Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Bibir CEO yang Manis
...Selamat membaca semuanya.....
...--------...
...--------...
Boris kembali dibuat membeku oleh Rania yang tiba-tiba berhambur memeluk tubuhnya. Duduk dipangkuan Boris dengan pelukan yang sangat erat, menyembunyikan wajah yang memerah dileher Boris.
"Hei.." Panggilan Boris mengintruksi bahwa Rania harus sadar dengan sikapnya yaang bisa memicu sesuatu yang salah.
Hembusan napas panjang dari Rania dan pelukan yang merenggang, tatapan mereka bertemu. Tangan lentik itu terukur memegang rahang tegas Boris, pria itu hanya mampu meneguk ludahnya yang kering.
"Boris.." Boris menjawab panggilan lirih Rania hanya dengan deheman singkat. Mata mereka saling bertemu, keduanya terbuai akan suasana saat ini. Hingga wajah mereka saling mendekat, mata keduanya perlahan terpejam sampai akhirnya dua bibir menyatu perlahan.
Wanita cantik lebih dulu menggerakkan bibirnya, diikuti Boris yang sangat berani membelai juga pipi chubby Rania. Dengan satu tangannya merengkuh tubuh wanita yang berada dipangkuannya saat ini.
Suara decapan saling memagut bibir terdengar sedikit kencang. Kedua tangan Rania berakhir hanya memegang bahu Boris yang saat ini lebih mendominasi pergerakan.
Sebelum berubah lebih dalam, kewarasan Boris kembali dan melepaskan tautan mereka dengan cepat. Dia memegang bibirnya dengan punggung tangannya, matanya menatap Rania dengan gelisah.
Wanita itu sedikit kesal karena pergerakan yang dihentikan paksa oleh Boris, "kok berhenti sih?"
"Ma-af Nona saya lancang." Boris bergerak membawa tubuh Rania kembali di atas ranjang. "Jika Tuan Frederick mengetahui perbuatan saya. Saya bisa mati dipenggal oleh beliau."
Boris kembali bangkit, mengusap belakang kepalanya karena mendadak merasa gugup dan buru-buru keluar dari kamar tersebut.
Rania yang ditinggal hanya diam, namun setelah itu tangannya menyentuh bibirnya yang baru saja tadi disentuh oleh Boris.
Dia tidak bisa menahan rasa bahagianya, tidak sia-sia dia menggodanya, "ternyata dia juga menyukaiku."
...******...
"Tahu sendiri, aku sudah menyukainya dari dulu. Tapi aku tidak menyangka berani melakukan itu padanya. Jika Tuan tahu, bisa-bisa aku dipenggal oleh beliau." Boris dengan nada gelisahnya menelpon seseorang di seberang sana yang justru menertawainya.
"Kalau begitu, sekalian saja tiduri dia. Bukannya kalian memiliki perasaan yang sama?"
" Kau gila! Menciumnya saja sudah membuat aku merasa akan kehilangan nyawa, apalagi benar-benar tidur dengannya. Yang ada justru aku hari ini mati." Semprot Boris dengan nada kesalnya.
"Kalian memangnya di mana?"
"Di Korea Selatan, mau menyusul?" Tanya Boris dengan nada meremehkan.
"Iya, aku ingin ke sana menyusul Nona Rania." Jawabnya menggoda Boris.
"Sialan kau Victor!" Gelak tawa di seberang terdengar kencang.
"Aku akan ke sana, jika sudah sampai dan ada waktu kita bisa bertemu. Aku kasihan dengan salah satu sahabatku ini, terlalu bodoh soal perasaannya."
"Sudah dulu. Masih ada meeting."
Tut.. Sambungan telepon terputus. Boris mendesah panjang meratapi kegelisahan yang muncul sejak kejadian di kamar.
Tempat ceritanya hanya sahabat-sahabatnya : Victor Evander, Justin Cornelius, dan Liliana Beatrix. Dan yang menertawai curahan hati Boris tadi Victor. Karena Justin sedang sibuk dengan musiknya, sebab karirnya sebagai musisi. Sedangkan Liliana, satu-satunya sahabat wanita Boris, dia sibuk dengan pemotretan sebuah brand karena dia seorang model ternama. Victor sendiri sudah sukses menjadi pemilik sebuah Perusahaan Smartphone.
"Kenapa juga aku bertindak terlalu ceroboh. Bodoh sekali." Boris menyalahi dirinya sendiri karena tindakannya yang kelewat batas ke Rania.
Pikirannya melayang lagi ke kejadian tadi. Tapi jujur saja kali ini dia sedikit merasa senang bisa memberikan bibirnya pertama kali untuk Rania.
"Manis juga ternyata bibir CEO cantik seperti dia," kekehan diakhir bayangannya.
......Bersambung........
Terima kasih semua yang sudah mampir untuk sekedar membaca. Jangan lupa like dan komennya ya untuk memberi support buat aku..🤭🤗😚