
Shen Yu terdiam.
Laba-laba Besi. Binatang Buas Tingkat 3. Setara dengan kultivator Pemurnian Qi Tahap 8 atau 9. Makhluk itu memiliki cangkang yang kebal pedang biasa dan racun yang melelehkan daging.
Bagi Shen Yu yang saat ini berada di Tahap 2 Awal, itu adalah misi bunuh diri.
"Kau takut?" ejek Tuan Tie, melihat keraguan Shen Yu. "Kalau begitu pulanglah. Jadilah pengemis buntung seumur hidupmu."
Shen Yu menatap bahu kirinya yang kosong. Ia teringat ketidakberdayaannya saat melawan buaya di arena. Ia teringat sumpahnya untuk menjadi kuat.
"Di mana sarangnya?" tanya Shen Yu.
"Rawa Kabut. Sepuluh mil ke utara," jawab Tuan Tie. "Bawakan aku tulang punggung yang utuh. Jangan retak sedikitpun."
Shen Yu berbalik untuk pergi.
"Tunggu."
Su Ling, yang sejak tadi diam di dekat pintu, melangkah maju. Tangannya meraba-raba sebuah pedang tulang panjang yang tergeletak di rak pajangan.
"Senjata-senjatamu menangis, Tuan Penempa," ucap Su Ling pelan, suaranya jernih di tengah udara pengap.
Tuan Tie mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Gadis Buta?"
Su Ling memiringkan kepalanya, seolah mendengarkan bisikan yang tak terdengar orang lain. "Kau memasukkan jiwa binatang ke dalam senjata ini dengan paksa. Mereka marah. Mereka kesakitan. Karena itu pedang ini mudah retak meski bahannya kuat."
Wajah Tuan Tie berubah pucat. Rahasia terbesar kegagalannya selama ini—senjatanya sering hancur sendiri—baru saja diungkap oleh gadis buta asing.
"Kau... kau bisa mendengar gema Roh Bahan?" tanya Tuan Tie dengan nada tidak percaya.
"Beri napas pada karyamu, Tuan," lanjut Su Ling, meletakkan kembali pedang itu. "Lengan yang akan kau buat untuk Shen Yu... pastikan dia bukan benda mati. Buatlah dia hidup. Atau dia akan memakan tuannya sendiri."
Tuan Tie terdiam lama, menatap Su Ling dengan pandangan hormat yang langka. Ia kemudian tertawa terbahak-bahak, tawa gila yang menggema di bengkel itu.
"Hahaha! Baik! Baik! Bawakan aku bahannya, Nak! Aku akan membuatkanmu tangan yang akan membuat para kultivator sekte ortodoks itu kencing di celana!"
Shen Yu menarik tangan Su Ling, menuntunnya keluar dari bengkel panas itu.
"Kau tidak perlu bicara padanya," kata Shen Yu saat mereka kembali ke jalanan berlumpur.
"Dia orang yang kesepian," jawab Su Ling sambil tersenyum tipis. "Sama sepertimu. Hanya saja dia berteriak, dan kau diam."
Shen Yu tidak menjawab. Ia menatap ke arah utara, ke arah hutan berkabut yang gelap.
"Rawa Kabut," gumam Shen Yu. "Kita pergi sekarang."