"Ibu mau kemana? " suara Rara kecil nyaris tak terdengar.
Ibu menoleh sekilas. Mata mereka bertemu sejenak, lalu ibu buru-buru membuang pandangan. Ia mendekat, memeluk Rara sekilas. cepat sekali, seperti orang yang terburu-buru ingin pergi dari mimpi buruk.
"Kamu di sini dulu ya sama ayah. Kalau ada rezeki, kamu dan Alisya ibu jemput," bisiknya pelan, sebelum berbalik.
Rara tak mengerti. Tapi hatinya nyeri, seperti ada yang hilang sebelum sempat digenggam. Ketika mobil itu perlahan menjauh, ia masih berdiri mematung. Air matanya jatuh, tapi tak ia sadari.
"Rara Alina Putri" Namanya terpanggil di podium.
Ia berhasil wisuda dengan peringkat cumlaude, matanya berkaca. kepada siapakah ini pantas di hadiahkan?
Jika hari ini ia berdiri sendiri di sini. Air bening mengalir tanpa terasa, Langkah Kecil Rara sudah sejauh ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angka Yang Tak Bernilai
“Nilaimu dihargai berapa sama Mamamu, Ka?”
Suci yang sedang asyik bermain masak-masak membuka percakapan.
“Nilai sembilan satuannya dua puluh ribu. Nilai delapan sepuluh ribu,” jawab Tika dengan senyum mengembang di bibirnya.
Rara terdiam mendengar percakapan kedua temannya.
Nilai rapornya dipenuhi angka delapan dan sembilan. Namun jangankan dihargai dengan uang—dilirik saja, ayahnya tak pernah.
Meski begitu, Rara tak membiarkan rasa kecil itu berlama-lama di hatinya. Ia mulai sadar, bahwa apa yang sedang ia perjuangkan bukan untuk siapa pun, melainkan untuk dirinya sendiri.
“Ra, kamu juara! Pasti angka delapan sama sembilannya lebih banyak, kan?”
Pertanyaan Tika terdengar seperti interogasi. Rara terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab,
“Lumayan, Ka. Tapi nilai aku nggak dibeli seperti nilai kalian,” ucapnya dengan senyum pias.
Suci dan Tika saling berpandangan. Mereka tak lagi melanjutkan perbincangan, hanya kembali membulat-bulatkan tanah liat dengan cetakan kue bekas.
“Rara!”
Teriakan keras itu membuat Rara tersentak. Ia menoleh. Ibu tirinya sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan sinis.
“Selesaikan dulu pekerjaan rumah! Bukannya main duluan!” bentaknya tajam.
Rara tak menjawab. Ia berjalan pelan mengikuti perintah perempuan paruh baya itu. Tika dan Suci kembali bermain, sementara Alisya tampak asyik sendiri dengan tanah liatnya.
Rara masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Pagi tadi ia sudah memasak dan merebus air. Kini rumah kembali berantakan, dan semua itu harus ia bereskan sendiri.
Alea sedang bermain dengan Selvi. Tadi Rara sempat ingin ikut, tapi Alea menolaknya. Temannya tak boleh berteman dengan Rara.
“Setelah ini, kamu cuci baju yang sudah aku tumpuk di sumur!”
Rara terdiam. Tak ada keberanian untuk membantah.
Andai aku sudah besar, keluhnya dalam hati. Mungkin aku bisa keluar dari penjara dingin ini.
Rara menarik napas. Setelah selesai menyapu rumah, ia berjalan menuju sumur, menuruti perintah perempuan itu.
Matahari terasa begitu terik saat kakinya berhenti di dekat baskom berisi tumpukan kain.
“Sebanyak ini?” desis Rara lirih. Tulang-tulangnya serasa letih lebih dulu.
Tangan kecilnya mulai menggosok pakaian kotor itu satu per satu. Kulitnya yang sudah gelap semakin legam tersengat matahari. Sesekali ia mengusap punggungnya yang terasa dibakar panas. Peluh bercucuran, membasahi pelipisnya.
Tak lama kemudian, Alisya muncul membawa mainan tanah liat di tangannya.
“Kak Rara, cantik nggak cetakan kuenya?”
Alisya memperlihatkan tanah liat berbentuk buaya mungil.
Rara menoleh sejenak, lalu kembali menggosok pakaian di tangannya.
“Cantik, Dek. Nanti kita cari bekas agar-agar di dekat tumpukan sampah, ya,” ucap Rara sambil tersenyum tipis.
Ia sempat menghentikan gerakannya, lalu menambahkan,
“Banyak model cetakannya.”
Alisya tertawa kecil dan mengangguk riang.
“Kak!”
Alisya mendekat, lalu duduk di sebelah Rara.
“Tadi aku dengar Ibu bilang ke tetangga kita,” ucapnya pelan.
“Ibu bilang apa?” potong Rara cepat.
“Katanya, kita ini jadi beban.”
Alisya menirukan gaya bicara perempuan itu.
“Padahal kerja rumah kita yang kerjakan, ya, Kak?”
Rara melirik Alisya sejenak, tanpa berkata apa pun.
“Dia yang mencuri Ayah dari kita.”
Alisya membolak-balik tanah liat di tangannya, lalu terdiam beberapa detik.
“Kakak mau aku bantu membilas kainnya?” tawarnya kemudian.
“Nggak usah, Dek. Biar Kakak saja. Kamu temani Kakak di sini,” jawab Rara pelan.
Alisya tersenyum sumringah menatap kakaknya.