Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jakarta Amsterdam
Ninda mendengus kesal, "Duh, ribet!" Umpatan-umpatan kecil meluncur dari bibirnya. Ia benar-benar kesal karena harus menyusul Mama dan adiknya yang sudah lebih dulu terbang ke Belanda.
Di tengah badai mood yang buruk, ponselnya berdering. Dengan ketus, Ninda menjawab panggilan itu. "Ya, ada apa?"
"Masih peduli sama aku?" tanyanya lagi, dengan nada yang sama.
"Lho, lho, kok begitu bicaranya sama orang tua?" Suara lembut Mamanya terdengar dari seberang.
"Trus aku harus gimana? Semua dokumen aku yang urusin, nggak ada yang bantu," balas Ninda, kali ini dengan nada tinggi.
"Itu kan memang tanggung jawabmu, Nin," sahut Mamanya tegas.
"Ini pertama kalinya aku naik pesawat lho, Maah! Ke luar negeri pula!" Suara Ninda bergetar, seolah menahan tangis.
"Nin, selesai liburan musim ini kamu sudah masuk kuliah. Kamu pikir tinggal di Eropa itu mudah?" Nada bicara Mamanya mulai meninggi, kesal mendengar keluhan Ninda yang terdengar manja.
"Kenapa nggak pergi sama-sama aja sih, Mah? Kan Mama bisa nunggu aku," rengek Ninda, air mata mulai tumpah.
"Kamu kan harus mengurus izin tinggal, itu butuh waktu lama. Kasihan Papamu," balas Mamanya, mulai kehilangan kesabaran.
"Lagian kamu sudah dewasa, masa apa-apa sama Mama? Sekarang tahu kan ribetnya ngurus apa-apa sendiri?"
Kurang lebih seperti itulah kata-kata terakhir Mamanya sebelum sambungan telepon terputus.
"Maah, hallo, Maah!" Ninda meninggikan suaranya, namun sambungan itu benar-benar mati.
"Eeh, malah ditutup!" gerutunya sambil bergegas menuju antrean check-in.
Ninda tak memperhatikan sekelilingnya. Tiba-tiba...
BRUUK!
GEDEBUK!
Benturan keras tak terhindarkan. Kepalanya membentur seseorang yang melintas di hadapannya, dan Ninda ambruk seketika.
"Hey, kamu nggak apa-apa?" Suara itu terdengar samar-samar di telinga Ninda, sebelum semuanya menjadi gelap dan hening.
Lima belas menit berlalu, Ninda mulai sadar. Matanya melihat sekeliling. Ia berada di sebuah ruangan, dengan seorang laki-laki di sampingnya.
"Ini di mana? Aku harus check-in," kata Ninda panik, berusaha bangkit.
Laki-laki itu menahan bahunya. "Hi, rileks. Tidak akan sempat, pesawatnya sudah berangkat," ujarnya.
Ninda terperangah. Syok, ia terduduk lemas di sofa. Air mata tiba-tiba mengalir deras, tangisnya pecah.
Hiks... Hiks... Hiks...
Laki-laki itu panik melihat Ninda menangis. Perlahan, ia mendekat dan mencoba menenangkan. Tangannya refleks mengelus kepala Ninda.
"Ninda!" ucap laki-laki itu.
Ninda tersadar, kaget, dan segera menjaga jarak. Ia menatap laki-laki itu dengan malu.
"Maaf, aku tak sengaja melihat namamu di ID card," kata laki-laki itu kikuk, menyadari raut wajah Ninda yang sungkan.
"Barang-barangku?" tanya Ninda panik, mulai mencari tasnya.
Laki-laki itu mencoba bersikap tenang. "Aku sudah mengamankan barangmu," ujarnya sambil menunjuk ke arah tas.
Ninda melirik tasnya yang tergeletak di atas meja. Ia tampak lega. Segera ia mengambil tasnya dan memeriksa isinya. Semuanya lengkap, tak ada yang hilang.
"Terima kasih," ucap Ninda sambil menoleh ke arah laki-laki itu. Laki-laki itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Saya minta maaf," ucap laki-laki itu sambil menatap Ninda.
"Itu juga kesalahan ku," sahut Ninda pelan, masih menunduk lemas.
Suasana hening. Mereka berdua terdiam, canggung.
"Aku punya dua tiket business class," kata laki-laki itu, mencoba memecah keheningan. Ia ingin menebus kesalahannya.
"Seharusnya aku pergi satu jam yang lalu," lanjutnya.
Suara itu baru terdengar oleh Ninda. Ia menoleh ke arah laki-laki itu, kali ini dengan fokus penuh.
"Jadi, aku membeli 2 tiket untuk keberangkatan berikutnya," ungkap Noah.
Ninda menatap laki-laki itu dengan antusias. "Maksud Anda, Anda sudah membelikan tiket pesawat untukku?"
"Kelas bisnis?" tanya.Ninda lagi, memastikan.
Laki-laki itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Ninda melompat kegirangan, menatap laki-laki itu dengan senyum manis.
"Terima kasih," ucap Ninda terharu.
Saking senangnya, hampir saja Ninda memeluk laki-laki itu. Untung saja ia masih bisa mengendalikan diri.
"Maaf, maaf," ungkap Ninda sambil menurunkan kedua tangannya.
Laki-laki itu tertawa. Mereka saling bertatapan, kemudian saling melempar senyum.
Saat itu, Ninda menyadari bahwa laki-laki di hadapannya sangat tampan.
Laki-laki itu memiliki postur yang cukup tinggi. Dibandingkan dengan ukuran orang Indonesia, tingginya sekitar 190 cm. Bukan hanya itu, ia juga memiliki sorot mata tajam dengan bola mata berwarna hazel, kulit putih namun tidak seputih bule pada umumnya, dan rambut hitam ikal.
Ninda benar-benar terpesona melihat ketampanan laki-laki bermata hazel itu. Entah berapa lama ia menatapnya.
"Ninda." Nama itu terucap begitu saja. Senyuman manis terukir di wajah laki-laki tampan itu, suaranya terdengar merdu di telinga Ninda.
"Iya," ucap Ninda lembut, masih menatap laki-laki itu. Bola matanya membesar seperti anak kucing.
"Maaf, nama Anda?" tanya Ninda, masih terpesona dengan senyuman laki-laki itu.
"Noah," jawabnya lembut, masih menatap Ninda sambil mengembangkan senyumnya yang menawan.
"Akh, Noah," nama itu terucap begitu saja.
Setelah perkenalan singkat itu, Noah membantu Ninda untuk check-in boarding. Karena mereka berada di kelas bisnis, semua bisa dilakukan dengan mudah.
Saking sopannya, Noah membawakan tas Ninda sampai ke dalam pesawat. Orang yang melihat mungkin akan berpikir mereka adalah pasangan.
"Maaf, biar aku saja," ungkap Ninda sedikit canggung.
Kemudian, Noah memberikan tas itu kepada Ninda. Setelah itu, mereka duduk hampir bersamaan. Ninda merasa pertemuannya dengan Noah seperti pertemuan yang dirancang Tuhan.
'Terima kasih Tuhan, mungkin ini jodohku,' ucap Ninda dalam hati, tersenyum-senyum sendiri.
"Ehem..." Noah berdehem. Ninda menoleh ke arah Noah, sedikit malu.
"Noah, apa kita bertabrakan begitu keras sampai aku pingsan?" Tiba-tiba Ninda mengungkit kejadian di bandara tadi siang.
"Menurutku tidak terlalu keras. Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan pingsan," sahut Noah, sedikit berhati-hati memilih kata-kata.
"Kepalamu keras sekali," ungkap Ninda sambil menunjuk benjol di keningnya.
"Separah itu? sepertinya lumayan keras," ungkap Noah, masih mengerutkan keningnya.
Ninda mengangguk, menyetujui pernyataan Noah. "Aku atlet sepak bola, mungkin ada hubungannya," ungkap Noah.
Ninda menyimak, kemudian memperhatikan Noah dengan seksama. "Tapi sekarang sudah pensiun," sambung Noah lagi, sedikit menjelaskan.
"Akh, pensiun? Kau terlihat sangat tidak asing," Ninda tampak memperhatikan Noah.
"Kamu masih sangat muda, apa kamu cedera?" tanya Ninda lagi, polos.
"Kamu tidak mengenal saya?" tanya Noah sedikit heran, karena di Indonesia ia cukup terkenal.
Ninda menggeleng pelan, kemudian tersenyum sedikit tidak enak karena ia benar-benar tidak mengenal Noah.
"Di dunia sepak bola, saat usia sudah masuk 30-an, kami biasanya sudah dianggap tidak produktif. Hanya sedikit pemain yang bisa bermain di usia itu," ungkap Noah.
Mata Ninda membelalak ke arah Noah, sedikit kaget. Ia sedikit tidak percaya usia Noah sudah 30-an.
"Anda ternyata sudah tua," celetuk Ninda.
Noah agak kaget mendengar kata-kata Ninda. "Hey, aku belum tua! Usiaku 33 tahun," ucap Noah.
"Memang berapa usiamu?" tanya Noah penasaran.
"Aku? 18 tahun," sahut Ninda singkat, masih tertawa menatap Noah.
Noah tak bisa berkata-kata lagi. Ia sedikit menjaga wibawanya, mengetahui gadis yang ada di sampingnya adalah gadis belia.
"Kepalaku terbentur sangat keras, bisa saja aku gegar otak," celetuk Ninda sambil melirik ke arah Noah.
"Aku akan bertanggung jawab," sahut Noah sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menyondongkan tubuhnya mendekat ke arah Ninda.
"Kalau perlu, aku akan berbicara dengan kedua orang tuamu," kata Noah lagi sambil memberikan barcode WhatsApp dari ponselnya.
Saat pramugari menginstruksikan para penumpang untuk memasang sabuk pengaman, Noah melihat Ninda gelisah. Ninda terlihat bingung memasang sabuk pengamannya.
"Maaf, biar aku bantu." Wajah mereka tanpa sengaja berdekatan, hanya berjarak beberapa senti. Noah dan Ninda seketika salah tingkah, wajah mereka merona.
"Terima kasih," ucap Ninda terbata-bata sambil tersenyum ke arah Noah. Noah membalas senyumnya, kemudian menunduk.
"Kalau kau ingin beristirahat atau tidur, kau bisa mengatur posisi dudukmu," ungkap Noah mencoba mencairkan suasana.
"Terima kasih, ini pertama kali aku naik pesawat," ucap Ninda.
Noah sedikit terkejut, tapi ia coba mengatur mimik mukanya supaya terlihat biasa saja.
"Pertama kali, dan naik business class berkat Anda," kata Ninda lagi.
Noah menoleh ke arah Ninda, dan tak sengaja mereka saling beradu pandang, kemudian saling melempar senyum.
"Aku merasa bersalah sampai membuatmu pingsan," kata Noah, masih menatap mata Ninda.
"Ini seperti takdir," kata Noah lagi, sedikit membuat Ninda salah tingkah.
"Apa masih sakit?" tanya Noah sambil memegang kening Ninda lembut.
Ninda sedikit mundur dan menunduk. 'Aaaaa, dia membelai keningku,' ucapnya dalam hati.
"Em, sudah tidak apa-apa." Wajah Ninda bersemu merah. Noah memalingkan wajahnya, tak kalah salah tingkah.
Beberapa saat kemudian, pesawat mengudara. Ninda mengubah posisi tempat duduknya agak bersandar, dia kemudian mengambil selimut.
"Kau ingin tidur?" tanya Noah sambil memperhatikan Ninda yang menguap.
"Akh, tidak kok," ungkap Ninda.
Noah tersenyum ke arah Ninda. "Perjalanan sangat panjang, kamu butuh waktu istirahat," ungkap Noah.
Namun, belum selesai Noah bicara, Ninda sudah tertidur.
Kemudian, Noah membetulkan selimut Ninda yang melorot. Tanpa dia sadari, Noah sudah cukup lama memandang Ninda yang sedang tertidur.
"Selamat beristirahat, Ninda," kata Noah pelan.