NovelToon NovelToon
Menikahi Adik Ipar Bos

Menikahi Adik Ipar Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dini ratna

Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu

~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.

Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.

BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perdebatan

Alex, berniat menggoda istri kecilnya, ia hanya ingin tahu bagaimana reaksi Essa, apa gadis itu akan marah, merengek, atau menangis. Alex, tersenyum miring sambil memundurkan tubuhnya, menyandarkan punggung pada dinding kursi, lantas mengambil air minumnya dengan tangan kanan. Alex, meneguknya perlahan dengan mata yang terus melirik Essa.

Essa terlihat sedang mengingat peristiwa semalam.

"Ehm," dia berdehem lantas menegakkan tubuhnya, menyimpan sendok garpunya lalu menatap Alex, dengan tatapan yang mengintimidasi.

 "Baiklah, Om jika memang kita melakukan sesuatu, seperti suami istri pada umumnya, kita melakukan hal demikian sudah pasti tahu kita dalam keadaan full naked."

Alex, langsung menelan salivanya ketika Essa mengatakan 'full naked' yang berarti mereka te*njang. Entah, kenapa pikiran aneh merasuki otaknya, Alex tiba-tiba saja membayangkan hal itu.

"Oh shit ...," umpatnya.

"Jika Om me**lan***ku berarti Om tahu warna braku. Jika boleh tahu apa warna braku?" Tatap Essa dengan menggoda. Bibirnya tersungging merasa senang karena Alex tidak menjawab itu artinya Alex tidak mengetahuinya itu jelas dari raut wajahnya yang seakan sedang berpikir. Tapi bagi Essa, itu keberuntungan karena dia masih suci.

"Apa itu perlu?" tanya Alex sambil menyimpan gelasnya. Ia menegakkan punggungnya kembali, menyilang kedua kakinya lantas berkata, "Jika tidak salah, warna bra-mu merah bukan?"

Alex, hanya menduga tapi ternyata dugaannya benar. Mata Essa melotot, ia langsung mengangkat kedua tangannya menutupi dada kecilnya.

Apa ini kebetulan atau ... tidak, bagaimana melakukannya? saat bangun aku masih memakai gaun pengantin. Apa dia memakaikannya lagi agar tidak ketahuan, tapi aku tidak merasakan apapun.

Essa terus membatin.

"Essa, kenapa? Apa kau mencoba mengingat malam pertama kita?" Alex, semakin ingin mengerjai gadis itu. Ekspresi wajahnya sudah terlihat lucu, memerah dan tegang membuat Alex ingin tertawa.

Padahal Alex tidak bisa menyentuhnya, hanya tidur dan berbaring saja gadis itu sudah menyiksanya.

"Tidak! Itu tidak benar, Om membohongiku, kan?" Tatap Essa, dengan tajam.

"Kenapa aku harus berbohong? Memang sudah seharusnya, kan kita melakukannya."

"Tidak. Aku tahu Om berbohong, karena aku tidak merasakan apapun."

"Memangnya kamu pernah merasakannya? Kamu pernah mengalaminya?"

Essa terdiam. Gadis cerewet itu akhirnya membisu karena sudah tidak punya jawaban lagi. Pertanyaan Alex membuat otaknya membeku. Bagaimana rasanya? Essa, belum pernah mengalaminya tentu saja dia tidak tahu bagaimana rasanya diambil kep3raw4n4n.

Namun, tidak dengan teman-temannya, Eva dan Micha, mereka berdua sudah berpengalaman berhubungan bersama sugar daddy mereka sudah pasti sudah melakukannya. Essa, pun beranjak dari kursinya melangkah masuk ke dalam kamar. Ia mengambil ponselnya untuk bertanya pada teman-temannya.

Kenapa kamu bertanya hal itu? Tiba-tiba?

Aku hanya ingin tahu.

Kau tahu Essa, rasanya itu sangat luar biasa, indah dan tidak bisa dilupakan.

Apa merasa sakit? Dibagian 1nt1m, atau ada perubahan dalam tubuhmu?

Essa, aku merasa aneh, apa kamu baru saja melakukannya? Dengan siapa? Apa kamu bertemu dengan sugar daddy di club malam itu? Oh ... tidak. Apa laki-laki itu memakai pengaman? Sepertinya kau harus bertanya padanya Essa

Jangan sampai kau hamil Essa

Micha menakutinya. Tubuh Essa, menegang. Ia cengkram kuat batas ranjang, sambil menggerakkan gigi ia menatap nyalang ke arah pintu. Sudah pasti siapa yang dia tunggu, Essa akan sangat marah besar jika Alex melakukannya.

Bagaimana jika kamu hamil, itu sangat mengganggu pikirannya.

"Tidak! Aku tidak mau hamil diusia mudaku. Aku harus kuliah dan menggapai cita-citaku, aku harus bicara lagi padanya dia pasti membohongiku."

Essa, melemparkan ponselnya, beranjak dari ranjang yang langsung berjalan keluar.

"Om, mulai malam ini kita tidur terpisah. Malam ini aku yang mengambil kamar, Om tidurlah di sini."

Sontak bola mata Alex membola, ia membuka kacamata lalu berdiri mengabaikan laptopnya. Alex, ternyata sedang bekerja tetapi gadis itu mengacaukan konsentrasinya, ditambah teriakannya, sangat mengganggu meeting zoom nya bersama para klien Lucian Company.

"Apa harus sekarang membicarakan hal itu, hah! Kau tidak lihat aku sedang meeting," geram Alex yang mengepalkan tangannya. Sudah pasti para klien sedang berbisik saat ini. Mereka pasti sedang bertanya-tanya siapa wanita itu. Ditambah Essa, menyebutkan sebuah kamar.

"Maaf, Om." Essa menggigit bawah bibirnya, kakinya mundur perlahan lantas kabur ke dalam kamar.

Alex, menghela pelan nafasnya, memijat pelipisnya sambil mendaratkan bokongnya pada atas kursi. Sedetik Alex, mengingat para klien yang langsung fokus kembali pada laptopnya.

"Mohon maaf, meeting harus terjeda karena tadi ..."

"Tidak apa-apa Pak Alex, kita bisa lanjutkan lagi," seru salah satu kliennya. Mereka bukanlah tetangga julid yang ingin tahu dan terlalu kepo, urusan pribadi kliennya mereka akan bersikap acuh dan tidak peduli.

Alex, mengerti lantas melanjutkan lagi meetingnya. Setelah meeting selesai Alex, berjalan ke kamar ia mengetuk pintu dengan keras tidak berselang lama pintu pun terbuka, Essa, pun keluar.

Alex menatap Essa tajam, matanya menyala penuh kemarahan membuat gadis yang cerewet itu seketika menciut, diam dan menunduk takut.

"Jangan menatapku seperti itu Om." Essa berkata sambil menunduk. Kedua tangannya terus meremas kuat ujung t-shirt nya. Alex bisa melihat dengan jelas ketakutan itu tapi tidak berlangsung lama.

Sedetik Essa mendongak, ia menghela nafas lantas bicara. "Vizz, Om!" teriaknya seraya menunjukkan kedua jarinya menyerupai huruf V

"Aku melakukan itu karena Om sendiri. Aku terbayang-bayang dengan kata-katamu tadi pagi, jadi aku tidak bisa satu kamar lagi aku menginginkan kamar ini Om mengalah dong."

"Oh, jadi itu yang membuatmu mengacaukan meetingku. Asal kamu tahu ya, Essa ... aku tidak menyentuhmu dan tidak akan pernah!" tegas Alex dengan emosi. "Kamu pikir aku yang menginginkan pernikahan ini? Sama sekali tidak! Aku merasa dirugikan dari hal ini."

"Om ... Jadi Om pikir aku merugikanmu, justru aku yang dirugikan," tandas Essa tidak kalah meninggi. "Om tahu, karena Om aku kehilangan masa depanku. Aku yang seharusnya masih belajar tapi dipaksa menikah denganmu."

Essa mulai dirasuki amarahnya, nafasnya naik turun dengan mata yang berkaca-kaca.

Alex, diam sejenak ia merasa bersalah tetapi hatinya yang sudah kecewa dan sikap Essa tadi membuatnya kesal. Hingga Alex, kembali berkata hal yang menyakiti Essa.

"Kau takut aku sentuh karena takut kehilangan masa depanmu. Tapi kau tidak takut ketika para lelaki di club malam itu menyentuhmu, bahkan mereka hampir mencumbumu. Tapi kau malah takut disentuh oleh diriku yang jelas sudah menikahimu. Essa ... aku salah menikahimu."

Jantung Essa berdetak tidak karuan, dan matanya terbelalak. Ada rasa nyeri pada dirinya seolah sedang ditusuk atau teriris benda tajam. Sedetik air matanya menetes, Essa tidak bisa lagi menahan—air matanya jatuh begitu saja karena hinaan.

Alex, yang melihat itu hanya diam, ia tidak percaya gadis cerewet itu bisa menangis juga.

Tangisan Essa seketika pecah. Ia terisak yang langsung masuk ke dalam kamar.

"Om, jahat! Aku membenci Om. Jika Om tidak menginginkannya lebih baik kita akhiri saja pernikahan ini," isaknya lalu masuk ke dalam dan mengunci pintu kamarnya.

Alex tertegun, ia mencoba menenangkan. Dengan memejamkan matanya mungkin akan sedikit lebih baik dan Alex, bisa berpikir jernih. Alex, berjalan ke arah sofa panjang mendaratkan bokongnya di sana dan menyandarkan tubuh. Netranya sesekali melirik Essa.

"Apa aku sudah keterlaluan," ucapnya demikian. Sementara dalam kamar Essa masih menangis, menenggelamkan wajahnya pada kasur.

Maaf ya, aku kemaleman jangan lupa dukung ya, like vote, hadiah dan komentarnya jangan lupa.

1
Khoirun Nisa
lanjutkan kakak ceritanya,
Inez Putri
sudah 3hari gak up, kok cm 1 up nya thour..
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.
Inez Putri
semangat thour
panjul man09
uh , cerita yg sama
panjul man09
jangan tumbuhkan rasa suka alex pada essa, tunggulah sampai essa tamat smu ,beri kesempatan essa kuliah dulu.
panjul man09
jangan terlalu banyak konflik seperti cerita di novel lain , alex harus lebih sabar menghadapi essa ,selalu mengalah , walaupun tidak saling cinta ,alex harus memperlihatkan keromatisannya pada essa
Dini_Ra
Jangan lupa komentar like dan Vote 💪🙏
Dini_Ra
Jangan lupa like dan Vote komentarnya🙏
Dini_Ra
Ayo dong like dan komentarnya 🙏
Dini_Ra
Tinggalkan jejak sedikitlah 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!