NovelToon NovelToon
Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter Genius / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
​Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
​Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
​Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Surat Izin Sakit yang Mencurigakan

Pria polisi itu menanyakan keberadaan putrinya yang dilaporkan menghilang sejak pagi tadi dan foto yang ditunjukkan adalah wajah Lala yang sedang tersenyum ceria. Adrian merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik sebelum akhirnya berpacu dengan kecepatan yang sangat tidak wajar. Ia menatap polisi bertubuh tegap itu dengan keringat dingin yang mulai membasahi telapak tangannya di balik saku jas putih.

"Selamat siang Pak Polisi, apakah benar gadis di foto ini adalah putri kandung Bapak?" tanya Adrian dengan suara yang diusahakan tetap stabil dan tenang.

"Benar sekali Dokter, namanya Lala dan dia belum pulang ke rumah padahal jam sekolah sudah lama usai," jawab polisi itu dengan wajah yang terlihat sangat cemas.

Adrian menoleh ke arah koridor menuju ruang perawatan tempat Lala saat ini sedang terbaring lemah dengan botol botol produk kecantikan di sekitarnya. Jika ia mengatakan bahwa Lala ada di sini, maka polisi itu pasti akan menanyakan apa yang dilakukan putrinya di rumah sakit pada jam belajar. Namun, jika ia berbohong, hal itu akan melanggar etika profesi dan hukum yang bisa berakibat fatal bagi kariernya yang cemerlang.

"Mari ikut ke ruangan saya Pak, ada hal penting yang harus kita bicarakan secara pribadi," ucap Adrian sambil memberikan isyarat kepada perawat agar menjaga pintu kamar Lala.

Adrian segera duduk di kursi kerjanya dan mengeluarkan selembar kertas yang baru saja ia tulis dengan tinta hitam yang masih sedikit basah. Surat izin sakit itu kini terasa sangat panas di tangannya seolah olah mengandung api yang siap membakar seluruh integritasnya sebagai dokter. Ia harus menyusun kalimat yang tepat agar polisi itu tidak murka saat mengetahui putrinya menyusup ke ruang operasi dan berakhir dengan serangan panik.

"Begini Pak, sebenarnya Lala saat ini sedang berada dalam pengawasan medis saya karena kondisi kesehatannya yang tiba tiba menurun," jelas Adrian dengan nada sangat hati hati.

"Apa maksud Dokter? Anak saya tadi pagi berangkat sekolah dengan keadaan yang sangat sehat dan sangat lincah!" seru polisi itu sambil memukul meja kerja Adrian.

Adrian tersentak kaget namun ia segera menunjukkan surat izin sakit yang sudah ia tanda tangani dan ia beri cap resmi rumah sakit. Ia menjelaskan bahwa Lala datang ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan rutin namun tiba tiba pingsan akibat kelelahan yang sangat hebat. Polisi itu mengambil surat izin sakit tersebut dan membacanya berulang ulang dengan dahi yang berkerut sangat dalam serta penuh rasa curiga.

"Sakit karena kelelahan belajar atau karena hal lain Dokter? Kenapa surat ini terlihat sangat baru dan sangat mencurigakan?" tanya polisi itu dengan tatapan mengintimidasi.

"Lala memang memiliki semangat belajar yang sangat tinggi, mungkin dia terlalu memaksakan diri untuk mendapatkan nilai sempurna," jawab Adrian sambil menghindari kontak mata.

Suasana di dalam ruangan tersebut mendadak menjadi sangat dingin dan penuh dengan tekanan yang membuat Adrian merasa sedang berada di kursi pesakitan. Polisi itu kemudian berdiri dan berjalan mendekati jendela sambil terus meremas surat izin sakit yang ada di tangan kanannya dengan sangat kuat. Adrian hanya bisa berdoa di dalam hati agar Lala tidak melakukan aksi ugal ugalan lagi saat ayahnya masuk ke dalam ruang perawatan nanti.

"Bawa saya ke tempat putri saya sekarang juga, saya ingin melihat keadaannya dengan mata kepala saya sendiri," perintah polisi itu dengan suara yang berat.

"Tentu Pak, tapi saya mohon agar Bapak tidak terlalu keras kepadanya karena jantungnya baru saja stabil kembali," mohon Adrian sambil membukakan pintu ruangan.

Saat mereka berdua berjalan menuju ruang perawatan, Adrian melihat Lala sedang mencoba menyembunyikan botol botol perawatan kulit ke bawah kolong tempat tidur dengan gerakan yang sangat lucu. Lala yang melihat sosok ayahnya datang bersama Adrian seketika mematung dengan mulut yang terbuka lebar karena rasa terkejut yang luar biasa besar. Ia segera menarik selimut hingga menutupi dagunya dan memejamkan mata dengan sangat rapat seolah sedang tidur sangat pulas.

"Lala, jangan berpura pura tidur, Ayah tahu kamu sedang mencoba menyembunyikan sesuatu di balik selimut itu!" bentak polisi itu sambil mendekati tempat tidur.

"Ayah? Kok Ayah bisa tahu aku ada di sini? Dokter Adrian yang mengadu ya?" tanya Lala sambil mengintip sedikit dari balik kain selimutnya.

Polisi itu tidak menjawab namun ia langsung menarik tas sekolah Lala yang tergeletak di lantai dan menemukan sebuah stetoskop yang sepertinya milik Adrian yang tertinggal. Mata polisi itu berkilat marah saat menatap Adrian dan Lala secara bergantian dengan napas yang mulai memburu karena rasa kecewa yang mendalam. Adrian merasa bahwa surat izin sakit yang ia buat justru akan menjadi bumerang yang menghancurkan kepercayaan sang wali murid kepadanya.

"Dokter Adrian, bisakah Anda menjelaskan kenapa stetoskop Anda ada di dalam tas sekolah putri saya yang masih di bawah umur ini?" tanya polisi itu dengan nada yang sangat mengancam.

"Itu karena aku ingin belajar menjadi dokter masa depan Ayah, Dokter Adrian hanya meminjamkannya kepadaku!" sahut Lala dengan suara yang bergetar karena takut.

Polisi itu tidak memercayai ucapan Lala dan langsung mengeluarkan telepon genggamnya untuk menghubungi kepala sekolah guna memverifikasi kebenaran surat izin sakit tersebut. Adrian merasa dunianya benar benar akan berakhir hari ini karena ia tahu bahwa pihak sekolah pasti akan mengatakan bahwa Lala membolos sejak jam pertama. Ia menatap Lala dengan pandangan yang penuh dengan rasa pasrah sementara gadis itu justru memberikan kode rahasia melalui gerakan jarinya yang sangat aneh.

Gerakan jari Lala itu mengisyaratkan bahwa ada sebuah rahasia besar yang tersimpan di dalam stetoskop tersebut yang bisa membuat ayahnya jatuh pingsan seketika jika mendengarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!