Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seusai pernikahan
Hita tak menduga bahwa acara pernikahan yang digelar benar-benar mewah dan matang. Bahkan saat pertama kali tamu berdatangan, Hita bisa melihat bagaimana mereka berinteraksi dengan cara sopan nan anggun, selayaknya prilaku yang sudah dididik dengan begitu baiknya.
Tak ada yang menggunakan baju murahan yang diobral, semuanya menggunakan busana rancangan designer berkelas yang tentu harganya mencapai puluhan juta.
Suara dentingan gelas terdengar, bersama dengan kekaguman yang mengudara saat melihat bagaimana indahnya pesta pernikahan ini digelar tanpa tau adanya masalah serius di belakangnya.
Hita didandani sedemikian rupa hingga begitu mirip dengan Loria, menggunakan perias terbaik di negeri untuk melakukan kecurangan ini.
Sementara itu keluarga Wijaya dan Martadinata memasang topeng sandiwara yang terlihat seperti kepribadian kedua, terlihat bahagia seakan-akan yang berdiri di samping Dirga kini benar-benar Loria yang mereka sayangi.
Berbagai acara yang telah disusun sedemikian rupa dijalani dengan lancar, walaupun Pramahita sendiri menahan tangis mati-matian saat merasakan sakit hati yang mendalam atas apa yang menimpanya saat ini.
Ia menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai, dan berperan sebagai orang lain seolah-olah ia hanya peran pengganti.
Sampai akhirnya malam tiba, Hita bisa menghela napas lega setelah menjalani hari yang berat dan melelahkan.
Gaun putih yang begitu indah memeluk lekuk tubuh Hita dengan pas, seakan-akan gaun itu memang dirancang untuknya—meskipun pada kenyataannya bukan.
"Kau melakukan semuanya dengan baik," puji Dirga yang kini berdiri di depan cermin meja rias sembari melepaskan kancing kemejanya satu-persatu. Nadanya begitu dingin saat bicara. "ternyata kau cukup pandai bersandiwara, persis sekali dengan keluargamu yang agaknya begitu gemar menipu."
Kata-kata itu jelas sindiran.
"Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik," balas Hita, menatap pantulan Dirga di cermin. "Dan aku tidak pandai bersandiwara seperti apa yang kau kira, Kak," timpalnya.
Sebelah alis Dirga terangkat tatkala mendengar balasan Hita, tangannya berhenti pada kancing terakhir kemejanya. "Benarkah?" dengusnya dengan seringai mengejek, "tapi tadi kau tampak sangat bahagia, begitu natural. Apa sebutannya jika bukan kepura-puraan?"
Dirga balik menatap Hita dari cermin, memperhatikan bagaimana gadis itu duduk di tepi tempat tidur dengan gaun indah dan riasan yang melekat.
Pramahita yang biasanya begitu sederhana tampak tak bisa dikenali, dirias sedemikian rupa hingga benar-benar mirip dengan Loria.
"Kau tau? Aku rasa orang-orang di keluarga Wijaya memang memiliki cara tersendiri untuk membuat orang lain tunduk," ucap Dirga tiba-tiba. "Contoh nyatanya adalah cintaku, Loria. Dia bisa membuatku begitu tergila-gila padanya hingga tanpa sadar akan memberikan apapun yang aku punya untuknya, dan begitu pula dengan ayah dan ibumu."
Dirga berbalik, sepenuhnya menghadap ke arah Hita dan melepas kemejanya, menyisakan tubuh bagian atasnya yang polos. Dada bidangnya adalah hasil nyata dari kebiasaannya berolahraga, begitu pula dengan bahunya yang lebar dan tegap.
"Kau tau?" Dirga melangkah mendekat, melempar kemeja itu sembarangan ke arah ranjang yang telah dihias dengan kelopak mawar dan lilin-lilin yang menciptakan suasana romantis. Meskipun semuanya kini sudah hancur total. "Aku tau mengapa nama Wijaya tak cocok untukmu. Itu karena kau tak memiliki pesona itu. Terlalu lemah, lembut, polos, dan cengeng."
Pramahita membeku saat mendengar kata-kata Dirga, matanya terpaku pada sosok yang melangkah semakin dekat ke arahnya.
Hita tau bagaimana Dirga saat mengucapkan kata-kata manis nan manja saat bersama Loria, namun ia tak tau bahwa Dirga juga bisa mengatakan kata-kata yang bisa menyakiti hati seperti ini.
Ketika laki-laki itu bicara lagi, Pramahita hanya bisa menahan rasa sakit hati.
"Karena pada kenyataannya pula kau bukanlah seorang Wijaya, hanya anak haram yang tak diharapkan dari hubungan perselingkuhan yang kotor," lanjut Dirga, begitu gencar menyakiti. "Itulah mengapa aku merasa bahwa begitu memalukan mengetahui kenyataan bahwa aku menikah dengan wanita sepertimu. Begitu tidak setara."
Dirga meraih tangan Hita dengan gerakan yang lembut meskipun kata-katanya begitu menyakitkan, namun jelas itu hanya bentuk manipulasi.
Jari laki-laki itu mengelus cincin berlian yang berkilauan di jari manis Hita, mengingat momen di mana ia memasangkannya dan membayangkan bahwa itu adalah Loria.
"Bahkan cincin ini terlihat terlalu indah jika dipasangkan di jarimu. Begitu tidak pantas," bisik Dirga, menatap mata Hita yang kini berkaca-kaca karena ucapannya yang menyakitkan.
Hita memperhatikan Dirga yang perlahan-lahan melepaskan cincin itu dari jarinya, memasukkannya kembali ke dalam kotak kecil mewah dan menyimpannya di saku celana.
"Kau tidak memerlukan cincin ini. Kau hanya menggantikan Loria dalam acara pernikahan, dan hanya dia yang berhak menggunakan cincin ini." Dirga menatap Hita tajam. "Kau akan menyembunyikan identitasmu sebagai istriku sampai Loria ditemukan. Sebagai jaminan, kau akan berada di sini agar Ayahmu itu juga tau bahwa semakin lama putrinya tak ditemukan, makan semakin lama pula putrinya yang lain akan disiksa."
Disiksa. Satu kata itu membuat hati Pramahita hancur. Mengapa ia harus mendapatkan nasib seperti ini? Kenapa dunia tak pernah lembut sekali saja padanya? Bukankah sejak kecil ia sudah mendapatkan cukup banyak siksaan? Apakah seumur hidup pula ia harus mendapatkan siksaan ini?
Pramahita bergeser minggir saat Dirga mendorong bahunya, merebahkan diri diatas ranjang dan menepis mawar-mawar di atas kasur dengan gerakan yang tak bisa dikatakan lembut. Tanpa memperdulikan Hita, laki-laki itu terlelap begitu saja.
Bahkan pada akhirnya, air mata yang sejak tadi Hita tahan akhirnya terjatuh, membasahi pipinya dan meruntuhkan topeng kebahagiaan palsu yang ia kenakan.
Ini semua... Tak pernah ia harapkan.
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga