Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proyek sosial
Aruna mengejar Faisal yang sedang berjalan bersama rombongannya menuju kantin.
" TUNGGU KAK! " teriak Aruna.
Faisal menghentikan langkahnya dan berbalik.
" Ada apa, Aruna? "
" Maaf ka, aku gabisa nerima ini."
Faisal menarik tangan Aruna pelan, sebuah sentuhan yang membuat Aruna terkesiap. Ia menempelkan tangan Aruna ke coklat itu.
" Ambil, anggap aja ini sebagai permintaan maaf karena aku udah gangguin kamu, Aku bakal tetep berdiri disini sampai kamu selesai makan."
Gibran mencoba menarik Aruna kembali.
" Aruna, jangan hiraukan dia. Kita harus menyelesaikan......"
Faisal memotong dengan nada dingin dan mengintimidasi.
" Heh, bro. coba lu jelasin, kalo misal gue lagi lari kenceng terus tiba tiba ada orang ga dikenal ikut lari terus orang itu berhenti mendadak depan gue, dengan sengaja. Apa gue yang harus minta maaf karena udah nabrak dia? Atau malah balik memukul nya?"
Gibran tercengang, tidak mengerti maksud dari kata kata Faisal.
" Itu... Itu perumpaan yang ga ilmiah!"
Faisal tersenyum sinis.
" Ya, sama ga ilmiahnya sama lu. Yang pura pura ngajak Aruna belajar, padahal jelas lu pengen berduaan sama dia disini, gue tau isi hati lu! "
Aruna merasa harus segera mengakhiri drama ini sebelum semakin parah. Ia mengambil keputusan.
" Udah, Cukup. Apaan sih kalian. Gibran, makasih ya buat ringkasan soal sama rumusnya, aku bakal pelajari ini di rumah. Dan untuk kak Faisal, udah kak cukup!"
Aruna mengambil coklat itu, tanpa banyak bicara, ia mencari bangku terdekat dan mulai memakan coklat yang diberi Faisal. Ini adalah isyarat penerimaan yang paling jelas. Aruna memilih untuk menerima perhatian Faisal, meskipun dengan cara yang sedikit menyebalkan.
Gibran terkejut melihat Aruna yang kini benar benar memakan coklatnya.
"Aruna?!.....kamu...." ucapnya pelan dengan nada putus asa.
" Ehhh udah diem lu, lu mau gue bikin gabisa pulang?." ancam Yadi.
Faisal melirik ke arah Gibran selama sepersekian detik, memberi isyarat kemenangan kepada Gibran dengan mengangkat kedua alisnya.
" Profesor! Sekarang, lu mau pergi dan membahas pelajaran ditempat lain, atau mau gabung duduk disini? Ngebahas menu makan siang gue?"
Gibran kesal, ia mengambil bukunya dan pergi tanpa pamit.
Yadi dan rombongannya tersenyum senang, karena ketuanya berhasil merebut perhatian Aruna.
" Aduh bro, sorry nih bukannya gimana gimana, cuman gue sama yang lain ga mau ganggu, gue sama yang lain cabut duluan ya. Have fun lu bro."
Faisal mengangguk dan tersenyum kearah Yadi dan teman temannya.
Faisal duduk disamping Aruna, fokus memperhatikan Aruna yang sedang memakan Coklat pemberiannya dengan wajah yang sedikit kesal.
" Jadi gimana rasanya ditransfer energi sama si pembuat masalah?"
Aruna tidak menoleh, ia berbicara. Tapi kali ini dengan nada dan suara yang lebih lembut.
" Makasih ya kak, tapi kamu harus janji. Kamu gaboleh lagi gangguin aku kalo lagi diskusi tentang pelajaran sama siapapun itu, tanpa terkecuali."
Faisal menghela nafas lega dan bahagia.
" Iya, aku janji. Tapi bakal aku tepatin janji aku kalo kamu bales chat aku nanti malem."
Aruna hanya mengangguk pelan.
KRIINGGG!!!
Suara bel masuk menggema diseluruh koridor sekolah.
Aruna bergegas merapihkan pakaiannya dan membuang bungkus coklat ke tempat sampah.
" Kak, aku duluan ya, sekali lagi makasih ya kak. " Ucap Aruna sambil melangkah tergesa menuju kelas.
Faisal tak menjawab hanya menganggukan kepala sambil tersenyum tipis.
Malam harinya, sekitar pukul 20.30.
Aruna sedang duduk dimeja belajar, tumpukan berkas dan buku paket memenuhi area tersebut. Ia mengambil ponselnya. Ada notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal, Ia tahu siapa itu.
Faisal. Nanti malam, kalo kamu ada waktu, tolong liat keluar jendela. Coba kamu itung berapa banyak bintang dilangit malam ini, kira kira berapa ratus kilometer jaraknya dari bumi? Dan secepat apa mereka kalo jatuh ke bumi? Aku harus tau, biar aku tidak kalah cepat dengan orang orang yang menyukaimu.
Aruna menghela nafas, ini bukan pertanyaan fisika. Aruna tahu ini adalah cara Faisal mencari perhatian. Aruna memutuskan untuk mengabaikannya. Namun, hatinya dihantui rasa penasaran.
5 menit kemudian, ponselnya bergetar lagi, menunjukan notifikasi pesan masuk.
Faisal. Oke lupain soal bintang, terlalu rumit. aku cuman mau nanya, seputar tugas PKN. Tadi dikelas aku disuruh bikin esai tentang kontribusi pemuda terhadap negara. Kalo menurut kamu, kontribusi terbesar ku apa?
Kali ini Aruna tergelitik. Ini pertanyaan yang lebih menarik untuk dijawab daripada sekedar gombalan, ia mengetik balasan.
Aruna. Kontribusi mu kak? menurut aku, kamu harus ngasih saran ke negara tentang perbaikan sistem pendidikan. Biar negara ini ga menghasilkan siswa yang hanya sibuk nongkrong dan ganggu siswa lainnya.
Faisal tertawa kecil, ia mulai mengetik balasan serius.
Faisal. Serius, Aruna. Aku harus ngumpulin besok pagi. Kalo aku nulis, kontribusi terbesarku adalah menjadi penguji batas kesabaran para guru, apa nilainya bakal jelek?
Aruna tersenyum.
Aruna. Ya jelas ga bakal dinilai lah kak, kontribusi itu dampak positif, orang kaya kakak ga bakal sadar, tapi disisi lain. Orang kaya kakak tuh ngajarin orang lain biar tau batasan sama konsekuensi. Dan menurut aku, itu positif.
Faisal. Menarik juga. Jadi, kontribusi terbesarku adalah menjadi contoh buruk yang bermanfaat?
Aruna. Kamu yang bilang ya kak. Tapi kamu harus fokus sama hal yang lebih realistis kak, misalnya komunitas kamu, daripada nongkrong gajelas, mending diarahin ke hal hal yang positif. misalnya ngadain bakti sosial, atau bersih bersih di lingkungan sekolah, itu bentuk kontribusi nyata buat sekolah.
Faisal terdiam setelah membaca pesan dari Aruna. Ia meneguk kopi hangat yang sedari tadi di diamkan. Ia terkejut melihat isi pesan panjang dan berkualitas dari Aruna. Ia mengira Aruna akan membalas dengan dingin.
Faisal. Aruna.... Ini ide bagus. Kamu bener bener serius nanggepin semua pertanyaan aku.
Aruna. Tentu aja kak, semua orang berhak jadi pribadi yang lebih baik, semua orang punya potensi, termasuk kamu.
Faisal. Okey. Terima kasih konsultan esai. Ngomong ngomong kamu udah makan?
Aruna. Udah kak barusan, maaf kak. Aku harus lanjut belajar. Selamat malam kak!
Faisal tersenyum melihat pesan itu, ia tahu Aruna mencoba mengakhiri percakapan.
Faisal menatap langit malam, tidak lagi memikirkan bintang dan pelajaran. Tetapi ia sedang memikirkan bagaimana cara nya mengubah komunitasnya menjadi proyek sosial seperti yang disarankan Aruna, dan tentu proyek ini pasti diawasi olehnya.
PDKT Faisal dengan Aruna sudah memasuki fase yang lebih dalam, tidak lagi tentang gombalan. Tetapi tentang shared interest dan upaya saling memperbaiki.
Keesokan harinya.
koridor utama lantai satu dekat papan pengumuman, pada jam istirahat dipenuhi dengan siswa yang penasaran dengan apa yang ada di majalah dinding ( papan pengumuman ). Terdapat secarik kertas tentang proyek sosial dengan judul " SHADOW VIPERS" seantero sekolah tau itu geng yang dipimpin langsung oleh Faisal.
Dibelakang sekolah, Faisal sedang di kelilingi oleh teman teman komunitasnya. Mereka terlihat bingung dan sedikit tak percaya dengan rencana dan keputusan Faisal. Di depan mereka Faisal menyodorkan sebuah proposal proyek bersih bersih lingkungan sekolah.
Yadi. " Gila lu bro, mimpi apaan semalem. Mana mau gue beres beres disini. Lagian bro dirumah aja jarang gue bantuin beres beres, ini lagi ide lu. Aneh aneh aja lu."
Faisal menyandarkan bahu dengan santai ke tembok, menghela nafas panjang.
" Intinya gini. Kita pake kekompakan kita, tapi bukan buat berantem sama sekolah lain atau geng lain kaya dulu. Kita pake energi kita buat hal hal positif, salah satu contohnya ya beres beres dilingkungan sekolah ini. Ya itung itung efisiensi energi dan bakti sosial. Ini juga bakal jadi nilai positif buat kita Dimata para guru. Kalian paham kan maksud gue? "
Yadi. " Tapi....bukannya image kita sebagai penguasa sekolah bakal rusak? nanti kebiasaan mereka nyuruh nyuruh kita buat beresin ni sekolahan."
Faisal berdehem, suaranya serius.
" Image itu cuman sampul bro, yang penting isi hati dan niat kita. Kalo kita bisa manfat buat orang lain, kenapa engga?. Nilai komunitas kita bakal semakin naik, karena kita satu satunya komunitas yang paling berpengaruh dan peduli terhadap lingkungan sekolah. Soal kekuasaan kita, gue yakin ga bakal ada yang berani macem macem sama kita, mereka juga udah tau siapa kita. Gimana sejarah kita. Iya ga? "
Yadi. " Tapi lu ngelakuin ini karena beneran buat ngerubah reputasi geng kita jadi lebih baik kan? Bukan karena cewe itu? "
Faisal. " Maksud Lu, Aruna? "
Saat nama Aruna disebut, seluruh pandangan teman temannya mengarah kepada Faisal.
" Kenapa lu bawa bawa dia? Lu gasuka sama dia? Atau lu ga suka kalo gue Deket sama dia? " rahang Faisal mengeras.
Yadi. " bukan gitu Sal."
" udah lah males gue lama lama diem disini, gue cabut." Faisal melangkah pergi menuju kantin.
Yadi dan teman temannya menahan tawa, mengerti dengan apa yang dirasakan temannya.