“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 25
Dafrina menatap dirinya di cermin kamar tepatnya di meja rias. Masih ada bekas kemerahan di kedua pipinya akibat tamparan dari Alisha dan Albiru tadi ketika di taman. Sangat tidak terima dia akan perlakuan memalukan tersebut, harga dirinya benar-benar sudah diinjak oleh pasangan suami istri itu.
Dafrina mengganti pakaiannya dan berjalan ke arah kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari shower lalu menatap nyalang ke arah cermin yang mulai berembun.
“Silakan kalian bersenang-senang, aku akan membuat kalian bercerai berai setelah ini. Tunggu saja, Alisha. Kau akan merasakan sakit yang jauh dari apa yang aku rasakan saat ini, sampai di mana kau bisa bertahan hah?” gumamnya lalu memukuli kaca itu hingga pecah. Pecahan kaca tersebut kini memantulkan bayangan yang tidak lagi utuh, sama seperti hatinya yang kini hancur berkeping-keping karena sikap Albiru yang sudah sangat keterlaluan.
Dafrina menyudahi kegiatan mandinya, dia mengenakan handuk keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan pakaian.
Keesokan harinya, Dafrina kembali memantau pergerakan Albiru dan Alisha. Mereka sangat hangat dan romantis, Albiru begitu mencintai Alisha, jelas terlihat dari cara Albiru memperlakukan Alisha sekarang.
Albiru memasuki mobilnya, Dafrina segera kembali ke mobilnya sendiri dan menunggu mobil Albiru keluar dari kompleks perumahan tersebut. Dia mengikuti ke mana Albiru hari ini hingga mobil tersebut keluar dari gerbang.
Dafrina mengikuti Albiru sampai ke kantor lalu menunggu di seberang kantor itu sampai Albiru pulang. Kali ini rencana jahat di otaknya sudah tersusun rapi hingga dia mantap akan melakukannya.
Hingga sore menjelang, Dafrina melihat mobil Albiru keluar dari kantor itu. Dia segera menghubungi seseorang dan meminta agar Albiru dicegat dan dibawa ke alamat yang telah dia berikan.
Albiru mengemudi dengan tenang, dia melewati jalanan biasa tapi karena macet, Albiru mengambil jalan pintas yang cukup sepi hingga di tengah perjalanannya. Ada beberapa orang menggunakan sepeda motor menghalangi jalannya. Albiru sempat berpikir kalau itu adalah anggota dari Rafi yang ingin balas dendam padanya. Albiru turun dari mobil itu, belum sempat dia bicara, seseorang telah menyuntikkan sesuatu ke lehernya hingga dia pun pingsan.
Albiru kembali di masukkan ke dalam mobil dan dikendarai oleh salah seorang suruhan Dafrina. Mereka membawa Albiru ke apartemen Dafrina dan tentunya dengan senang hati, Dafrina menyambut kedatangan pria yang kini ingin dia hancurkan.
Albiru ditidurkan di atas ranjang, setelahnya, Dafrina memberikan sejumlah uang pada kepala preman itu dan mereka pergi. Dafrina menutup pintu apartemennya lalu tersenyum, dia memasuki kamar dan menyeringai ketika Albiru tertidur di ranjangnya.
Dafrina mendekat dan mengusap lembut wajah Albiru. “Albi, setelah ini kamu dan hubungan yang kau banggakan itu akan hancur. Sebagaimana hancurnya aku ketika kau dan istrimu menampar aku di tempat umum.”
Setelah hampir satu jam tak sadarkan diri, akhirnya Albiru membuka matanya dengan kepala yang terasa sangat berat. Tenggorokannya kering, perutnya sedikit mual, dan badannya terasa panas. Albiru bangun sambil memegangi kepalanya itu dan mengedarkan pandangan. Cukup lama dia duduk hingga rasa panas kian menggerogoti tubuhnya.
“Ada apa ini? Kenapa panas sekali?” pikirnya lalu mengipaskan tangan ke tubuh. Albiru berusaha bangkit dan rasa panas itu berubah menjadi hasrat yang ingin dituntaskan.
Albiru melonggarkan dari yang terasa mencekik lehernya, dia juga membuka kancing baju hingga ke dada karena rasa panas itu dan tak lama, Dafrina masuk hanya mengenakan lingerie tipis dan sangat menerawang. Tubuh terbuka Dafrina membuat jakun Albiru naik-turun.
“Kau menjebak aku ya?” bentak Albiru lalu berdiri di hadapan Dafrina dengan mata nyalang. Dafrina tidak marah ataupun tersinggung, dia malah mengusap wajah Albiru lalu memainkan jari di rahang pria itu. Albiru memejamkan mata karena menahan gejolak dalam dirinya saat ini.
“Kau akan membutuhkan aku setelah ini, Bi.” Dafrina berbisik di telinga Albiru yang membuatnya merinding. Albiru tak kuat menahan apa yang dia rasakan saat inj hingga Dafrina mendorongnya ke ranjang.
Pria itu seketika terbaring dengan perasaan gelisah, nafsunya tidak lagi bisa ia kendalikan dan sentuhan Dafrina di tubuhnya mulai liar. Wanita itu mengelus dada dan perutnya, lalu memasukkan tangan ke dalam kemeja yang dia kenakan. Tanpa Albiru duga, Dafrina kembali menyuntikkan sesuatu padanya hingga pandangan Albiru mulai kabur.
Albiru tidak kuasa bangun dari tempat tidur, lalu Dafrina menyiapkan beberapa kamera dari sudut yang berbeda agar bisa merekam kegiatannya malam ini dengan Albiru.
Albiru duduk dengan nafsu yang tak lagi bisa dia bendung, Dafrina hanya duduk santai di sofa dengan kaki terlipat yang membuat pahanya terekspos. Albiru melihat Dafrina seperti Alisha, wajah istrinya itu tersenyum dan dengan langkah ragu, Albiru mendekat. Dia menyentuh wajah Dafrina yang dia kira Alisha lalu tersenyum. “Aku menginginkanmu, sayang.” Dafrina seketika tersenyum senang saat obat perangsang yang dia berikan berjalan dengan baik.
“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan dan puaskan dirimu dengan diriku, Albiru.” Albiru tersenyum ketika dia merasa bahwa itu adalah istrinya.
Perlahan Albiru mendekatkan wajahnya dan bibirnya menyentuh bibir Dafrina. Lumatan demi lumatan terjadi dan perlahan Dafrina membuka kemeja yang dikenakan Albiru, sedangkan Albiru melakukan hal yang sama yaitu membuka seluruh kain yang menempel di tubuh Dafrina.
Mereka saling berbagi saliva, saling menyentuh hingga keduanya jatuh di ranjang yang sama. Albiru menciumi Dafrina layaknya dia menyentuh Alisha. Tak ada paksaan terlihat dalam rekaman nantinya karena Albiru menyentuh Dafrina secara suka rela.
Dafrina menikmati permainan itu hingga tiba pada inti hubungan di mana Albiru memasukkan juniornya itu ke dalam liang hangat Dafrina yang menyebabkan penyatuan mereka terjadi. Desahan memenuhi kamar dan hubungan panas itu terjadi yang membuat Dafrina merasa menang kali ini.
***
Keesokan paginya, Albiru terbangun dengan kepala serta tengkuk yang terasa begitu berat. Dia terduduk di atas ranjang yang mana di sebelahnya ada Dafrina. Albiru langsung bangkit dari tidurnya dan membulatkan mata saat dirinya tidak mengenakan apapun di balik selimut. Dia melihat Dafrina juga sama, wanita itu tidak mengenakan pakaian sama sekali.
Dafrina menggeliat dan membuka mata, dia tersenyum menatap Albiru lalu duduk serta membiarkan selimut itu jatuh menampakkan dada ranumnya. Albiru segera mengalihkan pandangan dari Dafrina yang membuat Dafrina terkekeh.
“Kenapa, Bi? Kita habis bersenang-senang semalam. Kamu bahkan menikmati tubuhku dengan baik, kenapa sekarang malah mengalihkan pandangan hm?” ujar Dafrina dengan penuh kemenangan yang membuat Albiru menatapnya tajam. Pria itu ingat dengan kejadian saat pulang dari kantor.
“Kau menjebakku, keparat.” Dafrina tertawa terbahak lalu turun dari ranjang. Dia mengambil ponselnya dan menunjukkan hasil rekaman pada Albiru.
Albiru mengusap wajahnya dengan jantung yang berdetak tak aman lagi. “Brengsek kau, Dafrina.”