Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Ketika Kata -Kata Menjadi Senjata
Setelah setahun berlalu, Lila sudah di kelas 11 SMA dan Siti di kelas 10 SMA . Hubungan mereka yang sudah mulai kokoh tiba-tiba diuji oleh masalah baru di sekolah—masalah yang jauh lebih kejam daripada persaingan di antara mereka dulu.
Di SMA, Lila terkenal karena tulisannya yang bagus dan kepemimpinannya di klab sastra. Tapi itu juga membuat dia menjadi sasaran kelompok teman yang suka mengganggu. Kelompok itu dipimpin oleh Dina, seorang siswa kelas 12 yang iri karena tulisan Lila selalu diterbitkan di majalah sekolah, sedangkan tulisannya tidak pernah lolos.
Satu hari, Lila sedang berjalan ke kelas ketika Dina dan temannya menghalangnya. "Woi, anak tiri yang sok pintar! Kira tulisannya bagus banget ya? Padahal itu cuma karangan orang lain yang kamu copas!" ujar Dina dengan nada menyakitkan.
Teman-teman Dina pun tertawa dan meneriakkan "anak tiri pencuri tulisan" ke arah Lila. Lila merasa malu dan marah, tapi dia coba tetap tenang. "Itu bohong, Dina. Semua tulisan itu buatan aku sendiri."
"Tuh, lihat dia sok tegas! Besok aku akan kasih bukti ke guru BK biar kamu dikeluarkan dari klab!" teriak Dina sebelum pergi.
Malam itu, Lila pulang dengan wajah pucat. Siti melihatnya dan langsung mendekati. "Kak, kenapa wajahmu kayak gitu? Ada yang salah?"
Lila hanya menggeleng dan masuk ke kamar, mengunci pintu. Dia menangis sendirian—kata-kata Dina mengenai "anak tiri" menyentuh titik lemah yang dia pikir sudah sembuh. Besok pagi, ketika dia sampai di sekolah, semua siswa sudah membicarakan kabar bohong bahwa dia mencuri tulisan. Bahkan beberapa teman lama juga mulai menjauhkannya.
Saat istirahat, Lila duduk sendirian di sudut lapangan ketika Dina dan temannya datang lagi. "Udah denger gak? Semua orang tahu kamu pencuri! Anak tiri memang cuma bisa ngambil apa yang bukan miliknya—termasuk perhatian orang tua!" ujar Dina sambil mendorong Lila sampai dia terjatuh.
Teman-teman Dina mulai melempar batu kecil ke arah Lila. Satu batu mengenai lututnya, membuat dia merintih kesakitan. Tapi tiba-tiba, suara kecil terdengar dari kejauhan. "Jangan sentuh kakakku!"
Semua memalingkan wajah—terlihat Siti yang berlari dari arah depan di dekat sana, wajahnya kemerahan karena marah. Dia berdiri di depan Lila, membentangnya. "Kakakku gak pernah curi apa-apa! Kalian yang jahat! Aku akan ceritain ke guru BK kalau kalian ngganggu kakakku!"
Dina hanya tertawa. "Woi, anak kandung yang sok peduli ! Jangan campur urusan orang kalau gak mau kena!" tapi ketika dia mau mendekati Siti, seorang guru datang dan mengusir mereka.
Siti membantu Lila berdiri dan melihat lututnya yang berdarah. "Kak, kita ke klinik ya. Sakit gak?" tanya Siti dengan suara lembut, meskipun matanya masih penuh kemarahan.
Di klinik, Lila akhirnya menangis dan menceritakan semua yang terjadi. Siti memeluknya erat. "Kak, jangan denger kata-kata mereka. Kamu adalah kakak yang paling baik di dunia. Aku percaya kamu. Kita akan buktikan bahwa kamu gak salah!"
Hari berikutnya, Siti datang ke ruang bk bersama bersama Rara ibu mereka . Mereka bertemu guru BK dan menjelaskan semua yang terjadi. Guru BK men janji akan menyelidiki, tapi kabar bohong sudah menyebar terlalu cepat. Lila masih merasa terasing di sekolah—bahkan ketika dia menunjukkan bukti bahwa tulisannya buatan sendiri (buku catatan awal tulisan), beberapa orang masih tidak mau percaya.
Tetapi Siti tidak mau menyerah. Dia mulai mengumpulkan bukti bahwa Dina adalah yang menyebarkan kabar bohong. Dia bertanya-tanya ke siswa SMA yang tidak ikut mengganggu Lila, dan akhirnya menemukan seorang siswa yang melihat Dina menulis kabar bohong di papan tulis.
Selain itu, Siti juga membuat poster kecil yang menuliskan "Kakakku adalah penulis yang hebat—aku percaya dia!" dan menempelkannya di koridor SMA, meskipun dia khawatir ditangkap guru. Beberapa siswa mulai melihat kebaikan Siti dan mulai meragukan kabar bohong.
Satu hari, ketika Lila sedang duduk di kelas, Dina datang lagi dengan temannya. "Woi, anak tiri! adik kecil itu ngapain ya nyebar poster bodoh? Kamu pikir bisa ubah pandangan orang?" teriak Dina.
Tiba-tiba, semua siswa klab sastra datang dan berdiri di sisi Lila. "Kita semua percaya Lila! Dia adalah penulis terbaik di klab, dan kita punya bukti bahwa dia tidak mencuri tulisan!" ujar ketua klab yang baru ditunjuk setelah Lila mundur sementara.
Guru BK juga datang dengan dokumen. "Dina, kita sudah menyelidiki. Semua kabar bohong itu berasal darimu. Kamu akan mendapatkan sanksi karena mengganggu teman sekelas dan menyebarkan berita palsu!"
Dina merasa malu dan pergi dengan kepala terbenam. Teman-teman dia juga mulai menjauhkannya. Lila melihat semua itu dan menangis—tapi kali ini karena senang. Siti yang berdiri di pintu kelas pun tersenyum dan membentangkan tangan.
Setelah sekolah, mereka pulang bersama. Lila memegang tangan Siti lebih erat. "Terima kasih, Siti. Kalau bukan kamu, aku pasti sudah menyerah. Kamu berani banget melawan mereka padahal kamu masih kelas 10 ."
"Sama-sama, Kak. Kalau orang jahat ngganggu kakakku, aku harus melindungi kakak. Sebab kakak selalu melindungi aku dulu," jawab Siti.
Malam itu, keluarga mereka berkumpul di teras. Rama memeluk Lila. "Kita selalu ada untukmu, sayang. Kata-kata orang lain tidak pernah bisa mengubah siapa kamu—kamu adalah anak kita yang paling bangga kita punya."
Rara menyentuh kepala keduanya. "Kalian berdua sudah menunjukkan bahwa keluarga itu bukan cuma tentang darah—tapi tentang bersama melawan semua kesulitan, bahkan yang paling kejam dan menyakitkan."
Lila melihat Siti yang sedang memandangnya dengan mata penuh cinta. Dia menyadari bahwa masa sekolah yang menyakitkan itu telah membuat hubungan mereka semakin kuat—lebih kuat dari apa yang dia bayangkan. Mereka tidak lagi cuma kakak dan adik, tapi sahabat yang akan selalu saling melindungi, tidak peduli apa yang terjadi.
"Kak, nanti kita tulis cerita tentang ini ya? Tentang kakak yang kuat dan adik yang berani," ujar Siti.
Lila tersenyum. "Baik deh, Siti. Kita tulis bersama—dan kita akan terbitkan cerita itu agar semua orang tahu bahwa cinta keluarga bisa mengalahkan segala kejahatan."